
Tak terasa, tiga hari telah berlalu semenjak Wiro pergi mencari Uriel.
Selama itu juga, hari-hari Lina selalu diliputi dengan kesedihan dan kecemasan yang teramat sangat.
Selama dia tidak melakukan apa-apa, dia akan bergegas berlari menuju pintu masuk gua, untuk menunggu mereka kembali.
Sito sudah sering menasihatinya, tapi dia gagal membujuknya. Akhirnya dia hanya bisa menemaninya menunggu di pintu masuk gua.
Lina sedang duduk meringkuk di dalam buntalan kulit binatang, sambil matanya menatap hamparan salju yang luas di depan.
"Mereka pasti akan kembali kan?"
Sito menatap wajah gadis itu yang terlihat pucat karena kedinginan, dia menjadi merasa sedikit sedih.
"Karena kamu masih setia menunggu mereka di rumah, mereka pasti akan kembali. Mereka juga pasti enggan meninggalkanmu sendirian."
Begitu Lina mendengar ini, dia merasakan hidungnya mulai berair dan ingin menangis.
"Ini semua salah ku. Kalu saja aku tidak membiarkan mereka minum, Uriel tidak akan lepas kendali. Sekarang dia dan Wiro sedang berjuang bertahan untuk hidup mereka diluar sana. Semua ini salah ku!"
Sito menepuk pundaknya dan menghiburnya, "Tak usah terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka juga sudah mengetahui kalau ada bahaya, tapi tetap pergi meninggalkan gunung batu. Itu karena mereka ingin melindungimu."
"Aku tak sebanding dengan kebaikan yang telah mereka berikan padaku!" Lina akhirnya menutupi wajahnya karena tak bisa menahan tangisnya, "Wiro benar. Aku itu b*d*h dan tak berguna. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Seharusnya mereka tidak perlu mengambil risiko apapun untuk ku!"
Cuaca yang sangat dingin membuat air mata Lina segera membeku, setelah menetes keluar.
Wajahnya pun segera tertutup oleh es.
Dengan cepat Sito menariknya ke dalam gua dan membantunya melepaskan es dari wajahnya. Sito berkata tanpa daya, "Wiro memang memiliki mulut yang selalu berkata buruk, tetapi hatinya tidak seburuk apa yang sering dia katakan. Tidak usah diambil hati kata-kata si b*j*ng*n kecil itu."
Sambil terisak Lina berkata, "Dia mengatakan yang sebenarnya, aku juga tidak menyalahkannya."
Sito menghela nafasnya, kemudian berbicara, "Apanya yang sebenarnya? Dia cuma bilang kalau dia membencimu. Kenyataanya, dia begitu sangat menginginkan dirinya menjadi pasanganmu."
Lina terkejut.
"Tidak mungkin. Mana mungkin dia mau menjadi pasanganku? Bukankah dia membenci wanita?"
"Kalau menyangkut soal ketidak sukaan Wiro terhadap wanita, semua itu ada alasannya. Ku beritahu kenapa." Kemudian Sito menyentuh janggut putihnya dan mulai berbicara lagi, "Ketika Wiro masih sangat kecil, ayahnya dibunuh oleh pasangannya."
Lina tertegun, "Pasangannya? Apakah itu ibu Wiro?"
"Ya, ibu Wiro dulunya adalah wanita tercantik dari suku serigala. Ada banyak pelamar pria di sekitarnya. Ayah Wiro juga sudah sangat baik padanya. Mengetahui kalau wanita itu suka makan telur burung, dia pun memberanikan diri untuk mencarikan telur itu. Tapi sayangnya, dia digigit oleh flamingo dewasa dan terluka parah. Setalah kejadian itu, perempuan itu sudah tidak menyukai ayah Wiro, karena dia terlalu tidak berguna dan meninggalkannya begitu saja. Ayah wiro pun sangat terpukul dan meninggal karena tak bisa bertahan."
Lina merasa tidak mengerti.
__ADS_1
"Meskipun ditinggalkan oleh perempuan, ayah Wiro tidak seharusnya putus asa dan tetap untuk bertahan hidup. Bukankah dia masih memiliki Wiro? Dia seharusnya bisa berjuang dan bertahan hidup, demi putranya."
Sito menatap gadis itu dengan tatapan aneh.
"Apa kamu tidak tahu? Setiap Orc laki-laki hanya bisa memiliki satu perempuan dalam hidupnya. Jika dia ditinggalkan oleh si betina, jantan itu akan digigit kembali oleh kontrak dari pasangannya. Rasa sakit yang luar biasa, tak bisa dibayangkan."
Lina bukan penduduk asli dunia ini, tentunya dia tidak tahu banyak tentang dunia ini.
Dia berpikir bahwa pernikahan ya seperti pernikahan pada umumnya. Kedua orc itu hidup bersama. Ketika mereka bersama, mereka akan bersama. Kalau tidak, mereka akan berpisah.
Bagaimanapun, perceraian bukanlah hal yang langka dalam masyarakat modern.
Tapi sepertinya tidak ada hal seperti perceraian di dunia ini.
Jika Orc jantan ditinggalkan oleh si betina, itu sama saja dengan mati.
