
Uriel berkata kepada Khodi Kodi, "Kamu bisa ikut belajar di kelas, tapi ada dua syarat."
"Kamu katakan saja, aku pasti akan melakukan semuanya!" Ucap Khodi kepada Uriel.
"Kelas ini tidak gratis, butuh satu poin kerja untuk setiap kali mengikuti kelas. Apakah harga segitu masuk akal bagimu?"
Khodi Kodi mengangguk.
"Sangat masuk akal!"
Sekarang adalah waktu yang paling tepat bagi para Orc biasa, untuk bisa mempelajari pengetahuan yang sangat berharga, hanya dengan membayarnya dari hasil sekali bekerja!
Kemudian Uriel lanjut berkata, "Lina berencana untuk membuka kelas belajar dan mengajar. Nantinya juga akan ada banyak murid yang hadir, tapi Lina hanya seorang diri dan energinya juga sudah pasti sangat terbatas. Jadi, Orc yang ingin ikut belajar juga harus lulus ujian terlebih dulu."
"Apakah ujian ini akan sangat sulit?" Khodi merasa ragu-ragu.
"Soal ujian, itu tidak akan terlalu sulit. Uji saja kemampuan belajar para Orc. Kami hanya akan menerima mereka yang lulus ujian, yang memiliki kemampuan belajar yang terbaik."
Kemudian Khodi Kodi menimbang-nimbangnya lagi dan bertanya dengan ragu-ragu, "Kamu bilang kalau kamu akan menerima banyak murid? Bisakah anak-anak dari klan Kuda Liar kami juga ikut belajar di kelas?"
"Selama kalian memiliki nilai yang cukup dan lulus ujian masuk, kalian bisa ikut dalam kelas belajar." Jawab Uriel.
Kemudian Khodi bertepuk tangan satu kali!
"PLOK! Bagus sekali!"
Dengan perasaan gembira, dia segera berlari kembali untuk membawa kabar baik ini dan memberi tahukan pada para Orc lain dari klan Mustang.
Khodi Kodi sudah pergi. Kini hanya tinggal Rei seorang diri.
Di bawah tatapan tiga Orc jantan pasangan Lina, Orc pria setinggi satu meter sembilan puluh senti itu sedang merasa sedikit malu. Dia menggaruk kepalanya dan menjelaskan niatnya dengan sedikit malu.
"Aku dengar kalau Lina akan mulai mengajar di sekolah. Aku kemari hanya ingin bertanya, apakah aku bisa membawa anak-anakku untuk ikut kelas belajar?" Rei bertanya dengan malu-malu kepada Lina, kemudian dengan cepat dia menambahkan, "Kami pasti akan membayarnya! Apa pun ujiannya, aku pasti akan menerima apa pun hasilnya. Kamu tidak perlu khawatir tentang mereka jika mereka tidak lulus ujian. Tapi jika mereka bisa lulus ujian, apakah kamu akan tetap menerimanya?"
"Tentu saja," Ucap Lina sambil tersenyum.
Rei menunjukkan senyum bahagianya.
"Terima kasih!"
"Apakah kamu tidak ingin mendiskusikan hal ini dengan Meli terlebih dulu?" Tanya Lina kepada Rei.
"Sebenarnya ini semua adalah idenya Meli. Dia yang memintaku untuk datang kemari dan menanyakannya langsung kepadamu."
__ADS_1
Lina merasa agak sedikit ragu, dia pun bertanya, "Kenapa Meli tidak menanyakannya sendiri kepadaku?"
"Dia takut padamu." Ucap Rei.
Mendengar itu, Lina berkata sambil tersenyum, "Kenapa harus takut? Mulai sekarang, kalian bisa datang kepadaku langsung, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk kalian."
"Kamu memang orang yang baik. Tidak heran bila Meli selalu sangat mempercayai dirimu." Ucap Rei.
Dikatakan sebagai orang baik, Lina merasa malu, dia terbatuk pelan dan berkata, "Ehem! Apa ada hal yang lain lagi yang ingin kamu sampaikan?"
"Tidak, aku akan kembali dan memberi tahu Meli tentang kabar ini. Lanjutkan lagi kelasmu. Aku permisi!" Ucap Rei dengan tersenyum gembira.
Setelah melihat Rei pergi, Lina menatap Uriel, Wiro dan Saga, dia bertanya dengan penasaran, "Siapa yang membuat ide untuk mengadakan ujian masuk, supaya bisa mengikuti kelas belajar?"
Ketiga pria itu terdiam sejenak, dan akhirnya Uriel berkata, "Aku yang membuat ide itu."
Lina memasang raut wajah menyelidik, "Oh ya?" Kemudian Lina berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Hmm.. Sudah kuduga itu pasti idemu. Di antara kalian bertiga, kamulah yang mempunyai ide paling banyak."
"Apa kamu menyukai ide seperti ini?" Tanya Uriel.
“Apa aku terlihat tidak suka? Kamu tidak bertanya padaku terlebih dulu, sebelum mengambil keputusan.” Lina mendengus pelan, dan dengan sengaja menunjukkan ekpresi ketidaksukaannya.
