Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 46 - Firasat


__ADS_3

Para Orc sudah mencari di setiap sudut rumah Lina, tapi mereka tetap tidak bisa menemukan gadis itu.


Josh merasa harus menerima kenyataan ini. Dia berkata dalam hatinya, "Mungkin dia sudah pergi ke tempat lain. Bagaimanapun, dia tidak bisa meninggalkan gunung batu ini." Kemudian dia memerintahkan kepada beberapa Orc yang ada bersamanya, "Kalian pergilah ke tempat lain dan terus mencarinya. Jangan sampai ada rumah yang terlewatkan satu pun."


Setiap kali memikirkan tubuh halus dan lembut gadis kecil itu, dia tidak bisa menahan air liurnya.


"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan gadis itu!"


Suara langkah kaki di atas kepala Lina, satu per satu mulai menghilang.


Kini Lina bisa sedikit menarik napas lega.


Dia mengeluarkan kulit yang disimpan di ruang bawah tanah dan membagikannya kepada para betina yang ada di situ, sebagai alas untuk mereka beristirahat.


Tidak lupa, Lina juga meletakkan kulit binatang yang bersih dan tebal untuk Meli dan mengambil sepotong tongkat kayu pendek untuk Meli menggigitnya, agar dia tidak menggigit lidahnya sendiri.


Kemudian Lina berbisik pelan di telinga Meli, "Demi anak di dalam perutmu, tidak peduli seberapa sakitnya, kamu jangan bersuara sedikitpun, tahu?"


Meli yang kini sudah terbaring di atas kulit yang tebal, mencoba membuka matanya, sambil wajahnya menatap langit-langit, kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Kelima pasangannya sudah meninggal.


Mereka mengorbankan nyawa mereka, demi melindungi Meli dan anak yang ada di perut Meli.


Saat ini, dia harus melahirkan bayinya.


Suatu saat nanti, dia akan membalaskan dendam untuk para pasangannya.


Kebencian di hati telah melahirkan harapan dan semangat juang.


Kedua tangan Meli meremas kulit yang ada di bawah tubuhnya, giginya kuat menggigit tongkat kayu pendek, sambil menahan rasa sakit yang merobek dan berusaha mendorong anak itu keluar.


Lina belum pernah melahirkan dan tidak tahu bagaimana caranya membantu yang sedang melahirkan, tetapi beberapa wanita lainnya pernah melahirkan dan tahu bagaimana caranya menangani wanita yang sedang melahirkan.


Jadi, hal ini diserahkan kepada dua wanita yang sudah berpengalaman dan Lina berada di belakang mereka untuk siap membantu.


Setelah banyak usaha dan kerja keras, mereka akhirnya telah selesai membantu Meli melahirkan bayinya-bayinya.


Ada sembilan anak Serigala.


Kelelahan, Meli hanya sebentar melihat ke sembilan anaknya, lalu dia menutup matanya dan pingsan.


Dengan sangat hati-hati, Lina menyeka lendir yang ada di tubuh anak-anak Serigala, kemudian dengan lembut meletakkannya di samping Meli dan kemudian membantu membersihkan tubuh Meli.


Ke sembilan anak Serigala itu tubuhnya sangat kecil, hanya seukuran telapak tangan Lina dan seluruh tubuhnya terasa halus, dengan kulitnya yang berwarna merah muda. Terlihat seperti anak tikus.


Lina mengulurkan jarinya dan dengan lembut menyodok ke mulut salah satu anak Serigala. Bocah kecil itu segera membuka mulutnya dan mengulum ujung jari Lina.


Anak serigala itu belum memiliki gigi.


Ujung jari Lina yang di kulum oleh anak serigala, terasa sedikit gatal dan geli. Untuk mencegah dia tertawa, dengan cepat Lina menarik jarinya dan membuat gerakan, "Ssst" ke kesembilan anak serigala, untuk menunjukkan kalau mereka tidak boleh mengeluarkan suara.


"Aku tidak tahu apakah mereka bisa mengerti maksudku."


