Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 125 - Tidak Untuk Saat Ini


__ADS_3

Saat Lina mengetahui tentang Pay No langsung dari mulut Wiro, Lina pun menghela napasnya.


"Hhhh.. Kini pemuda yang suka bercerita itu hanya menyisakan segenggam abu.. Jika saja aku sudah membuat ramuan air melupakan cinta, mungkin Pay tidak akan berakhir seperti ini.."


Uriel mengusap-usap kepala gadis kecilnya dengan lembut dan berkata dengan suaranya yang terdengar hangat, "Semua itu adalah pilihan Pay No. Kita hanya sebagai penonton dalam hidupnya. Kamu juga tidak harus menyalahkan dirimu sendiri."


"Aku hanya merasa di hatiku ada perasaan sedikit tidak nyaman. Meskipun Pay No agak keras kepala dan impulsif, tapi pada dasarnya dia adalah Orc yang baik. Karena terjerat oleh pasangannya yang tidak bertanggung jawab, yang akhirnya menyebabkan tragedi bagi dirinya." Ucap Lina.


Sebagai penyebab tragedi ini sudah pasti adalah Ida Ruln, yang pastinya tidak akan pernah merasa bersalah atas kematian Pay.


Kemudian Lina berkata lagi, "Bukankah hati para Orc juga terbuat dari daging? Kenapa Ida Ruln bisa begitu berdarah dingin dan sangat tega?"


"Tidak usah kamu terlalu memikirkan tentang hal itu. Kami juga pasti akan membalaskan dendam kami untuk Pay No," janji Wiro.


Pada saat ini, tiba-tiba saja Saga membuka mulutnya dan nada suaranya terdengar dingin, "Berbicara tentang balas dendam, aku pikir kita harus mempersiapkannya terlebih dahulu. Karena Heli Belang telah menghubungi Kuil Bulan Gelap, mereka pasti akan kembali kemari bersama-sama. Jika saat itu tiba, kita semua bisa mati."


Wiro sedang berpikir, tangan kirinya menyentuh dagunya dan tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja. Tak lama kemudian dia berkata, "Sebaiknya kita yang menyerang mereka terlebih dulu. Akan lebih baik jika kita langsung menyingkirkan Nanto dan Heli Belang."


Tapi Saga segera mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang telah Wiro katakan.


"Meskipun jika kita telah membunuh mereka berdua, Kuil Bulan Gelap tetap tidak akan menyerah begitu saja. Mungkin hal itu malah akan membuat Kuil Bulan Gelap marah dengan klan Serigala Batu."


Tapi kemudian Uriel ikut berkata, "Kalau begitu, aku yang akan membuat masalah untuk Kuil Bulan Gelap, supaya mereka tidak memiliki waktu untuk mengganggu klan Serigala Batu."


Perkataan Uriel membuat Lina, Saga dan Wiro segera menatap Uriel secara bersamaan, dengan tatapan mereka yang penuh tanya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Ucap mereka bertiga serempak.


"Setelah menyelesaikan masalah Nanto dan Heli Belang, aku akan kembali ke kota Binatang Buas dan menyuruh seseorang untuk menendang orang-orang di Kuil Bulan Gelap."


Wiro yang saat ini sedang penasaran, tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, "Memangmya kamu akan kembali ke Kota Binatang yang mana?"


Uriel tidak langsung menjawab, dia membantu merapihkan rambut Lina yang tergerai dan menyelipkannya ketelinga, kemudian baru berkata dengan suaranya yang terdengar sangat tenang, "Kota Matahari."


Apa yang telah Uriel katakan, seketika itu juga membuat Wiro dan Saga saling memandang dan tidak berbicara apa-apa lagi.


"Di mana itu kota matahari?" Tanya Lina yang tidak tahu apa-apa tentang Kota Binatang Buas.


"Kota itu ada di tengah-tengah kota." Jawab Uriel dengan lembut.


Lina berpikir sejenak, setelah itu bertanya lagi, "Kota Matahari dan kota Bulan Gelap adalah kota di tengah-tengah kota. Apakah kekuatan antara kedua kota tersebut sama-sama kuat?"


"Hampir sama." Jawab Uriel sambil tersenyum hangat.


Lina yang kini mulai sedikit jelas pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh begitu."


"Apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan? Apa pun yang ingin kamu ketahui, aku pasti akan memberi tahukannya padamu." Setelah berkata seperti itu, kemudian Uriel mengecup sudut mulut gadis kecilnya. Dan sorot matanya terlihat penuh dengan kasih sayang.


Mendapat perlakuan seperti itu, Lina pun segera memeluk dan membenamkan wajahnya di leher Uriel. Wajahnya kini terlihat memerah. Kemudian Lina berkata, "Tidak untuk saat ini."


"Kalau begitu, bolehkah malam ini aku tidur denganmu?" Tanya Uriel pada gadis kecilnya.

__ADS_1


Lina menjawab dengan ragu-ragu, "Hanya diperbolehkan untuk tidur dan tidak melakukan hal yang lain."


Tapi kemudian Lina merasa khawatir jika Uriel akan merasa tidak senang, jadi dia pun menambahkan, "Meskipun jika kita melakukannya, aku tidak bisa melakukannya terlalu lama. Besok pagi aku masih harus mengajar murid-murid di kelas."


Wajah Lina sudah menjadi semakin merah dan suaranya terdengar semakin mengecil.


Uriel menyentuh bagian belakang kepala gadis kecilnya dan berkata sambil tersenyum, "Kamu memang sangat indah."


Wiro menatap mereka berdua penuh dengan kecemburuan, saat Uriel segera membopong Lina masuk ke dalam kamar tidur dan menutup pintu kamar.


Tanpa sadar Wiro mengambil sepotong daging kering dan mengunyahnya sambil bergumam, "Kenapa Lina selalu menyetujui perkataan Uriel, tidak peduli apa pun yang sudah Uriel katakan. Tapi dia tidak pernah mau begitu patuh padaku!"


Sedangkan Saga sedang menatap Wiro dan berkata, "Bukankah dendeng ini untuk anak-anakmu? Kamu makannya sedikit saja."


Saat kepala Serigala kecil menempel di tangan Wiro. Tiba-tiba saja Wiro merasa benar-benar sangat bersalah. Dia pun segera menyerahkan daging kering yang sedang dia makan kepada anak-anaknya.


Anak-anak Serigala segera membuka mulut mereka, dan mengunyahnya dengan senang hati.


Setelah Wiro menghibur anak-anaknya, dia mulai kembali merasa bosan. Dia pun segera pindah ke pintu kamar dan menempelkan telinganya ke pintu yang tertutup rapat. Mencoba untuk mendengarkan suara-suara yang ada di dalam kamar.


"Auuhh.."


"Eshhh.."


Saat melihat apa yang sedang Wiro lakukan, Saga pun mengerutkan keningnya, menggambarkan ketidaksukaannya dengan apa yang sedang dilakukan oleh Wiro.


"Kenapa kamu tiba-tiba saja menguping?"


Saga, "....."


"Apa kamu tidak penasaran?" Tanya Wiro lagi.


"Penasaran? Tentu saja!" Jawab Saga yang ikut mengecilkan volume suaranya.


Kemudian dengan jalan berjingkat tanpa suara, Saga segera menghampiri Wiro dan ikut menempelkan telinganya pada pintu kamar. Kini mereka berdua tengah berjongkok dan sedang berusaha untuk menguping.


"Eehhmm.."


"Ahhh.."


"Sial. Lina bisa mengerang menikmati permainannya dengan Uriel. Sedangkan bila denganku, dia selalu marah-marah!" Pikir Wiro.


"Hmm.." Batin Saga.


Berada tidak jauh dari mereka, anak-anak Serigala yang sedang mengunyah daging kering melihat kedua ayahnya sedang berjongkok di pintu. Tentu saja anak-anak itu tidak tahu apa yang kedua Orc dewasa itu lakukan.


Namun mereka menganggap apa yang sedang kedua Orc dewasa itu lakukan sangat lucu. Mereka berempat pun dengan segera melompat, bermaksud untuk bermain dengan kedua Orc dewasa yang sedang berjongkok menguping.


Akibatnya, secara tidak sengaja tubuh Wiro dan Saga menabrak pintu, saat keempat anak-anak serigala mendarat di tubuh Wiro dan Saga.


"DUG!"


"DUG!"

__ADS_1


Wiro, Saga, "....."


