Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 149 - Kami Sangat Merindukanmu


__ADS_3

Leon sangat menginginkan cincin ikatan itu.


Tapi sikap Lina sangat tegas, diapun berkata, "Aku tidak bisa memberikan cincin ini padamu."


"Jika kamu tidak ingin memberiku cincin itu, maka aku pun tidak bisa membantumu." Ucap Leon.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kita sudahi saja obrolan kita sampai di sini." Setelah berkata seperti itu, Lina menarik tangan Uriel dan berbalik untuk segera pergi dari tempat itu.


Tapi kemudian suara Leon terdengar dari belakang, "Apakah kamu benar-benar ingin berhenti untuk bernegosiasi? Lagipula itu hanyalah sebuah cincin. Aku juga tidak keberatan jika harus terikat denganmu seumur hidupku. Kenapa kamu keberatan?"


Setelah Leon selesai berkata, seketika itu juga Lina segera menghentikan langkahnya, lalu berbalik untuk menatap Leon dan balas berkata, "Aku tidak memiliki perasaan terhadapmu, kenapa aku harus mengikatmu? Bahkan jika aku membuatmu menjadi burung panggang, aku rasa dagingmu sudah tua."


"....." Mendengar itu, Leon pun mengangkat alisnya.


Meskipun hatinya sangat gusar, namun Leon tetap tidak bisa menahan dirinya untuk membuka mulutnya dan berkata, "Jika kamu yang memanggangnya, aku akan dengan senang hati datang sendiri kepadamu dan menanggalkan pakaianku, dan siap menerima apa pun yang ingin kamu lakukan padaku."


"....." Lina terdiam sesaat.


"Huh! Manusia Burung ini memang sangat centil!"


Setelah berpikir seperti itu, dia pun berkata kepada Uriel, "Ayo cepat kita pergi. Abaikan saja orang yang tidak tahu malu ini!"


"Baiklah." Jawab Uriel. Lalu Uriel membopong gadis kecilnya dan dengan cepat segera menghilang dari pegunungan.


Pada saat ini, Leon mengeluarkan sepotong Batu Kristal merah seukuran telapak tangannya. Lalu ia melihat pantulan dirinya sendiri dari permukaan kristal tersebut.


"Aku sama sekali tidak terlihat tua kok?! Kenapa Lina mengeluhkan tentang hal ini?"


...........


Sekembalinya ke istana, Lina memegang bantalnya dan memukul-mukulnya dengan keras, untuk melampiaskan kekesalannya terhadap Leon.


"Dasar Orc Burung yang suka berperilaku buruk! Kalau memang tidak ingin membantu, bilang saja langsung kan bisa! Huh! Semoga saja kamu tidak akan mempunyai teman satu pun!"


"Tidak masalah jika dia tidak membantu kita. Yang penting, saat kita berurusan dengan Beruang bambu, kita harus melakukannya sebaik mungkin dan tidak menonjolkan diri kita. Selama kita tidak menarik perhatian orang-orang yang ada di kuil, seharusnya tidak akan ada masalah."


Mendengar apa yang Uriel katakan, Lina pun mengangguk, tapi dia masih marah ketika memikirkan tentang itu.


"Ya. Kita juga tidak usah berbicara dengan Orc Burung br*ngs*k itu lagi! Biarkan saja dia bermain dengan lumpur sendirian!"


Uriel merasa kalau gadis kecilnya marah seperti anak kecil. Dia pun tidak bisa menahan tawanya, sorot matanya juga penuh dengan kasih sayang dan berkata dengan lembut, "Haha.. Oke, nanti aku akan abaikan dia."


Mendengar itu, Lina pun segera merentangkan kedua tangannya ke arah Uriel dan berkata dengan manja, "Aahh.. Peluuuk.."


Lalu Uriel mengangkatnya dan mencium wajah gadis kecilnya.


"Sudah.. Tidak usah marah-marah lagi."


Lina mengusap-usap dagu Uriel sambil berkata, "Kamu memang yang terbaik bagiku."

__ADS_1


"Sudah larut. Lebih baik segera tidur." Ucap Uriel sambil tersenyum.


"Ya, kita tidur sama-sama."


...........


Di pagi harinya.


