
Setelah beberapa hari kemudian, hampir setiap hari Handi selalu mengajak Saga pergi bersamanya.
Sedangkan Lina, dia ditinggalkan di kamar seorang diri.
"Aku tidak tahu, apa yang sudah mereka lakukan di luar sana. Tapi.. setiap kali Saga kembali, aku bisa merasakan aura iblis monster di dalam dirinya kini mulai semakin kuat. Pupil matanya yang sebelumnya berwarna gelap, kini sedikit diwarnai dengan warna merah tua, seperti iblis yang haus akan darah.. Apa itu tandanya, dia mulai berubah menjadi seperti iblis berdarah murni?"
Lina yang dipenuhi dengan berbagai macam pikiran dan rasa khawatir pun berusaha untuk mencegah Saga, supaya tidak pergi bersama dengan Handi lagi.
"Saga.. Jangan pergi dengan pamanmu lagi.. Tetaplah di sini.." Pinta Lina dengan sedikit ragu.
Saga, "....."
Tapi, Saga sama sekali tidak mendengarkan apa yang Lina katakan. Di matanya, Lina hanyalah bunga bakung putih kecil yang aneh, yang bisa berbicara.
...........
Pagi-pagi sekali, Saga telah bersiap akan pergi keluar menemui pamannya lagi.
"CEKREK!"
Saat pintu kamar telah ditutup dari luar, kini hanya ada satu orang yang tersisa di dalam ruangan itu.
Seseorang yang ada di dalam ruangan itu pun segera memanggil Bubu, dan bertanya tentang ramuan air melupakan cinta.
"Bubu.. Aku baru membuat sebotol ramuan air melupakan cinta, yang sampai sekarang masih aku simpan dan masih ada di dalam ruang penyimpanan, dan tidak ada yang bisa mendapatkannya selain Saga, Wiro dan Uriel. Lalu, bagaimana bisa paman Saga memiliki ramuan yang sama denganku?" Tanya Lina pada suara yang ada di dalam benaknya, dengan suara lirih.
"Ramuan air melupakan cinta, bukan hanya untuk anda." Jawab suara di dalam benak Lina.
Tentu saja Lina tercengang saat mendengar apa yang Bubu katakan.
"Hah?? Apa maksudmu?" Tanya Lina.
"Seperti yang sebelumnya pernah saya beri tahukan pada anda, kalau ramuan air melupakan cinta adalah salah satu penemuan yang ada di buku alkimia. Buku resep dan instruksi manual yang saat ini ada di tangan anda, ditulis oleh seorang alkemis. Dengan kata lain, jika alkemis tersebut masih hidup, atau, jika dia memiliki murid, pastilah mereka juga memiliki formula ramuan air melupakan cinta." Kata Bubu.
Setelah mendengar apa yang Bubu katakan, hal itu kini justru membuat Lina merasa sangat tertekan.
"Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan.." Tanya Lina pada Bubu.
Mendengar nada suara Lina yang gelisah dan tertekan, Bubu beranggapan kalau Lina sedang mengkhawatirkan keselamatannya sendiri. Jadi, dia pun mencoba untuk menghiburnya, "Anda tidak perlu khawatir. Apabila anda menghadapi suatu bahaya, sistem akan secara otomatis memicu program perlindungan darurat. Sistem pasti akan melindungi keselamatan anda."
Tapi Lina menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Aku mengkhawatirkan Saga. Sekarang dia tidak mengingat siapa diriku. Apa yang sudah aku katakan, pasti dia tidak mempercayainya."
"Jika anda hanya ingin membuatnya bisa mengingat anda lagi, bukan berarti itu tidak mungkin.." Kata Bubu.
Spontan saja Lina langsung terkejut dan merasa senang, setelah mendengar apa yang bubu katakan, "Benarkah itu??" Tapi, dia segera menutup mulutnya dengan tangannya, kemudian lanjut bertanya, dengan suaranya yang kembali dia rendahkan, "Lalu, apa yang bisa kamu lakukan?"
"Meskipun ramuan air melupakan cinta bisa menghapus kontrak pasangan, tapi cincin ikatan masih melingkar di jarinya. Dengan begitu, anda bisa menggunakan cincin ikatan untuk mengembalikan ingatannya." Kata Bubu.
