Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 204 - Aku Melihat Mereka Dari Atas


__ADS_3

"Dikatakan, bahwa masih ada keturunan dari klan Pohon Suci yang tinggal di Kota Ilahi. Mereka menganggap Pohon Suci sebagai Dewa, percaya pada alam, dan tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan. Jika anda menemui mereka untuk meminta bantuan, seharusnya mereka mau membantu anda."  Kata Bubu.


"Kali ini kamu tidak membohongiku lagi, kan?" Tanya Lina untuk memastikan.


"Atas nama ayah anda, aku tidak akan pernah membohongi anda!" Kata Bubu.


"Aku tidak memiliki ayah sepertimu!" Sahut Lina cepat.


"Saat saya meminta kepada sistem supaya sistem mau menghilangkan rasa sakit yang anda rasakan, saya meminta kepada mereka sambil menangis. Sekarang, saya telah memanfaatkan mereka demi untuk menyelamatkan anda, tapi, kenapa balasan anda seperti ini? Kenapa aku bisa memiliki anak perempuan yang tidak berbakti?" Kata Bubu sambil sesenggukan, seperti sedang menangis.


"Inilah yang disebut dengan pembalasan!" Saat Lina mengucapkan kata pembalasan, Lina mengucapkannya dengan penekanan dan berkata dengan sejelas-jelasnya.


...........


"Ting Tong!"


"Selamat! Anda telah menerima tautan pertama dari legenda Pohon Suci. Silakan pergi ke kota Ilahi untuk mencari keturunan dari klan Pohon Suci dan belajar bahasa alam."


Lina yang baru saja menerima tugas baru, tiba-tiba saja sangat terkejut, saat melihat Kubucil yang dengan tiba-tiba menegakan tubuhnya!


"RRRRRR!"


Semua kelopak bunganya terbuka, sambil terus menatap ke arah pintu, seolah-olah sedang berjaga-jaga dari sesuatu yang berbahaya!


Begitu Lina melihat Kubucil seperti ini, dia pun segera berhenti bercanda dengan Bubu, dan segera bertanya kepada Kubucil, "Ada apa?"


"Ada yang datang." Kata Kubucil dengan sangat serius dan waspada!


"Ada orang? Siapa? Jika itu adalah Leon, Kubucil tentu tidak akan menunjukkan sikap defensif seperti ini. Jika binatang biasa, itu bahkan lebih mustahil lagi. Meskipun ada bau darah di ruangan ini, tapi juga ada bulu-bulu Leon di dinding. Binatang buas biasa yang mencium bau Leon pasti tidak akan berani mendekati rumah pohon ini. Orang yang tetap berani mendekati rumah pohon ini pasti bukanlah binatang biasa. Tampaknya orang ini memiliki maksud yang tidak baik!"


Setelah berpikir untuk menganalisa semua kemungkinan dengan tanpa bersuara sedikitpun, dengan hati-hati Lina segera mengeluarkan pisau tulang lalu bersembunyi di belakang Kubucil.


Pada saat ini, tiba-tiba saja, hembusan angin yang tak terlalu kencang mendorong pintu kayu hingga terbuka!


"WUSSSHHH!"


"KREEETT!"


Dan saat pintu telah terbuka lebar, Lina bisa melihat kepala Ular yang berbentuk segitiga, berada tepat di luar pintu.


Pupil mata vertikalnya yang berwarna emas, dengan tajam menatap Lina yang berada di dalam ruangan. Dan dengan napas dinginnya yang berhembus ke wajah Lina, membuat dirinya seketika itu langsung gemetaran ketakutan.


"So.. sosok di..di.. dinginn.." Kata Lina sambil gemetaran.


Kenapa dia bisa ada di sini?! Apakah pasukan Iblis tetap mengejar mereka?!


Pada saat ini, King Kobra itu menjulurkan lidahnya, dan segera melilit pergelangan kaki Lina, lalu berusaha untuk menyeretnya keluar dari rumah pohon!


