Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 147 - Buah Apa Ini?


__ADS_3

"Tidak perlu sampai menghabiskan uangmu. Selain itu, aku juga tahu cara membuat pot tembikar." Jawab Lina.


Pot gerabah sebenarnya sangat bagus untuk dibuat, setidaknya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan porselen.


Dulu Lina pernah bekerja paruh waktu di kelas tembikar, jadi dia tahu prosesnya.


Uriel mengusap kepala gadis kecilnya sambil tersenyum.


"Kamu tahu banyak hal di kepala kecilmu ini yah.."


Tentu saja Uriel tidak akan membiarkan Orc jahat membawa gadis kecilnya pergi.


Setelah itu, dia memanggil dua penjaga, "Kalian pergi dan carikan gerobak, suruh kemari, dan bawa pot-pot ini kembali ke istana."


"Baik Yang Mulia Pangeran."


Sudah lama Lina tidak pergi berbelanja.


"Kali ini, Kristal di sakuku mengalir keluar dengan deras, seperti air."


Apa yang mereka lakukan selalu menarik perhatian, ditambah dengan pembelian yang begitu banyak, tiba-tiba saja menarik perhatian banyak Orc.


Orc yang tinggal di sini tidak sederhana. Meskipun mereka bukan pangeran dan bangsawan, tapi mereka sering berhubungan dengan pangeran dan para bangsawan.


Beberapa dari mereka segera mengenali identitas Uriel dan Azka.


"Lihat, mereka berdua adalah Yang Mulia Pangeran!"


"Ya, itu adalah Pangeran Uriel yang sudah sekian tahun tidak berada di sini."


Kemudian, dengan segera mereka berlutut sambil berseru!


"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran Kedua!"


Melihat hal itu, Uriel pun menyuruh mereka untuk segera berdiri.


"Bangunlah!"


Setelah identitasnya disebut, hal itu segera menarik perhatian banyak Orc untuk berkumpul dan melihat mereka.


Kini mereka telah dikelilingi oleh begitu banyak orang, Lina pun merasa seperti menjadi tontonan. Hal itu membuat Lina jadi merasa sangat tidak nyaman. Dia pun berbisik kepada Uriel, "Ayo kita kembali saja."


Uriel mengangguk. Dia ingin mengulurkan tangannya untuk memeluk Lina.


Tapi Lina segera berkata, "Aku ingin berjalan kaki sebentar. Kalau aku sudah merasa lelah, kamu boleh membopongku lagi."


Uriel juga tidak memaksanya, dengan sorot mata birunya yang terlihat penuh dengan kelembutan, Uriel pun berkata, "Baiklah."


Dia segera menggandeng tangan Lina dan kembali berjalan.


Pada saat ini Azka bertanya, "Apakah kamu tidak ingin berkeliling lagi sebentar? Di depan ada pasar budak. Apa kamu tidak ingin membeli beberapa budak?"

__ADS_1


Mendengar itu, dengan segera Lina menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak menginginkan budak."


"Selain budak, juga ada semua jenis hewan peliharaan. Apa kamu tidak ingin melihatnya juga?" Tanya Azka lagi.


Lina pun menggelengkan kepalanya lagi.


"Tidak ingin."


"Dan Colosseum? Di sana juga sangat menyenangkan loh." Tanya Azka kembali.


"Colosseum atau semacamnya, terdengar sangat berdarah dan brutal," setelah berpikir seperti itu, Lina pun menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil berkata lagi, "Aku tidak ingin pergi ke tempat-tempat seperti itu."


Lina yang selalu menolak ajakkannya, membuatnya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebelumnya, setiap kali aku mengajak wanita untuk keluar berjalan-jalan, para wanita itu pasti akan merasa sangat senang. Tapi kenapa dengan Lina tidak? Apakah dia benar-benar membandingkan diriku dengan kakak?"


Azka masih sedikit enggan untuk menyerah, dan dia pun ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi sebelum dia sempat mengucapkannya, tiba-tiba saja dia mendengar suara yang penuh kejutan dari belakangnya.


"Azka!"


Mendengar seruan tersebut, para kerumunan pun segera melihat kearah sumber suara.


Mereka semua pun melihat seorang wanita muda yang gemuk dan putih, dengan mengenakan rok kulit ketat, dan dadanya yang terlihat padat, dan pantatnya yang terbungkus sangat rapat. Menunjukkan lekuk tubuhnya yang sangat menarik.


Banyak Orc jantan yang menatap wanita itu dengan sorot mata mereka yang bersinar. Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk menelan ludahnya sambil terus menatap lekuk tubuh si wanita muda.


"Waah.."


Begitu Azka melihat wanita itu, wajahnya yang tampan terlihat seolah seperti lesu. Sinar di mata birunya seperti meredup. Dia tampak seperti kucing besar yang sedang mengalami masalah serius, yang telah membuat dirinya mengalami kemunduran.


"Vanda, kenapa kamu ada di sini?"


Wanita bernama Vanda itu pun segera berlari, dengan wajahnya yang terlihat penuh dengan kegembiraan.


"Aku sedang keluar untuk berjalan-jalan, tapi tidak aku duga bertemu kamu di sini. Sangat menyenangkan!"


