
Perang ini telah membawa perubahan besar antara klan Serigala dan klan Bulu. Kini hubungan dia antara kedua klan tersebut mulai sedikit membaik.
Sekarang mereka sudah bisa saling menyapa dengan damai. Meskipun terkadang masih ada konflik kecil.
Tapi ada satu hal yang mengganggu Lina.
"Akhir-akhir ini, Leon sering muncul dihadapanku."
Lina tidak memiliki prasangka terhadapnya, tapi Leon pernah mengatakan kalau dia akan membunuh Saga, dan kata-kata itu selalu meninggalkan simpul di hatinya.
Sekarang setiap kali Lina melihat Leon datang, dia selalu mengkhawatirkan keselamatan Saga. Hal itu lah yang terkadang membuat suasana hati Lina menjadi tidak baik.
Saat ini Lina sedang memeriksa bunga matahari, bunga-bunga tersebut semuanya tumbuh dengan baik, membuat suasana hati Lina jadi ikut membaik.
Saat Lina berbalik, dia melihat Leon turun dari langit. Hal ini membuat suasana hatinya tiba-tiba kembali merasa cemas.
Lina pun bertanya dengan marah, "Sebagai Orc penting dari klan Bulu, apa setiap harinya kamu selalu bebas berkeliaran? Apa tidak ada hal penting untuk kamu kerjakan?"
Leon berkata sambil tersenyum, "Kamu tahu kalau aku Orc penting kan? Dan aku juga memiliki posisi yang sangat istimewa di klan Bulu. Jika kamu berbicara kepadaku dengan nada seperti itu, apa kamu tidak takut kalau aku pergi ke klan Serigala dan melaporkan kepada mereka?"
Lina pun mulai sedikit terpancing emosinya, dengan bersemangat dia berkata, "Kamu memang Orc jahat."
"Maaf? Aku itu Orc yang sangat jahat." Leon berkata sambil tersenyum.
Lina, "....."
"Kenapa bisa ada orang yang begitu berani di dunia ini?!"
Leon melirik bunga matahari yang ada di belakang Lina, kemudian berkata, "Aku dengar kalau tanaman yang kamu tanam ini cukup lezat. Kapan kamu akan memberiku supaya aku bisa ikut mencobanya?"
"Jika kamu ingin makan, kamu bisa mengambilnya sendiri!"
Lina pun menyingkir. Dia berpikir, "Bunga matahari mutan ini sangat ganas, selama ada orang asing yang mendekati mereka, mereka pasti akan segera menyerang. Biar Orc burung jahat ini mendapatkan pelajaran! Hihihi!"
Saat ini Leon sedang berpikir dengan cermat, kemudian tersenyum.
Bukannya berjalan mendekati bunga matahari, tapi dia langsung membuka sayap merah lebarnya.
Lina mulai merasakan perasaan tidak enak saat melihat Leon mengembangkan sayapnya, kemudian dia buru-buru bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja aku akan memberi angin segar pada bunga matahari ini, agar aku bisa memetik bijinya. Lagi pula tanaman ini bisa sangat menyakiti orang." Jawab Leon sambil tersenyum.
"Dengan dua sayapnya yang besar, hanya dengan satu kepakkan sayapnya saja dapat menerbangkan semua bunga matahari ke langit! Sulit bagi kami untuk menumbuhkan begitu banyak bunga matahari mutan ini! Aku tidak boleh membiarkan orang ini merusaknya!" Setelah selesai berpikir, Lina pun berseru, "Jangan lakukan! Hentikan!"
Leon memandangnya dengan tersenyum, "Bukankah kamu yang bilang kalau aku boleh mengambilnya sendiri?"
"....." Lina tak bisa berkata-kata.
Lina kemudian menunjuk Leon dan berkata dengan marah, "Tunggu di sini! Kamu jangan bergerak!"
Leon pun merentangkan tangannya, menunjukkan kalu dia tidak akan melakukan apa-apa.
__ADS_1
Masih dengan emosi, Lina mengambil sekantong biji bunga matahari dan melemparkannya langsung kepada Leon.
"Ini, pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"
Kemudian Leon berkata, "Aku tidak ingin makan yang masih mentah, aku ingin makan yang sudah dimasak. Aku sudah melihat para Serigala betina, memakan biji bunga matahari goreng yang lebih harum dari pada ini."
"Jika kamu ingin sesuatu yang dimasak, pulanglah dan goreng sendiri!"
Leon mengeluarkan api di ujung jarinya, kemudian berkata, "Kamu tahu sendiri kalau aku sudah tua, dan kemampuan kontrolku juga tidak bagus. Jika aku tidak sengaja membakar Gunung Batu bagaimana?"
“Kalau begitu jangan makan biji bunga matahari karena kamu sudah tua! Bagaimana jika gigi tuamu sampai patah?”
“Tidak masalah. Aku punya banyak gigi, dan aku juga tidak takut kalau salah satu gigiku sampai patah.”
Lina pun semakin kesal dengan Leon, "Kamu itu sangat menyebalkan sekali!"
"Aku memang benar-benar pandai membuat orang lain kesal."
Lina, "....." Lina hanya bisa menelan ludanya dalam diam dan menyerah.
Akhirnya Leon pun terbang pergi dengan membawa sekantong besar biji bunga matahari goreng.
