
"Uriel.. Aku ikut denganmu ke kota Binatang.."
Lina sangat ingin ikut pergi menuju ke Kota Binatang bersama dengan Uriel.
Tapi permintaanya segera ditentang oleh ketiga Orc laki-laki, terutama Wiro.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh ikut pergi ke kota Binatang Buas!"
Lina terus merengek dan mengeluarkan seluruh jurus-jurus rayuan mautnya, yang akhirnya membuat Uriel merasa tidak tega dan menghela napasnya, sambil menganggukan kepalanya tak berdaya.
Tapi Wiro masih tetap tidak setuju. Dia juga tidak ingin meninggalkan Gunung Batu, hanya karena ikut pergi bersama dengan Lina.
"Dunia luar begitu mengerikan. Ada begitu banyak ahli di kota Binatang Buas. Jika kamu sampai diganggu oleh orang-orang itu, aku dan Saga tidak bisa membantumu, dan hanya bisa melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri."
"Uriel pasti akan melindungiku!" Kemudian Lina segera mendorong Uriel keluar dan berkata lagi, "Dia juga sangat kuat. Dengan adanya Uriel, aku pasti tidak akan diganggu oleh orang-orang seperti itu." Setelah selesai berkata, Lina mengedipkan satu matanya kepada Uriel.
Melihat gadis kecilnya yang sangat ingin ikut dengannya, Uriel tidak bisa tertawa atau pun bersedih. Dia berkata kepada Wiro, "Aku tidak bisa berjanji jika berada di tempat lain, tapi selama berada di kota Matahari, tidak ada yang bisa menggertakku ataupun mengganggu Lina. Kamu bisa percaya padaku."
Mendengar itu, Wiro segera menatap Uriel dengan curiga.
"Kenapa kamu bisa percaya diri berkata seperti itu? Memangnya apa identitasmu di kota Matahari?"
Sebenarnya sudah lama Wiro bingung dengan asal usul dan identitas Uriel.
Kemudian Uriel berkata dengan pelan, "Aku lahir di Kota Matahari. Di situlah kampung halamanku."
Tapi Wiro tetap tidak ingin tertipu dengan kata-kata Uriel.
"Meskipun begitu, apa kamu tetap bisa menjamin, kalau kamu bisa melindungi Lina saat berada di kota Matahari? Kota itu adalah kota di tengah-tengah kota, dan kekuatannya hampir sama dengan kota Bulan Gelap. Jika kamu tidak memiliki identitas dan kekuatan yang cukup, kamu akan tetap mengalami hambatan saat berada di sana." Setelah berkata seperti itu, Wiro segera memutari Uriel berkali-kali sambil menatapnya dari atas sampai kebawah sembari mengerutkan kedua alisnya, Wiro pun bertanya, "Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya kamu ini?"
Uriel tidak menjawabnya, tapi malahan balik bertanya, "Apakah penting tentang siapa diriku?"
"Aku harus bisa memastikan, kalau kamu memang benar-benar bisa melindungi Linaku." Jawab Wiro dengan nada suaranya yang terdengar serius.
Sikap Wiro terlihat sangat tegas, sepertinya Wiro tidak akan membiarkan Uriel membodohi dirinya.
Kemudian Uriel menghela nafasnya tanpa daya.
"Hhhhh..'
Setelah itu Uriel berbalik badan dan berjalan untuk naik ke lantai atas.
"Kalau kamu ingin tahu, ikuti aku."
Tanpa ragu-ragu, Wiro segera menyusul Uriel. Saga yang sejenak merasa ragu-ragu, akhirnya juga ikut menyusul mereka berdua.
Kini hanya ada satu orang yang tersisa di ruang tamu.
Dari lantai satu, Lina melihat ke arah pintu kamar tidur yang ada di lantai dua dan merasa ragu-ragu.
"Apakah aku juga akan mengikuti mereka naik ke atas? Tapi tadi Uriel tidak mengajakku untuk ikut naik kamar atas."
Tapi kemudian Lina buru-buru berpikir lagi, "Jika aku ikut naik keatas dan Uriel akan merasa tidak senang, apa yang harus aku lakukan nantinya? Memangnya siapa sebenarnya Uriel itu? Hmm.."
Sebelum Lina sempat membuat keputusan, Saga, Wiro dan Uriel sudah berjalan keluar dari kamar dan turun ke lantai satu.
Saat ini ekspresi wajah Wiro terlihat sangat rumit, tampaknya dia sangat terkejut, tapi juga masih terlihat kalau dia masih merasa sedikit ragu.
