Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 150 - Sama Seperti Otot Perutmu


__ADS_3

Tapi demi Uriel, Lina pun menunda rencananya untuk diet. Dan sebagai wanita modern yang memiliki prinsip dan ketekunan, dia tidak akan menyerah begitu saja!


...........


Keesokan harinya, Lina bangun pagi-pagi sekali.


Uriel yang sedang menyiapkan sarapan, melihat gadis kecilnya telah bangun dan menatapnya dengan heran.


"Kenapa hari ini kamu bangun pagi-pagi sekali?"


Lina mengepalkan tinju kecilnya sambil berkata dengan mantap, "Aku ingin lari pagi, aku ingin menurunkan berat badanku!"


Mendengar itu, Uriel pun berpikir, "Berlari juga sangat bagus. Dengan berolahraga, dapat meningkatkan kebugaran fisik gadis kecilku."


Jadi, Uriel segera menunda apa yang sedang dia kerjakan, "Kamu kan tidak terbiasa dengan lingkungan di sini, aku akan menemanimu lari pagi."


Mereka berdua pun segera mulai berlari, mengitari sepanjang jalan di dalam istana.


...........


Saat Lina telah kembali ke kamar, "Huhhh.. Aku sangat lelah dan seperti kehabisan napas."


Selesai berkata seperti itu, dia pun segera ambruk di tempat tidur.


Berbeda dengan Uriel, sedikitpun dia tidak terlihat kelelahan. Wajahnya tidak terlihat merah dan napasnya juga tidak terengah-engah. Dia bahkan sama sekali tidak berkeringat.


Kini Uriel tengah bersiap-siap untuk menggendong Lina, untuk membantunya menyeka keringat dari tubuhnya.


...........


Sarapan kali ini dengan menu pai daging yang enak. Tapi Lina hanya makan semangkuk sup sayur. Katanya, "Makan ini saja sudah membuat perutku terasa kenyang kok."


Tapi Uriel berpikir kalau Lina makan terlalu sedikit. Dia pun mengulurkan tangannya dan menyentuh perut Lina, untuk memastikan kalau perutnya telah membuncit. Kemudian barulah Uriel menghabiskan semua sisa roti dan sup.


Setelah perutnya terasa sangat kenyang oleh makanan dan minuman, kini Lina merasa penuh dengan energi. Dia menyentuh perutnya dan dengan percaya diri berkata, "Aku yakin kalau aku bisa membentuk otot perutku menjadi delapan pack, sama seperti otot di perutmu!"


Mendengar itu, Uriel pun berpikir sejenak, "Kalau Lina memiliki delapan otot perut sepertiku, dia akan tampak seperti laki-laki! Tidak boleh! Lina tidak boleh memiliki otot perut! Aku bukanlah penyuka sesama laki-laki!" Setelah berpikir seperti itu, wajah Uriel terlihat masam. Dia pun segera berkata jujur dari dalam lubuk hatinya, "Jangan memaksakan dirimu, seperti ini pun kamu sudah terlihat sangat cantik."


...........


Hari ini Uriel pergi ke Kamar Dagang untuk mengirim beberapa buah dan sayuran.


Dan seperti yang sudah dia duga, banyak wanita yang datang ke Kamar Dagang untuk membeli buah dan sayuran.


Jumlah yang dia jual tidak besar, tapi harga satuannya dia jual dengan harga yang relatif tinggi, sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

__ADS_1


Uriel dan Lina tidak harus keluar rumah untuk berjualan pun sudah dapat menghasilkan uang, "Berjualan dengan cara seperti ini memang benar-benar sangat efisien!"


Lina bahkan memiliki ide untuk bisa bekerjasama jangka panjang, dengan Kamar Dagang. Tapi kemudian dia merasa ragu, "Tapi sayangnya kamar dagang hanya memiliki cabang di kota-kota besar saja, berbeda dengan Gunung Batu yang jelas merupakan daerah terpencil. Kamar Dagang tentu tidak akan mau menghabiskan tenaga dan sumber daya material mereka, untuk mendirikan cabang di sana. Sangat disayangkan sekali."


Tidak jauh dari tempat Lina duduk, Uriel mengambil lempengan batu dari dalam ruang penyimpanan, dan kata-kata yang sebelumnya di tulis oleh Lina, kini telah dihapus dan diganti dengan kata-kata yang baru.


Kata-kata itu masih merupakan tulisan tangan Wiro, yang mengatakan, "Kapan kamu akan pulang ke Gunung Batu? Saga dan aku sangat ingin bertemu denganmu."


Uriel berpikir sejenak, lalu menuliskan isi balasannya. "Setidaknya kami akan berada di sini sekitar lima belas hari."


Setelah menuliskan itu, Uriel memasukan kembali lempengan batu tersebut ke dalam ruang penyimpanan.


Lina merindukan Saga, Wiro dan anak-anak, dibandingkan dengan Kota Matahari yang megah ini. Dia masih lebih suka berada di Gunung Batu, yang terasa hangat dan lebih dia kenali.


Lalu Lina berkata kepada Uriel, "Ayo kita kembali."


"Baiklah, mari kita berpamitan pada ayah terlebih dulu dan pulang ke rumah esok paginya."


Tapi saat mereka menemui Martin Nouh untuk berpamitan, mereka diberitahu kalau saat ini Martin sedang dalam keadaan kritis!


Dengan cepat Uriel segera bergegas menuju ke kamar ayahnya dan melihat ayahnya yang kritis, sedang terbaring di tempat tidur.


Di situ telah ada Alan Rebes yang sedang merawat Martin Nouh. Dia terlihat sedang menuangkan semangkuk air suci. Bukannya mengobati, tapi air itu sebenarnya malah memperburuk penyakit Martin Nouh.