"AH TIDAK! TIDAK!"


Dalam keadaannya yang panik dan mulai diseret oleh si Kobra Raja, Lina pun segera mengeluarkan pisau tulang, dan menusukkan pisau tulang tersebut ke lidah si King Kobra, hingga pisau menancap ke lantai kayu!


"CRASH! TAK!"


"OWAARRRGGHHH!"


Rasa sakit yang teramat sangat, membuat King Kobra itu meraung keras dan tubuhnya pun menggelepar hebat menghantam pohon besar di mana Lina berada!


"BLUBAK! GLUDAK! BUNG!"


Dia segera menarik paksa lidah Ularnya yang tertusuk pisau tulang, hingga darahnya berceceran di lantai kayu rumah pohon!


Melihat kesempatan ini, Lina pun segera berlari menuju ke jendela, berniat untuk keluar melarikan diri melalui jendela!


"Hah?!"


Tapi, pada saat itu dia melihat sosok merah yang dengan sangat cepat turun dari langit.


"SYUUTTT!"


"TAP!"


"Untunglah Leon telah kembali!" Batin Lina.


Saat dia telah mendarat tepat di luar pintu, dia pun menatap Lina sambil berkata, "Tutup pintunya, tetap di dalam, dan jangan pernah sekalipun keluar. Apa pun yang terjadi di luar."


Setelah menganggukkan kepalanya, Lina pun segera menutup pintu kayu, dan mengganjalnya dengan sebatang kayu dari dalam ruangan!


Leon yang saat ini sedang menghadang King Kobra tepat di luar pintu, menatapnya sambil berkata dengan tersenyum, "Peka juga hidungmu. Bagaimana caranya kamu bisa melacak kami hingga kemari? Di mana mata-matamu? Apa kamu hanya seorang diri?"


Saat Leon meninggalkan wilayah klan Iblis sambil membawa Lina, diam-diam, ternyata Handi Kobra mengirim pengintai, untuk membuntuti mereka secara sembunyi-sembunyi.


Leon yang menyadari hal ini, pada saat itu segera menghabisi para mata-mata yang dikirim oleh Handi.

__ADS_1


Jika saja para mata-mata tersebut tidak mencium bau darah yang ada di sekitar sini, mereka tidak akan mungkin bisa menemukan jejak Leon.


Untuk menghindari mengejutkan mangsa buruan mereka, Handi Kobra memerintahkan kepada pasukannya untuk bersembunyi, dan memerintahkan mereka untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah, dan untuk selalu menunggu perintah darinya.


Kemudian, sampai saat Leon pergi meninggalkan rumah pohon, barulah Handi muncul. Dia berpikir kalau saat ini Lina masih dalam keadaan sekarat, dan akan sangat mudah untuk membawanya pergi.


Tapi ternyata, Lina tidak mati?! Tidak hanya itu saja, dia juga telah menyakitinya!


Pada saat Leon telah kembali, akhirnya kini mereka berdua pun saling berhadapan lagi.


Kobra Raja pun menjawab sindiran Leon, dengan berkata lemah, "Aku datang seorang diri."


"Benarkah?" Setelah berkata seperti itu, Leon pun segera mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangannya yang terbuka menghadap ke langit, dan melemparkan bola api yang telah padat menggumpal, ke lereng bukit yang tidak jauh dari sisi kanannya!


"WUUSHHHH!"


"BLARRRR!"


Dan segera setelah terdengar ledakan, suara-suara jeritan segera terdengar menggema.


"AARRRGH!"


"AAAAH!"


"PANASSS!"


Para prajurit dari klan Iblis yang bersembunyi di balik lereng bukit, segera berguling-guling di tanah sambil berteriak, dengan tubuh mereka yang terbakar api.


