Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 27 - Kerumah Meli


__ADS_3

Apanya yang bukan pasangan? Sekarang Lina adalah pasangannya, tak ada yang bisa menyangkal hubungan mereka ini.


Saat ini Wiro sudah mulai merasa tak kuat lagi.


Ingin rasanya dia segera menjatuhkan gadis kecil mungil yang ada di depannya ini ke tanah, untuk segera k*w*n dengannya, untuk sepenuhnya mengesahkan gelar pasangan ini.


Tapi sebuah alasan menyuruhnya untuk tidak melakukan itu.


Apa yang waktu itu Uriel lakukan terhadap Lina, tidak hanya menyakiti fisiknya saja, tetapi juga meninggalkan bayangan ketakutan yang besar di hatinya.


Pada saat kejadian itu, dia melihat Lina gemetar sangat ketakutan, Wiro masih sangat mengingat kejadian itu hingga hari ini.


Karena sebab itulah, dia enggan memperlakukan Lina seperti itu.


Dengan susah payah Wiro berusaha menekan amarahnya saat ini.


Dia kemudian meraih bahan obat yang ada ditangan Lina, sambil berkata dengan marah, "Cukup dengan berlari kesana kan? Apa aku sudah boleh pergi?"


Apa Wiro mengatakan itu hanya untuk menghindar agar situasi ini teralihkan dan tak berlarut-larut? Atau, apa dia mengatakan itu karena gadis kecil itu tadi sudah mengatakan akan memutuskan hubungan mereka?


Sebetulnya saat ini di hati Wiro sedang merasa sangat sedih, dia memelototi Lina kemudian berlari dengan membawa kantung yang berisi obat herbal.


Lina dengan kedua tangannya yang bertolak pinggan, berseru kepada Wiro, "Jangan lama-lama. Kami akan menunggumu untuk makan malam."


...........


Wiro segera masuk ke dalam kamar si Dukun tua dan melemparkan sekantung obat yang dia bawa ke hadapan dukun itu.


"Lina menyuruhku kemari untuk memberikan ini padamu. Dia juga mengucapkan terima kasih untukmu, karena telah menolongnya selama ini."


Meskipun di rumah Sito banyak terdapat bahan obat, termasuk dengan yang baru saja dilemparkan wiro untuknya, tapi dia tetap menerimanya sambil tersenyum.


"Tidak buruk, memang layak menjadi pendamping ketua suku, ternyata dia juga tahu apa yang namanya timbal balik."


Tanpa menggubris perkataan si dukun, Wiro kemudian duduk diam di tanah.


Sito memperhatikan kalau Wiro sepertinya sedang dalam suasana hati yang kurang baik, jadi dia menyingkirkan kantung berisi herbal di depannya, kemudian duduk di depan Wiro.


"Ada apa denganmu? Apa kau bertengkar lagi dengan gadis kecil itu?" Tanya Sito kepada Wiro.


Wiro diam untuk sementara waktu, sambil melihat kearah tanah di bawah kakinya di mana dia duduk, kemudian dia berkata, "Dia tidak menyukaiku."


"Benarkah? Aku rasa, dia sangat menyukaimu." Ucap Sito dengan sedikit penasaran.


"Itu bohong. Dia baru saja mengatakan padaku, kalau dia tidak menyukaiku!" Wiro mengatakan itu kepada Sito, seolah ingin melepaskan unek-uneknya. Terlihat matanya yang tadinya berwarna hijau tua, kini mulai berubah memerah.


Seorang Orc pria, yang tidak pernah mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun, bahkan pada saat krisis hidup dan mati, kini matanya memerah sedih karena hatinya terluka.


Sito jelas terkejut melihat perubahan ekspresinya itu dan segera bertanya, "Apa yang sudah terjadi? Ceritakan padaku dari awal sampai akhir, mungkin aku bisa memberimu jalan keluar yang terbaik."


...........


Lina memasukkan selai ke dalam toples kayu, kemudian mengeluarkan dua potong besar daging kering dari ruang bawah tanah.


Dia bertanya pada Uriel yang sedang duduk di ruangan yang sama, tak jauh dari situ, "Apa kamu sedang sibuk? Maukah kamu menemaniku keluar?"


