
Pengakuan Saga, membuat Lina tidak bisa mengelak lagi.
Demi menyelamatkan gadis kecil ini, dia rela mengorbankan dirinya sendiri, hingga menyebabkan dirinya terluka seperti ini. Apa yang sudah Saga lakukan, sudah membuat Lina sangat tersentuh.
Lina tidak bisa meninggalkannya.
Lina berpikir untuk waktu yang lama, kemudian berkata, "Ikut lah denganku kembali, ke Gunung Batu. Ketika kamu sudah pulih dari luka-lukamu, kita akan bicarakan lagi tentang ini, bagaimana?"
Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Sebelum membuat keputuaan, Lina harus kembali terlebih dahulu dan bertanya kepada keluarganya tentang hal ini.
Saga tahu, saat ini, gadis itu sedang bimbang.
Dia senang, tetapi dia juga merasa sedih.
Sayangnya, saat ini bukanlah waktu yang tepat, untuk merayakan kegembiraannya.
Saat Saga buru-buru melarikan diri, dia tidak sempat untuk membersihkan jejak-jejak pelariannya. Bisa dipastikan, para Orc Babi Hutan itu pasti sudah mengikuti jejaknya dan mengikutinya sampai ke sini.
Saga sedang terluka parah. Dia juga tidak punya waktu untuk menunggu hingga pulih total.
Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melindungi gadis kecil itu, dia hanya ingin gadis itu pergi sebentar, dia tidak ingin Lina terkena amukan para Orc klan Babi Hutan.
Tanpa daya, kemudian Saga berkata kepadanya, "Aku terluka, untuk sementara ini, aku tidak bisa kemana-mana. Kita juga membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Jadi untuk saat ini, kamu hanya bisa pergi sendiri, ketika kamu menemukan makanan dan bantuan, datanglah kembali kesini."
Lina mengkhawatirkan Saga, akan tetapi, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa jika tetap di sini.
Lina menggertakan giginya sambil memikirkan hal itu.
"Kamu harus kembali untuk menolongku." Ucap Saga mengingatkan Lina.
Saga menjulurkan lidahnya dan melepas Liontin Permata Hitam yang ada di antara kedua alisnya, kemudian dia meletakkannya di telapak tangan Lina.
"Ini adalah batu yang ditinggalkan oleh ibuku untukku. Jika kamu memakainya, aku bisa merasakan keselamatanmu melalui batu ini."
Lina mengambil Liontin Permata Hitam itu dan mengalungkannya di lehernya. Dia menggenggam batu permata hitam itu dan berkata dengan tegas, "Aku akan segera kembali."
"Hati-hati selama diperjalanan. Aku akan selalu di sini menunggumu."
Lina meninggalkan sisa makanan untuk Saga, dia memasukkan semua benih yang sudah dia kumpulkan ke dalam tasnya, kemudian keluar dari gua dan mulai berjalan menyusuri salju.
Saga memperhatikan kepergian Lina.
Sampai sosoknya benar-benar hilang tak terlihat lagi, dia masih enggan untuk mengalihkan pandangannya.
Perkiraan Saga benar, para Orc dari Suku Babi hutan mengikuti jejaknya.
Setelah menemukan si ular piton, dengan penuh kebencian, mereka segera mengambil kayu dan batu api, siap untuk menyalakan obor dan membakar ular piton itu.
Namun, Saga tidak memberikan mereka kesempatan.
Saga bergegas keluar dari gua, membuka mulutnya dan menggigit salah satu Orc Babi Hutan.
...........
__ADS_1
Angin dan salju membuat kulitnya terasa sakit, tapi Lina tidak mau berhenti. Dia tetap berlari ke arah Gunung Batu.
Saljunya sangat tebal, sehingga dia jatuh beberapa kali berturut-turut dan tubuhnya tertutup puing-puing salju.
Begitu angin bertiup, darahnya serasa mulai membeku.
Lina menggertakan giginya dan bangkit. "Aku harus segera kembali. Saga masih menunggu pertolonganku."
Berkali-kali, dia tersandung dan jatuh, di sepanjang jalan dia berlari.
"Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari."
Hari sudah hampir gelap. Namun, Gunung Batu masih jauh dari posisinya saat ini.
Lina menghela nafasnya. Sebagian nggota tubuhnya sudah hampir membeku dan kepala serta bahunya tertutup salju tebal.
Tubuh yang belum sepenuhnya pulih itu, akhirnya tak mampu lagi bertahan dan terjatuh lagi.
Lina berjuang untuk bangkit, tetapi dia sudah tidak memiliki daya untuk mengangkat tubuhnya sendiri dan tidak bisa menggerakannya.
Kini seluruh tubuhnya, sedikit demi sedikit mulai tertutup oleh salju.
"Jika aku terus seperti ini, aku pasti akan terkubur hidup-hidup di bawah tumpukan salju." Gumam Lina.
Pada saat ini, terdengar suara dari kejauhan.
"LINA!"
"LINA!"
Lina segera mengangkat sedikit kepalanya. Dia menajamkan telinganya dan mendengarkan dengan seksama.
Hatinya seketika merasa sangat senang dan merasa ada harapan. Lina sangat mengenali suara itu.
"Itu suara Uriel!"
"Aku disini!" lina berteriak lemah, dia mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk berteriak.
Tapi, angin segera menenggelamkan suaranya.
Kini dia juga sudah tidak memiliki tenaga, untuk mengangkat kepalanya lagi.
"Aku tidak tahu, apakah kamu bisa mendengarku." Lina bergumam lirih, dengan kedua matanya yang tertutup.