Mereka berdua saling memandang dengan ekspresi panik, kemudian segera mengambil anak-anak Serigala secepat mungkin, dan berlari pontang-panting menuju ke kamar tidur yang lainnya.


Saat Uriel membuka pintu dan melihat keluar, dia tidak melihat seorang pun yang ada di luar kamar.


"Hmm? Tidak ada siapa-siapa."


Uriel pun menutup kembali pintu kamar dan kembali berjalan ke kasur untuk merebahkan dirinya.


Saat merasakan Uriel telah kembali ke kasur, Lina pun membuka selimut bulu yang menutupi seluruh tubuhnya.


Pakaiannya kini telah dilucuti. Wajahnya terlihat seperti orang sedang mabuk, kulit yang tadinya putih kini samar-samar terlihat berwarna merah muda, matanya terlihat seperti habis merasakan sesuatu yang nikmat. Kemudian dengan malu-malu kedua tangannya menutupi dadanya, sambil menghindari tatapan mata Uriel, Lina berbisik, "Siapa yang ada di luar?"


Uriel memeluk gadis kecilnya, mencium bahunya yang halus, dan menjawabnya dengan kata-kata yang tanpa dirinya sendiri sadari, "Laki-laki itu sudah pergi. Sepertinya saat mereka bermain dengan anak-anak, mereka menabrak pintu kamar."


"Oh." Jawab Lina singkat.


Melihat penampilan gadis kecilnya yang tanpa busana, Uriel segera mencium bibirnya.


Lina pun menanggapinya dengan memeluk leher Uriel, dan dengan malu-malu membalas ciuman lembut Uriel.


...........


Uriel adalah Orc yang selalu beritikad baik. Dia sudah berjanji untuk mengeluarkan pelepasannya hanya satu kali, dan dia memang melakukannya hanya satu kali.


Tapi kali ini Uriel bertahan hampir sepanjang malam, membolak-balik tubuh gadis kecilnya berkali-kali hingga menangis, mengerang dan mengejan berkali-kali.


Namun Uriel selalu menjaga perasaan Lina dari awal hingga akhir. Dia selalu memperlakukan Lina dengan begitu lembut di ranjang, sehingga ketika Lina bangun keesokan paginya, dia tetap dengan wajahnya yang cantik dan penuh perhatian, dan tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menyalahkan Uriel.


Lina bisa merasakan kalau tubuhnya benar-benar seperti sudah dihisap sampai kering oleh Uriel.


Dan akhirnya hari ini Lina harus beristirahat di rumah, dan baru bisa berangkat ke kelas di lain hari.


Uriel tetap tinggal di rumah untuk merawat Lina. Anak-anak Serigala juga sangat menyukai Uriel dan selalu mengelilinginya. Kemudian Uriel mengambil dendeng dan memberikannya untuk anak-anak Serigala.


Saat Lina melihat cara Uriel membelai anak-anak Serigala, dia pun berkata, "Aku pasti akan memberimu beberapa anak juga."


Mendengar apa yang gadis kecilnya katakan, Uriel segera menatapnya dengan sorot matanya yang lembut.


"Tenang saja, tunggu sampai tubuhmu benar-benar fit dulu."


"Tapi aku dalam keadaan sehat." Ucap Lina.


Uriel mendekati gadis kecilnya dan menyentuh bekas ciuman yang ada di lehernya, dan berkata sambil tersenyum hangat, "Kalau memang kamu dalam keadaan fit, lalu kenapa tadi malam kamu menangis, dan berkata kalau kamu sudah tidak kuat lagi saat baru setengah jalan?"


Lina tersipu untuk menjelaskan, "Siapa juga yang menyuruhmu untuk terlalu lama menembak ..."


Tapi setelah itu dia langsung menghentikan perkataannya, dia terlalu malu untuk melanjutkannya hingga wajahnya terlihat sudah sangat merah karena sangat malu.


Kemudian Uriel mengangkatnya dan meletakkan gadis kecilnya pada pangkuannya. Uriel tertawa kemudian berkata dengan lembut, "Yah, itu semua memang salahku. Lain kali aku akan lebih cepat lagi."


Lina hanya bisa membenamkan wajahnya ke dada Uriel. Saat ini Lina sudah terlalu malu untuk menatap Uriel.

__ADS_1


__ADS_2