Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 68 - Berdagang


__ADS_3

Musim dingin kemarin, datang lebih awal dari biasanya. Akibatnya, banyak Orc yang tidak sempat menyiapkan makanan yang cukup, untuk mereka melewati musim dingin. Mereka memakan semua makanan yang bisa mereka makan. Mereka juga terpaksa makan es dan salju, bahkan ada yang sampai mengunyah kulit kayu, untuk mereka bertahan hidup sampai musim semi datang.


Sekarang hewan-hewan di hutan telah bangun dari hibernasi mereka. Jika para Orc ingin makan daging, mereka hanya tinggal berangkat untuk berburu.


Tapi bagi para herbivora, saat ini mereka hanya bisa mengunyah rumput. Mereka ingin makan buah-buahan yang segar, akan tetapi, pohon buah-buahan untuk saat ini masih baru mekar. Akan sulit bagi mereka untuk mencari buah yang sudah matang.


Jadi ketika Uriel dan Wiro mengeluarkan buah-buahan yang akan mereka jual, banyak Orc yang segera berkumpul untuk menanyakan harganya.


Buah-buahan milik keluarga Lina berukuran sangat besar dan berwarna cerah. Juga masih sangat segar.


Di sini cara mereka berdagang, biasanya dengan cara menukar barang dengan barang.


Kebanyakan Orc ingin bertukar dengan makanan dan kulit, tetapi Lina tidak kekurangan dua jenis barang tersebut. Apalagi, Uriel dan Wiro keduanya adalah pemburu. Kulit dan makanan yang mereka miliki, masih banyak dan menumpuk tinggi di rumah.


Lina hanya menginginkan obat, atau batu kristal.


Bagi para Orc biasa, tidak mungkin untuk mereka bisa memiliki batu kristal. Adapun ramuan obat, para Orc juga tidak tahu apa itu herbal.


Lina ingin menunjukkan kepada mereka, seperti apa tumbuhan yang dia maksudkan, dengan menunjukkan gambar yang ada dibuku kulit bergambar. Tapi dia segera dihentikan oleh Uriel.


Uriel memberitahu, dengan cara membisikkannya di telinga gadis kecilnya, "Jangan sampai orang lain melihat buku kulit bergambarmu."


Lina merasa bingung saat mendengar apa yang Uriel katakan.


"Kenapa?"


"Ilmu dalam bukumu itu sangat berharga. Orc biasa tidak akan bisa memahaminya. Jika kamu mengeluarkan buku kulitmu sembarangan, bisa mendatangkan masalah yang tidak perlu." Jawab Uriel masih dengan berbisik di telinga Lina.


Lina yang melihat ekspresi serius Uriel, dengan cepat dia mengangguk.


"Oh, baiklah. Aku mengerti."


Karena tidak memungkinkan untuk menunjukkan bukunya, Lina harus menggambarkan bentuk dan karakteristik tumbuhan herbal tersebut, dengan narasi lisan.


Sebagian besar Orc seperti linglung setelah mendengar penjelasan dari Lina. Dipikiran mereka, tidak ada gambaran sama sekali tentang tumbuhan tersebut.


Tapi ada seekor kelinci muda yang tiba-tiba berkata, "Aku tahu apa yang kamu bicarakan. Aku juga tidak tahu apa nama tumbuhan itu, tapi aku mempunyainya di rumah. Aku akan kembali kerumah untuk mengambilnya dulu."


Kemudian dia bergegas kembali kerumah, untuk mengambil barang tersebut.


Tak lama kemudian, kelinci itu pun kembali. Dia meletakkan banyak tanaman hijau di depan Lina, dengan kedua mata berwarna merahnya yang penuh harap.

__ADS_1


"Lihatlah, apakah ini yang kamu maksudkan?"


Lina mengambil tanaman tersebut, dan mengidentifikasinya dengan hati-hati, kemudian dia mengangguk.


"Ini rumput kerang, dapat menghilangkan panas dan batuk, ini adalah salah satu herbal yang aku butuhkan." Kemudian Lina bertanya, "Apa yang ingin kamu tukar?"


Meskipun kelinci muda itu tidak bisa melihat wajah Lina dengan jelas, karena tertutup oleh kulit binatang. Tapi dia tahu, kalau si penjual adalah seorang betina. Kelinci muda itu pun tersipu.


"Aku ingin menukarnya dengan beberapa buah, untuk betina di rumah."


Wiro yang mendengar apa yang kelinci itu katakan, segera menatapnya dari atas ke bawah.


"Eeeh.. Kamu masih kecil kan? Kecil-kecil sudah punya pasangan?"


Menghadapi Orc jantan, kelinci remaja tersebut tidak merasa malu lagi, dan menjawab pertanyaan Wiro dengan mantap, "Aku belum mempunyai pasangan. Aku inginkan buah itu untuk saudara perempuanku."


Begitu dia mengatakan bahwa ada saudara perempuan di keluarganya, para Orc pria lajang di sekitarnya, segera melemparkan pandangan yang panas ke arahnya.