Saat ini Wiro segera berseru, "Ya. Uriel juga mengatakan, kalau dia memang tidak ingin memberi tahukan tentang hal ini kepadamu. Tapi itu juga tidak masalah bagiku!"
Mendengar apa yang Wiro katakan, Lina sengaja melihat Wiro dengan jijik, "Huh! Mengkhianati keluarga sendiri, kamu memang bukan anggota keluarga yang baik."
Mendengar apa yang Saga katakan, Lina segera memeluk lengan Saga, kemudian berkata kepada Wiro, "Lihat, ini adalah jawaban standar yang paling menyenangkan untuk didengar. Kamu harus bisa belajar lebih banyak lagi dari orang lain."
Setelah Lina selesai berkata, hidung Wiro pun segera terlihat memerah, Wiro mendengus, "Huh! Kamu Saga si penjilat!"
"Dimananya yang menjilat? Kamu menyebut Saga seperti itu, kamu sudah menyakiti hatinya tahu!" Ucap Lina membela Saga.
Wiro merasa tidak terima, "Apa aku tidak terlihat sedang terluka?"
"Kamu?" Kemudian Lina mengulurkan jarinya, dan dengan lembut menusuk dada Wiro, "Kamu itu menyebalkan!"
Wiro hanya mendengus, "Huh!"
Tiba-tiba saat ini terdengar suara Uriel yang bertanya sambil tersenyum, "Guru, kapan kelasnya akan dimulai?"
Mendengar itu, dengan cepat Lina melepaskan pelukkannya pada lengan Saga, kemudian berkata dengan sedikit canggung, "Mmm.. Kita mulai kelasnya sekarang, kalian semuanya segera duduk, jangan bicarakan topik apa pun yang tidak ada hubungannya dengan kelas."
...........
__ADS_1
Di pagi hari berikutnya, Khodi dan Rei datang dengan membawa anak-anak untuk mencari Lina.
Tidak banyak anak-anak dari klan Kuda Liar yang dibawa oleh Khodi. Karena beberapa dari mereka telah meninggal di jalan. Sekarang hanya tinggal tersisa lima anak Kuda. Sejak pelarian mereka, Khodi bertekad untuk merawat dan berharap yang terbaik untuk mereka.
Lina memperlakukan mereka semua dengan sama, cukup menguji mereka dengan beberapa pertanyaan.
Setelah itu Lina memilih dua anak dari klan Kuda Liar dan tiga anak dari sembilan anak Rei.
"Untuk saat ini hanya kalian berlima. Anak-anak yang lain boleh pulang duluan.."
Anak-anak yang telah dipilih pun merasa sangat senang.
"Horee.."
Kemudian Lina berkata dengan lembut kepada anak-anak yang tidak terpilih, "Jika kalian tertarik untuk ikut belajar, kapan-kapan kalian bisa datang lagi ke kelas ya.. Seberapa banyak kalian bisa belajar, itu tergantung pada kemampuan kalian sendiri.."
Mendengar ini, anak-anaknya yang merasa sedih dan hilang semangatnya, seketika menjadi riang kembali.
"Asiiik.."
Saat ini ada seorang anak yang memberanikan diri untuk bertanya, "Guru.. Jika kami belajar dengan baik, apakah anda mau menerima kami sebagai murid?"
Lina mengangguk sambil tersenyum, dia berkata dengan lembut, "Tentu saja.."
Kemudian Lina berhenti berkata dan melihat ke sekeliling kerumunan, "Aku akan mengadakan ujian secara teratur. Jika ada yang gagal, mereka mungkin didiskualifikasi dari sekolah. Adapun dengan mereka yang tidak pergi ke sekolah, mereka bisa mengajukan permohonan kepadaku untuk masuk kelas, setelah mereka lulus ujian dua kali dalam satu waktu. Aku akan mempertimbangkannya dengan sebijaksana mungkin."
Ini berarti, setiap anak memiliki kesempatan untuk pergi ke sekolah. Mereka kini tidak hanya terlihat senang, tapi juga penuh dengan semangat juang.
Khodi Kodi juga berhasil melewati ujian masuk dari Lina dan menjadi siswa tertua di kelas.
Setiap kali berada di kelas, Khodi selalu mendengarkan dengan sangat cermat dan mengukir setiap kata yang di ucapkan oleh Lina, ke dalam pikirannya.
Sayangnya dia sudah terlalu tua, energi serta ingatannya jauh lebih rendah daripada para Orc muda.
Meskipun dia telah mencoba yang terbaik, dia masih saja mengalami kesulitan dalam belajar.
...........
Sepuluh hari kemudian, Khodi Kodi memutuskan untuk berhenti sekolah.
Lina sangat terkejut, “Kenapa? Apa karena cara mengajarku tidak baik?”
“Tidak, bukan begitu. Kamu mengajar dengan sangat baik, tapi aku menyadari kalau aku tidak lagi layak untuk belajar, di usiaku yang sekarang ini. Lagi pula masih ada Orc lainnya yang masih muda, yang masih memiliki masa depan lebih dariku."
__ADS_1
Saat ini Lina merasa sangat tak berdaya.
"Hhhh.. Ya sudah.. Baiklah, aku menghargai keputusanmu."