
Dengan susah payah mendayung, saat ini Lina telah berhasil menuju ketepi danau.
"Akhirnya.."
Danau bawah tanah ini terdapat di dalam gua, yang tidak diketahui oleh para Orc daratan.
Stalaktit dengan berbagai bentuk dan ukuran ada di mana-mana di dalam gua ini, dan permukaan tanahnya di tumbuhi dengan lumut tebal berwarna ungu tua.
Lina bertanya-tanya dalam hatinya, "Apakah tempat tersembunyi ini adalah wilayah klan Iblis?"
Kemudian dengan hati-hati dan waspada, dia terus berjalan hingga akhirnya keluar dari gua bawah tanah ini.
Setelah sampai di ujung lain gua ini, dia kini berada di sebuah hutan yang luas, yang di tumbuhi dengan pohon-pohon aneh yang entah berjenis apa.
"Kenapa tumbuh-tumbuhan di sini tidak ada satupun yang memiliki daun? Kenapa setiap pohonnya hanya di tumbuhi dengan satu bunga berwarna ungu tua? Aneh.." Pikir Lina bingung dan terkejut, saat melihat tanaman-tanaman aneh yang tumbuh di sini.
Saat Lina menengadah untuk melihat ke atas, dia sedikit terkejut lagi, dengan apa yang saat ini sedang dia lihat.
"Apa itu? Seperti ada lapisan benda yang sedikit transparan, yang menutupi bagian atas tempat ini.. Selain aku tidak bisa melihat dengan jelas matahari dan awan yang ada di luar, sepertinya lapisan itu juga untuk menghalangi angin dan salju agar tidak masuk ke tempat ini. Pantas saja tempat ini terasa hangat.." Gumam Lina.
Lalu, saat Lina melihat kesekelilingnya, dia melihat sosok dingin yang dia cari sedang berjalan membawa Saga, bersama dengan puluhan Orc Kucing Liar yang berjalan mengikuti di belakang sosok dingin itu.
"Aku harus cepat-cepat mengikuti mereka."
Pohon tidak memiliki kaki dan tidak bisa berjalan dengan normal seperti manusia.
Pohon mati itu hanya bisa menggunakan akar-akarnya untuk memelantingkan dirinya, untuk melompat kedepan.
"HUP! BRUK!"
"HUP! BRUK!"
"HUP! BRUK!"
Jika ada Wiro yang saat ini menyaksikan hal ini, dia pasti akan tertawa hingga perutnya sakit karena kejenakaan yang tak terlukiskan, saat melihat pohon mati yang dengan canggung sedang melompat-lompat seperti kelinci.
...........
"HUP! BRUK!"
Saat sedang melompat-lompat mengikuti mereka, Lina segera bersembunyi di antara banyaknya pohon-pohon yang ada di hutan ini, saat beberapa dari para Orc Kucing Liar itu menoleh kebelakang untuk melihat dan mencari dari mana sumber suara berasal.
"Untungnya, aku dalam bentuk tubuh seperti ini.." Batin Lina.
...........
Di depan, sosok dingin dan yang lainnya kini telah sampai di luar hutan.
Melihat itu, dengan tergesa-gesa Lina pun segera mempercepat gerakan melompatnya, supaya bisa segera sampai ke tepi hutan.
Setelah sampai, Lina melihat ada sebuah danau besar di depannya, dengan airnya yang berwarna ungu gelap dan terlihat menakutkan.
Di sekitar danau itu, terlihat juga ada empat Mercusuar hitam dengan masing-masing bentuknya yang persis sama. Tapi bagian atas mercusuar itu tidak berlampu.
Di atas danau itu, mengambang makhluk aneh yang berbentuk seperti ubur-ubur, yang samar-samar bercahaya berwarna ungu.
"Ternyata, lapisan transparan yang menutupi seluruh bagian atas, adalah tubuh Ubur-ubur.. Besar sekali tubuh Ubur-ubur itu.." Gumam Lina.
Di bagian bawah ubur-ubur itu, ada banyak sekali tentakelnya yang tipis dan panjang. Seperti rambut panjang wanita, yang melambai lembut terkena angin.
Saat sosok dingin dan para Orc telah sampai di luar hutan, secara serempak semuanya berhenti dan berdiri diam pada posisi mereka masing-masing. Kemudian, Ubur-ubur raksasa itu merentangkan dua tentakelnya dan membuat lingkaran di sekeliling mereka.
Setelah memastikan kalau tidak ada masalah, ubur-ubur itu pun menarik kembali kedua tentakelnya.
