Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 128 - Bagusnya


__ADS_3

Karena Uriel takut kalau-kalau Lina akan kelaparan, dia pun mengisi ruang penyimpanan dengan banyak mangsa yang sebelumnya telah mereka buru.


Lina mengambil seekor burung pegar hasil buruan Uriel dari dalam ruang penyimpanan. Panjang burung itu sekitar satu meter dan beratnya hampir sama dengan seekor babi hutan kecil. Dengan ekornya yang memiliki motif bulu yang berwarna-warni.


"Wah.. Bulunya sangat bagus."


Karena dirasa masih kurang, Lina akhirnya mengeluarkan satu lagi burung pegar dari dalam ruang penyimpanan.


"Aku rasa segini sudah cukup."


Leon sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaan di matanya.


"Bulu-bulu itu sangat jelek. Bulu seperti itu tidak akan bisa menyaingi bahkan sepersepuluh dari bulu-buluku!"


Lina, "....." Lina mengabaikannya.


Lina segera mencabuti semua bulu dari tubuh burung pegar dan menyisihkannya dengan rapi. Dia berencana membuat bulu-bulu itu menjadi kipas bulu besar berwarna-warni dan menggantungnya di dinding ruang tamu untuk dijadikan hiasan.


Dan malam ini, Lina berencana akan memasak ayam. Lina meminta Leon untuk mencarikan lumpur dan daun teratai.


"Aku ingin meminta tolong padamu, bisakah kamu carikan aku daun teratai dan lumpur?"


"Daun teratai sangat mudah untuk didapatkan, kuncup bunga kecil mempunyai banyak daun teratai, tinggal petik dua lembar daunnya saja." Kata Leon.


Tapi bagi Leon, lumpur lebih susah untuk dia ambil.


Dia sama sekali tidak ingin mengotori jubah bulunya yang menurutnya indah.


Akhirnya anak-anak Serigala lah yang turun gunung dan menggali segumpal besar lumpur dan membawanya kembali ke rumah.


Lina sedang menatap Leon dengan tatapannya yang meremehkan, "Bahkan mengambil sedikit lumpur pun tidak bisa, memangnya apa yang kamu bisa?"


Leon mengangkat dagunya dan berkata dengan angkuh, "Semakin indah pakaian bulu yang dikenakan, penampilan mereka akan terlihat semakin menarik, yang akan menarik mata bagi para betina. Aku harus menjaga jubah buluku sampai aku menemukan pasanganku. Aku tidak ingin pakaianku kotor terkena lumpur."


Lina memutar bola matanya dan berkata, "Mulutmu itu mulut ular berbisa, dan kamu lebih cocok sendirian sepanjang hidupmu."


"Kata siapa?"


"Kamu itu memang ditakdirkan untuk hidup dan mati seorang diri!" Ucap Lina.


Mendengar apa yang Lina katakan membuat Leon sedikit tercengang. Lina tidak tahu apa yang sedang Leon pikirkan.


Mata merah Leon tiba-tiba memudar. Tapi ketika Lina melihat ke Leon, matanya telah kembali normal.


"Aku tidak akan mati sendirian." Ucap Leon lirih.


Saat mengucapkan itu, Leon sendiri tidak tahu apakah dia berbicara kepada orang lain atau kepada dirinya sendiri.


Mendengar itu, Lina menatapnya dengan sorot matanya yang kosong.


"Apa yang tadi kamu katakan?"


Kemudian Leon berkata untuk mengalihkan pembicaraan mereka, "Aku berkata, kenapa kamu membutuhkan begitu banyak lumpur untuk makan malam? Apakah lumpur bisa dijadikan sebagai makanan?"


“Kamu tidak tahu, kan? Lumpur juga bisa digunakan untuk memasak. Malam ini aku akan memberimu wawasan yang lebih luas lagi."


Leon tetap berdiri dan menunggu untuk melihat apa yang akan Lina lakukan.


Saat ini Lina sedang mengeluarkan organ-organ dalam burung pegar, kemudian memasukkan buah manis dan kentang yang sudah direbus ke dalamnya, lalu membungkusnya dengan daun teratai, setelah itu bungkus lagi dengan menggunakan lumpur yang tebal.