"Mau kemana?" Tanya Uriel.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke rumah Meli. Dia sudah membantu kita kemarin. Aku ingin memberi dia sesuatu sebagai hadiah." Jawab Lina.


"Ok, aku akan pergi denganmu."


Kemudian Uriel mengambil daging dan toples kayu di satu tangannya, dan satu tangannya lagi mengangkat Lina, dan menaruh gadis kecilnya itu dalam gendongannya.


Sepanjang perjalanan, banyak Orc jantan yang melemparkan pandangan iri dan sinis kepada Uriel.


Para Orc jantan itu masih lajang. Tetapi si harimau putih itu sudah memeluk seekor betina kecil yang cantik dan imut, juga mungil. Tentu saja itu membuat mereka menjadi benci karena iri.


Lina merasa malu dengan pandangan panas para Orc laki-laki, yang sedang memperhatikan dirinya. Tanpa sadar, dia pun memeluk leher Uriel.


Uriel yang menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Lina, dia kemudian melirik para Orc laki-laki yang ada di sekitar mereka.


Aura kekuatan yang terasa kuat dari roh Binatang Buas Bintang Tiga segera menyebar, membuat wajah para Orc itu seketika berubah. Mereka segera menarik kembali pandangan mereka satu persatu satu. Mereka tidak berani lagi untuk menatap Lina.


Sesampainya mereka di pintu rumah Meli, Lina meminta Uriel untuk menurunkannya.


Dia berteriak memanggil nama Meli sebanyak dua kali.


"Meli!"


"Meli!"


"Apa kamu di rumah?"


Tetapi tidak ada jawaban.


Lina pun mulai ragu, "Apa Meli sedang pergi keluar yah?"


Tepat ketika dia berpikir untuk kembali pulang, suara Meli tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan, "Apa itu Lina? Masuk saja." 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Begitu dia memasuki pintu, dia melihat Meli sedang duduk berjongkok di lantai, dengan dua Orc pria berdiri di samping kanan dan kirinya, sambil menghadapkan tubuh mereka masing-masing ke arah Meli.


Meli juga terlihat sedang menikmati memegang dan menggenggam mereka, satu per satu secara bergantian.


Dengan masih bertumpu pada kedua kakinya dan masih sambil dengan posisinya yang duduk berjongkok, tubuh bagian bawah Meli pun terlihat sedang asiknya bergerak-gerak ke segala arah, terkadang naik turun dengan cepat. Seperti sedang mengendalikan hidup seorang Orc pria yang sedang berbaring telentang, di bawah posisi Meli yang sedang duduk berjongkok.


Aksinya sangat garang, liukkan pinggang, gerakan tangan dan mulutnya terlihat cukup liar, suara tamparan kulit yang saling bertabrakan tak henti-hentinya terdengar.


[[[ WTH! Aku yg belum mbojo, nulis yang beginian rasanya tuh gimana gitu.. Vangke Vangget. ]]]


[[[ Wokeh stop imajinasi kalian dan MARKIJUT - Mari Kita Lanjuuut ]]]


[[[ Jangan lupa sruput kopinya sebelum dingin lurr... ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Melihat hal seperti itu, Lina pun segera berkata, "Aku pulang! Pemandangan di sini sangat panas!"


Dan dia dengan cepat membalikkan badannya sambil berkata, "Bisa-bisanya kamu melakukan hal seperti itu di siang bolong begini?"


Meli menjawab sambil mengerang, "Melakukan.. essshhheehh.. hal seperti ini.. tidak ada aturannya harus.. uiiiihhhh.. dimalam hari atau disiang bolong.. oohhhh.. Lagipula.. ehhmmm.. aku sedang tidak ada kerjaan. Kenapa kalian tidak melakukan sesuatu yang berguna juga?"


Lina menutup telinganya. Erangan Meli begitu kuat, hingga dia merasa merinding di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Lina sudah tidak tahan untuk mendengarkannya lagi.


"Ayo kita keluar." Dia mengajak Uriel dan berlari keluar.


"Kabari kami setelah kamu selesai."


