Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 157 - Dia Takut Padaku?


__ADS_3

"AAAGHHH!"


"BRUK! BRUK! BRUK!"


Semua penjaga telah jatuh ke tanah, hanya tinggal Uriel dan Jenderal Beruang yang masih berdiri.


Meskipun Jenderal Beruang menderita banyak luka di banyak bagian tubuhnya, dan lengan kanannya juga lumpuh akibat terkena aliran listrik, dia tetap mengangkat kepalanya dengan terengah-engah, dan menatap Uriel dengan sorot matanya yang terlihat sangat terkejut.


"Anda.. Anda telah dipromosikan naik menjadi bintang lima?"


Baru saja Uriel memang sengaja tidak menyembunyikan kekuatannya. Hal itu tentu saja membuat Jenderal Beruang dan para penjaga lainnya tidak bisa melakukan apa-apa, dan segera dilumpuhkan oleh Uriel.


Rambut Uriel terlihat sedikit berantakan, dan juga ada beberapa lecet di tubuhnya.


Tapi secara keseluruhan, dia jauh lebih baik daripada Jenderal Beruang.


Lalu terdengar suara Uriel yang berkata dengan serius, "Aku tidak ingin membunuh orang. Kalian jangan menghalangi jalanku."


Melihat Uriel akan pergi, Jenderal Beruang pun segera bertanya, "Kenapa? Anda jelas memiliki kekuatan bintang lima, tapi kenapa tidak mewarisi tahta? Sebelum kematian Raja Martin, bukankah tahta telah diwariskan kepada anda?"


Tapi Uriel berkata, "Ayahku tidak memberikan tahta Raja kepadaku."


Jenderal Beruang menolak untuk mempercayai apa yang Uriel katakan.


"Mana mungkin? Raja Martin sangat menghargai anda. Orang terakhir yang dia lihat sebelum dia meninggal, adalah anda. Tidak ada yang lebih cocok untuk posisi itu selain anda."


Kali ini Uriel tidak berbicara apa-apa lagi. Dia segera meninggalkan para penjaga yang terluka, dan berjalan untuk menuju ke istana.


Para penjaga yang sebelumnya telah dilumpuhkan oleh Uriel, kini tengah berjuang untuk bangkit lagi.


Mereka semua memang terluka, tapi tidak ada yang terluka parah atau pun sampai terbunuh.


Jelas hal itu memang sengaja Uriel lakukan.


Di Kota Matahari, Jenderal Beruang bertanggung jawab atas pertahanan kota dan urusan militer. Para penjaga akan selalu mengikutinya untuk melawan musuh-musuh mereka.


Dalam hati para penjaga, mereka juga sangat yakin dengan Pangeran kedua. Sama halnya dengan Jenderal Beruang, dia juga sangat berharap Uriel lah yang akan mewarisi takhta.


Tapi ternyata, Azka adalah Raja baru mereka. Dan sekarang, mau tak mau mereka harus mematuhi perintah Azka, untuk mengepung Uriel.


Jenderal Beruang menggosok lengan kanannya yang mati rasa akibat tersengat oleh aliran listrik Uriel, dan alisnya yang tebal terlihat berkerut sambil berkata, "Masa bodoh dengan perintah. Meskipun jika kita bisa menangkap Pangeran kedua, tidak ada dari kita yang boleh melukai Pangeran Uriel!"


"Tapi bagaimana jika setelah ini, akan ada penyelidikan tentang kejadian ini?" Tanya salah seorang penjaga.


Jenderal Beruang langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, dengan maksud berpura-pura.


"Argh!"


"Aku terluka parah, bukan aku menolak untuk mengejar Pangeran kedua, tapi tubuhku tidak bisa digerakan."


Melihat dan mendengar hal itu, salah seorang penjaga pun berkata sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya, "Jenderal.. Jenderal.. Ternyata anda punya akal yang lumayan juga. Hahaha.."


Tidak tahu apakah karena Uriel yang terlalu menakutkan, atau mereka telah mengabaikan perintah dari Azka.


Saat ini, tidak ada salah satu dari mereka, yang menghentikan langkah Uriel untuk menuju ke istana.

__ADS_1


...........


Azka berada di ruang pelatihan seorang diri.


Saat dia melihat Uriel datang, dia sama sekali tidak merasa terkejut, tapi menunjukkan senyumnya yang cerah.


"Kakak, akhirnya kamu di sini."


Uriel berhenti di jarak dua meter dari Azka.


Kedua bersaudara ini memiliki fitur wajah yang sangat mirip, tapi Uriel terlihat selalu lembut dan pendiam, sedangkan Azka lebih mudah bergaul dan ceria. Saat Azka tersenyum, dia terlihat seperti anak laki-laki dewasa, yang penuh semangat dan vitalitas.


Pada saat ini, Azka masih tersenyum dengan cerah, tapi wajah Uriel terlihat dingin dan serius.


Uriel berkata, "Sebelum aku pergi, aku ingin bertarung denganmu lagi."


Azka pun langsung menyetujuinya, "Ya!"


Kali ini, alih-alih mempertahankan bentuk Orc mereka, mereka merubah wujud mereka ke bentuk binatang mereka.


Kini kedua Harimau putih itu berdiri saling berhadapan. Mereka tampak hampir sama persis, tapi jika diamati dengan cermat, sinar listrik biru dan ungu yang ada di mata Harimau putih yang dekat dengan pintu, itu adalah Uriel.