Di bawah komando dari Lina, anak-anak Serigala telah selesai menggali lubang di tanah.


Kemudian Lina mengubur burung di dalam tanah dan menyalakan api tepat di atasnya.

__ADS_1


Anak-anak Serigala sangat menyukai nyala api. Begitu mereka melihat apinya telah menyala, mereka segera membungkuk dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan penuh semangat.


Berbeda dengan Kubucil, ia sama sekali tidak tertarik dengan nyala api. Ia tetap berada di kepala Lina dan berpura-pura diam untuk menjadi karangan bunga.


Setelah meletakkan panci besi di atas nyala api, kemudian Lina memasukkan sayuran yang telah dipotong-potong dan menambahkan beberapa daging kering ke dalam panci, untuk membuat sup yang lezat.


Saat memperkirakan waktunya sudah hampir matang, Lina mengambil cangkul batu, untuk menggali daging burung pegar yang dia pendam di dalam tanah.


Saat daging sudah tergali, aroma lezat yang kuat segera menyebar.


"Mmmhh.. Harumnya.." Batin Lina.


Tidak hanya anak-anak Serigala yang meneteskan air liurnya, bahkan Leon pun sampai tidak bisa menahan dirinya, untuk segera mencicipi rasa dari daging burung pegar.


"Mmm.. Enak sekali. Rasa manis buahnya meresap ke dalam dagingnya, rasa dagingnya jadi semakin enak, manis dan gurih. Kentang yang sudah direbus juga sangat empuk, segera lumer di mulutku."


Kemudian Lina memotong daging yang empuk pada bagian dada burung, lalu memotong bagian kaki burung, dan memberikannya kepada anak-anak Serigala.


Anak-anak Serigala segera memakannya dengan sangat lahap dan senang.


"Enak.. Enak.."


"Enak cekali ibu.."


Sisa daging burung pegar hampir semuanya telah dimakan oleh Leon.


Meskipun dia telah makan banyak daging burung pegar, dia juga memakan sup yang Lina buat.


"Supnya juga terasa sangat enak!"


Leon memakan supnya sambil mengunyah daging dari kepala burung pegar.


Jika saja dia tidak diperhatikan oleh Lina, sudah pasti dia akan langsung menelan seluruh kepala burung pegar tersebut.


"KRAUK! KRAUK!"


"Sebenarnya tulangnya juga terasa enak."


Lina yang sudah tidak tahan dengan cara makan Leon yang terlihat seperti sangat kelaparan, segera mengambil biji bunga matahari dan memeberikannya kepada Leon.


"Sudahlah. Ambillah ini. Lebih baik kamu makan ini saja."


Dengan adanya biji bunga matahari goreng yang telah ada di tangannya, akhirnya Leon tidak melanjutkan lagi makan tulang-tulang burung pegar.


Setelah itu Lina menuju ke dapur untuk mengambil bulu-bulu burung pegar yang tadi sudah dia cabuti.


"Aku akan membuat kipas bulu besar berwarna-warni dan menggantungnya di dinding untuk hiasan. Pasti akan terlihat bagus."


Namun, Lina sudah mencari-cari di seluruh dapur, tapi tetap tidak bisa menemukan sehelai bulu pun.


"Kenapa bisa tidak ada? Tadi aku meletakkan bulu-bulu itu di dapur! Bagaimana mungkin bisa hilang dalam sekejap mata?!"


Lina berlari keluar dari dapur dan bertanya kepada Leon dan anak-anak Serigala, "Siapa di antara kalian yang melihat bulu-bulu burung pegar yang ada di dapur?"


Para anak-anak Serigala segera menyahut.


"Aku tidak tahu bu.." Jawab Wirna.


"Aku juga.. Aku juga.." Jawab ketiga adik-adik Wirna.


Leon yang sedang mengunyah biji bunga matahari beserta dengan kulit-kulitnya, ikut menjawab dengan sangat santai, "Semua bulu-bulu jelek itu sudah aku buang."


Mendengar apa yang telah Leon katakan, membuat Lina langsung menjadi marah.

__ADS_1


"Kenapa kamu membuang barang-barang milikku?!"


"Semua bulu-bulu itu sangat jelek." Jawab Leon lagi dengan santai.


