
Di malam hari, Uriel kembali memasak sepanci ikan. Lina merobek beberapa daun kubis, dan memasukkannya ke dalam panci, untuk sekalian dicampurkan dengan ikan yang sedang dimasak.
Untuk menghindari keracunan, Lina mencicipi terlebih dulu sayur ikan berdaun kubis tersebut, dan juga menyuruh Uriel dan Wiro untuk ikut mencobanya.
"Rasanya berbeda dari yang kemarin. Kini menjadi lebih enak." Kata Uriel.
"Aku tidak suka makan sayur!" Tolak Wiro. Tetapi Lina tetap memaksanya untuk mencicipi sup itu.
Ternyata, rasa sup ikan yang dicampur dengan kol, kini menjadi lebih enak.
Oleh karena itulah keesokan harinya, Lina meminta Wiro untuk memotong semua sayuran yang akan dimasak, dan membawanya pulang.
Sayuran ini sangat besar, untungnya kekuatan Wiro cukup besar, dalam satu kali angkut, dia membawa semua sayuran itu ke atas gunung.
Bukan rahasia lagi bagi para Orc suku Serigala Batu, tentang Lina yang kini menanam sayuran. Mereka semua juga tahu, Lina membatasi sebidang tanah yang luas di kaki gunung, dan setiap hari dia juga harus turun gunung untuk mengambil air dan merawat semua tanamannya. Saat mereka melihat Lina dan Wiro yang membawa begitu banyak sayuran, sepulangnya mereka dari kebun. Mereka semua pun datang untuk melihatnya dengan rasa ingin tahu yang besar.
Meli memilki hubungan yang sangat dekat dengan Lina. Dia bertanya, "Apa daun-daun ini benar-benar bisa kamu makan?"
"Tentu saja, sayur ini bisa kita makan kok." Jawab Lina sambil tersenyum.
Untuk membuat pihak lain percaya apa yang dia katakan, dia menarik sehelai sayur itu, dan memakannya di hadapan mereka semua.
Sayuran yang dia makan kali ini disebut selada air, daunnya berwarna hijau. Terlihat sama seperti selada biasa tapi dengan versi yang sudah diperbesar, tetapi memiliki rasa yang manis.
Lina juga meletakkan selembar sayur tersebut di tangan Meli.
"Coba kamu cicipi, rasanya sangat enak kok."
Meli selalu percaya pada apa yang dia katakan, jadi dia memasukkan daun tersebut ke dalam mulutnya tanpa ragu-ragu.
"Ini enak! Rasa manisnya benar-benar menyegarkan, rasanya tidak lebih buruk dari buah manis." Kata Meli setelah mencoba sayur tersebut, dengan matanya yang terlihat cerah.
Lina kemudian memberinya sepiring penuh sayur tersebut dan berkata, "Kamu bawalah ini untuk kamu makan, kalau tidak cukup, ambil lagi saja, aku masih punya banyak."
Meli berterimakasih padanya sambil memegang sayuran tersebut. Dengan perasaan senang, dia berbalik pulang bersama dengan anak-anak serigalanya.
Lina juga memperlakukan para betina yang lainnya dengan adil, dia lalu mengeluarkan enam selada air manis dan memberikannya kepada enam betina lainnya untuk mereka cicipi.
Para betina pun sangat berterima kasih atas kemurahan hatinya.
Makan malam hari ini adalah beberapa menu sayuran lagi. Uriel dan Wiro masing-masing mencicipi dua jenis sup, tapi mereka tidak terlalu menyukainya. Dibandingkan dengan sayuran ini, mereka lebih menyukai makanan daging yang berminyak, harum dan empuk.
Lina yang mencoba untuk menghabisakan sup yang tersisa pun akhirnya tak sanggup lagi. Perutnya sudah terasa keras, seperti hampir meletus.
"Akan aku apakan semua makanan yang tersisa ini?"
Dia memikirkannya sejenak, kemudian membagi setengahnya untuk dibuat menjadi acar asin, pedas, manis dan asam. Setelah itu menyegelnya dalam toples batu, dan menumpuknya di ruang bawah tanah.
__ADS_1
Adapun dengan separuh sayuran yang masih mentah, dia memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan.
Kecepatan waktu di ruang penyimpanan sangat lambat, hampir seperseribu dari kecepatan normal. Sayuran ini dapat ditempatkan di ruang penyimpanan untuk waktu yang lama, tanpa perlu khawatir akan membusuk.
Kemudian, Lina membagikan sup yang tersisa kepada para betina. Di luar dugaannya, mereka sangat menyukai rasanya, bahkan anak-anak serigala para betina itu pun menyukainya.
Untuk membuat betina dan anak-anak mereka makan lebih baik, para Orc jantan dari suku Serigala Batu, kini ikut membuka lahan untuk mereka menanam sayur.
Mereka membagi lahan di dekat ladang sayur milik Lina. Setelah menemukan benih di hutan, mereka semua belajar dari Lina cara membajak tanah dan menanam sayuran.
Lina melihat bahwa sayuran miliknya benar-benar tumbuh lebih cepat daripada yang ditanam orang lain.
"Sayuran milikku dapat dipanen segera setelah sayuran orang lain baru saja bertunas?"
