Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 177 - Bermain Salju


__ADS_3

Karena musim dingin tahun ini tidak sedingin tahun lalu, dan para Orc juga telah mempersiapkan kebutuhan mereka untuk melalui musim dingin tahun ini, mereka semua pun bisa bersantai.


Bagi para Orc yang memiliki pasangan, memanfaatkan kesempatan ini untuk k*w*n dan mencoba untuk hamil di musim dingin ini.


Sedangkan para Orc yang tidak memiliki pasangan, mencoba sebaik mungkin, untuk menyenangkan hati para betina. Berharap bisa menemukan pasangan bagi mereka di musim dingin ini, dan mengakhiri kehidupan lajang mereka yang menyedihkan.


Pada saat ini, Wiro sedang sangat bersemangat, dia ingin mengikat Lina semalaman di tempat tidur, dan melancarkan aksi gelapnya.


"Lina, Ayolah. Aku ingin kita seperti malam itu la ..."


"Tidak. BRAK!" Kata Lina memotong perkataan Wiro, lalu menutup pintu kamarnya dan pergi tidur.


Saga dan Uriel pun tidak mengizinkan Wiro untuk tidur dengan Lina.


Akhirnya, pada malam itu, ketiga pria itu pun berdiri di depan pintu kamar masing-masing, sambil masing-masing mengawasi setiap pria yang ada di sebelah mereka.


"Apa mereka berdua masih belum mengantuk juga??" Batin Wiro.


"Coba saja kalau dia berani. Listrikku yang akan berbicara." Batin Uriel.


Saga, "....."


Ketiga pria itupun masih tetap berdiri dan saling mengawasi satu sama lain, hingga pagi tiba.


"CEKREK!"


"Ah? Kalian juga sudah bangun bersamaan?" Tanya Lina yang baru saja bangun tidur dan hendak menuju ke kamar mandi, dan sedikit terkejut saat keluar dari kamarnya melihat Uriel, Saga dan Wiro sedang berdiri di depan pintu kamar mereka masing-masing.


Saga, Wiro, Uriel, "....."


Mereka bertiga hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa.


...........


Keesokan harinya, Lina merasa sudah tidak tahan lagi, dia pun mengumumkan kepada ketiga pasangannya, "Malam ini aku ingin istirahat. Tak satu pun dari kalian yang boleh menyentuhku!"


Malam ini, sebetulnya adalah giliran Uriel yang tidur dengan Lina. Tapi saat dia mendengar kata-kata Lina, Uriel pun hanya tersenyum dan berkata dengan lembut, "Baiklah." 


Tapi saat Lina mendengar apa yang Uriel katakan, dia merasa sedikit menyesal dengan apa yang baru saja dirinya katakan. Lalu dia berdeham, "Ehem. Agar kamu tidak terlalu lama menderita, aku akan tidur sendirian selama dua hari ke depan."


Itu artinya, Wiro dan Saga juga tidak bisa tidur dengan Lina.


Meskipun Saga merasa kecewa, tapi dia tidak menunjukkannya. Ekspresi wajahnya masih tetap terlihat seperti biasanya, dingin dan datar. 


Tapi, berbeda dengan Wiro. Dia segera berkata, "Kamu tidak boleh tidur sendirian!" 


"Memangnya kenapa?" Tanya Lina dengan ekspresi herannya.


"Tidak aman bagimu untuk tidur sendirian. Bagaimana jika sampai ada seseorang yang menyelinap masuk dan menculikmu?" Kata Wiro mencari alasan, supaya bisa tidur dengan Lina.


Setelah mendengar apa yang Wiro katakan, Lina pun terdiam sejenak karena merasa heran, lalu berkata, “Ini kan di rumah kita sendiri. Memangnya siapa yang bisa menyelinap masuk dan menculikku? Jangan bicara omong kosong." 


Tapi Wiro tetap bersikeras untuk bisa tidur dengan Lina. ”Aku tidak peduli. Aku tidak akan membiarkanmu tidur sendirian."


"Aku tetap akan tidur sendirian!" Ucap Lina tak mau kalah dengan Wiro.


"Tidak. Tidak. Tidak boleh."


Keduanya pun berdebat seperti anak-anak. 


Melihat hal ini, Uriel pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tanpa daya. Lalu dia menoleh kesampingnya dan berkata kepada Saga, "Bagaimana kalau malam ini kita makan ikan? Kamu ingin ikan kukus atau ikan rebus?" 


Saga menjawab dengan ekspresi wajahnya yang terlihat acuh tak acuh, "Ok. Yang mana saja tak masalah bagiku."


"Kalau begitu aku akan memasak sup ikan." Kata Uriel.


Saga hanya menganggukan kepalanya, tanda dia juga menyukainya.


"Bagaimana jika nanti ada seekor gajah, badak dan tikus yang menerobos masuk kemari lalu menculikmu?" Kata Wiro yang masih tanpa lelah terus berusaha mencari seribu alasan.


