
Keahlian bertarung Josh tidak sebaik Wiro. Setelah beberapa kali menyerang, tak ada satupun serangannya yang mengenai Wiro.
"HIAH!"
"DESH!"
Sebaliknya, serangan Wiro sangat ganas, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, hampir semuanya selalu mengenai tubuh Josh.
"HIAT!"
"BUGH!"
"BRAK!"
Suara gemeretak tulang bisa didengar oleh semua yang yang ada di situ.
"BUGH!"
"PRAK!"
"KREK!"
Tak ada satupun yang datang untuk menyelamatkan Josh. Karena ini adalah pertarungan antara laki-laki. Apakah mereka menang atau kalah, hidup atau mati adalah urusan mereka sendiri, orang lain tidak bisa ikut campur.
Avi mulai merasa ketakutan saat melihat keganasan Wiro.
Setelah beberapa waktu ini, dia sudah mulai memahami seperti apa Wiro yang sebenarnya. Dia tipe orang yang kejam tak hanya terhadap sesama pria, wanita pun tidak akan luput dari amukannya. Dia merasa setelah Wiro selesai memberi pelajaran kepada Josh, pasti berikutnya adalah giliran dia.
Dia pun mengambil kesempatan untuk menyelinap pergi. Tapi ternyata usahanya sudah dihalang-halangi oleh para orc dari Serigala Batu.
Dia tidak bisa lari kemanapun lagi, dia mulai merasa ketakutan.
Sito Gering si Dukun suku Serigala Batu, datang dengan membawa tongkatnya dan berkata, "Kalian telah berani mengganggu wanita di wilayah kami. Nampaknya, kalian tidak menghormati kami yang dari suku Serigala Batu. Karena hal itu, kami tidak akan bersikap sopan lagi pada kalian. Tangkap para bedebah ini!"
Mendengar perintah si dukun, para Orc dari Serigala Batu segera bergerak untuk menangkap mereka.
"Aku seorang perempuan!" Avi berseru karena takut. "Aku putri pemimpin suku Ayam Pegar! Kalian tidak bisa menangkapku!"
Sebelumnya, para Orc dari suku Serigala Batu telah diberi instruksi secara khusus oleh dukun tua dalam perjalanan mereka ke sini. Mereka harus berani dan tegas terhadap wanita ini.
Mengabaikan Avi yang meronta-ronta, mereka tetap menangkapnya dan para prianya itu. Kemudian memasukkan mereka ke dalam penjara bawah tanah.
Lina yang sudah dibantu berdiri, masih sedikit merasakan ketakutan. Tidak ada sedikitpun noda darah di wajahnya. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin. Rok bulunya robek dan punggungnya tertutup oleh debu akibat dia terjatuh.
"Untungnya kau tak terluka." Sito kemudian menghiburnya, "Jangan takut, Uriel dan Wiro sudah kembali, sekarang tidak akan ada yang bisa mengganggumu lagi."
Lina menggenggam pergelangan tangan si dukun dan bertanya dengan perasaannya yang penasaran dan juga senang, "Apakah Uriel sudah kembali? Di mana dia sekarang?"
__ADS_1
"Dia sedikit terluka. Sekarang dia sedang ada di rumahku, nanti aku akan membawamu menemuinya."
Lina merasa gembira mendengar Uriel selamat, beban di hatinya kini seolah telah hilang.
Josh sudah dipukul jatuh ketanah oleh Wiro, napasnya tersengal-sengal, dia sudah hampir tak bisa bernapas lagi.
Melihat itu, Sito pun segera mengingatkan Wiro, "Sudah, hentikan, jangan sampai dia terbunuh. Lagi pula dia itu kan sepupumu. Kalau dia sampai mati, pamanmu pasti akan datang kemari mencarimu dan membuat keributan."
Wiro menjambak rambut Josh sambil mencibir, "Aku, ketua klan Serigala Batu, tak pernah takut pada siapa pun!"
Josh yang berlumuran darah, kini sudah tak sadarkan diri lagi.
Pada saat itu, Dukun dari suku Serigala Air Hitam datang dengan terburu-buru. Dia melihat keadaan Josh dan dengan cepat maju ke depan untuk memohon, "Tolong tunjukkan belas kasihan dari kepala suku Serigala Batu dan biarkan dia tetap hidup."
Wiro meliriknya, sorot matanya terlihat dingin.
"Kau terlalu tepat waktu, Heli Belang."
Heli Belang berkata sambil tersenyum, "Saya sedang tidak enak badan dua hari ini. Saya tidak pernah kemana-mana, setiap hari saya selalu berada di dalam rumah untuk beristirahat. Saya tidak menyangka Josh akan melakukan hal seperti itu di belakang saya. Setelah mendengar tentang kejadian ini, saya benar-benar terkejut. Kemudian saya segera bergegas kemari."
Wiro tahu kalau dukun bernama Heli Belang ini sangat licin dan berbahaya.
Wiro bahkan mencurigai kenapa Josh berani bersikap agresif terhadap wanita adalah karena hasutan dari Heli Belang.
