
Heli Belang disiksa sampai parah, hingga sekarat. Dia masih berada di penjara bawah tanah, dan Rei beserta dengan beberapa Orc jantan lainnya bertugas untuk menjaganya.
Agar Heli Belang tidak mati terlalu cepat, Bonny merebus semangkuk obat sesuai dengan resep yang telah disiapkan oleh Lina setiap harinya, dan membawanya kepada Heli Belang untuk dia minum.
Rei sudah memperkirakan waktu kedatangan Bonny untuk memberikan obat.
Pada saat ini, Heli Belang menengadahkan kepalanya, melihat ke arah Rei yang tidak jauh darinya, dan berkata, "Jika aku tidak salah ingat, Serigala muda bernama Pay itu adalah saudara iparmu, kan?"
Rei meliriknya dan berkata, "Itu bukan urusanmu!"
Mendengar itu, Heli Belang pun tertawa, hingga giginya yang kotor dan penuh dengan darah terlihat. Lalu dia berkata lagi, "Apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan daun-daun yang mati?"
Rei, "....."
"Dari penampilanmu, sepertinya kamu sudah tahu sejak lama. Apakah kamu ingin tahu apa penyebab kematian Pay?" Ucap Heli Belang.
Kini wajah Rei terlihat sangat suram, kemudian dia menatap Heli Belang dengan dingin dan berkata, "Jika kamu mengatakan satu kata lagi, aku akan memotong lidahmu!"
Tapi Heli Belang tahu kalau Rei tidak akan berani memotong lidahnya. Bagaimanapun juga, Wiro masih ingin tahu banyak informasi dari dirinya.
Heli Belang tertawa tanpa merasa takut. "Hahaha! Karena Pay mengetahui berita tentang suku Sungai Hitam yang akan menyerang suku Serigala Batu, dia ingin memberitahukan berita itu kepada kalian. Tapi sayangnya, sebelum dia bisa kembali sampai ke Gunung Batu, dia sudah mati terlebih dahulu di jalan. Sungguh bodoh."
Rei sudah tidak bisa mentolerir Heli Belang lagi, dia mengulurkan tangannya dan mengangkat Heli Belang yang lumpuh, dan niat untuk membunuhnya mulai bangkit.
"Diam!"
Pada saat ini, para Orc jantan yang bersama dengan Rei, segera mencegah Rei yang sudah mulai sangat emosi.
"Jangan lakukan, tenanglah!"
Melihat hal ini, Heli Belang menatap Rei yang sedang marah dan tertawa keras.
"HAHAHAHA!"
Lagi pula, dia sudah tidak punya cara lain lagi untuk hidup!
Kini mata Rei terlihat sangat merah dan dia terus menatap Heli Belang.
"Aku sangat ingin membunuh b*j*ng*n ini sekarang juga!"
Rekan-rekannya terus mencoba untuk menahan Rei, dan tidak membiarkan Rei membunuh Heli Belang.
Tiba-tiba, seorang rekan Rei menyadari ada seseorang yang sedang berada di pintu tahanan dan bertanya dengan nada suaranya yang terdengar tajam, "Siapa itu?! Tunjukan dirimu!"
Sesaat kemudian, sesosok wanita muncul untuk menunjukkan dirinya, dengan membawa semangkuk sup dan obat-obatan.
__ADS_1
Biasanya, Bonny yang akan datang kemari untuk mengantarkan sup dan obat-obatan, tapi dia sedang ada sesuatu yang harus dilakukan, jadi dia menyerahkan hal ini kepada seorang wanita.
Akibatnya, saat wanita itu baru saja mendekati pintu tahanan, dia juga mendengar apa yang dikatakan oleh Heli Belang.
"Pay sudah mati?! Adikku.. Adikku.. Dia.. sudah mati?!"
Ya. Orc wanita itu adalah Meli.
Meli masih tetap berdiri di pintu tahanan, seperti boneka tanpa daya.
Rei juga melihat hal ini. Saat melihat penampilan Meli, hatinya segera merasa panik, kemudian dengan cepat dia berkata, "Jangan percaya dengan apa yang dia katakan. Dia itu pembohong!"
Mendengar apa yang Rei katakan, Heli Belang sengaja ingin merobek kebohongan Rei.
“Pay sudah lama ditinggalkan oleh Ida. Dia mati dalam perjalanannya menuju ke Gunung Batu! Kalau tidak percaya, kamu bisa mencari tahu sendiri. Mungkin saja kamu bisa menemukan satu atau dua potong tubuhnya yang belum ditemukan, yang sudah dimakan oleh binatang buas!"
Mendengar itu, dengan marah Rei segera meraung, "Cukup!"
Heli Belang pun tersenyum ganas dan merasa bangga, kemudian dia berkata lagi untuk semakin memperkeruh suasana, "Kenapa kamu tidak berani mengatakan yang sebenarnya? Kenapa harus membohongi dia? Apa kamu merasa senang jika bisa memb*d*hi dia dan menganggapnya seperti orang b*d*h?"
"Bukan seperti itu!" Setelah berkata seperti itu, Rei mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Meli dan berkata, "Jangan percaya omong kosongnya. Ayo kita pergi dari sini."
Tapi Meli langsung melemparkan sup dan obat-obatan yang dia bawa ke arah Rei, sambil berkata dengan marah, "Jangan sentuh aku! Dasar pembohong!"
"Tidak perlu menjelaskannya lagi. Katakan saja yang sebenarnya padaku, apakah Pay No adikku benar-benar sudah mati?" Tanya Meli dengan marah dan berderai air mata.
Rei pun segera memeluk Meli dan menahannya untuk waktu yang lama. Dan akhirnya, dia hanya bisa mengeluarkan satu kata, "Ya."