Lina sedang mengeluarkan buah manis dan rebung, dan secara tidak sengaja, sebuah lempengan batu ikut terambil dari dalam ruang penyimpanan.


Ada kata-kata yang tertulis di lempengan batu tersebut. Tulisan tangannya terlihat jelek dan tidak rapih.


"Hanya melihatnya sekilas, aku bisa tahu kalau ini adalah tulisan tangan Wiro." Batin Lina.


Ada dua baris kalimat yang tertulis di lempengan batu itu.


"Lina, apakah kamu aman dalam perjalan menuju ke Kota Matahari? Tolong tulis kembali kepada kami saat kamu telah tiba di Kota Matahari, kami sangat merindukanmu."


Lina pun sangat terkejut setelah selesai membaca surat itu.


"Kenapa di dalam ruang penyimpanan bisa ada surat yang ditulis oleh Wiro?"


Lalu Uriel mengambil dan melihat batu tulis tersebut, dan mencoba menganalisanya secara rasional, "Hmm.. Kita berempat mengenakan cincin yang sama, dan ruang penyimpanan di dalam cincin ini juga saling terhubung. Ini membuktikan, kalau kita juga bisa mendapatkan apa yang telah dimasukkan oleh Wiro dan Saga ke dalam ruang penyimpanan ini."


Tiba-tiba saja, saat ini Lina baru menyadari akan hal itu.


"Huahh. Sebelumnya aku tidak terpikirkan, kalau ruang penyimpanan ini bisa menggantikan panggilan jarak jauh!"


"Kami sudah tiba di Kota Matahari dengan selamat, kami akan kembali setelah kami menyelesaikan beberapa hal di sini. Tidak usah dibaca. Lina."


Setelah selesai menuliskan itu, Lina memasukkan kembali lempengan batu tersebut ke dalam ruang penyimpanan.


Kali ini di dalam ruang penyimpanan, ada lebih banyak buah dan sayuran dari pada sebelumnya.


"Jelas kalau buah-buahan dan sayur-sayuran ini baru dipanen oleh Wiro dan Saga, dan semuanya mereka masukkan ke dalam ruang penyimpanan." Pikir Lina.


Lina mengeluarkan sebagian dari sayuran dan buah-buahan, setelah itu bersama-sama dengan Uriel mengemas semuanya itu hingga sampai berjumlah seratus tas kulit.


Setelah itu Uriel memanggil para penjaga, dan meminta mereka untuk membawa buah-buahan dan sayuran tersebut ke Kamar Dagang, untuk pengiriman.


Agar tidak menarik perhatian orang-orang, secara khusus Uriel meminta mereka untuk meninggalkan istana saat keadaan sepi, dan menyuruh mereka untuk berkeliling kota beberapa kali terlebih dulu. Setelah memastikan kalau tidak ada yang mengikuti mereka, Uriel menyuruh mereka untuk diam-diam menaruh semua tas tersebut di Kamar Dagang untuk pengiriman.


Sebelumnya Vanda telah diberitahukan tentang hal ini oleh Uriel. Dia pun sudah menunggu-nunggu kiriman datang dari Kamar Dagang.


Begitu buah-buahan dan sayuran telah dikirim ke rumahnya, Vanda pun segera membayarnya, dan kemudian dengan segera memindahkan semuanya masuk ke dalam rumah, lalu membukanya dan memeriksanya satu persatu.


"Setiap tasnya berisi makanan yang sangat segar dan lezat. Ahh! Aku merasa sangat puas. Terutama rebung segar ini, rasa enaknya membuat orang tidak bisa berhenti memakannya!"


...........

__ADS_1


Pada saat ini, para penjaga telah kembali ke istana dan memberikan Batu Kristal kepada Uriel.


Ada lima Batu Kristal merah.


Harga segini berkali-kali lipat dari yang dijual mereka sebelumnya, saat di Gunung Batu.


Tapi tentu saja, selain itu juga mereka harus menanggung banyak risiko, belum lagi biaya transportasi penyeberangan gunung juga sudah termasuk. Tapi harga segini, masih bisa dibilang untung banyak.


Lina jelas merasa senang saat mendapatkan Batu Kristal merah.


"Tidak kusangka, hanya tinggal duduk, menunggu pengiriman sampai ke pembeli, setelah itu uang pun datang sendiri. Sepertinya keberuntungan kami lumayan baik!"


