
Suara Wiro saat mengatakan hal itu sangat keras, semua Orc yang ada di sekitarnya segera memandang kearahnya. Sorot mata mereka terlihat penuh dengan rasa iri, cemburu dan benci.
Meskipun Uriel telah mengantisipasi akan hal ini, dia masih tetap merasa sedikit tidak senang saat mendengarnya.
Jelas-jelas, dialah yang pertama kali k*w*n dengan Lina, tetapi Wiro yang mendahului menghamili Lina.
Memikirkan tentang itu semua, membuat dirinya merasa tidak ingin berdamai dengan cinta yang seperti ini.
Tapi sekarang semuanya telah terjadi, dia juga harus bisa menerima kenyataan, suka atau pun tidak suka.
Uriel menekan segala emosi rumit di dalam hatinya dan menarik Lina ke sisinya.
"Jika kamu hamil, mulai sekarang kamu harus berhati-hati. Jika ada sesuatu yang akan kamu lakukan, atau apa pun yang ingin kamu makan, kamu bisa memberi tahuku dan Wiro. Kami yang akan melakukannya untukmu."
Wiro juga segera ikut berkata, "Betul! Kamu akan menjadi bos dikeluarga kita. Tidak peduli apa yang kamu katakan, kami pasti akan mendengarkanmu."
Sebenarnya tentang kehamilan Lina, untuk saat ini masih belum bisa dipastikan.
Lina, pun mendengarkan perkataan Uriel dan Wiro dalam keadaan linglung.
"Apa aku benar-benar hamil?? Tapi aku sama sekali tidak merasakan apa-apa!"
Khodi Kodi yang telah diundang oleh Lina, untuk ikut menuju ke tempat di mana mereka membuka lapak, telah berdiri di depan mereka sejak tadi, dan nasibnya diabaikan oleh tiga anggota keluarga itu.
Dia pun berkata dengan nada suaranya yang terdengar tidak puas, "Bukankah kamu mengatakan ada buah dan sayuran? Tunjukkan padaku."
Uriel, segera memberikan sayur selada air untuk Khodi Kodi.
"Silahkan dicicipi."
Khodi Kodi, telah melihat sayur ini sebelumnya, tetapi ukurannya jauh lebih kecil daripada yang ada di tangannya saat ini. Dan dia juga tidak tahu sayur ini bisa dimakan atau tidak.
Dengan memberanikan dirinya, Khodi menarik sehelai daun sayur tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya.
Rasanya yang manis dan menyegarkan, langsung membuat mata kudanya terbuka. Dia pun memuji, dengan intonasi ringkikkan kudanya.
"..... Lezaaaat."
Lina, "....."
Dia segera memasukkan semua daun yang tersisa ke dalam mulutnya, memakan semuanya dalam sekejap, kemudian menjilati sudut mulutnya.
"Makanan ini sangat enaaaak"
"....." Lina yang mendengar untuk kedua kalinya, seseorang yang berbicara sambil meringkik kuda, segera menundukkan kepalanya, berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.
Kemudian Uriel mengambilkan sayuran lain, untuk Khodi cicipi.
__ADS_1
"Silahkan di coba yang ini. Kuncup kubis namanya."
Kali ini yang Khodi coba adalah kuncup kubis.
"Meskipun kuncup kubis rasanya tidak terlalu manis, tetapi daunnya berair dan rasanya juga sangat enak."
Begitu dia selesai makan, dia menunjuk ke sayuran dan buah-buahan di lapak dan berkata, "Aku akan mengambil semua sayuran dan buah-buahan ini. Silakan buat penawaran."
Sebagai dukun tingkat tinggi, tentu saja Khodi Kodi tidak kekurangan uang.
Uriel berkata, "Kami hanya mengumpulkan herbal dan batu kristal."
Mendengar penawaran yang diinginkan oleh Uriel, Khodi jadi merasa ragu.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan tanaman herbal? Setahuku, Dukun dari klan Serigala Batu sudah mati. Bahkan jika kamu memiliki herbal, apa kamu tahu cara menggunakannya?"
Kemudian Wiro segera menyahut dan berkata dengan tidak sabar, "Ini adalah bisnis kami. Anda, uruslah bisnis anda sendiri!"
Wiro dan Uriel tidak menjawabnya. Mereka tidak ingin memberitahukan pengetahuan mereka tentang ketrampilan medis, agar tidak terjadi masalah yang tidak perlu.
Khodi Kodi mengalihkan pandangannya, lalu mengeluarkan kantong kulit dan mengeluarkan dua kristal seukuran kuku.
"Apa dua batu ini cukup untuk membeli semua sayuran dan buah-buahan di lapakmu?"
"Cukup," kata Uriel sambil tersenyum. Kemudian dia lanjut berkata, "Saya pikir anda akan bertukar dengan bahan obat. Lagi pula anda adalah seorang dukun. Pasti anda memiliki banyak bahan obat."
Terakhir kali mereka bertarung melawan suku Serigala Air Hitam, banyak Orc dari suku Mustang yang mati dan terluka. Masih banyak juga dari mereka yang belum pulih dari luka-lukanya. Dan juga, obat herbal yang mereka miliki saat ini telah dikonsumsi dengan sangat cepat.
