Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 76 - Apakah Mudah Mengubah Karakter Seseorang?


__ADS_3

"Aku ingat," jawabnya dengan tegas, "tapi aku harus membawa Saga kembali. Tidak peduli akan seperti apa nantinya kamu menghukumku, aku juga tidak akan mengeluh."


Kini mata biru Uriel menunjukkan kekecewaan. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, berbalik dan pergi dalam diam.


"URIEL"


"URIEL"


Lina memanggil-manggilnya dua kali, tapi Uriel sama sekali tidak berhenti ataupun menjawabnya.


Dia kemudian mengalihkan pandangannya dari Uriel, dan kembali melanjutkan membalut luka-luka Saga.


Saat Saga melihat matanya yang memerah, dia bisa menduga, Lina pasti sedih atas kepergian Uriel, dia pun berbisik, "Aku baik-baik saja, kamu kembali saja bersama mereka, tidak usah pedulikan aku."


"Itu bukan urusanmu. Aku bisa mengatasinya sendiri," meskipun Lina mendengus, tetapi dia mencoba untuk tetap tersenyum. Kemudian Lina bertanya, "Bisakah kamu berjalan?"


"Ya."


"Baguslah," kata Lina sambil memegang lengan Saga. Kemudian dia berkata, "Kamu ikutlah kembali bersamaku. Aku akan mengobati luka-lukamu sampai sembuh. Ini kompensasiku untukmu."


Saga menundukkan kepalanya, sambil berkata dengan suaranya yang sangat rendah, "Aku tidak membutuhkan kompensasi darimu, ..."


Aku hanya menginginkan dirimu.


Tapi dia tidak mengatakan kata-kata yang terakhir itu.


Saat ini dia sedang merasa sangat sedih, hingga bisa saja dia menangis.


Saat Wiro berbalik, dia melihat Uriel telah pergi jauh, sementara Lina sedang berjalan sambil memapah Saga.


Lina berkata terlebih dahulu, "Aku harus membawa pulang Saga, agar aku bisa membantu mengobati lukanya."


Mendengar Lina berkata seperti itu, segera membuat Wiro merasa sangat tidak senang.


"Bukankah kamu sudah berjanji, untuk tidak membawanya ke rumah kita?!"


"Tapi dia sedang terluka dan sangat membutuhkan pertolongan." Jawab Lina.


"Aku kan bisa menyuruh yang lain untuk merawatnya, tidak harus kamu!"


Lina berusaha menjelaskan, "Ini adalah bentuk hutangku kepadanya, dan aku juga yang harus membayarnya secara langsung. Atau seumur hidupku akan merasa sangat tidak tenang."


Wiro menatap Lina dan Saga. Dia ingin menolak, tetapi akhirnya dia tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan. Dia hanya bisa menelan penolakannya sambil melambaikan tangannya.


"Oke, oke! sekarang kamu sedang hamil. Kamu adalah bos di keluarga kita. Semua terserah padamu saja!"


Mendengar kata hamil, tatapan mata Saga langsung berubah. Tanpa dia sadari, spontan dia melihat ke arah perut Lina.


"Perutnya rata, tidak terlihat seperti betina yang sedang hamil."


Lina memperhatikan arah pandang Saga, kemudian dia menjelaskan, "Baru setengah bulan, masih belum terlihat jelas."


Mendengar penjelasan dari Lina, kini suasana hati Saga semakin terasa rumit.

__ADS_1


"Lina.. Dia tidak hanya sudah k*w*n dengan mereka, tetapi dia juga kini sedang hamil.. Apa aku benar-benar sudah tidak punya harapan untuk bersama dengan dia?"


Sesampainya mereka di rumah, Lina segera merapikan kamar tamu, yang nantinya akan digunakan untuk tempat Saga beristirahat. Setelah itu, dia mengambil buah harum segar dan memasukkannya ke dalam lesung untuk ditumbuk.


Wiro yang baru datang bertanya, sambil melihat-lihat ke sekeliling rumah, "Di mana Uriel? Kenapa aku tidak melihatnya?"


Lina teringat dengan sorot mata kecewa Uriel, dan hatinya pun merasa sedih. Kemudian Lina berkata dengan datar, "Aku tidak tahu. Mungkin dia pergi ke kebun untuk bekerja."


Meskipun Wiro itu Orc yang ceroboh dan juga kasar, tetapi dia juga memiliki sisi lembut.


Saat dia memperhatikan Lina, dia tahu kalau Lina sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Wiro pun segera mendekatinya dan memeluknya dari belakang.


"Apa tadi Uriel memarahimu?"


Lina hanya menjawab singkat, "Tidak."


Setelah itu Wiro segera mengambil alih alu yang terbuat dari batu, yang ada ditangan Lina.


"Ya sudah. Pekerjaan kasar seperti ini, biarkan aku yang melakukannya. Kamu duduk dan beristirahat saja."


Lengan Lina memang sudah terasa lelah. Dia pun menyerahkan alu batu yang sedang dia pegang kepada Wiro.


Setelah Wiro selesai menghancurkan semua buah harum segar, Lina memasukkannya ke dalam mangkuk, dan mengambilnya untuk mengolesi luka ditubuh Saga.


Lina bertanya, sambil mengobati luka-luka yang ada ditubuh Saga, "Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai berseteru dengan para Orc dari klan Bulu?"


"Itu karena aku memakan anak mereka yang nakal-nakal." Jawab Saga.


Lina menatapnya dengan terkejut dan bertanya, "Kenapa? Apa sebabnya?" Kemudian Lina berkata dengan serius dan suaranya yang terdengar halus, "Aku percaya semua itu pasti ada alasannya, kenapa kamu bisa sampai memakan anak-anak mereka. Aku ingin tahu penyebab dari kejadian itu."