Semakin Lina memikirkannya, semakin dia merasa marah. Pada saat makan malam, dia pun bertanya, "Adakah di antara kalian yang bisa mengalahkan Leon?"
Uriel menggelengkan kepalanya.
"Sewaktu aku menang bertarung melawannya, itu hanya bisa dianggap sebagai kebetulan. Dengan anggapan kalau dia membiarkanku untuk menang. Jika dia mengeluarkan semua kekuatannya, aku pasti bukan lawannya."
Wiro menyangga dagunya dengan punggung tangannya, kemudian berkata, "Aku yakin aku tidak bisa mengalahkan Orc burung itu sendirian, tapi jika kita semua pergi bersama, kita seharusnya memiliki sedikit kesempatan untuk menang."
"Tidak heran jika dia begitu sombong. Ternyata dia tidak takut dengan siapa pun yang ada di sini." Gumam Lina.
Kemudian Uriel mengusap-usap kepala gadis kecilnya sambil berkata, "Ada apa? Apa dia sudah mengganggumu?"
"Apa bisa dikatakan dia menggangguku, jika dia tidak membayar biji bunga matahariku?"
Uriel terdiam sejenak, lalu berkata, "Besok aku akan pergi menemuinya dan meminta uang pembayarannya."
"Hhhh.. Lupakan saja, lagipula biji bunga matahari itu tidak bernilai banyak uang. Dia bisa mengambilnya jika dia suka. Tidak usah menemuinya, atau kamu akan bertarung dengannya dan terluka lagi." Ucap Lina.
Keesokan harinya, Leon mendatangi Lina lagi.
"Biji bunga matahari gorengmu rasanya sangat enak. Aku mau lagi."
Lina merasa sangat tidak senang.
"Sudah tidak ada lagi!"
"Bukankah kamu menanam banyak bunga matahari di kebun sayurmu? Kenapa aku tidak boleh meminta beberapa lagi?" Kemudian dia berbalik hendak mengambil sendiri biji bunga matahari.
Lina pun segera menghentikannya.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh merusak tanamanku!"
Dengan marah Lina membungkus biji bunga matahari yang baru saja digoreng oleh Uriel, dan melemparkan bungkusan itu kepada Leon, menyuruh Leon untuk mengambilnya dan memintanya untuk segera pergi.
Leon tersenyum, kemudian dia mengeluarkan sebutir biji untuk Lina.
"Aku tidak memakan pemberianmu tanpa imbalan, ini adalah hadiah dariku."
Biji tersebut berwarna putih, dan agak hijau di ujungnya, besarnya hanya sebesar ibu jari, mirip dengan benih teratai.
Lina yang melihat benih tersebut dan merasa tertarik pun bertanya, "Benih apa itu?"
"Namanya benih bunga air. Bisa mekar saat sudah besar. Bentuknya sangat indah. Konon katanya banyak wanita yang sangat menyukainya."
Awalnya Leon berencana menunggu sampai Lina melahirkan bayinya dan kemudian memberikan benih itu, tetapi sekarang suasana hatinya sedang sangat bagus, jadi dia memberikannya lebih awal.
Lina mengambil benih tersebut, dan melihat kalau itu benar-benar sangat mirip dengan biji teratai.
"Bagaimana cara menanamnya?" Tanya Lina.
"Kamu beri saja setetes darah dan lemparkan ke kolam, nanti tanaman itu akan tumbuh dengan sendirinya."
Baru pertama kalinya Lina mendengar menanam bunga membutuhkan tetesan darah. Karena merasa curiga, Lina kemudian bertanya, "Apa kamu sedang berusaha untuk membodohiku?"
"Apa gunanya aku membodohimu?"
Selesai berkata sepeti itu, Leon langsung terbang dengan membawa biji bunga matahari goreng.
Setelah Leon pergi, Lina segera membuka buku kulit bergambar.
"Aku sudah mencarinya di buku kulit bergambar, dari awal hingga akhir. Tapi tetap tidak bisa menemukan catatan tentang bunga air ini."
Lina kemudian bertanya kepada suara yang ada di dalam benaknya, "Bubu, kenapa di buku ini tidak ada informasi tentang bunga air?"
Bubu menjawab, "Catatan informasi tentang bunga air ada di buku lain."
Lina sedikit terkejut.
"Benih ini bahkan seperti Benih Suci, informasi tentang tanaman-tanaman itu tidak ada di buku ini. Apakah bunga air adalah tanaman bermutu tinggi seperti Benih Suci?"
Bubu menjawab, "Anda belum memiliki izin yang cukup untuk mendapatkan jawaban dari kami."
Setelah merasa ragu-ragu untuk waktu yang lama, Lina akhirnya memberikan setetes darahnya dan menyekanya pada benih bunga air.
"Ah! Benih ini seperti makhluk hidup.. Benih ini dengan cepat menyerap darah yang aku berikan. Kulit benih yang tadinya berwarna putih, kini tiba-tiba berubah menjadi berwarna merah muda. Terlihat indah.."
Kemudian Lina melemparkan benih itu ke dalam kolam yang ada di kebun.
Tak lama kemudian, benih itu berkecambah dan tumbuh.
Permukaan kolam yang semula kosong, kini ditumbuhi daun teratai hijau, berdempetan dan terlihat cukup indah.
__ADS_1
Di tengah-tengah kolam, telah berdiri kuncup bunga kecil berwarna merah muda.
Itu adalah tunas dari bunga air.