"Tidak peduli seberapa jeleknya bulu-bulu itu, itu adalah milikku. Kamu tidak boleh seenaknya membuangnya tanpa meminta izin dariku!"


Leon mengeluarkan dua bulu berwarna merah menyala.


"Ok. Aku ganti dengan ini saja. Ambillah tanpa perlu berterima kasih padaku."


Kemudian Lina berkata dengan nada suaranya yang terdengar marah, "Aku tidak menginginkan bulumu!" Setelah mengatakan itu, Lina segera berbalik dan berlari keluar rumah.


Sebenarnya bulu-bulu burung pegar belum dibuang jauh oleh Leon.


Saat Lina melihat sekeliling rumahnya, dia segera menemukan bulu burung yang tersebar dan berserakan di tanah.


Dia membawa pulang bulu-bulu itu dan segera membuat kipas bulu besar berwarna-warni.


"Akhirnya sudah jadi.. Bagusnya.." Gumam Lina.


Awalnya Lina berencana untuk menggantungnya di dinding ruang tamu, tapi tiba-tiba saja dia teringat dengan apa yang sebelumnya sudah terjadi.


"Kalau aku menggantungnya di sini, Leon pasti akan membuang kipas bulu ini lagi. Kalau begitu, lebih baik aku menggantung kipas bulu ini di kamarku saja."


Dan akhirnya Lina memutuskan untuk menggantung kipas bulu di kamarnya.


Ketika Lina berbalik, dia melihat Leon yang sedang berdiri di pintu kamar dengan tatapan tidak sukanya, pada kipas bulu yang kini sudah Lina gantung di dinding kamarnya.


Lina pun segera menghalang-halangi pandangan Leon dan berkata dengan hati-hati, "Sudah larut. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan tidurlah."


Leon hanya mendengus, "Huh!"


Setelah selesai mendengus, Leon pun segera pergi.


Di tengah malam, saat semuanya tengah tertidur lelap, seorang Orc berjubah merah darah berjalan dengan tenang, masuk ke dalam kamar Lina.


Pertama-tama dia memandang wajah Lina yang sedang tertidur, lalu mengulurkan tangannya untuk menurunkan kipas bulu berwarna-warni yang tergantung di dinding. Matanya yang berwarna merah, menunjukkan sorot matanya yang merasa jijik.


"Warna yang menjijikan, aku benar-benar tidak tahu kenapa gadis kecil ini malah menyukai warna yang seperti ini!"


Kemudian Orc tersebut mengeluarkan api dari ujung jarinya dan membakar kipas bulu itu hingga bersih tak tersisa.


Setelah itu dia segera membuat kipas bulu yang baru, dari bulu-bulunya sendiri.


Warna merah pada bulunya, membuat kipas bulu tampak seperti api yang menyala terang dan menyilaukan.


"Ini baru kipas bulu yang paling indah!"


Orc tersebut menggantung kipas bulu itu tegak di dinding, setelah itu dia pergi ke samping tempat tidur, menundukkan kepalanya dan mencium dahi Lina. Kemudian dia keluar dari kamar dengan perasaan puas.


...........


Keesokan paginya.


Saat Lina terbangun, dia terkejut saat melihat ada kipas bulu merah tergantung di dinding.


"Kemana kipas bulu warna-warni yang aku buat? Kenapa tidak ada? Ini pasti ulah si Orc burung itu!"


Lina segera bangun dari tempat tidur dan bergegas ke loteng, melemparkan kipas bulu berwarna merah menyala di depan Leon, sambil berkata dengan marah, "Di mana kipas bulu yang aku buat? Apa kamu yang mengambilnya? Kembalikan kepadaku!"


Mendengar seperti ada yang sedang mengomel-ngomel pada dirinya, dengan malas Leon pun segera membuka matanya dan duduk di tempat tidur. Rambut panjangnya yang berwarna emas tergerai seperti air terjun. Kerah jubahnya terbuka lebar, memperlihatkan area otot dadanya yang besar dan kokoh.


Kemudian dia menguap, setelah itu berkata, "Maksudmu kipas bulu burung yang jelek itu? Semalam aku sudah membakarnya."

__ADS_1


"Apah? Dasar b*j*ng*n! Kenapa kamu membakar barang-barang miliku?"


__ADS_2