Tapi kelinci muda itu sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini, dia pun masih tetap dengan sikapnya yang tenang.


Lina kemudian bertanya, "Kami di sini hanya mempunyai buah harum segar dan buah manis. Berapa banyak yang ingin kamu tukar?"


Begitu Lina membuka mulutnya, wajah kelinci muda itu segera memerah lagi, dia berkata dengan malu-malu dan suaranya yang terdengar serak, "Aku ingin lima puluh buah, apakah boleh?"


"Ya ya!" Jawab si kelinci dengan gugup.


Kemudian, Wiro dengan cepat mengambilkan lima puluh buah yang dipesan dan berjalan keluar dari kios. Kelinci muda itu kemudian memeriksanya. Setelah dia yakin semuanya sesuai, dia memasukkan semua buah tersebut ke dalam kantung kulit yang dia bawa.


Begitu bocah kelinci itu pergi, Orc lain pun datang untuk menanyakan harganya.


Sebagian besar Orc tidak benar-benar ingin membeli, mereka hanya ingin berbicara satu sama lain dengan si betina penjual buah.


Sangat disayangkan karena mereka tidak bisa melihat wajah dan sosoknya, tetapi mereka senang mendengar suara si betina. Suaranya yang lembut dan merdu, dan juga sangat enak untuk di dengar.


Setengah hari berlalu dengan cepat, dan hanya baru satu transaksi yang terjadi, yaitu, lima puluh buah dijual kepada Orc kelinci muda.


Lina tidak merasa kecewa. Bagaimanapun juga, dia datang hanya untuk berjualan. Jika dia tidak bisa menjualnya, dia masih memiliki ruang penyimpanan untuk menaruh buah dan sayuran.


Saat ini, kelinci muda yang sebelumnya telah membeli lima puluh buah kembali lagi.


Kali ini dia tidak datang sendirian. Dia kembali dengan membawa lebih dari selusin Orc kelinci.

__ADS_1


Bocah kelinci itu berlari menuju ke kios Wiro, dengan membawa sayuran dan buah-buahan. Dia terlebih dahulu mencari si wanita penjual buah. Tapi dia merasa kecewa, saat tidak melihat sosok gadis kecil itu.


Menurutnya, suara gadis kecil itu sangat enak didengar, dia masih ingin berbincang-bincang lagi dengan gadis kecil itu.


Senyum di wajah Uriel sedikit memudar, saat dia melihat reaksi kecewa di mata kelinci muda itu.


"Kenapa kamu kembali? Apa jumlah buahnya tidak sesuai?"


"Tidak, tidak, bukan begitu," katanya sambil menunjuk ke kantung kulit yang ada di punggungnya. "Apa kamu ingin rumput kerang lagi? Kami kesini membawa beberapa rumput kerang lagi.“


"Bolehkah aku melihatnya?” Uriel bertanya sambil tersenyum.


Mendengar itu, kelinci muda dan Orc kelinci di belakangnya segera meletakkan semua tas kulit yang mereka bawa. Mereka membuka tas kulit dan memperlihatkan rumput kerang di dalamnya.


Kemudian Uriel memeriksanya dengan teliti.


"Ini semua rumput kerang yang masih segar. Tanah di akar sudah mereka bersihkan dengan hati-hati. Daunnya juga lengkap. Tidak ada lubang ulat atau pun kerusakan."


Uriel sangat puas dengan sikap hati-hati yang seperti ini.


Dia memandang kearah si kelinci muda.


"Berapa banyak buah yang akan kamu tukarkan dengan rumput kerang ini?"


Kelinci muda segera berdiskusi dengan teman-temannya, dan kemudian memberikan jawaban, "Buah harum segar dan buah manis, masing-masing dua ratus buah. Bagaimana?"


Uriel mengangguk dan menjawab, "Ya."


Uriel dan Wiro kemudian memilih empat ratus buah-buahan, dan memberikannya kepada para Orc kelinci.


Melihat begitu banyak buah harum segar, para Orc dari ras kelinci itu segera meneteskan air liur mereka.


"Namaku, Bonny Bun. Aku adalah putra dari kepala klan Kelinci. Ada banyak rumput seperti ini di suku kami. Jika kamu masih menginginkannya, kami dapat menukarnya denganmu dalam sepuluh hari lagi."


Kualitas buah-buahan ini sangat bagus, dan para Orc dari sukunya sangat menyukainya. Bonny berencana untuk membeli sebanyak mungkin dan membawanya pulang.


Tentu saja Uriel tidak akan menolak bisnis yang kelinci ini tawarkan.


"Oke, kami akan membuka kios di sini, di setiap hari pasar. Kamu bisa datang kemari jika kamu membutuhkannya."


Setelah membeli buah, awalnya Bonny berencana untuk segera pulang. Tapi saat dia melihat sayuran yang terlihat sangat menggoda selera, dia tidak bisa menahan diri untuk mencobanya.

__ADS_1


"Rasa daun itu pasti sangat enak!"


__ADS_2