"Apa ingatannya akan kembali seluruhnya?" Tanya Lina.
"Ya. Tapi pertama-tama, anda harus dalam wujud manusia." Kata Bubu.
Mendengar itu, Lina pun segera menghitung waktunya.
"Hari ini adalah hari terakhir efek biji teratai akan habis."
Setelah berpikir seperti itu, lalu dia berkata dengan percaya diri, "Seharusnya malam nanti aku sudah berubah menjadi manusia lagi."
__ADS_1
Bubu berkata, "Tapi luka pada tubuh anda belum sembuh.."
"Sekarang aku tidak merasakan sakit! Seharusnya aku akan baik-baik saja!" Kata Lina dengan mantap.
"Tentu saja anda tidak merasakan sakit. Itu karena sebelumnya, sistem telah memblokir rasa sakit anda." Kata Bubu yang mencoba untuk mengingatkan Lina.
Kemudian terdengar suara Lina yang berkata, "Tidak masalah. Aku akan membuat obat setelahnya."
Saat ini, Bubu pun tidak mempunyai pilihan lain selain mengatakan, "Setelah anda berubah kembali ke bentuk manusia, oleskan darah anda pada cincin yang Saga pakai, lalu satukan dan jepit telapak tangan anda berdua, dan kemudian baca mantranya."
...........
Saat hari mulai gelap, Saga telah kembali, dengan pakaiannya yang dipenuhi dengan noda darah.
Dia pun segera menanggalkan pakaiannya, mambasuh tubuhnya dengan air, dan kemudian menyentuh si bunga bakung putih kecil.
"Kenapa hari ini kamu tidak berbicara?"
Karena biasanya, setelah Saga memasuki kamar, bunga putih kecil itu akan terus-menerus bicara, yang isinya supaya Saga tidak terlalu percaya dengan kata-kata sosok dingin itu.
Saga sendiri pun sebenarnya tidak terlalu percaya dengan pamannya.
Tapi sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Bagaimanapun juga, saat ini dia sudah berada di sini dan lebih baik tinggal di klan iblis, untuk dia menghabiskan waktunya.
Pada saat ini, Saga sedang memamerkan lengannya dan menunjukkan otot-ototnya yang keras.
Tapi Lina tidak mempedulikan akan hal itu. Saat ini yang dia lihat, ada beberapa luka lagi di tubuh Saga, dan pola ular hitam di punggungnya kini menjadi semakin terlihat ganas.
"Hanya melihatnya saja, bisa membuat orang merasa takut." Batin Lina.
Lina pun tidak tahan untuk segera berkata, "Kamu terluka lagi. Cepat minum obat."
Dengan berkata seperti itu, terdengar seperti Saga yang sama sekali tidak peduli dengan kesehatannya.
Sikap acuh tak acuhnya ini, membuat Lina merasa kesal. Dia pun berkata dengan sedikit meninggikan nada suaranya, "Apa kamu menungguku untuk membuatkan obat?"
Saga tidak menjawabnya, tapi malahan balik bertanya, "Bagaimana caramu membuatkan aku obat?"
Lina pun menjawabnya dengan suara pelan, "Nanti kamu juga tahu sendiri."
Saga sadar, kalau bunga bakung putih kecil ini tidak diketahui asal usulnya, dan dia juga memiliki memiliki kasih sayang alami pada bunga kecil itu.
Saat dia bebas, dia akan selalu berbicara dengan bunga kecil itu. Itulah sebabnya, dia tidak membuang bunga kecil itu selama ini.
Karena menurutnya, akan terlalu membosankan jika harus hidup sendiri. Ada baiknya jika memiliki peliharaan kecil yang bisa dia ajak bicara.
...........
Di malam hari, Saat Saga sedang berbaring dengan tenang di tempat tidur.
"Tidak tahu kenapa, sejak aku meminum air melupakan cinta, aku selalu mengalami insomnia. Setiap kali aku menutup mata, bayangan-bayangan buram dan kabur yang familiar, selalu muncul. Bayangan-bayangan itu terus menerus muncul di pelupuk mataku. Siapakah dia?"
Meskipun setiap malam Saga selalu berusaha untuk mencoba melihat dengan jelas sosok itu, tapi tetap saja gagal.