Terlihat juga para pelayan yang berdiri sambil menundukkan kepala mereka.


"Maaf, kami sudah mencoba yang terbaik. Pangeran bisa bersiap-siap untuk Yang Mulia."


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan? Ayahku belum meninggal! Jika ayahku sampai meninggal, tidak ada di antara kalian yang akan merasa tenang!" Kata Uriel geram kepada para pelayan yang ada di situ.


Mendengar itu, para pelayan pun segera berlutut dan gemetaran sangat ketakutan.


Alan Rebes yang melihat hal itu pun menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya, "Hhhhh.. Kenapa anda berkata seperti itu? Hidup dan mati sudah ada yang menentukan. Para pelayan ini tidak bersalah."


Tapi Uriel mengabaikannya dan memegang tangan ayahnya dengan erat.


Lalu Alan Rebes berkata lagi, "Rajaku mungkin sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jika ada yang ingin anda katakan antara ayah dan anak, saat ini adalah kesempatan yang sangat baik, agar kelak anda tidak menyesal."


Selesai berkata seperti itu, kemudian dia segera pergi bersama para pelayannya.


Serelah itu, Lina pun berkata kepada para pelayan yang berlutut, "Kalian semua juga keluarlah."


Melihat kalau Uriel tidak keberatan, para pelayan tersebut segera bangkit dan berebut untuk berjalan keluar kamar. Orang yang berjalan paling belakang merasa sangat takut, kalau-kalau akan dihadang oleh Uriel.


Kini di kamar tidur hanya ada tiga orang, Martin, Uriel dan Lina.

__ADS_1


Saat ini terdengar suara Uriel yang berkata, "Ayah, ayah pasti akan baik-baik saja."


Tubuh Martin sangat lemah, hingga membuatnya tidak bisa berbicara. Martin hanya bisa menatap lurus ke arah putranya, dan mata biru gelapnya penuh dengan air mata.


Tanpa bersuara sedikitpun, Lina mengeluarkan pisau tulang dan segera menyayat telapak tangannya. Seketika itu juga darahnya pun segera menetes ke dalam mangkuk, kemudian Lina mencampurnya dengan air hangat, dan memberikannya kepada Uriel.


"Berikan pada ayahmu. Mungkin ini bisa membantunya."


Uriel melihat tangan gadis kecilnya yang terbungkus oleh kulit binatang, kemudian dengan sorot matanya yang dalam, menatap Lina sambil berkata, "Terima kasih."


"Kita semua adalah keluarga. Tidak usah terlalu sopan. Berikan segera pada ayahmu."


Kemudian Uriel membantu ayahnya untuk duduk dan dengan hati-hati memberinya air hangat yang telah dicampur dengan darah Lina.


Setelah semangkuk air habis di telan oleh Sang Raja, kondisinya segera membaik dengan kecepatan yang bisa terlihat dengan mata telanjang. Pipi pucatnya kini terlihat kemerahan, dan bahkan kerutan di wajahnya banyak yang telah menghilang. Semangatnya kini juga terlihat lebih baik.


Kini Martin bisa merasakan tubuhnya penuh dengan kekuatan.


"Aku merasa seolah-olah tubuhku kembali menjadi bugar lagi.."


Mendengar apa yang Raja katakan, Uriel dan Lina tetap bersikap tenang.


"Sekarang ayah terlihat jauh lebih baik."


Martin sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, "Apakah kamu menambahkan darah Lina ke mangkuk air tadi? Bisakah darahnya digunakan untuk menyembuhkan penyakit?"


Jika dia tahu kalau darah Lina bisa untuk menyembuhkan penyakit, mungkin Lina akan digerogoti hingga ke tulang-tulangnya!


Saat ini Uriel sedang memohon kepada ayahnya, "Ayah, bisakah ayah melupakan apa yang baru saja terjadi? Lina hanyalah seorang wanita biasa, aku tidak ingin dia dalam bahaya."


Tentu saja Martin tahu apa yang dikhawatirkan oleh putranya, tapi sekarang dia juga sedang dalam keadaan terkejut, dia pun segera berkata, "Yah, ayah berjanji padamu. Ayah tidak akan memberi tahukan pada siapa pun, tentang apa yang baru saja terjadi."


"Ayah juga tidak boleh memberitahukan hal ini kepada imam besar dan juga pada Azka."


Mendengar itu, Martin menatap putranya dalam-dalam. Setelah hening sejenak, kemudian dia mengangguk sambil berkata, "Baiklah."


Lina berpikir kalau seperti ini sudah akan baik-baik saja.


Tapi tidak dengan Uriel, Uriel segera mengeluarkan gulungan kontrak. Gulungan kontrak tersebut bisa untuk membuat kontrak dengan Orc dari empat hingga enam bintang. Martin Nouh memiliki roh Binatang Buas bintang enam.


Lalu Uriel membuka gulungan kontrak tersebut sambil berkata, "Saya tahu kalau ini mungkin akan membuat ayah merasa kedinginan, tapi saya tidak punya pilihan lain. Lina adalah segalanya dalam hidup saya. Dan saya harus melindunginya, seperti apa pun caranya. Jadi tolong tekan sidik jari ayah pada kontrak ini, untuk memastikan kalau ayah akan menepati janji ayah, untuk tidak mengungkapkan apa yang sudah terjadi hari ini kepada orang lain."


"Sudahlah, bagaimanapun juga beliau adalah ayahmu, kita harus bisa mempercayai beliau." Ucap Lina kepada Uriel.


Namun Uriel tidak tergerak hatinya dan tetap menatap ayahnya dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2