"Tidak mungkin!" Ucap Lina.


Saat Wiro mencoba untuk memprotes Lina lagi, tapi, belum sempat dia berkata, tiba-tiba saja tubuhnya bergetar hebat, karena dialiri listrik oleh Uriel.


"A aa aah.. Bre bre breng ..."

__ADS_1


Belum sempat Wiro menyelesaikan kalimatnya, dia sudah jatuh pingsan terlebih dulu. Kemudian tubuhnya yang terkulai lemas di tanah dililit oleh ekor Ular, dan di lemparkan kedalam kamarnya sendiri oleh Saga.


"Hihihi.. Terima kasih.. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak." Selesai berkata seperti itu, Lina pun segera masuk ke dalam kamarnya sendiri, lalu berbaring di tempat tidur.


"Ahh.. Nyamannya malam ini aku bisa tidur dengan sangat nyenyak.."


Dia pun segera menutup matanya dan tertidur.


...........


Keesokan paginya, begitu Lina membuka matanya, dia terkejut saat melihat Leon sedang duduk di tepi tempat tidurnya.


Jubah merahnya semerah darah, rambut emasnya terlihat menyilaukan, dan kristal merah yang berkilauan hampir membutakan mata Lina.


"Kenapa dia bisa ada di sini? Jelas-jelas tadi malam aku sudah mengunci pintu kamar." Pikir Lina.


Lina pun mengucek-ucek matanya, lalu mengerutkan keningnya dan berkata, "Bagaimana kamu bisa masuk kemari?"


Saat ini si kuncup bunga kecil telah melilit pergelangan tangan Leon, sambil mengusap-usap punggung tangan Leon dengan kuncup bunganya.


Leon menunjuk ke arah jendela, kemudian berkata, "Aku masuk dari sana." 


Lina pun segera melihat ke arah jendela sambil berpikir, "Aku lupa kalau orang ini bisa terbang. Dia terbang dan langsung masuk ke kamarku melalui jendela."


Lina teringat lagi dengan apa yang tadi malam dia debatkan dengan Wiro, dia pun mulai merasa sedikit takut.


"Ternyata aku salah. Meskipun di rumah sendiri, seseorang tetap bisa diam-diam menyelinap masuk. Contohnya si manusia burung ini." Batin Lina.


Kemudian Lina bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku?" 


Mata Leon pun menatap ke arah bahu Lina yang tidak tertutupi pakaian. Lalu dia bertanya, "Apa kamu tidak ingin pergi keluar dan bermain?" 


"Memangnya akan bermain apa?" Tanya Lina.


Leon membelai-belai si kuncup bunga kecil dengan lembut sambil berkata, "Turun gunung untuk bermain salju." 


"Dalam cuaca seperti ini, kamu masih ingin bermain di luar? Apa kamu tidak takut masuk angin?" Tanya Lina dengan heran.


"Jika bersamaku, tidak akan ada es maupun salju yang akan membekukanmu." Kata Leon dengan percaya diri.


Mau tak mau, Leon pun berkata, "Terserah kamu saja."


"Kalau begitu, sekarang kamu keluar dulu."


Mata Leon menatap ke pipi Lina dan berhenti di belahan dada Lina yang sedikit terlihat.


"Memangnya kenapa kalau kamu berpakaian di depanku, apa aku tidak boleh melihatnya?" Setelah berkata seperti itu, Leon pun terkekeh dan segera bangkit, lalu terbang keluar melalui jendela.


Lina, "....."


Dengan cepat, Lina segera memakai bajunya, dan memakai sepatu bot dari kulit rusa. 


Setelah selesai sarapan, dia memanggil semua anggota keluarganya dan turun gunung menemui Leon. 


Leon berjalan di tumpukan salju, dengan memancarkan energi panas dari tubuhnya. Setiap tumpukan salju yang dia lewati, dengan sangat cepat segera mencair dan menguap, dan berganti dengan tanah yang mengering.


Lina pun merasa takjub saat berjalan di tanah yang kering di antara tumpukan salju di kanan dan kirinya.


"Orang ini hebat juga." Batin Lina.


Untuk pertama kalinya, para anak-anak Serigala melihat salju. Setelah mendapatkan izin dari para orang tuanya, mereka pun langsung berlarian dan bermain di tengah tumpukan salju.


Lina memakai sarung tangan dan topi dari kulit binatang yang tipis, dan mengenakan pakaian mantel bulu tebal dari kulit binatang.


Leon berada tidak jauh darinya. Dia masih terus mengeluarkan energi panasanya. Dengan begitu, Lina sama sekali tidak merasa kedinginan.


Lalu dia berjalan sedikit menjauh dari Leon menuju ketumpukan salju, mengambil segenggam salju tersebut, dan mengumpalkannya dengan kedua tangannya dan berseru sambil tersenyum, "Bagaimana kalau kita bermain perang-perangan bola salju?"