Mendengar itu, Meli menjadi semakin marah. Dia pun segera meronta untuk melepaskan dirinya dari pelukan Rei, kemudian bertanya lagi, "Apa kamu sudah mengetahui semuanya? Kenapa kamu berbohong padaku?"
"Aku tidak pernah ingin membohongimu, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih!" Ucap Rei.
"Hah? Memangnya kamu anggap apa aku ini?" Kata Meli dengan marah.
Mendengar itu, Rei terdiam dan hanya bisa terus meminta maaf.
"Maaf, aku benar-benar minta ma ..."
Sebelum Rei sempat menyelesaikan kalimatnya, Meli segera memotongnya, "Aku tidak ingin mendengar permintaan maafmu. Aku benar-benar kecewa padamu!" Setelah berkata seperti itu, dia segera berbalik dan berjalan pergi dari tempat ini.
Rei ingin mengejarnya, tapi dia mendengar Meli yang berseru dengan dingin.
"Jangan ikuti aku. Aku tidak ingin melihatmu lagi! Aku tidak ingin bicara sepatah kata pun padamu."
Mendengar itu, Rei hanya bisa berhenti dan melihat Meli yang semakin menjauh.
__ADS_1
Salah seorang teman Rei menepuk pundaknya, dan berkata mencoba untuk menghiburnya, "Setelah beberapa waktu, dia pasti akan merasa tenang lagi. Jika kamu menjelaskan semua padanya dengan perlahan-lahan, dia pasti akan memaafkanmu."
Tapi Rei segera berjalan mendekati Heli Belang dan mencekik lehernya. Di matanya, kini terlihat penuh dengan kekerasan. Kemudian Rei berkata sambil matanya melotot kepada Heli Belang, "Apa sekarang kamu sudah merasa puas?!"
Heli Belang pun menyeringai sambil berkata, "Kamu sudah berbohong padanya, dia pasti tidak akan pernah mempercayaimu lagi. Hubungan antara kamu dan dia akan semakin buruk, sampai dia meninggalkanmu. Pada saat itu lah kamu akan mati seperti binatang yang terluka, dalam kesakitan dan kesepian. Hahahaha!"
Mendengar itu, Rei pun semakin memperkeras cengkeramannya di leher Heli Belang.
"AGGGH!"
Tapi dengan segera Rekan-rekannya menarik tangan Rei, mencoba untuk melepaskan cengkeramannya di leher Heli Belang, "Jangan bertindak impulsif! Ketua Wiro meminta kita untuk selalu mengawasinya. Jika kamu sampai membunuhnya, apa yang harus kami jelaskan kepada Ketua Wiro?"
Pada saat ini, pikiran dan hati Rei telah dipenuhi oleh amarah. Dia pun mengabaikan perintah dari Wiro.
Tidak peduli bagaimana teman-temannya mencoba untuk menariknya, dia tetap tidak ingin melepaskan tangannya.
"Aku harus membunuh si b*j*ng*n Heli Belang ini, di sini dan saat ini juga!"
...........
Wiro telah mendengar berita tentang Heli Belang yang telah dicekik sampai mati.
Tubuh Heli Belang tergeletak di tanah, dengan tubuhnya yang terlihat sangat bengkok. Sepertinya Heli Belang telah disiksa dengan kejam. Sepintas bisa terlihat, kalau tubuh Heli Belang sepertinya telah di tekuk-tekuk oleh Rei yang kuat. Selain itu, jasadnya juga dipenuhi oleh darah dan terlihat menjijikkan.
Rei masih berdiri di samping mayat Heli Belang sambil terengah-engah. Di dahinya, masih bisa terlihat urat biru yang menonjol. Jelas kalau saat ini, Rei masih belum pulih dari kemarahannya.
Saat melihat hal ini, kedua tangan Wiro memegang rambutnya sendiri, dan berkata dengan tidak sabar, "Rei.. Kamu.. Ah! Aku kan sudah bilang kalau kamu harus selalu mengawasi Heli Belang. Bukannya membiarkan dia mati. Tapi kenapa dia malahan mati saat aku baru saja keluar dari sini?"
Setelah waktu yang lama, kini keadaan Rei mulai berangsur-angsur menjadi tenang.
Lalu dia berkata dengan kaku, "Aku membunuh Heli Belang. Semua kesalahan ini biar aku yang tanggung. Aku bersedia untuk dihukum!"
"Aku tidak butuh pertanggung jawaban. Untuk hal ini, kamu harus memberiku penjelasan yang masuk akal." Ucap Wiro.
Mendengar itu, Rei pun berkata dengan penuh kebencian sambil menatap mayat Heli Belang, "Dia itu terkutuk!"
"Aku tahu dia itu terkutuk, tapi dia tidak harus mati sekarang. Kita masih perlu mengorek informasi yang lebih banyak lagi dari mulutnya. Bukankah aku sudah memberitahumu tentang hal itu?" Setelah berkata seperti ini, Wiro berhenti sejenak, lalu lanjut berkata lagi, "Apa kamu sudah melupakan semua yang aku ucapkan?"
"Aku tidak lupa. Tapi aku sudah tidak bisa menahan amarahku lagi. Aku sangat membencinya!" Kata Rei sambil menatap Wiro.
Merasa telah dikalahkan oleh jawaban dari Rei, akhirnya Wiro hanya bisa memerintahkan kepada Orc yang lainnya, "Bawa dan buang mayat ini. Lalu cuci tempat ini sampai bersih, agar tidak menarik lalat dan serangga-serangga untuk datang kemari."
"Baik Ketua."
Para Serigala-serigala itu pun segera bergerak dan melemparkan tubuh Heli Belang ke bawah gunung.
__ADS_1