Tapi dari waktu ke waktu, sembilan anak itu tetap diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Saat para betina melihat anak-anak serigala yang lucu-lucu, seketika itu juga kegelisahan dan ketakutan mereka sedikit memudar dan di wajah kuyu mereka, kini terlihat senyuman lega.

__ADS_1


Melihat makhluk kecil itu seperti melihat harapan.


Lina mengeluarkan daging dan acar kering yang dia simpan di dalam ruang bawah tanah itu, kemudian membagikannya kepada para betina. Setelah mereka makan makanan itu, semangat semua orang tampaknya menjadi lebih baik.


Hanya ketika sesekali ada suara langkah kaki di atas kepala mereka, barulah mereka gemetar ketakutan.


Lina membiarkan mereka duduk bersama, saling bersandar dan saling menghangatkan.


Waktu demi waktu berlalu, para betina mulai tenang dan ketakutan mereka mulai sedikit hilang.


Meskipun mereka tidak saling berbicara, tetapi para betina ini telah setuju untuk mengandalkan Lina dan semakin percaya padanya.


Lina tidak mengetahui perubahan psikologis para betina itu. Dia masih khawatir tentang situasi di luar, dan tidak tahu apa yang terjadi pada Sito Gering.


Dia juga masih belum sembuh dari sakitnya dan juga tubuhnya masih sangat lemah. Setelah serangkaian ketakutan dan kegelisahan ini, dia merasakan kepalanya mulai terasa sakit lagi dan otot-otot tubuhnya juga terasa sakit. Kini tubuhnya sudah sangat kelelahan dan mencapai batasnya.


Kelopak matanya semakin berat.


"Aku sangat mengantuk."


Lina ingin segera tidur di atas kulit binatang yang sudah dia siapkan, untuk alas dia duduk.


Tanpa sadar, Lina mulai menutup matanya.


Salah satu betina, mengambil selembar kulit dan menyelimutinya.


...........


Saat mengejar Heli Belang, sepertinya ada sesuatu yang janggal. 


"Kenapa Heli Belang hanya menghindar dan menghindar dariku? Tetapi, setelah berlari selama beberapa waktu, mereka akan berhenti lagi. Setelah aku menyusul, Heli Belang akan terus menghindar bersama dengan orang-orangnya. Apa Heli Belang sengaja untuk mengulur waktu?"


Dia selalu merasa seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi.


Setelah selama tiga hari mengejar Heli Belang, Wiro akhirnya tidak tahan. Dia menyerah untuk mengejar mereka, mengabaikan godaan yang disengaja oleh Heli Belang dan dengan cepat kembali ke Gunung Batu dengan dua ratus orang yang dia bawa.


Heli Belang yang melihat mereka akan kembali, segera membawa orang-orangnya untuk mengejar. Mereka mencoba untuk mencegat Wiro dan orang-orangnya.


Hal ini lah yang membuat Wiro semakin cemas.


"Apa mereka mencoba mengahalang-halangiku untuk kembali ke Gunung Batu? Apakah karena apa yang akan terjadi, setelah aku kembali?" Wiro bertanya-tanya dan gelisah dalam hatinya.


Ada kilatan cahaya di otak Wiro dan dia tiba-tiba memikirkan Gunung Batu. Pikirannya tertuju pada orang-orang yang tertinggal di pegunungan.


"Sialan! Aku masuk dalam jebakan mereka!" Wiro bergumam marah.


Wiro semakin cemas dan marah. Jika dia memiliki sayap, dia pasti segera mengepakkan sayapnya dan terbang kembali ke Gunung Batu.


Tetapi para Orc dari suku Heli Belang dan sungai hitam tetap menghalang-halangi mereka dan tidak membiarkan mereka kembali ke Gunung Batu.


Kini amarah Wiro sudah tak tertahankan lagi.


Pada saat itu juga, tiba-tiba seekor Serigala Es raksasa meraung ke langit dan segera melompat ke barisan musuh.