Mendengar jeritan mereka, Leon pun tertawa tanpa sedikitpun melihat kearah sumber suara. Kemudian berkata, "Laki-laki yang berbohong, bukanlah laki-laki yang baik. Bersiap-siaplah, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan pasangan."


Mendengar apa yang baru saja Leon katakan, pupil mata si King Kobra segera berubah, kemudian dia bertanya, "Apa kamu tahu ada orang-orangku yang sedang bersembunyi di sekitar sini?"


"Aku tidak tahu. Tapi saat aku terbang, aku melihat mereka semua dari atas." Jawab Leon dengan santai.


Saat Leon pergi meninggalkan Lina seorang diri dan terbang tinggi, tentu saja dia bisa melihat pemandangan yang ada di bawahnya, termasuk para pasukan klan Iblis yang sedang bersembunyi.


Semua trik-trik dari klan iblis, bisa terlihat dengan jelas oleh Leon. Oleh karena itulah dia tidak terjebak, dan pada saat yang paling kritis, dia memutuskan untuk segera kembali secepat mungkin.


Karena keberadaan semua orang-orangnya yang telah ditemukan, kini sudah tidak ada artinya lagi jika harus terus bersembunyi.


King Cobra itu pun langsung memanggil semua prajurit yang dia bawa untuk segera menyerang Leon, dan rumah pohon yang ada di belakangnya.


“HABISI MEREKA!”


"HUWAUWW!"


"HUWAUWWW!"


"DRAP DRAP! DRAP DRAP!"


Melihat hal ini, Leon pun segera mengepakkan sayapnya untuk terbang, dan segera mengeluarkan bola api untuk menyerang para pasukan iblis, supaya mereka tidak mendekati rumah pohon.


"BLAK! BLAK! BLAK!"


"BURRRRR! SYUTT! SYUUTT! SYUT!"


Saat semua serangan api Leon mendarat di tanah, saat itu juga cahaya api berwarna merah terang segera mewarnai area di dekat rumah pohon.


"BLARRR!"


"DUARR!"


Pada saat ini, Lina yang sedang bersembunyi di dalam rumah pohon, sedang mengintip keluar, melalui celah kecil di jendela.


"SYUT! SYUT! SYUT! SYUT!"


"DUAR! DUAR! DUAR!"


"BURRRRR!"


"BLARRR!"


Berada di antara pasukan Iblis yang sangat banyak, hanya tubuh Leon yang menyala terang dan terlihat sangat mempesona.


"WUSHH! WUSHHH!"


Kemana pun dia terbang, akan selalu ada api yang terlihat seperti meteor yang keluar dari kedua tangannya, yang saat itu juga segera menghanguskan para pasukan Iblis yang berada dekat dengan dirinya.


"WUSHHH!"


"SYUT! SYUT!"


"DUARR! DUAR! DUAR!"

__ADS_1


Meskipun ini bukanlah pertama kalinya Lina melihat Leon yang sedang bertempur, tapi dia masih sangat terkejut dengan kemampuan dan kekuatan Leon yang sangat hebat.


"AARRRGHHH!"


"AAAKKKH! PANASS!"


"Kalau saja suatu saat nanti aku bisa menjadi kuat.." Batin Lina sambil menyaksikan Leon dari balik jendela, yang sedang melawan banyak musuh-musuhnya.


Jumlah pasukan Iblis tidak sebanding dengan Leon yang hanya seorang diri, terlebih lagi, kali ini pasukan Iblis yang Handi bawa, memiliki kemampuan untuk memulihkan diri mereka.


Saat efek garis ajaib pada tubuh mereka telah menyebar ke seluruh tubuh mereka masing-masing, saat itulah luka-luka yang mereka derita segera pulih hanya dalam waktu singkat, dan, mereka juga tidak merasakan sakit sedikitpun.


"HUWAUWWW!"


"Br*ngs*k! Dasar Iblis-iblis k*p*r*t!" Maki Leon saat melihat hal ini.