Sekarang Khodi juga sedang mengumpulkan lebih banyak obat herbal. Mana mungkin dia bersedia memberikannya kepada orang lain.
Uriel, kemudian mengambil uang kristal tidak berwarna yang ditawarkan oleh Khodi, dan kemudian mengemas semua sayuran dan buah-buahan yang ada di lapak, bersama dengan Wiro.
Lina, yang sedikit penasaran pun bertanya kepada sang Dukun, "Dokter Khodi, daun apa yang tadi kamu suruh aku untuk menciumnya?"
Jika orang lain yang menanyakan pertanyaan ini, Khodi pasti tidak akan menjawabnya. Pengetahuan seperti ini adalah milik dukun, dan Orc biasa tidak memenuhi syarat untuk mengetahuinya.
Tapi Lina adalah seorang betina, dan juga gadis kecil cantik yang sedang hamil. Meskipun Khodi adalah Orc yang keras kepala dan kaku, dia juga pasti akan tetap sedikit berhati lembut kepada betina.
Tidak ada masalah juga baginya bila memberitahu tentang hal itu kepada betina yang ada di dekatnya ini. Betina itu juga tidak bisa menjadi dukun. Sejak kemunculan Orc di dunia ini, belum pernah dia mendengar ada seorang betina yang menjadi dukun.
"Itu daun ungu," kata Khodi dan melanjutkan berbicara, "Orc biasa tidak akan bisa mencium bau apa pun dari daun itu. Hanya Orc wanita yang sedang hamil yang bisa mencium baunya."
Lina, pun kembali bertanya lagi, "Apakah kita bisa mengetahui durasi kehamilan wanita, berdasarkan dari konsentrasi baunya?"
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Khodi Kodi sambil mengerutkan kedua alisnya.
Lina pun menelan ludahnya, dan tertawa kecil sambil berkata, "Saya hanya mengira-ngira."
__ADS_1
"Kamu benar. Persis seperti yang sudah kamu katakan," wajah Khodi kini melunak dan lanjut berkata, "Kamu pintar, tapi sayang sekali kamu itu perempuan ..."
Jika Lina adalah Orc laki-laki, mungkin dia bisa mewarisi jubah Sito Gering dan menjadi dukun yang baru.
Pada saat ini, Wiro menyela percakapan mereka.
"Barang-barang sudah kami muat, apakah Anda akan membawanya sendiri, atau kami yang mengirimnya ketempat Anda?"
"Aku yang akan membawanya sendiri." Jawab Khodi Kodi.
Kemudian Khodi berubah menjadi kuda abu-abu putih, dan pergi dengan membawa dua kantong besar buah dan sayuran, di kanan dan kiri tubuh kudanya.
Lina meraih tangan Uriel dan berkata, "Ayo kita ke hutan dan mencari daun ungu?"
Daun ungu adalah senjata ajaib untuk mendeteksi kehamilan. Selama daun itu tersedia, tidak perlu khawatir tentang cara menentukan apakah wanita di suku ada yang hamil atau tidak.
Uriel, selalu menuruti permintaan gadis kecilnya, termasuk juga dengan kali ini.
"Ok."
Kali ini Wiro menegur Lina, dia berkata, "Lain kali, cobalah untuk tidak kontak dengan Khodi Kodi."
"Kenapa?" Tanya Lina.
Uriel mengerti maksud Wiro dan mengambil inisiatif untuk menjelaskan kepada gadis kecilnya, "Khodi Kodi adalah seorang Dukun. Selama dia bisa menjadi Dukun, tentu dia bukanlah orang yang sederhana. Jika mereka sampai tahu bahwa kamu mengerti dan memiliki begitu banyak hal, mereka pasti akan mencoba yang terbaik untuk merebutmu. Dan juga, mereka bahkan mungkin akan melakukan sesuatu untuk menyakitimu."
Lina mengangguk dan dengan serius berkata, "Aku mengerti."
Berbicara tentang Dukun, Lina teringat akan Heli Belang. Orang itu juga seorang Dukun, dan dia juga tidaklah sederhana.
Meskipun klan Serigala Air Hitam telah dihancurkan, tetapi Heli Belang berhasil melarikan diri. Sampai sekarang pun masih tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.
Dia itu seperti bom. Tidak ada yang tahu kapan bom itu akan meledak.
"Apa Heli Belang masih belum ketemu?" Tanya Lina dengan rasa khawatir.
Berbicara tentang ini, Wiro pun segera mengerutkan keningnya.
"Orang itu sangat licik. Dia menghilang sejak melarikan diri dari suku Serigala Air Hitam. Kami sudah mengirim banyak Orc untuk mencarinya, tapi tidak ada petunjuk sama sekali."
Lina berpikir sejenak, dan tiba-tiba memberikan ide.
"Kenapa kita tidak membuat gambar buronan? Selama ada yang bisa menangkap Heli Belang, atau memberikan petunjuk tentang keberadaannya, kita bisa memberikan mereka hadiah yang besar."
Mendengar apa yang Lina katakan, seketika wajah Wiro berubah menjadi cerah.
"Cara yang sangat bagus!"
__ADS_1