Sedangkan Saga, wajahnya masih tetap terlihat tanpa ekspresi, tatapannya tetap terlihat dingin. Tapi jika diamati dengan lebih cermat, bisa terlihat dari sorot matanya yang kini terlihat khawatir.
Yang paling tenang dari ketiga Orc laki-laki tersebut hanyalah Uriel.
Dia terlihat sangat tenang, seolah-olah, barusan tidak terjadi apa-apa.
"Kamu sudah selesai secepat ini?" Tanya Lina kepada Uriel.
"Begitulah," kata Uriel sambil mengusap lembut kepala gadis kecilnya, kemudian dia berkata lagi, "Kami telah sepakat, kalau besok kamu boleh ikut denganku pergi ke kota Matahari."
__ADS_1
Begitu Lina mendengar kalau dia telah diperbolehkan untuk ikut menuju ke kota Matahari, Lina segera menyingkirkan keraguannya tentang identitas Uriel.
"Asiik.."
Dengan bersemangat, Lina segera berlari dan melompat untuk memeluk Uriel.
"Uuuh.. Terima kasih.."
Kedua tangan Uriel segera memegang f*nt*t gadis kecilnya, agar dia tidak meluncur jatuh ke bawah dan sambil bertanya, "Apa saja barang-barang yang ingin kamu bawa? Aku akan membantumu untuk mempersiapkannya."
Kemudian Lina dengan cepat menyahut, "Aku tidak ingin merepotkanmu, aku bisa melakukannya sendiri!"
Melihat gadis kecilnya terlihat penuh energi dan sangat bersemangat, membuat Uriel tidak bisa menahan senyumnya.
Wiro dan Saga menatap Lina dalam diam.
Memikirkan kalau mereka tidak akan melihat si gadis kecil sampai bulan berikutnya, dalam hati mereka seolah-olah merasa seperti ada sesuatu yang telah dirampok. Merasa kosong dan masih enggan untuk menyerah.
Akhirnya Uriel membantu mengemasi barang yang akan dibawa oleh Lina.
...........
Pada malam hari.
Wiro mengusulkan untuk tidur bersama dengan Lina. Dia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Lina, sebelum Lina pergi meninggalkan dirinya selama satu bulan.
"Malam ini kamu tidur denganku. Sebab kita tidak akan bertemu selama satu bulan."
Tapi sebenarnya Saga juga memiliki ide yang sama dengan Wiro.
Keduanya kini menatap Lina dengan tatapan penuh harap, yang membuat Lina sulit untuk membuat pilihan.
Sebenarnya Lina juga enggan untuk meninggalkan Wiro dan Saga. Tapi di klan Serigala Batu, harus tetap selalu ada seseorang yang tinggal untuk memimpin klan. Karena Wiro adalah pemimpin klan, tentu saja dia tidak bisa pergi terlalu lama.
Sedangkan identitas Saga untuk saat ini terlalu sensitif, untuk memasuki kota Matahari. agar tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu, Saga juga tidak diajak pergi bersama dengan Lina dan Uriel.
"Hanya ada tiga orang yang tidur bersama. Bagaimanapun juga tempat tidur di kamar sangat besar, hanya tiga orang tentu sama sekali tidak akan merasa sesak."
Tapi setelah Lina berbalik, dia kembali berpikir, "Tapii.. Orc Serigala itu pasti akan mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu padaku. Dan jika ada Saga yang ikut tidur bersama dengan kami, dia pasti akan menontonnya! Ah! Betapa malunya aku nanti jika itu sampai terjadi!"
Setelah lama merasa ragu, akhirnya Lina memutuskan untuk tidur dengan Saga.
"Kamu tega Lina!" Ucap Wiro yang tidak setuju dengan ide Lina.
Saat ini Lina sedang merasa sangat malu.
"Salah siapa kamu itu berkarakter buruk, di malam hari selalu saja mengganggu tidurku."
"Itu karena aku menyukaimu. Apa salahnya jika aku ingin dekat denganmu?" Ucap Wiro yang mencoba untuk mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.
Mendengar apa yang Wiro katakan, Lina segera tersipu malu.
"Kamu.. Bicara apa kamu ini!"
"Aku bilang aku menyukaimu! Apa menurutmu itu hanyalah omong kosong?" Ucap Wiro yang semakin merasa tidak senang.
Kini wajah Lina mulai terlihat semakin memerah dan berkata, "Siapa yang kamu suka? Bukankah kata-kata seperti itu seharusnya dibisikkan secara pribadi? Kamu bahkan mengatakan hal seperti itu di depan orang lain! Apa kamu sama sekali tidak merasa malu?!"
