Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 60 - Bercocok Tanam


__ADS_3

Wiro telah menemukan sebidang tanah yang terletak di kaki gunung. Tanahnya pun terlihat sangat subur. Sangat cocok bila digunakan untuk menanam tanaman.


Setelah mendengar kabar dari Wiro, Lina segera turun gunung untuk melihat lokasinya.


"Waah.. Bagus! Tanahnya subur, kita tinggal menanam benihnya dan juga tidak perlu jauh-jauh untuk mencari air."


Ternyata lokasinya sesuai dengan yang Lina bayangkan, juga terdapat sungai kecil di dekat lokasi tanah tersebut.


"Wiro, sungai apakah itu?" Tanya Lina dengan ekspresi senangnya.


"Itu anak sungai dari Sungai Hitam." Jawab Wiro.


Lina merasa sangat puas dengan tempat ini. Dia bahkan ingin langsung membangun rumah kayu dan tinggal di sini.


"Lokasi ini benar-benar tempat yang bagus untuk ditinggali!" Seru Lina.


Selain itu, Lina juga harus memikirkan bagaimana menanam benih-benih yang ada di dalam tasnya.


"Aku harus membajak tanahnya terlebih dulu, untuk melakukan itu aku membutuhkan traktor atau cangkul. Tapi, di zaman seperti ini, di mana aku bisa menemukan alat-alat seperti itu?"


Di zaman ini, tidak ada peralatan apapun yang terbuat dari logam. Tidak ada cara lain selain harus meminta seseorang untuk memecahkan beberapa batu. Wiro yang bertugas memecahkan batu. Uriel dan Lina mencari beberapa pecahan yang tajam dan pipih, setelah itu dia ikatkan dengan kuat ke tongkat kayu dengan menggunakan tali jerami dan jadilah cangkul versi sederhana.


Lina pun segera mencoba untuk yang pertama kalinya, cangkul hasil buatannya sendiri dan mungkin juga cangkul yang pertama kalinya di dunia ini. Cangkul itu bisa digunakan, tetapi sangat berat.


Butuh waktu yang lama baginya, bahkan untuk menggali satu lubang.


Uriel yang tidak tega melihat gadis kecilnya melakukan hal itu sendiri, segera mengambil alih cangkulnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Biarkan aku membantumu melakukannya."


Kemudian, Lina memperagakan bagaimana cara mencangkul tanah kepada Uriel.


"Ayunkan cangkulnya."


Uriel mencoba melakukan apa yang sudah dia pelajari dari Lina dan mengayunkan cangkulnya ke tanah.


"Apa benar begini caranya?"


Lina menjawab sambil mengangguk, "Ya, benar sekali."


Dari belakang mereka, diam-diam Wiro ikut memperhatikan apa yang Lina peragakan. Dia menganggap pekerjaan seperti itu sangat mudah baginya. Jadi, dia pun diam-diam mengambil cangkul, untuk ikut mencangkul tanah.


"PRAK!"


Tapi, baru sekali ayunan, dia malah mematahkan cangkulnya. Itu karena dia mengayunkan cangkulnya ke tanah, dengan menggunakan tenaga yang terlalu besar.


Dia membuang kayu cangkul yang patah ke samping dan segera berteriak sambil membajak tanah dengan cakarnya.

__ADS_1


"HIYA! HIYA! HIYA! HIYA!"


Cakar tajam serigalanya cukup untuk memotong batu seperti memotong kayu. Hanya tanah bukan apa-apa baginya.


Ketika Lina mendengar teriakan dan melihat ke arah Wiro, dia melihat Wiro telah menggali dan membuka lahan yang cukup luas. Serta semua batu dan pohon yang menghalangi cakarnya, telah dia babat habis.


"Itu kecepatan yang mengerikan!" Batin Lina yang terkejut melihat aksi Wiro.


Lina pun dengan tulus segera memujinya sambil mengacungkan satu jempolnya.


"Kamu sangat hebat, Wiro!"


Wiro yang dipuji segera berjalan mendekati Lina kemudian mengangkat kepalanya sambil menunjukkan senyum bangga.


"Urusan seperti ini, sangat mudah bagiku!"


Lina menatapnya, seolah-olah sedang melihat seekor anjing besar yang tengah berjongkok di tanah sambil menggoyangkan ekornya untuk dibelai pemiliknya.


Lina pun segera berjinjit, mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalanya, "Ayo lanjutkan lagi. Tunggu hingga benihnya telah tumbuh, saat itu aku akan membuatkanmu roti isi daging!"


Wiro tidak tahu apa itu roti isi daging, tapi selama itu dimasak oleh Lina, pasti rasanya enak.


Dia pun berkata, "Roti daging harus untukmu dan anak-anak kita. Aku tidak harus memakannya."


Lina hanya tersenyum dan hatinya juga terasa hangat, saat mendengar perkataan Wiro.


Uriel tahu, bahwa Master Ring lah yang telah mempengaruhi emosinya. Kini dia mulai melatih pengendalian dirinya, berusaha untuk tidak membiarkan dirinya terpengaruh lagi.


Dia sangat mencintai Lina, dia juga tidak ingin mengubah cinta yang seperti ini, menjadi bebannya.


...........