Tapi ini hanyalah tebakannya saja. Dia tidak bisa melakukan apa pun pada Heli Belang selama tidak ada bukti.
Heli Belang adalah seorang Dukun, yang statusnya dalam suku sangat berbeda.
Tentu saja Heli Belang sangat menyadari akan hal ini, maka dari itu dia berani menghalangi Wiro.
Itu pun juga karena saat ini Josh adalah tanggung jawabnya. Jika dia tak ikut campur, sudah pasti Wiro akan membunuh Josh.
Heli Belang mengambil inisiatif meminta Wiro untuk melepaskan Josh, "Selama ketua Wiro si pemimpin suku bersedia mengampuni nyawa Josh, kami akan memberi anda setengah dari air itu secara cuma-cuma."
Wiro pun mencibir, "Karena efek dari air itulah yang membuat Uriel sudah lepas kendali, aku juga tak ..."
"Wiro." Dengan cepat Lina menyelanya.
Wiro menatapnya.
"Kenapa?"
Lina mengumpulkan keberaniannya untuk berjalan mendekati kesebelahnya dan berbisik di telinganya, "Bolehkah aku yang menangani masalah ini?"
Dia begitu dekat, tercium aroma tubuhnya yang terasa manis, napasnya terasa hangat masuk sampai ke gendang telinganya, suaranya pun terdengar lembut menembus ke dalam relung jiwanya, membuat seluruh tubuh Wiro meleleh.
Wajah dan telinganya memerah, tetapi nada suara dan kata-katanya masih tetap sama seperti biasanya, "Benar-benar gadis kecil yang suka usil. Terserah kamu sajalah."
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin dari Wiro, dengan posisinya yang masih berdiri di samping Wiro. Lina kemudian menatap Heli Belang dengan matanya yang hitam jernih dan berbicara dengan suaranya yang lembut.
"Berapa banyak air ajaib yang kau bawa?"
Heli Belang sangat penasaran kenapa gadis kecil ini tiba-tiba datang mengganggu. Dalam kesannya, kebanyakan wanita lebih suka untuk bersenang-senang, mereka juga tidak suka melakukan pekerjaan rumah tangga dan hanya bersantai di rumah.
Ini pertama kalinya Heli Belang bertemu dengan seorang wanita yang turut campur tangan dalam urusan suku.
"Karena jarak yang jauh, kami hanya membawa dua tong air." Jawabnya.
"Seberapa besar tongnya?" Tanya Lina lagi.
Si dukun menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari suatu benda untuk dia membuat perbandingan. Kemudian dia menunjuk ke sebuah tong yang tak jauh dari situ.
"Seperti itu."
Lina melihat kearah yang ditunjuk si dukun. Dengan cepat dia mencoba menghitungnya dalam hati. "Menurut perhitunganku, jika diuraikan setidaknya ada sekitar 100 botol anggur. Jumlah segitu masih terlalu sedikit."
Kemudian Lina mulai berkata, "Tinggalkan dua tong air itu dan beri tahu padaku, tumbuhan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat air ini. Dengan begitu, kami akan mengampuni perbuatanmu."
Heli Belang sedikit terkejut. Alih-alih memberikan jawaban langsung, dia mengalihkan pandangannya ke arah Wiro.
"Ketua Wiro, bukankah dua tong air sudah cukup? Kenapa betina kecil ini menginginkan formula kami? Bukankah itu terlalu rakus?"
Wiro terlihat dingin.
"Resep cacat. Kau terlalu menyanjung tinggi dirimu."
Heli belang, "....."
Dia merasa terhina, wajahnya pun tiba-tiba berubah sedikit jelek.
Lina mengangkat jari telunjuknya kedepan mulutnya, memberi isyarat pada Wiro untuk tidak berbicara. Kemudian kembali berkata kepada Heli Belang, "Aku tak membutuhkan formulamu. Aku hanya ingin tahu apa bahan baku yang kau gunakan."
"Apa bedanya?" Heli Belang berkata.
"Tentu saja berbeda, formula tak hanya mencakup bahan baku, tetapi juga metode dan proses pembuatannya. Selama kau tidak memberitahuku metode dan proses pembuatan air itu, tentu aku tak akan bisa membuat air ajaib itu, meskipun aku tahu apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan."
Heli Belang mengira-ngira sejenak dan berpikir bahwa apa yang dia katakan masuk akal.
Wajahnya sedikit melunak.
"Kalau kau tak tahu cara membuat air itu, kenapa bertanya tentang bahan-bahannya? Apa yang akan kau lakukan dengan bahan-bahan itu?"
Lina menjawab, "Itu adalah urusan internal suku serigala batu. Kami tidak perlu menjelaskannya kepadamu. Kau hanya perlu memberikan jawabannya. Ya atau tidak?"
Heli Belang melihat Josh yang sedang tergeletak sekarat, bocah itu adalah anak dari pemimpin Serigala Air Hitam. Tentu saja dia tak bisa membiarkan anak itu mati di sini.
__ADS_1
Memikirkan semua itu, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menjanjikannya.
"Baiklah, aku berjanji padamu."