Pada tengah malam, Saga membuka matanya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapannya yang kosong, seperti menerawang jauh.
Pada saat itu juga, tiba-tiba saja Saga mendengar suara kecil yang aneh. Dia pun segera duduk dan menatap kearah sumber suara, dan melihat bunga bakung putih kecil yang sedang mencoba untuk naik ke tempat tidur.
__ADS_1
Cabang dan daunnya sangat lembut, kecil dan tipis, menbuatnya sangat kesulitan untuk memanjat naik ke tempat tidur. Tapi hal Itu terlihat lucu dan indah.
Saga pun mengulurkan tangannya untuk mengangkat bunga bakung kecil itu.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan memberimu obatnya." Jawab Lina.
Begitu bunga putih kecil itu menyelesaikan kalimatnya, bunga kecil itu pun segera berubah menjadi wanita bertubuh kecil, dengan kulitnya yang putih dan dan halus!
Meskipun wajahnya terlihat sangat pucat, tapi kecantikannya membuat Saga sangat terkejut.
"Ah! Belum pernah aku melihat wanita secantik ini."
"*Tidak, sebelumnya aku pernah melihatnya."
"Tapi, kapan dan di mana aku pernah melihatnya*?"
Dalam keterkejutannya, Saga masih terus mencoba untuk mengingat siapa wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Saat Saga dalam keadaan linglung, Lina pun segera mengambil kesempatan ini. Dengan cepat, dia segera menggenggam tangan kanan Sata, lalu menggigit jarinya sendiri, dan menyekakan darahnya pada cincin yang ada di jari manis Saga. Kemudian dia menggenggam jari Saga dengan erat, hingga kedua cincin yang mereka pakai saling berdekatan.
Saga yang kini telah tersadar dari keterkejutannya, bereaksi untuk mencoba melepaskan tangannya.
"Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tangan kananku?" Pikir Saga yang saat ini mulai terkejut lagi.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" Tanya Saga dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
Tapi Lina sama sekali tidak menjawab pertanyaan Saga, pada saat ini, dia cepat-cepat untuk segera melafalkan mantra.
"Dengan darahku, kita akan hidup dan mati bersama! Tak akan ada yang bisa memisahkan kita, meskipun itu Dewa ataupun Iblis!"
Tepat setelah Lina selesai melafalkan mantra, kedua cincin yang Saga dan Lina pakai pun segera bersinar terang, dan ukiran pada permukaan cincin itu terlihat seperti hidup.
"Ukiran yang melingkar di cincin kami bergerak!" Batin Lina saat melihat hal ini.
Ukiran duri pada permukaan cincin itu pun segera menyebar ke tangan Lina dan Saga, dan mengikat dengan erat tangan mereka berdua.
Dengan penuh harapan, Lina menatap Saga sambil bertanya, "Apa kamu ingat siapa aku?"
Pada saat ini, Saga sedang merasakan banyaknya ingatan-ingatan yang seperti sedang mengebor otaknya.
"Aahhh!"
Tembok penghalang yang menghalangi sebagian ingatannya, kini telah menghilang, dan gambaran sosok pada ingatannya kini bisa terlihat dengan sangat jelas.
Seluruh sosok yang sebelumnya terlihat kabur dan buram dalam setiap mimpinya, kini seperti telah memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, mata Saga pun terbuka, dan menatap kearah wanita cantik yang tepat berada di hadapannya.
"Lina.."
Mendengar suara Saga yang terdengar serak dan sedih, seketika itu juga membuat air mata kegembiraan Lina mengalir dengan deras. Dan saat itu juga, Lina segera menerjang Saga dan memeluknya dengan sangat erat.
"Sekarang.. Kamu sudah ingat aku lagi.." Kata Lina yang masih memeluk Saga sambil terisak tangis, dan berurai air mata.
Pada saat itu juga, tanaman berduri yang sebelumnya mengikat kedua tangan mereka pun menghilang.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba saja, terdengar peringatan yang muncul di dalam benak Lina.
"Peringatan! Peringatan! Sistem akan secara otomatis menarik kembali pemblokir rasa sakit. Tubuh anda sedang terluka parah, tingkat kesehatan anda saat ini jauh di bawah normal. Harap segera menjalani perawatan tepat waktu!"