"HAHAHA! Apa sekarang kamu mengakui kehebatan kami?!" Seru Handi yang mulai merasa di atas angin.


Efek itu membuat para pasukan Iblis bertarung seperti orang gila, yang sama sekali sudah tidak mempedulikan keselamatan mereka sendiri.


Yang mereka tahu adalah, terus menerjang maju untuk membunuh Leon!


Sebaliknya, Leon hanyalah seorang diri. Jika dia lemah, sudah pasti dia akan dihancurkan oleh pasukan iblis itu hingga berkeping-keping.


"WUSSSHH! SYUTT! SYUTT!"


"DUAR! DUAR! DUAR!"


"HUWWWAAAUUUWWW!"


Meskipun pertempuran kali ini sangat sengit, tapi Handi memutuskan untuk tidak terburu-buru. Karena kali ini, dia membawa banyak pasukan Iblis yang pemberani dan tak kenal takut mati dalam pertempuran.


Tapi Leon tidak bisa seperti itu.


Bukan hanya dirinya sendiri yang saat ini harus dia lindungi, tapi juga ada Lina.


Apalagi dia harus bertarung seorang diri, melawan begitu banyak pasukan Iblis yang sangat kuat.


"HIAAAH! WUSSSH!"


"BURRRR!"


"BLARRR!"


Kekuatan dan staminanya juga terbatas. Jika dia terus menerus melayani para Iblis untuk bertarung, lama kelamaan pasti dia akan kelelahan.


"Hah.. Hah.. Hah.."


Apalagi jika saat ini Handi segera ikut turun tangan, Leon pasti bisa tumbang.


"TERUS SERANG DIA!" Perintah Handi kepada para pasukan Iblis yang dia bawa.


Saat Lina melihat Handi yang terus memberi perintah pada para pasukannya, dia sangat ingin menangis.


"Ini semua salahku karena tidak berguna.. Semua ini juga karena aku, yang telah membuat Leon terlibat dalam pertempuran.." Gumam Lina.


Bubu pun mencoba untuk menghiburnya, "Tidak usah menangis. Saya punya cara supaya anda bisa ikut membantunya."


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Leon?" Tanya Lina dengan segera, setelah mendengar apa yang Bubu katakan.


"Anda bisa menggunakan tanaman mutan." Kata Bubu.


"Hah? Maksudmu?" Tanya Lina yang sedang sedikit bingung.


Bubu pun mencoba untuk segera menjelaskan maksudnya, "Bukankah sebelumnya anda telah membeli banyak benih mutan? Ambil beberapa benih mutan itu, dan gunakan kekuatan Benih Suci untuk membangkitkan mereka."


Setelah mendengar apa yang Bubu katakan, Lina pun segera buru-buru mengambil segenggam benih tanaman merambat mutan dari dalam ruang penyimpanan, kemudian bertanya lagi, "Bagaimana caranya supaya benih ini bisa tumbuh?"


"Cukup taruh sedikit darah anda pada permukaan benih." Kata Bubu.


"Ok."


Segera setelah itu, Lina pun bersiap-siap untuk menggigit jarinya.


Sejak dia mengetahui kalau darahnya sangat berguna, sejak saat itu pula dia sering menyayat jari tangannya ataupun pergelangan tangannya, dengan caranya yang kini semakin lihai.


Saat Bubu menyadari Lina akan menggigit jarinya, dia pun segera berkata, "Sekarang jari anda sudah seperti sarang lebah, apakah anda tidak merasakan sakit?"


"Bukankah tadi kamu yang mengatakan kalau aku harus memberikan sedikit darahku?!" Tanya Lina dengan sedih.


“Dasar gadis bodoh. Bukankah saat ini bagian tubuh bawah anda masih mengeluarkan darah? Gunakan saja darah itu. Jangan anda sia-siakan.” Kata Bubu.


Lina, "....."

__ADS_1


__ADS_2