Saat dia berlari keluar ruangan, Lina terus menggosok-nggosok telinganya, mencoba untuk menghilangkan suara-suara yang baru saja dia dengar ditelinganya.


Uriel tertawa melihat tingkah gadis kecilnya yang seperti itu.


"Tak usah dipedulikan. Hal seperti itu sudah sangat biasa di sini."


“Biasa? Biasa apanya? Maksudmu itu normal untuk mereka bermain 3in1 di siang hari, dengan mengundang teman-teman mereka untuk menonton? Kalau memang begitu, itu artinya mereka terlalu berani dan tak terkendali!"


Kemudian Uriel menjelaskan secara panjang lebar kepada gadis kecilnya, "Sekarang ini musim dingin, saat yang tepat untuk k*w*n. Lagipula, saat ini para jantan tidak sedang harus pergi berburu. Mereka mempunyai banyak waktu di rumah untuk k*w*n dengan betinanya dan mencoba membuat mereka supaya hamil. Setelah salju mencair, hutan memasuki musim semi, bumi sudah terasa hangat dan bunga-bunga mulai bermekaran, mangsa dan buah sudah sangat melimpah, para betina memilih melahirkan di saat itu. Karena saat itulah waktu yang sangat tepat, untuk memaksimalkan kemungkinan kelangsungan hidup anak-anak mereka."


Itulah sebabnya kenapa tadi Meli mengatakan pada Lina, supaya mereka juga melakukan sesuatu yang berguna.


Karena bagi para Orc, bereproduksi adalah hal yang paling penting.


Sekarang Lina sedang merasa sangat malu.


"Walaupun begitu, tak harus bermain 3in1 juga kan? Pasti itu terlalu berat dan melelahkan."


Uriel tersenyum kecil dan berkata, "Mungkin itu kemauan pribadi Meli." Kemudian Uriel melirik gadis kecilnya.


"Sepertinya kamu tidak suka permainan yang seperti itu. Jangan khawatir. Aku juga tidak suka membagimu dengan laki-laki lain."


Mendengar Uriel berkata seperti itu, wajah Lina seketika memerah.


Dia segera menutupi wajahnya karena malu.


"Kita kan sedang membicarakan tentang orang lain, kenapa tiba-tiba membicarakan tentang aku?"


"Karena aku tak tertarik dengan urusan orang lain, aku hanya tertarik padamu." Jawab Uriel dengan serius.


Sepertinya itu adalah pernyataan langsung Uriel dan terdengar sedikit menjurus.


Wajah Lina jadi semakin memerah.


Setelah menunggu lama, Meli yang telah selesai menyalurkan kebutuhannya, akhirnya memanggil mereka untuk masuk ke dalam rumah lagi.


Kemudian Lina meraih tangan Uriel dan menariknya masuk ke dalam ruangan. Masih bisa tercium aroma halus peninggalan sejarah peperangan, antara Meli dan para prianya diruangan itu. :D


Lina terbatuk ringan, kemudian meminta Uriel untuk memberikan bungkusan yang telah mereka bawa dari rumah, kepada Meli.


"Tadi aku membuat selai, aku pikir kamu juga mungkin akan menyukainya, jadi aku membawakan sedikit untukmu. Juga sebagai tanda terima kasih atas bantuannya kemarin."


Ketika Meli mendengarnya, dia langsung berkata sambil tersenyum, "Kita itu teman. Saling membantu adalah hal yang wajar."


Dia membuka toples kayu itu dan mencium aroma manis buah. Ternyata dia sangat menyukainya. Dia mencelupkan jarinya sedikit kedalam toples selai, kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Sedikit asam."


Biasanya, Meli tidak suka makan makanan yang asam, tapi tak tahu kenapa, sekarang baginya rasa asam itu jadi terasa sangat enak.


"Bagaimana cara kamu membuatnya? Ajari aku caranya ya?" Rengek Meli dengan gaya bercanda, membuat gaya seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya.

__ADS_1


Lina berkata sambil tersenyum, "Oke, datanglah kerumahku saat kamu ada waktu senggang. Aku pasti akan mengajarimu cara membuat selai."


__ADS_2