Mendengar apa yang Lina katakan, Wiro pun segera menatap Lina dan bertanya, "Bagaimana caranya?"


Baru saja Wiro selesai bertanya, Lina segera melemparkan bola salju yang dia pegang ke kepala Wiro.


"PROK!"


"Seperti itu caranya."

__ADS_1


Kemudian dengan cepat Lina segera berlari sambil tertawa.


"Hahaha.."


Merasa telah dikerjai oleh Lina, Wiro pun segera mengambil tumpukan salju dengan kedua tangannya lalu mengejar Lina.


Kedua kaki Wiro lebih panjang dari Lina, kecepatan berlarinya juga sangat cepat. Lina yang berlari dari kejaran Wiro pun segera terkejar.


"BYURRR!"


"HAHAHA!" Wiro tertawa dengan puas.


Lina pun segera menjerit, "AAKHH!"


Tubuh Lina kini telah dipenuhi dengan ampas salju, akibat terkena serangan balasan dari Wiro.


Dia pun segera berlari kembali mendekati Leon untuk menghangatkan dirinya. Pada saat yang sama, dia juga segera memanggil para anak-anak Serigala, "Anak-anak.. Ayahmu sudah mengganggu ibu! Cepat lancarkan serangan balasan!"


Para anak-anak Serigala yang mendengar perintah sang kapten pun segera berseru, "Woo Hoo Hoo Hoo! Auuu!"


Mereka berempat segera bergegas berlari menuju ke arah Wiro, dan langsung menubruk Wiro hingga membuat tubuh Wiro jatuh ke atas tumpukan salju.


Sayangnya, Wiro jauh lebih kuat dari keempat anak Serigala itu.


Wiro pun dengan segera mendorong tubuh keempat anak Serigala itu menjauh.


Tapi, belum juga Wiro berdiri dengan sempurna, dia mendapat serangan tiba-tiba dari Saga yang telak mengenai wajahnya.


"PROK!"


Hal itu membuat Wiro sangat marah hingga dia berseru, "Beraninya kamu menyerangku?"


Tapi Saga hanya menatap Wiro dengan dingin dan tanpa ekspresi.


Tak ingin berlama-lama dan ingin segera membalas serangan dari Saga, Wiro pun segera membuat bola salju dan melemparkannya ke arah Saga.


Tapi, secara tidak sengaja dia malahan melemparkan bola salju itu ke arah yang salah dan mengenai Uriel yang ada di sebelah Saga.


"PROK!"


Uriel membersihkan ampas salju yang ada di wajahnya dan berkata tanpa daya, "Wiro, apa kamu berencana untuk perang melawan kami semua?" 


Wiro pun tertawa dan berkata dengan sangat percaya diri, "Hahaha! Ayo! Aku bisa mengalahkan kalian semua meskipun hanya seorang diri."


Seperti apa yang Wiro inginkan, Uriel dan Saga bersama dengan ke empat anak Serigala segera membuat amunisi bola salju, dan mengepung Wiro dari segala arah. Dengan dikomandoi oleh Uriel, mereka pun segera bertubi-tubi membombardir Wiro dengan peluru bola salju dari segala arah, hingga membuat Wiro meminta ampun.


"PROK! PROK! PROK! PROK!"


"Ampuun! Tolooong! Linaa.. Tolong aku!"


Melihat hal itu, membuat Lina tertawa hingga sakit perut, sambil berseru, "Hahaha.. Rasakan itu."


"Ampuuun!"


"Itu hukuman untukmu!" Seru Lina kepada Wiro.


Pada saat ini, Leon menatap Lina yang berada di dekatnya sambil berkata, "Apa kamu senang?"


Mendengar apa yang Leon tanyakan, Lina pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata, "Sangat senang."


Selesai berkata seperti itu, Lina baru menyadari kalau tubuh Leon terlihat paling bersih dari yang lainnya. Jubah merah darahnya terlihat seperti api.


"Dia terlihat sangat mencolok di dunia yang seputih salju ini." Batin Lina.


Kemudian Lina bertanya kepada Leon, "Apa kamu tidak ingin ikut bermain bersama kami?"


Leon menyalakan api dari ujung jarinya, dan mendekatkan api itu kepada Lina, untuk membuat tubuh Lina menjadi lebih hangat lagi.


"Aku tidak tertarik untuk bermain," kata Leon sambil tersenyum.


"Lalu, untuk apa kamu mengajakku datang ke mari, bila tidak tertarik untuk ikut bermain?" Tanya Lina kepada Leon.


"Setidaknya, tidak sia-sia aku membuatmu merasa senang." Jawab Leon.


Hal seperti ini bukanlah yang pertama kalinya oleh Leon.

__ADS_1


Tapi ini adalah yang pertama kalinya bagi Lina, hingga membuat perasaan Lina tersentuh. Dia pun berkata dengan wajahnya yang terlihat memerah, "Kamu itu memang orang yang aneh."


__ADS_2