Tapi setelah berpikir seperti itu, kemudian Lina menjadi sedikit lesu sambil berkata, "Sayangnya sebagian besar Orc yang tinggal di Kota Matahari adalah Orc karnivora, mereka jelas tidak terlalu tertarik pada buah dan sayuran. Hanya keluarga Beruang bambu lah yang berbeda. Mereka bisa memakan daging, buah-buahan dan sayuran, terutama rebung. Saat ini satu-satunya pelanggan yang bisa menjadi pelanggan kita adalah Beruang bambu."


"Wanita di kota juga suka memakan buah dan sayuran. Nanti kita bisa mempercayakan hal ini pada Kamar Dagang, untuk menjual beberapa buah dan sayuran milik kita. Aku yakin pasti akan ada wanita yang membelinya." Ucap Uriel kepada Lina.


Mendengar itu, membuat Lina merasa penasaran dengan Kamar Dagang, dia pun bertanya, "Apakah Kamar Dagang di kota dikendalikan oleh para bangsawan?"


“Tidak, markas besar kamar dagang terletak di Kota Binatang Buas, atau yang disebut dengan Kota Utama. Kamar dagang yang ada di Kota Matahari hanyalah salah satu cabangnya, dan untuk menjadi bagian dari mereka juga sangat sulit. Pendapatan tahunan para bangsawan memang sangat besar, dan mereka juga serakah. Tapi entah kenapa, para bangsawan tidak berani campur tangan, supaya bisa ikut menjadi bagian dari kamar dagang.." Tapi saat mengatakan kalimat terakhirnya, Uriel sedikit terkejut saat melihat pakaian yang dia jahit sendiri, yang saat ini sedang dikenakan oleh Lina. Tanpa dia sadari, diapun bertanya, "Sepertinya pakaianmu agak sedikit ketat. Apa sekarang kamu agak gemukan?"


Mendengar itu, tiba-tiba saja Lina merasa tidak senang.


"Aku tidak gemuk!" kata Lina dengan nada suara yang terdengar marah! "Itu pasti ilusi dimatamu saja!"


Tidak ada seorang perempuan pun yang mau dikatakain kalau mereka itu gemuk, bahkan jika orang itu adalah suami tersayangnya!


Melihat gadis mungilnya cemberut, Uriel pun mencubit pipi gadisnya yang halus dan kenyal.


"Maaf.. Iya.. Kamu tidak gemuk, kamu hanya terlihat montok."


"Huh! Sama saja! Itu hanyalah permainan kata-kata saja." Batin Lina.


Uriel pun membongkar pakaian yang dia jahit sendiri, dan berencana untuk membuatnya lebih besar lagi, agar lebih nyaman dipakai oleh Lina.


...........


Makan malam hari ini adalah sup daging.


Dagingnya direbus hingga lembut, dan aromanya yang sangat lezat bisa tercium. Saat dilidah, dagingnya seperti meleleh di mulut.


Lina mengambil dua gigitan kecil dan segera berhenti makan.


Melihat hal itu, Uriel pun segera menatap gadis kecilnya dan bertanya, "Kenapa makanmu sangat sedikit sekali?"


Lina mengerutkan wajahnya sambil berkata, "Sekarang aku sudah gemuk, aku hanya makan sedikit untuk menurunkan berat badanku. Tidak boleh makan terlalu banyak daging."


Kemudian Uriel berkata dengan lembut, "Siapa yang bilang kalau kamu bertambah gemuk? Jelas-jelas kamu itu sangat kurus, jangan menurunkan berat badanmu, ayo cepat makan lagi."


Tapi Lina menunjuk ke arah Uriel sambil mengeluh, "Siang tadi kamu sendiri yang bilang, kamu tidak menyukaiku karena aku gemuk!"

__ADS_1


Mendengar itu, Uriel mencoba untuk segera menjelaskan, "Aku sangat menyukaimu, aku juga sangat menyukai penampilanmu yang sekarang ini. Kalaupun kamu memang gemuk, kamu terlihat semakin cantik!"


"Pergi! Seorang pria dengan delapan otot perut, tidak akan pernah mengerti kesedihan seorang pria gemuk." Ucap Lina yang sedang merajuk.


__ADS_2