Kali ini Uriel tidak akan mengalah dari saudaranya lagi, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia segera bergegas untuk maju menyerang!


"GROAARR!"


Azka juga terlihat tidak ingin kalah dan tanpa ragu-ragu juga maju untuk menyerang!


"ROAARR!"


"SRET!"


"HUP!"


Saat kedua Harimau itu bertabrakan lagi, Uriel tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu mengganggu Lina?"


"Mengganggu? Kapan aku pernah mengganggunya? Memangnya apa yang dia katakan padamu?"


"Dia tidak mengatakan apa-apa." Ucap Uriel.


"Lalu, kenapa kamu bilang kalau aku mengganggunya?" Setelah berkata seperti itu, dengan cepat Azka segera melayangkan cakarannya ke arah Uriel!


"SREET!"


Tapi Uriel menghindari cakar Azka dan bertanya, "Apa kamu yang telah menggigit bibirnya?"


"Oh," kemudian Azka tertawa kecil dan terus menyerang.


"HIAH!"


"SRET! SRET!"


"Memang aku yang menggigitnya, tapi mungkin dia juga dengan sukarela menginginkannya?" Ucap Azka.


"Jika dia yang menawarkan diri, dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa dan sangat ingin pergi karena dia takut padamu!" Ucap Uriel setelah menghindari serangan dari Azka lagi.

__ADS_1


“Dia takut padaku? Kenapa? Karena aku memberinya ciuman? Bukankah para Orc jantan menggunakan taktik seperti ini, untuk mengejar betina yang diinginkannya?” Ucap Azka yang kemudian melayangkan cakarnya lagi ke Uriel.


"HIAT!"


Tapi kali ini Uriel tidak menghindar lagi, melainkan menangkapnya.


"TAP!"


"Jangan bicara omong kosong lagi, kamu sama sekali tidak menyukainya."


Setelah selesai berkata seperti itu, seketika itu juga arus listrik biru dan ungu, mengalir dari tubuhnya ke tubuh Azka, yang membuat tangan Azka terasa mati rasa dan dia pun jatuh ke tanah.


"JREZET!"


"ARGGH!"


"BRUK!"


Uriel mengambil kesempatan ini untuk menginjak tubuh Azka dan cakarnya yang sangat tajam dia tempelkan di leher Azka.


Hanya dengan sedikit tusukan saja, darah Azka pasti akan langsung terciprat di tempat.


Uriel menatap kebawah dan berkata dengan nada suaranya yang terdengar dingin, "Alasan kenapa kamu mengejarnya, itu karena kamu mengetahui, kalau Lina tahu caranya menyembuhkan. Kamu hanya ingin menyimpannya, untuk kamu manfaatkan."


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," kata Azka.


"Selama beberapa hari ini, aku selalu diam dengan apa yang kamu lakukan di belakangku dan berpura-pura tidak tahu." Ucap Uriel dengan dingin.


Azka, "....."


Kini bisa terlihat di sorot mata Uriel yang dipenuhi dengan kekecewaan, kemudian Uriel berkata lagi, "Sebelum ibu dan ayah meninggal, mereka semua mempercayakanmu kepadaku, dan aku telah mencoba yang terbaik untuk menjagamu. Meskipun jika kamu sesekali melakukan sesuatu yang keluar dari jalur, aku, aku pasti akan menutup mataku! Tapi aku tidak menyangka, kamu bahkan ingin mengambil keuntungan dari Lina."


Azka mencibir, "Tidak usah cerita tentang ayah dan ibu! Di mata mereka hanya ada kamu! Sedangkan aku, aku selalu menjadi orang yang diabaikan! Mereka sama sekali tidak mencintaiku!"


"Jika ayah tidak mencintaimu, dia pasti akan menyuruhku untuk memperebutkan takhta denganmu! Tapi sebelum ayah meninggal, ayah memberitahuku untuk tidak melakukan hal seperti itu"


Azka, "....."


Saat mendengar apa yang Uriel katakan, Azka pun membeku.


Dia membuka matanya lebar-lebar dan bertanya dengan tidak percaya, "Apa yang sudah kamu bicarakan? Bukankah ayah mewariskan takhta kepadamu?"


Uriel pun berkata tentang apa yang terjadi hari itu.


"Sebelum ayah meninggal, ayah sempat bertanya padaku."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Apakah kamu ingin mewarisi takhta..."


Di ruangan yang gelap, Uriel melihat ayahnya yang sudah tua terbaring lemah di tempat tidur. Dia mencoba menahan kerisauan di hatinya dan berkata, "Saya tidak ingin mewarisi takhta."


Suara Martin terdengar lemah, "Kenapa? Beberapa Orc pasti tidak akan menolak godaan seperti ini.. "


"Saat saya meninggalkan Gunung Batu, saya berjanji untuk membawa Lina kembali dengan selamat, kepada Wiro dan Saga. Jika saya membawanya untuk tinggal di Kota Matahari, kedua Orc itu pasti tidak akan membiarkan kami pergi begitu saja. Mungkin mereka akan membawa banyak Serigala dan binatang buas untuk membuat perhitungan denganku, dan membunuhku." Uriel berhenti sesaat, kemudian berkata lagi, "Selain itu, Lina tidak suka jika tinggal di sini. Gunung Batu adalah rumah kami."

__ADS_1


__ADS_2