__ADS_1
Hal ini dilakukan, untuk memeriksa apakah ada klan asing yang menyelinap ke wilayah klan Iblis ini.
Selain itu, di sekitar danau, ada banyak pasukan iblis yang sedang berpatroli. Jika ada penyusup yang masuk, mereka pasti akan langsung mencabik-cabik si penyusup!
Pada saat ini, sosok dingin bersama dengan para Orc, terus bergerak maju. Mereka semua berjalan menuju ke mercusuar yang ada di tepi danau.
Saat Lina sedang fokus memperhatikan kemana sosok dingin itu menuju, dia sangat tetkejut karena saat ini tentakel ubur-ubur itu telah ada di depannya.
"Ah!"
Merasa sangat takut, Lina pun memutuskan untuk tetap diam tak bergerak sedikitpun, tepat berada di samping beberapa pohon.
"Gawat! Apa aku ketahuan?" Batin Lina yang sangat ketakutan.
Tentakel yang panjang dan tipis yang tepat ada di depan Lina, saat ini seolah-olah sedang menanti atau memperhatikan sesuatu.
Hal itu mempuat Lina yang dalam bentuk pohon mati pun berkeringat dingin.
"Gawat.. Gawat.."
Kemudian, tentakel itu pun menyentuh cabang pada tubuh pohon Lina.
"Sialaaan.." Jerit Lina dalam hatinya.
Sentuhan dingin dan menggelitik tentakel itu pada tubuh pohon Lina, membuatnya mulai merasa geli. Butuh banyak upaya bagi Lina, untuk menahan agar tidak sampai tertawa.
"Gawat! Hentikan! Aku sudah tidak tahan lagi.." Batin Lina.
Merasa tidak ada perbedaan dengan pohon yang lain, akhirnya tentakel itu pun melepaskan sentuhannya pada tubuh pohon Lina.
"Akhirnya.. Hampir saja aku tidak lagi bisa menahan geli.. Hhhhh.." Batin Lina.
Segera setelah dia menghela napasnya karena merasa lega, dia baru menyadari kalau saat ini bunga berwarna ungu yang tumbuh di pohon-pohon besar di sebelahnya, sedang bermekaran.
"Hah? i.. i.. itu.. adalah bunga kanibal!" Gumam Lina lirih yang saat ini sedang sangat terkejut dan takut.
Lina pun memutuskan untuk segera melompat mundur, menjaga jarak dari pohon-pohon kanibal itu.
"Wilayah klan Iblis benar-benar mengerikan. Ada banyak bahaya di mana-mana. Aku harus selalu waspada dan lebih berhati-hati." Batin Lina.
Saat ini, di depannya tidak hanya ada iblis yang mondar-mandir berpatroli, tapi juga ubur-ubur raksasa yang sangat menakutkan, yang membuat Lina tidak berani bergerak kemana-mana. Dia hanya bisa bersembunyi di tepi hutan dan menunggu lama, hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk segera bergerak lagi.
"HUP! BRUK!"
...........
Pada saat ini, sekelompok pasukan iblis baru saja kembali dari luar gua, dengan membawa banyak makanan dan rumput-rumputan.
Jarang ada hewan yang keluar untuk mencari makan, karena saat ini di luar sedang ditutupi oleh salju. Karena itulah sebagian besar hasil tangkapan mereka, adalah Ikan dan Udang. Semua Ikan dan Udang ini mereka kemas dalam beberapa tas kulit besar.
Melihat kesempatan emas ini, Lina pun mencari waktu yang tepat, dan kemudian masuk ke dalam salah satu tas kulit itu untuk bersembunyi.
"HUP!"
Tak lama kemudian, tas-tas kulit berisi makanan itu diangkut dan dibawa ke mercusuar yang ada di tepi danau.
Untungnya, mercusuar ini adalah mercusuar yang sama, dengan yang baru saja dimasuki oleh Handi Kobra dan yang lainnya.
"BRUK! BRUK! BRUK!"
Tas-tas kulit yang berisi makanan, telah dilempar ke gudang bawah tanah. Dan kebetulan saja, posisi Lina saat ini tepat ada di bawah, dan tertindih oleh ikan-ikan dan Udang.
"AKHH! Ranting-rantingku sepertinya banyak yang hampir hancur!" Jerit Lina dalam batinnya.
__ADS_1
Mau tak mau, Lina hanya bisa menunggu sampai para iblis pembawa makanan itu pergi, barulah dia berani untuk keluar dari dalam tas kulit.
"Ugghh! Bau amisnya yang sangat menyengat, membuatku hampir pingsan!"