Jika sebelumnya ada seseorang yang bersedia untuk mempercayainya, dia pasti tidak akan terpaksa melarikan diri dari kuil, berkeliaran di luar dan melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya.


Saga pun mulai menceritakan semua dengan detail, apa yang telah terjadi di kebun sayur.


Dalam hati Lina bersyukur, tetapi juga tak berdaya, saat Lina mengetahui alasan Saga memakan anak dari klan Bulu, itu karena dia ingin melindungi kebun sayur dan kebun buah miliknya, yang akan dicuri oleh anak-anak itu.


"Kamu kan bisa, hanya menakut-nakuti mereka saja. Tidak perlu sampai memakan mereka."


Saga berkata, "Kebetulan saat itu aku sedang sedikit lapar, jadi aku memakan anak itu untuk makan malamku."


Demi untuk melindungi kebun sayur dan buah-buahan milik Lina, sedikitpun Saga tidak ingin beranjak pergi dari situ, baik siang maupun malam. Tidak bisa berburu, dan hanya bisa memakan beberapa daun ketika dia lapar.


Anak itu juga sedang tidak beruntung, karena menabraknya ketika Saga sedang merasa lapar.


"Saat itu aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya, karena aku menelan mereka berdasarkan naluri binatangku."


Lina menghela nafasnya dan berkata, "Hhhh.. Kamu sudah memakan anak dari klan Bulu, mereka pasti tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."


Saga berkata dengan suaranya yang dingin, "Jika mereka ingin membalas dendam padaku, biarkan saja mereka datang padaku."


Lina menepuk lengannya dan berusaha untuk menghiburnya, "Itu bukan salahmu. Jika kamu tidak menghalangi mereka, bisa diperkirakan semua sayuran dan buah-buahan di kebun pasti akan dihancurkan oleh anak-anak itu."


Maksud Saga mungkin baik, tetapi caranya yang terlalu kejam.

__ADS_1


Hal seperti ini, tidak akan mudah untuk diselesaikan.


...........


Melihat hari yang sudah mulai gelap, dan Uriel yang masih belum juga kembali. Lina yang mengkhawatirkan Uriel, meminta Wiro untuk segera mencarinya.


Wiro yang kini sudah turun gunung, melihat Uriel sedang berada di tepi kolam.


Dia sedang duduk di atas batu yang ada di pinggir kolam, sambil menatap Master Ring yang ada dijarinya.


Wiro mendekati Uriel dan menepuk pundaknya.


"Matahari sudah terbenam, apa kamu tidak ingin pulang?"


"....." Uriel hanya terdiam.


Wiro mengerutkan kening dan berkata dengan sedih, "Jika kamu tetap seperti ini, hati-hati, bisa-bisa nanti Lina benar-benar mengusirmu keluar dari rumah."


Uriel memutar-mutar cincin ikatan yang ada di jari manisnya sambil berkata, "Sepertinya kamu benar-benar peduli dengan ular itu.. Lina.."


Berbicara tentang hal ini, Wiro bahkan lebih kesal lagi.


"Kalau tentang itu aku juga tahu. Orang buta juga pasti bisa merasakan, kalau hubungan mereka tidaklah sesederhana seperti yang terlihat!"


Uriel berkata dengan datar, "Lina hanya ada satu. Aku tidak bisa menerima Orc lain untuk berbagi."


"Apa kamu pikir aku ingin berpisah dengannya?" Kemudian Wiro ikut duduk di sebelah Uriel, sambil mencibir karena merasa tidak puas, "Tapi, apa lagi yang bisa aku lakukan? Bahkan jika hari ini kita telah berhasil mengusir seekor Ular, mungkin besok akan ada Elang, Singa, Macan Tutul, atau binatang yang lainnya yang akan terus datang. Bisakah kita menghentikan itu semua?"


"....." Uriel tidak berbicara lagi.


Wiro lanjut berbicara lagi, "Karakter Lina memang terlalu lembut. Siapa yang telah berbuat baik kepadanya, dia tidak bisa bila tidak membalas kebaikan orang tersebut. Memang benar, kamu dan aku yang lebih dulu tertarik padanya, kan? Meskipun begitu, jika saja kamu bisa mengubah karakternya, kamu tetap tidak akan bisa menghentikan pria lain untuk muncul di sekitarnya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Haha!"


Uriel menertawakan dirinya sendiri, kemudian bertanya kepada Wiro dengan tatapannya yang terlihat sedih dan kecewa, "Apakah mudah untuk mengubah karakter seseorang?"


Wiro menatap langit, sambil tersenyum bahagia dan membayangkan sosok Lina.


"Sangat sulit! Lagipula, aku tidak ingin merubah Lina. Aku hanya suka dengan penampilannya yang lembut. Cantik sekali! Jika kita egois dan merubah karakter Lina, supaya menjadi wanita seperti yang kita ingini, dia tidak akan menjadi Lina yang seperti saat pertama kita menyukainya."


##########


[[[ 😢😢 Susah bgd riel, percaya deh ama gw si Thothor & si Wiro. Gw tau bgt ama yg sedang lu rasain, gw juga tau bgt seperti apa rasanya ada di posisi lu riel.. ]]]


[[[ Pilih Mundur, tapi kamu sangat mencintainya & ingin slalu bersamanya.


Atau pilih untuk Terus bertahan, tapi setiap waktu kmu pasti terus2an tersakiti & dikecewakan. Sakit bgt bgt skl rasanya riel. Sumpah gw enggak boongin elu riel 😤 ]]]


[[[ Buat Wiro, elu emg👍dah.. Tpi sayangnya gw kagak bisa sprti elu 😭😭 ]]]


[[[ Btw, tumben omongan lu kagak ngaco Wir?! ]]]

__ADS_1


##########


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2