Pada saat Serigala Es raksasa itu mendarat, salju yang halus segera menjadi es padat. Berpusat pada serigala es raksasa yang menjadi titik pusat, gelombang dingin yang telah memadatkan salju, dengan cepat menyebar ke segala arah.


Heli belang yang selalu sangat tenang, wajahnya kini berubah, "Itu.. Roh Binatang Buas!"

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Wiro sudah membangunkan roh binatangnya?!" Heli Belang berbicara dengan dirinya sendiri.


Setelah Orc membangkitkan jiwa mereka, mereka akan menjadi Binatang Buas.


Ada kesenjangan besar dalam kekuatan tempur antara Binatang Buas dan Orc biasa.


Terlebih lagi Serigala Es, spesies dengan atribut esnya, jauh lebih mematikan daripada binatang biasa setelah berevolusi menjadi binatang buas.


Orc yang berada dekat dengan Wiro pun segera dibekukan oleh gelombang dingin tersebut.


Saat musuh-musuh sudah membeku. Tiba-tiba Wiro mengibaskan ekor serigalanya ke arah musuhnya yang membeku dan menghancurkan mereka semua menjadi berkeping-keping.


Dalam sekejap, puluhan musuh telah dimusnahkan. Mereka kini layak menjadi hantu.


Bisa dibilang, Heli Belang telah salah perhitungan.


Lebih dari dua ratus orang yang kali ini dia bawa, hampir semuanya dibawa oleh Josh untuk menyerang suku Serigala Batu. Tidak banyak yang tersisa untuk Heli Belang.


Dan juga, mereka bukanlah tandingan roh Binatang Buas.


Heli Belang segera berteriak dengan suara yang lantang, "MUNDUR! MUNDUR!"


Para Orc yang tidak membeku, segera berkumpul di sekeliling Heli Belang dan dengan cepat melarikan diri.


Wiro tidak mengejar mereka, dia segera membawa dua ratus Orc untuk langsung kembali ke Gunung Batu.


Pada saat yang sama, Uriel juga merasakan bahaya.


Di atas tumpukkan salju yang tebal. Ketika Uriel dan Rei beserta rombongannya sedang berjalan menuju ke tempat di mana Saga berada, dengan tiba-tiba Uriel menghentikkan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, ke arah Gunung Batu berada. Sorot matanya menatap dingin penuh amarah. Jantungnya seketika terasa berdebar-debar kencang.


"Perasaan ini.."


"Gunung Batu dalam bahaya! Kita harus kembali sekarang juga! Cepat Rei!"


"Apa maksudmu?" Tanya Rei kebingungan.


Tanpa menjawab, dengan segera Uriel melupakan tujuannya mencari Saga dan bergegas berlari pulang menuju ke Gunung Batu, bersama dengan Rei dan yang lainnya, yang mengikuti berlari di belakangnya.


Uriel, Wiro, dan yang lainnya hampir secara bersamaan kembali ke Gunung Batu.


Saat mereka masuk ke dalam gua, sinar mata mereka segera berubah merah, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan mereka.


Seluruh gua berubah merah oleh cipratan darah, dimana-mana tercium bau yang kuat, bau darah.


Orc yang telah dibunuh secara brutal, banyak bergelimpangan di tanah, dengan keadaan tubuh mereka yang tercabik-cabik.


Rumah yang semula hangat, kini telah menjadi neraka penuh darah.


Tenggorokan Wiro terasa seperti tercekik dan sulit untuk bernapas.


"Apa-apaan ini?! Apa yang sudah terjadi di sini?!"


Uriel yang sudah menekan rasa takutnya, dia bergegas masuk ke gua dan berlari untuk segera kembali ke rumah.


Setibanya di pintu rumahnya, dia melihat tubuh renta yang terbaring di dalam genangan darah.


Itu adalah tubuh, Sito Gering.

__ADS_1


Di Gunung Batu, akan selalu ada lolongan nyanyian para Serigala.


Tapi kali ini, lolongan menyedihkan para pria yang bersahut-sahutan, saat melihat pasangan dan keluarganya yang sudah tak bernyawa lagi, ketika mereka kembali kerumah.


__ADS_2