Dia pun menggosok-nggosokan tubuh pohonnya ke dinding sampai bau amisnya hilang, sebelum meninggalkan gudang bawah tanah dan menyelinap ke atas.
Untuk mengurangi kebisingan, Lina membaringkan tubuh pohonnya seperti orang yang sedang dalam posisi tiarap pada anak tangga pertama, kemudian menggunakan ranting-rantingnya untuk menarik tubuh pohonnya, dan mulai menaiki anak tangga berikutnya satu persatu.
Mercusuar ini sangat tinggi, dengan banyak anak tangganya yang berbentuk spiral.
"Sereet! Doroong! Sereet!" Gumam Lina lirih, untuk menyemangati dirinya yang sedang menyeret tubuh pohonnya.
"Hah.. Hah.. Hah.. Hah.."
Akhirnya, Lina yang menggunakan ranting dan akar pada tubuh pohonnya untuk menaiki begitu banyak anak tangga, yang membuatnya sangat lelah dan hampir pingsan, tiba di sebuah ruangan yang terkunci dan menemukan keberadaan Saga.
"Itu.. Saga.. Sepertinya dia sedang beristirahat.."
Saat Lina membuka jendela ruangan tersebut, ternyata ada sebuah jeruji yang terbuat dari pilar-pilar batu. Untungnya, tubuh Lina saat ini dalam bentuk pohon yang berukuran kecil. Dan tanpa menemui banyak kesulitan, dia pun berhasil masuk melalui celah diantara pilar-pilar batu tersebut.
Saat memasuki ruangan itu, Lina sedikit terkejut melihat isi di dalamnya.
"Kamar yang Saga tempati sangat luas, di dalam kamar ini tidak hanya terdapat tempat tidur, tapi juga meja, lemari dan kursi. Sepertinya, orang itu masih sangat mementingkan keponakannya.."
Di sudut ruangan juga terlihat ada vas yang besar, yang ditanami beberapa bunga yang kini tengah mekar sempurna.
"Untungnya, tanaman itu bukan jenis tanaman kanibal seperti yang aku lihat di hutan.." Batin Lina saat melihat bunga-bunga yang ditanam di dalam vas.
Karena terlalu lemah, Saga tidak bisa merubah wujudnya ke bentuk Orcnya. Dia hanya bisa melingkarkan tubuhnya untuk berbaring di atas tempat tidur batu, dalam wujud Ular Piton.
Terlihat juga luka-luka di tubuhnya telah diobati dengan ramuan obat-obatan, yang kini terlihat jauh lebih baik. Meskipun belum sembuh total, tapi sudah tidak mengerikan seperti sebelumnya.
Melihat hal ini, Lina menjulurkan rantingnya untuk menyentuh Ular itu dengan lembut, lalu memanggilnya dengan suaranya yang terdengar lirih, "Saga.."
Tapi, Ular Piton itu tidak meresponnya sama sekali.
Lina pun memeluk tubuh Ular Piton itu dan mendoakannya.
"Kamu harus segera sembuh.. Saga.."
...........
Sesekali, Handi Kobra akan datang keruangan ini untuk menjenguk Saga dan memberikannya obat.
Pada saat seperti ini, biasanya Lina akan bersembunyi di vas bunga, dan tetap diam tak bergerak, untuk berpura-pura menjadi tanaman bersama dengan bunga-bunga itu.
"Semoga saja dia tidak menyadari keberadaanku di sini."
...........
Pada hari ketiga, akhirnya Saga telah tersadar dari pingsannya.
Lina merasa sangat bersemangat saat melihat ini, hingga ranting-ranting pada tubuh pohonnya bergetar.
Ular Piton itu membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya, seolah-olah seperti sedang bertanya-tanya, "Di mana ini?"
Dia sama sekali tidak memperhatikan kalau ada pohon kecil dan tipis yang ada di dekatnya.
Pada saat ini, Lina sedang melambai-lambaikan ranting pohonnya sambil berkata dengan suaranya yang tidak terlalu terdengar keras, "Saga.. Lihatlah kebawah.. Aku ada di sini.. Aku ada di bawahmu!"
"Suara itu.." Pikir si Ular Piton yang sangat mengenal suara yang sangat familiar baginya.
Setelah mendengar suara itu, Ular Piton itu pun segera menundukkan kepalanya dan menatap pohon kecil yang ada di dekatnya, kemudian bertanya dengan ragu-ragu, "Lina?? Apa benar itu kamu?"
__ADS_1
"Ya.. Ini aku!"