Uriel dan Wiro melakukan pekerjaannya dengan sangat cepat. Hanya dalam setengah hari, mereka telah membuka lahan dan membajak tanah seluas hampir dua hektar tanah.


Lina pun juga mulai melakukan tugasnya. Menanam semua benih-benih tumbuhan yang telah dia kumpulkan, dan dia kelompokkan pada bidang tanah yang telah dia pisah-pisahkan.


Mereka menyelesaikan semua ini, saat matahari mulai terbenam. Wiro merubah wujudnya menjadi serigala, dan membawa pulang Lina di punggungnya.


Uriel mengikuti mereka dengan membawa cangkul dan tong air. Dia menatap punggung gadis kecilnya yang bergoyang dengan lembut di bawah sinar matahari yang mulai terbenam. Matanya terus memperhatikan dengan sorot mata yang lembut.


Di hari berikutnya, Uriel dan Wiro akan pergi berburu secara bergantian, pria yang tinggal di rumah lah yang akan menemani Lina turun gunung untuk menyirami ladang.


Saat mengambil air di sungai, Lina tidak sengaja melihat ikan dan udang.


"Kita makan ikan malam ini," katanya bersemangat.


Hari ini, yang tinggal di rumah bersamanya adalah Uriel. Dia suka makan ikan dan udang. Ketika dia masih tinggal sendiri, dia sering menangkap ikan di sungai, jadi, teknik menangkapnya pun bagus.

__ADS_1


Sungai itu tidak dalam, Uriel yang turun ke sungai untuk menangkap ikan.


Lina hanya berjongkok di tepi sungai, sambil memperhatikan setiap gerakan Uriel tanpa berkedip.


Ketika Uriel menargetkan ikan yang akan dia tangkap, ekspresinya terlihat sangat fokus dan pupil mata birunya menyusut menjadi garis lurus. Gerakannya sangat cepat dan akurat saat menangkap mangsanya.


"HUP!"


"HUP!"


Dalam sekejap, dia telah menangkap satu tong penuh dengan ikan.


Lina bersorak kegirangan, "Hasil tangkapan yang banyak.. Nanti malam kita bisa pesta ikan.."


Meskipun masakan Lina enak, tapi dia sedang tidak ingin masak. Dia hanya ingin tinggal duduk dan makannya saja.


Sebagai gantinya, Uriel sang jenius masak lah yang bertugas memasak menggantikan Lina, sementara Lina berdiri di sampingnya untuk memberikan arahan.


Setelah proses memasak yang panjang, kedua orang itu pun akhirnya gagal membuat makanan, karena kekurangan bahan. Dan akhirnya, mereka memutuskan memasak sepanci ikan rebus dan mereka campur dengan acar. Baunya enak dan membuat air liur mereka berdua segera menetes.


Kebanyakan Orc tidak suka makan ikan. Mereka merasa kalau ikan itu aneh dan juga memiliki terlalu banyak tulang.


Tapi bagi Uriel yang sebagai kucing besar, sangat menyukai bau amis ikan. Tulang ikannya pun akan dia kunyah dan telan ke dalam perut. Dan lagi, biasanya dia makan ikan yang masih mentah, tetapi hari ini, adalah yang pertama kali baginya makan ikan yang dimasak.


Begitu Wiro kembali, ketiganya pun segera sibuk makan.


"Sangat lezat. Enak." Ucap Uriel yang memuji kelezatan ikan yang dimasak.


Wiro yang awalnya tidak ingin makan ikan, akhirnya pun ikut makan dengan sangat lahap.


Sedangkan Lina, tentu saja juga sangat menikmati makanannya.


Semua ikan dimakan habis oleh mereka bertiga. Tidak ada yang tersisa.


Keesokan harinya, Uriel pergi untuk menangkap seember besar ikan. Pria itu sedang kecanduan ikan dan memutuskan untuk makan ikan yang dimasak setiap harinya. Oleh karena itu, dia secara mandiri mengembangkan beberapa masakan berbahan dasar daging ikan.


Lina dan Wiro juga ikut menikmati makan ikan hasil olahan Uriel yang terasa lezat, dan mereka berdua mendukung Uriel untuk terus mengembangkan hidangan yang lebih lezat lagi.


Selama beberapa hari ini, sayuran yang ditanam oleh Lina telah tumbuh. Tetapi ada yang aneh dengan sayuran itu.


"Aku tidak tahu apakah aku berhalusinasi atau tidak. Aku merasa, sepertinya sayurannya tumbuh terlalu cepat. Hanya dalam waktu sepuluh hari, kebun sayuranku telah dipenuhi dengan sayuran yang segar dan subur? Bagaimana mungkin?"


Bahkan anakan yang ada di dekatnya sudah lebih tinggi dari manusia dan pada cabang-cabangnya telah bermunculan tunas-tunas kecil.


Lina khawatir sayuran akan tumbuh terlalu cepat, jadi dia memilih sayuran yang sudah siap petik dan berencana membawanya kembali untuk dia masak.


Jenis sayuran yang dia petik ini, terdapat kol yang berukuran sangat besar. Menurut catatan di buku kulit bergambar, itu disebut kuncup kubis.

__ADS_1


Ukuran kuncup kubisnya sangat besar, sehingga Lina tidak bisa membawanya sendiri. Uriel lah yang membantu membawanya pulang.


__ADS_2