Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 143 - Gunung Suci


__ADS_3

Uriel berkata sambil tersenyum tak berdaya, "Barusan sepertinya apa yang aku katakan ada yang kurang baik. Kamu bisa melihat semuanya sekaligus. Imam besar pasti tahu kalau aku waspada terhadapnya, sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak, kamu melakukannya dengan baik, hampir sempurna." Jawab Lina untuk menenangkan Uriel.


"Lalu, kenapa kamu bisa melihat penyamaranku?"


Mendengar itu, Lina pun berkata, "Karena aku seorang wanita, naluri wanitaku bisa mendeteksi kejanggalan yang ada di diri pasanganku. Hihi.."


Uriel tidak bisa menahan dirinya untuk mencium wajah putih gadis kecilnya.


"Mmmh.. Kalau begitu, ajarkan padaku bagaimana caranya Guru?"


Saat mendengar Uriel memanggilnya Guru, seketika itu juga wajah Lina memerah. Kemudian dia berkata dengan malu-malu, "Kamu jangan memanggilku Guru."


Namun Uriel berkata, "Wiro bisa memanggilmu dengan sebutan Guru, kenapa aku tidak boleh?"


"Kapan dia memanggilku Guru?" Tanya Lina.


"Saat di tempat tidur, saat itu dia mengganggumu dan memanggilmu dengan sebutan Guru. Saat itu dia sedang bermai ..."


Sebelum Uriel menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Lina segera menutup mulut Uriel dengan jari telunjuknya.


"Ssstt! Jangan dilanjutkan lagi!"


Mendapat perlakuan seperti itu dari gadis kecilnya, Uriel hanya menatap Lina dengan mata birunya sambil tersenyum dengan lembut.


Saat ini Lina baru terpikirkan akan suatu hal, "Berarti Uriel mendengar semuanya waktu itu? Selain itu, si kuncup bunga kecil tidak hanya mendengarnya, tapi dia juga melihat semuanya? Ahh!"


Lina sangat pemalu, dia ingin segera berlari untuk mencari tempat bersembunyi.


Tapi sebelum Lina kabur untuk bersembunyi, Uriel segera meraih tangan Lina dan menjilati telapak tangannya.


Perasaan hangat dan lembab, serasa seperti arus listrik yang sedikit terasa lemah.


Lina yang merasa seperti tersengat listrik hingga membuatnya gemetar, buru-buru menarik tangannya.


Dia menyentuh telapak tangannya yang kini mati rasa, tidak berani melihat Uriel tapi dirinya tersenyum dan berbalik untuk melihat ke tempat lain.


"Aku lelah, aku ingin istirahat."


"Ayok, aku akan membawamu untuk beristirahat." Ucap Uriel.


Mereka pun segera berjalan menuju ke rumah, di mana sebelumnya Uriel tinggal.


"Walaupun masih terlihat agak kumuh, tapi lingkungan di sini jauh lebih baik daripada di penginapan waktu itu. Tapi untungnya di sini sangat bersih, dan di sinilah Uriel pernah tinggal. Di mana-mana juga ada bau yang ditinggalkan olehnya. Uhhmm.. Aku suka di sini." Batin Lina saat melihat tempat yang dia datangi.


Lina pun segera menuju ke tempat tidur dan berguling ke dalam selimut, lalu tertidur.


Saat Lina sedang tertidur, dia merasa seperti sedang diangkat. Saat itu juga dia segera membuka matanya dan melihat kalau pria yang membopongnya adalah Uriel, dia pun lanjut tertidur lagi.


Saat Lina telah bangun dari tidurnya, dia mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan Uriel. Tapi tidak hanya itu saja.

__ADS_1


"Aku sedang berada di sebuah pohon besar? Bukankah sebelumnya aku sedang tidur di kamar? Bagaimana bisa saat aku terbangun sudah berada di sini?"


Di sekelilingnya ada pohon-pohon yang tinggi, dengan daun-daunnya yang berwarna merah yang melayang turun, seperti kupu-kupu yang akan hinggap ke tanah.


"Di depan aku juga bisa melihat lautan awan yang bergulir, mataharinya juga belum terbit. Langit malam yang gelap, seperti membentang ke ujung langit dan bumi."


Melihat hal itu, Lina segera bangun dan membuka matanya lebar-lebar, untuk melihat segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mata hitamnya yang berbinar terlihat sangat indah.


Uriel menatap gadis kecilnya dengan mata birunya yang terlihat penuh dengan kelembutan dan bertanya sambil tersenyum, "Apa kamu suka di sini?"


Lina tersenyum saat melihat pemandangan yang begitu indah di dunia ini. Setelah itu dia menempelkan kepalanya di dada Uriel sambil berkata, "Suka!"


Matahari jingga telah terbit dari Timur.


"Seperti nyala api yang membakar seluruh langit, lautan awan menjadi seperti lautan api. Terlihat sangat indah, seperti Negeri Ajaib di dalam dongeng."


Pada saat ini, Uriel membelai dengan lembut rambut gadis kecilnya yang panjang.


"Konon katanya, Kota Matahari adalah tempat kelahiran Dewa Matahari. Di Kota ini kamu bisa melihat matahari terbit yang paling indah."


Lina pun mengangguk sambil berkata, "Ya. Benar-benar sangat indah."


Setelah menyaksikan matahari terbit, Lina pun segera bertanya, "Di mana ini? Apa kita masih berada di Kota Matahari?"


"Tentu saja kita masih berada di Kota Matahari. Sekarang kita sedang berada di puncak Gunung Suci."


Lina sangat terkejut, dia segera melihat sekelilingnya yang terdapat banyak bunga dan pohon, masih merasa sedikit tidak percaya kalau tempat ini adalah Gunung Suci yang legendaris, "Sepertinya tidak ada bedanya dengan gunung biasa!"