Harga yang harus di bayarkan terlalu tinggi.
Mendengar ternyata ada hal yang seperti itu, Lina tidak bisa menahan perasaan ibanya.
"Orc jantan terlalu lemah.."
Sito menghela nafasnya dan berkata, "Tentu saja tidak. Salah siapa di sini jumlah wanitanya sangat sedikit?"
Lina mengangguk.
"Tidak akan."
Kemudian Sito melanjutkan lagi.
"Wiro dan ayahnya adalah Serigala Perak. Kamu pasti sudah pernah melihat wujud asli Wiro kan? Wujudnya indah kan?"
Lina mengangguk.
"Ya, sangat indah."
Sito lanjut berbicara, "Setelah ayah Wiro meninggal, tubuhnya berubah kembali ke bentuk Serigala Perak. Wanita yang sudah meninggalkannya itu menyukai bulunya, dia menyuruh orang-orang untuk mengupas kulitnya demi bulu itu. Hal itu tentu saja telah membuat Wiro sangat marah, dan dia selalu berjaga di samping jasad ayahnya. Jika ada yang berani mendekatinya, dia akan menggigitnya, siapa pun itu. Hingga tubuh jasad itu membusuk, betina itu barulah menyerah untuk mengambil bulu Serigala Perak."
Berbicara tentang itu, Sito pun menghela nafasnya.
"Pada waktu itu dia masih kanak-kanak, tetapi dia sudah harus melihat tubuh ayahnya yang sudah mati, membusuk di depan matanya, tentu saja hatinya pasti sangat terpukul. Sejak saat itulah dia jadi sangat membenci wanita. Bayangan kekejaman dan kekejian perempuan itu, sudah sangat terpatri di dalam hati dan pikiran Wiro, yang membuatnya menjadi sangat membenci semua perempuan."
Mendengar semua itu membuat Lina mulai merasa simpati terhadap Wiro.
Siapa pun yang mengalami hal seperti itu pasti akan jadi gila.
__ADS_1
Dalam hatinya, dia berkata pada dirinya sendiri, "Ketika aku bertemu dengan Wiro, aku harus bersikap ramah dan berhenti bertengkar dengannya."
Memikirkan hal ini, Lina pun tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat keluar gua.
"Kenapa Uriel dan Wiro masih juga belum kembali?"
Tiba-tiba Meli berlari-lari mendekat dengan panik.
"Lina. Gawat! Ada yang mencuri barang-barangmu!"
"Apa?!" Seketika ekspresi Lina berubah dan segera berlari pulang.
Sito berkata kepada Meli, "Panggil semua laki-laki di keluargamu, juga semua saudara laki-lakimu yang lainnya. Tolong panggilah sebanyak yang kamu bisa, dan minta mereka semua pergi ke rumah Lina untuk membantunya."
Meli menjawab singkat, "Ya!"
Kemudian dia bergegas berlari mencari bantuan.
Ketika Sito hendak mengejar Lina, tiba-tiba dia melihat tali yang tergantung di dinding batu bergerak-gerak.
Begitu dia melihat cahaya, dia bergegas keluar dari gua dan melihat ke bawah. Dia bisa melihat dua sosok yang sedang memegangi tali, sambil memanjat naik.
"Akhirnya mereka kembali!"
...........
Sesampainya Lina di rumah, dia melihat ada beberapa Orc pria sedang memindahkan barang-barangnya. Semua perabotan yang dia punya juga sudah mereka pindahkan. Mantel bulu kecokelatan miliknya pun sudah ditumpuk di tanah.
"Hentikan! Apa yang sudah kalian lakukan di rumahku? Ini adalah rumahku! Kembalikan semua barang-barang milik ku!"
Salah satu dari mereka melihat ke arah sumber suara, dia melihat ternyata yang berbicara adalah seorang wanita. Bukan hanya itu saja, ternyata juga wanita itu sangat cantik. Melihat wanita yang begitu cantik itu, dia pun berbicara sambil tersipu, "Kami hanya ingin meminjam darimu."
"Apaan pinjam?! Apa kau sudah mendapat persetujuan dariku?! Kalau kau tidak bertanya pada si pemilik, itu namanya mencuri! Kalian itu pencuri!" Seru Lina.
Setelah Lina selesai mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang berbicara dari arah pintu masuk.
"Aku yang meminta mereka untuk meminjam sesuatu darimu."
Kemudian dia berjalan masuk, dengan sepasang p*y*d*r* besar di dadanya, yang ikut berguncang-guncang saat dia berjalan.
"Ngomong-ngomong, pasanganmu kan sudah tidak lagi ada di sini. Tidak mungkin juga kau akan memakan semua ini sendirian kan? Apa kau tak ingin memberikan beberapa kepada kami?"
Itu adalah suara, Avi Zoge.
Begitu Lina melihat ternyata Avi yang datang, Lina mengerutkan keningnya, dan berkata dengan nada suaranya yang terdengar marah, "Kalau kau ingin makanan, pergilah berburu! Cari sendiri! Tidak akan ada sepotong pun daging dari rumahku, yang akan kuberikan padamu!"
__ADS_1