Untungnya, dengan pendengarannya yang tajam, Uriel bisa mendengar suara Lina, meskipun terdengar lemah.
Dengan cepat, dia bergegas berlari ke arah Lina dan menggali untuk mengeluarkan Lina, yang sudah hampir terkubur oleh salju.
Kini Lina sudah dalam pelukan Uriel. Melihat tubuh gadis kecilnya yang gemetaran dan sangat lemah dalam pelukannya, seketika dadanya merasa sangat sesak. Dengan cepat, Uriel mengarahkan tabung anggur yang dia bawa dan menuangkannya ke mulut gadis kecilnya itu.
Rasa panas seketika menjalar di tenggorokannya, hingga mengalir masuk ke dalam perutnya. Saat itu juga, Lina seperti di tarik keluar, dari keadaanya yang hampir tak sadarkan diri.
"Selamatkan dia..." Suaranya terdengar sangat lemah dan serak.
__ADS_1
Saga masih menunggu seseorang untuk menyelamatkannya.
Uriel memeluk gadis kecilnya dengan lebih erat lagi, "Jangan banyak bicara dulu. Jika sesuatu terjadi, akan kita bicarakan setelah kita kembali."
Dengan cepat, dia berjalan kembali menuju ke Gunung Batu, dengan Lina yang ada di dalam gendongannya.
Dalam perjalanannya kembali menuju ke gunung batu, Uriel bertemu dengan Wiro yang bersama dengan beberapa orang, yang juga turun gunung untuk ikut mencari Lina.
Setelah mengetahui bahwa Lina telah ditemukan, mereka sangat terkejut dan dengan cepat melindungi Lina dan bersama-sama berlari kembali ke gunung batu.
Lina langsung dibawa ke rumah si dukun tua.
Saat ini, Lina sudah tak sadarkan diri. Dia demam, dengan mulutnya yang masih terus meracau.
"Pergi, selamatkan dia ... Selamatkan dia ..."
Semua orang mengira dia sedang bicara melantur dan tidak terlalu menganggapnya serius.
Setelah Sito Gering mengerahkan semua kemampuannya dan mencoba berbagai macam cara, akhirnya kondisi Lina saat ini bisa stabil.
Tapi karena efek obatnya, Lina masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan sangat berhati-hati, Uriel membawa Lina kembali pulang kerumah mereka.
Wiro juga mengikuti, dia tidak ingin mengedipkan matanya untuk memperhatikan gadis kecil itu, matanya terlihat lelah, tapi penuh cinta.
Ada dua pria yang bertubuh tinggi, mereka berdua terus memperhatikan kondisi Lina yang sedang terbaring di tempat tidur. Mereka berdua sudah berdiri diam tak bergerak, di samping tempat tidur, untuk waktu yang lama, hingga Rei datang. Mereka berdua baru saja kembali dari pencarian, dengan enggan, mereka akhirnya berjalan keluar dari kamar tidur.
Rei yang datang, langsung memberikan kabar.
"Ketua, kabar buruk. Josh dan Heli Belang telah melarikan diri!"
Wiro mengangkat alisnya, tampak sangat tidak senang mendengar kabar itu.
"Bagaimana bisa? Apa kamu tidak mengawasi mereka dengan baik?"
Rei segera menjelaskan kejadiannya dari awal hingga akhir.
Wiro tahu bahwa Josh dan Heli Belang yang tiba-tiba berkunjung ke gunung batu, selain menjual anggur, pasti ada tujuan lain yang akan mereka lakukan. Karena sedari awal, Wiro sudah curiga dengan tujuan kedatangan mereka, Wiro memerintahkan orang untuk terus mengawasi mereka berdua. Begitu ada situasi apa pun, mereka harus segera melaporkannya ke Wiro.
Namun, Heli belang sangat lah pandai dan licik. Dia mengambil kesempatan dari Wiro, membawa orang-orang menuruni gunung dengan dalih membantu untuk mencari Lina dan melarikan diri bersama Josh dan lebih dari 50 Orc pria.
Beberapa dari lima puluh Orc itulah adalah pasangan Avi.
Setelah kematian Avi, 29 pasangannya digigit balik oleh kontrak pasangan mereka, dan 20 di antaranya gagal bertahan hidup dan mati.
Sembilan orc laki-laki yang tersisa, juga terluka pada tingkatan luka yang berbeda-beda dan kini Heli Belang membawa mereka semua pergi.
Uriel tidak peduli dengan urusan antara klan serigala, dan jarang sekali ikut campur dalam keputusan internal klan serigala.
Tapi kali ini, dia mengerutkan keningnya, setelah mendengarkan penjelasan Rei.
Rei menjelaskan lagi, "Heli Belang tidak lah sesederhana itu. Jika kamu membiarkannya pergi seperti ini, dia pasti akan kembali dan membawa harimau ke Gunung Batu dan akan ada masalah berkepanjangan yang tanpa akhir."
Kemudian Rei melanjutkan untuk menjelaskan lagi, "Mayat Avi juga telah ditangani dengan sangat bersih, tetapi pasangan prianya pasti tahu, kalau dia sudah mati. Setelah mereka kembali ke suku mereka, mereka pasti akan mencoba yang terbaik untuk membalaskan dendam mereka ke kita. Kita harus bersiap untuk mencegah hal ini terjadi!"
__ADS_1
"Hmm." Uriel mulai paham apa yang terjadi.
Saat ini, Wiro sedang berpikir, kemudian dia mengambil keputusan cepat, "Aku akan membawa orang untuk mengejar Heli Belang dan yang lainnya. Aku juga harus menghabisi pasangan Avi yang tersisa, sebelum mereka kembali ke suku Ayam Pegar."