Pada awalnya, dia mengira itu karena efek dari benih yang dia tanam atau dari air dan tanahnya, tetapi yang lain juga menanamnya di tanah yang sama. Dengan benih dan air yang juga sama dengan Lina. Dan juga, sayuran yang ditanam oleh mereka, hasilnya berukuran normal, berbeda dengan milik Lina yang hasilnya berukuran besar.
Jelas hal itu membuat Lina merasa sangat terkejut, dia juga tidak mengerti alasannya, sampai suara dalam benaknya menjelaskan tentang hal itu.
"Benih Suci di dalam tubuh anda, telah meningkatkan daya tarik anda pada alam. Tanaman biasa, secara tidak sadar ingin menyenangkan anda. Cara mereka untuk menyenangkan anda adalah dengan bertumbuh lebih besar."
Meskipun kini Lina telah memahami alasannya, dia memutuskan untuk tetap melanjutkan pertaniannya.
Hari ini adalah giliran Wiro yang berada di rumah dan menemani Lina. Seperti biasa, pasangan itu pergi ke sungai untuk mengambil air, dan menangkap ikan untuk makan malam.
Cara Wiro menangkap ikan jelas tidak sebagus Uriel. Dia telah berada di sungai untuk waktu yang lama, tetapi, tidak ada seekor pun ikan yang berhasil dia tangkap.
Lina hanya berjongkok di tepi sungai sambil tertawa.
Wiro tidak bisa membiarkan gadis itu memandang rendah dirinya. Dia segera melepas rok kulit binatang yang dia kenakan dan melemparkannya ke tepi sungai. Kemudian dia menyelam ke dalam air, siap untuk menemukan waktu yang tepat di bawah air.
"Kenapa hari ini, ikan-ikan ini sulit sekali ku tangkap?" Pikir Wiro heran saat dia menyelam sambil mencoba menangkap ikan.
Setiap kali Wiro hendak menangkap mereka, mereka akan segera melesat pergi. Setelah berenang sebentar, mereka berhenti lagi dan mengibaskan ekor ke arahnya.
"Apa mereka sengaja mengejekku?!" Dalam batin Wiro yang kini mulai terpancing emosinya.
Wiro menggertakkan giginya dan berenang mengejar ikan-ikan gesit itu.
Lina yang berjongkok di tepi sungai, dengan sabar tetap menunggu Wiro.
Tiba-tiba.
"PIUK!"
"BLUK!"
Seekor ikan melompat keluar dari sungai, dan menabrak tepat di kaki Lina.
__ADS_1
Lina pun sangat terkejut. Dia hanya merasa keberuntungannya sedang sangat bagus. Dengan senang hati dia segera mengambil ikan itu dan memasukkannya ke dalam tong.
Tak lama berselang, ikan lain juga melompat keluar dari air, dan mendarat di tanah tidak jauh darinya. Lina pun segera berlari untuk mengambil ikan tersebut.
Lagi, ikan ketiga melompat ke tepian sungai.
"Sepertinya keberuntunganku hari ini benar-benar sangat bagus." Ucap Lina.
Lina merasa kalau hari ini benar-benar luar biasa, ikan-ikan ini tiba-tiba semuanya melompat keluar dari sungai.
Setiap kali seekor ikan muncul, dia akan berlari mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tong yang dia bawa.
Tanpa dia sadari, kini dia telah berjalan jauh.
Ketika dia baru tersadar, dia kini telah berada di tempat yang tidak dia ketahui. Kecuali sungai di dekatnya, semua pemandangan di sekitarnya terlihat sangat aneh.
"Dimana ini?" Ucap Lina sambil sedikit terkejut dalam kebingungannya.
Pada saat ini, ada ikan lain yang melompat ke tepi sungai, dan mendarat di rumput tidak jauh dari tempat Lina berdiri.
Namun, kali ini Lina tidak berani untuk mengambil ikan lagi, dia berbalik dan siap menyeret tong kayu yang berat itu untuk kembali dengan cara menyusuri tepi sungai.
"Aku harus cepat kembali, atau Wiro dan Uriel akan khawatir." Gumam Lina.
Tetapi pada saat ini, dia mendengar suara percikan air yang terdengar lebih berat dari arah belakangnya.
"KECOPAK!"
Lina yang terkejut pun berhenti dan segera menolehkan kepalanya kebelakang, dimana sumber suara itu berasal.
Dia bisa melihat tubuh seorang pria yang muncul dari dalam sungai.
Pria itu mengenakan jubah abu-abu, dan sungai yang sedalam perut pria itu telah menyembunyikan separuh tubuh bagian bawahnya.
Rambut hitam panjangnya terurai jatuh di pipinya, dan juga terlihat pupil matanya yang panjang.
Tidak terlihat ada jejak darah di wajahnya yang sangat pucat, dengan bibir tipisnya yang terlihat tajam, setajam ujung pisau.
Pandangan matanya terkunci pada sosok Lina dengan emosinya yang kuat, seolah seperti pemangsa yang telah mengunci targetnya, dan siap untuk mengejarnya.
Saat menatap pria itu, jantung Lina pun berdebar-debar, nafasnya terengah-engah.
Dia merasa, sorot mata dingin pria itu penuh dengan kebencian, rasa sakit dan harapan.
Secara naluri, Lina juga merasakan perasaan bersalah terhadap pria itu.
Pria itu mulai menggerakkan bibir tipisnya, dan terdengar suaranya yang sangat dingin.
__ADS_1
"Akhirnya, ku menemukanmu."