"Ya, tepatnya di puncak Gunung Suci. Tempat ini adalah area terlarang. Umumnya orang luar tidak akan diizinkan untuk masuk kemari."


Mendengar hal itu, Lina lebih terkejut lagi. "Kalau begitu, kenapa kamu membawaku kemari? Bagaimana jika ada seseorang yang melihat kita?"


"Tidak masalah, tidak akan ada yang bisa menemukan kita. Saat aku masih kecil, aku biasa memanjat pohon ini untuk bermain, dan tidak ada satupun yang pernah tahu. Tempat ini adalah markas rahasiaku."


Saat mendengar itu, Lina tidak bisa tertawa atau pun menangis.


"Uriel dewasa yang selalu lembut dan tenang, tidak ku sangka kalau ternyata dia itu hantu yang nakal saat masih kecil."


Uriel mencium pipi gadis kecilnya, setelah itu berkata, "Aku belum pernah membawa orang lain ke sini, kamu adalah yang pertama."


"Hmm.. Aku merasa sangat terhormat," Ucap Lina sambil tersenyum.


"Aku ingin berbagi semua yang aku suka denganmu. Aku harap kamu bahagia." Ucap Uriel.


Lina yang hatinya tergerak saat mendengar apa yang Uriel katakan, segera memeluk leher Uriel dan mengambil inisiatif untuk mencium bibirnya.


Biasanya, pasangan Lina lah yang biasanya menciumnya terlebih dulu, dan dia jarang berinisiatif untuk mencium pasangannya.


Lina mencium Uriel dengan canggung dan merasa sangat tidak nyaman, sebab beberapa kali giginya telah mengetuk gigi Uriel.


Uriel pun segera memeluknya dan dengan sabar mengajarinya.

__ADS_1


Di akhir ciuman mereka, keduanya dalam keadaan penuh dengan n*fs*.


Lina sedang merasakan hal-hal yang sulit dan membuatnya malu jika di katakan secara langsung, dia pun bertanya dengan wajahnya yang terlihat memerah karena malu, "Haruskah kita kembali?"


Meskipun pemandangan di tempat ini sangat bagus, tapi tidak cocok untuk berbaring. Tanahnya ditutupi dengan patahan-patahan ranting pohon dan juga banyak kerikil yang tersebar. Jika dia tetap berbaring di situ, maka punggungya pasti akan terluka.


Akan jauh lebih nyaman jika pulang dan berbaring di tempat tidur.


Tapi kemudian Uriel berkata, "Aku tahu tempat yang bagus di Gunung ini."


Setelah berkata seperti itu, Uriel segera melompat turun sambil membopong Lina dan berjalan menuju kedalam hutan.


Daun-daun yang berserakan di tanah semakin tebal. Menginjaknya tentu akan membuat suara yang terdengar renyah.


"CRAK! CRAK! CRAK!"


"Apakah ada sumber air panas di dekat sini? Aku seperti mencium bau belerang."


Seolah menanggapi dugaan Lina, Uriel memeluknya dan berjalan melalui semak-semak yang sangat lebat. Tak lama berselang, mata air panas yang mengepul muncul di depan mereka.


Bau belerang di udara menjadi semakin kuat, tapi hal itu sama sekali tidak membuat Lina menjadi tidak nyaman. Dengan penuh semangat dia segera melompat ke tanah dan berlari menuju ke sumber air panas.


"Waaah.. Di sini benar-benar ada sumber air panas?"


Kemudian dia mengulurkan tangannya dan menyentuh sumber air panas tersebut.


"Suhunya cukup tinggi."


Uriel berjalan ke sisinya dan berkata, "Kolam yang dapat memanaskan air dengan sendirinya disebut sumber air panas? Imam besar mengatakan kalau ini adalah kolam suci."


Mendengar itu, Lina teringat dengan air suci yang diminum oleh ayah mertuanya, dia pun segera bertanya, "Apakah semua air suci diambil dari kolam ini?"


"Jika air suci diambil dari sumber yang sama dengan air untuk mandi, itu akan terlalu mengerikan?!"


Untungnya jawaban dari Uriel telah membantah dugaan Lina.


"Lokasi air suci lebih ke hulu lagi, tidak jauh dari sini. Nanti aku bisa mengantarmu untuk melihatnya."


Sambil melepas pakaian yang dia kenakan, Uriel lanjut berkata.


"Sewaktu masih kecil, saat aku sedang bermain di gunung, aku melihat imam besar biasa mandi di sini. Kemudian aku mencoba berendam di sini, sudah dua kali. Cukup nyaman kok."


Setelah Uriel benar-benar t*l*nj*ng, terlihatlah tubuhnya yang ramping, dengan garis ototnya yang halus dan indah. Di tubuh bagian bawahnya, terdapat benda yang besar dan sudah mengeras.


Kulit Uriel tebal, tentu saja dia tidak takut dengan air mendidih. Jika dia langsung berendam dalam air panas ini, sama sekali tidak akan ada reaksi yang akan merugikan dirinya.


Sedangkan Lina tidak berani melakukan seperti apa yang Uriel lakukan. Setelah Lina menanggalkan pakaiannya, dia duduk di tepi kolam terlebih dahulu dan menuangkan air panas tersebut ke tubuhnya sedikit demi sedikit.


"Suhu airnya tinggi. Aku harus membiasakan kulitku supaya bisa beradaptasi dengan suhu air ini, sebelum aku memutuskan untuk masuk ke dalam kolam."


Tidak tahu sejak kapan Uriel berenang, tiba-tiba saja dia memeluk Lina dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2