Tapi Wiro masih tetap tidak ingin menyerah, dia terus berkata dan bertanya tentang hal-hal yang menurutnya bisa merubah pikiran Lina, supaya Lina mau tidur bersama dengan dirinya.
Pada akhirnya Uriel sudah tidak tahan melihat gadis kecilnya yang sudah terlihat semakin malu. Dia segera berdiri membela Lina, untuk mencoba menengahi Lina yang sedang dikepung oleh dua Orc laki-laki.
"Lina sudah membuat pilihan. Lebih baik sekarang kamu bisa menerima keputusannya, dan kembali ke kamarmu."
Tapi Wiro tetap tidak ingin menyerah.
"Lina, aku janji aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku hanya ingin tidur sambil memeluk tubuhmu."
__ADS_1
Besok Lina akan pergi. Malam ini adalah waktu terakhir bagi Wiro, untuk bisa bersama dengan Lina. Tentu saja Wiro tidak ingin menyerahkan Linanya begitu saja kepada Saga!
Saga juga tentu tidak akan menyerah. Dia juga enggan untuk menyerahkan Lina kepada Wiro begitu saja!
"Malam ini aku yang harusnya tidur dengan Lina!" Ucap Saga dengan dingin.
Melihat Wiro dan Saga yang saling berebut untuk bisa tidur dengan Lina, Uriel pun tersenyum lembut.
"Karena hal ini sudah terasa tidak masuk akal lagi, dengan terpaksa, aku hanya bisa menggunakan metode yang lebih biadab."
Setelah berpikir seperti itu, Uriel langsung bergerak dengan sangat cepat dan memukul tengkuk Wiro.
"DUGH! UUGH!"
"BRUK!"
Kemudian dia menyeret Wiro masuk ke dalam kamar tidur, menututup pintu kamar, dan membiarkan Wiro tidur dengan sangat lelap.
"Sekarang sudah beres."
...........
Saga telah berada di dalam kamar bersama dengan Lina.
Lina berlutut di tempat tidur dan merentangkan tangannya untuk merapikan seprei bulu di tempat tidur.
Tapi tiba-tiba dari arah bekakangnya, tubuhnya diangkat oleh Saga.
Saga meletakkan Lina di sebelah tempat tidur, lalu membungkuk untuk meratakan selimut yang ada di tempat tidur, hingga tidak ada sedikitpun yang terlihat kusut.
Setelah selesai merapikan tempat tidur, Saga segera merebuskan air hangat, setelah itu merendamkan kaki Lina kedalam air hangat yang sudah dia bawa.
"Kaki Lina kecil dan terasa halus, dan setiap jari-jari kakinya terlihat bulat seperti mutiara. Saat terendam di dalam air, ada semacam keindahan yang tak bisa terucapkan dengan kata-kata."
Kemudian Saga berjongkok dan memegangi kaki kecil itu.
"Geli!" Lina berusaha menyingkirkan tangan Saga, tapi tangan Saga memegangi kaki Lina dengan sangat kuat.
Saga sedang menyeka air hangat pada kedua kaki Lina, lalu menundukkan kepalanya dan mencium punggung kakinya.
Saat kakinya dicium oleh Saga, wajah Lina terlihat sangat merah, kemudian dia berkata dengan malu-malu, "Apa yang sedang kamu lakukan? Itu kan kotor.."
Saga menengadahkan kepalanya untuk menatap Lina. Di pupil matanya yang hitam dan sorot matanya yang terlihat dingin, samar-samar terlihat adanya kelembutan.
"Kulitmu terasa manis."
Lina terkejut saat mendengar apa yang Saga katakan.
"Kenapa sekarang kamu sudah bisa membual seperti Wiro?"
"Aku tidak sama seperti dia." Jawab Saga seperti itu untuk membela dirinya sendiri.
"Apanya yang tidak sama? Kamu sama sa ..."
Sebelum Lina selesai berbicara, bibirnya telah disumpal dengan lembut oleh bibir Saga.
...........
Sepanjang malam, Saga menghabiskan waktunya bersama dengan Lina, untuk memberi tahu dengan jelas kepada gadis kecil yang saat ini ada dalam pelukannya, apa yang membedakan antara dirinya dan si Serigala arogan itu.
Lina hanya bisa mengerang pelan menikmati setiap kedutan yang telah dia lepaskan, dan menikmati setiap hentakan lembut yang Saga lakukan di atas tubuh mungilnya.
"Ahhh.."
"Auuhhh.."
"Ehhhmm.."
__ADS_1