Saat ini Lina menatap Uriel, lalu bertanya padanya dengan suaranya yang rendah, "Siapa gadis ini?"


"Namanya Vanda. Dia adalah perempuan dari keluarga Beruang bambu. Ayahnya ingin dia menjadi pasangan Azka," kata Uriel.


Mendengar hal itu, Lina tiba-tiba berkata, "Oh, ternyata tunangan Azka!"


Lina sudah sengaja merendahkan suaranya, tapi masih tetap gagal lolos dari pendengaran Orc yang tajam.


Azka pun segera menoleh padanya dan menjelaskan, "Dia bukan tunanganku! Dia dan aku hanya berteman."


Mendengar apa yang sudah Azka katakan, Vanda pun menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Azka, aku sudah berjanji padamu untuk membuatmu menjadi pasangan jantan pertamaku. Tapi kenapa kamu masih tidak mau menerimaku?"


"Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali, aku tidak menyukaimu. Tolong jangan pernah mengatakan itu lagi. Aku tidak ingin orang lain salah paham tentang hubungan kita." Jawab Azka.

__ADS_1


Vanda segera menatap Azka, dengan air matanya yang mengalir dari kedua sudut matanya.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa yang salah denganku? Aku bisa mengubahnya untukmu."


"Tidak ada. Kamu sangat baik, tapi aku tidak menyukaimu!" Jawab Azka.


Vanda menyeka air matanya dan meraih pergelangan tangan Azka. "Tidak, aku tidak akan menyerah. Aku sangat menyukaimu. Jangan lakukan hal seperti ini padaku."


Tapi hal itu telah membuat Azka menjadi sedikit tidak sabar.


"Lepaskan tanganku!"


"Tidak, aku tidak akan pernah menyerah padamu!"


Pada saat ini, diam-diam Lina mengambil biji bunga matahari goreng, sambil makan biji bunga matahari sambil menonton drama.


"Sudah lama aku tidak melihat Drama Romantis kesukaanku. Mmhh.. Aku sangat merindukannya!"


Saat Uriel melihat kalau sepertinya gadis kecilnya sedang asyik menonton pertunjukan, dia tidak mengingatkannya untuk pergi dari situ, tapi diam-diam dia mengeluarkan dua buah manis, kemudian berkata sambil tersenyum, "Apa kamu ingin sambil makan buah ini juga?"


Setelah memakan beberapa biji bunga matahari, Lina menjadi merasa sedikit haus. Dia pun segera mengambil buah manis itu dan menggigitnya.


Vanda yang sedang melakukan drama berjudul "pria tak berperasaan vs wanita yang tergila-gila" dengan Azka, tiba-tiba saja menggerakkan hidungnya. Dia mengendus aroma manis buah dan melihat buah manis yang tinggal separuh yang ada di tangan Lina.


Seketika itu juga matanya menjadi cerah.


Dia pun segera menyingkirkan Azka yang sedang berdiri di depannya, dan berlari dengan langkah kecil menuju ke depan Lina. Matanya terlihat bersinar dan selalu menelan ludahnya.


"Buah apa ini? Sepertinya rasanya sangat enak."


"Buah ini namanya buah manis." Saat Lina melihat kalau Vanda sepertinya ingin makan buah yang sedang dia pegang, dia pun mengambilkan dan memberikan beberapa buah manis kepada Vanda.


Vanda juga segera mengambil buah manis itu dan memakannya.


Dia memakan buah itu dengan sangat cepat, tiga buah manis dia makan sekaligus, dan menyedot semua sarinya sampai bersih, sampai-sampai dia enggan untuk memuntahkan ampasnya.


Lalu Vanda menatap buah manis yang ada di tangannya, meneteskan air liurnya dan berkata, "Aku sudah pernah makan buah manis, tapi rasanya tidak seenak milikmu. Apa kamu masih mempunyai buah ini lagi? Aku akan membelinya dengan kristal."


"Aha! Kesempatan bisnis sudah datang!" Setelah berpikir seperti itu, mata bulatnya segera berbinar!


Dia pun segera mengaktifkan otak dagangnya, lalu berkata sambil tersenyum, "Selain buah-buahan manis, aku juga punya banyak buah harum segar, yang rasanya juga enak. Apakah kamu ingin mencobanya?"


"Boleh! Boleh!"


Tanpa menunggu Lina membuka mulutnya untuk meminta kepada dirinya, Uriel segera mengeluarkan buah manis, buah harum segar, biji bunga matahari goreng, akar teratai, dan rebung!


Vanda pun segera mencicipi semua jenis makanan ini satu persatu, dan saat dia memakan rebung, matanya segera memancarkan cahaya yang disebut dengan kelezatan, yang membuatnya merasa sangat senang!


"Lezat! Makanan ini sangat-sangat enak! Apa nama makanan ini? Aku belum pernah makan sesuatu yang begitu lezat seperti ini."


Untuk pertama kalinya Lina melihat ada Orc yang sangat menyukai rebung, dia pun sangat terkejut. Lalu dia berkata, "Makanan ini disebut rebung. Makanan ini berasal dari akar bambu."

__ADS_1


“Bambu? Apa itu bambu? Kedengarannya juga enak.” Setelah berkata seperti itu, Vanda pun berkali-kali menelan ludahnya lagi.


__ADS_2