Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 188 - Tidak Mau Bicara


__ADS_3

Saga baru tersadar, dan bangun dari pingsannya saat keesokan harinya.


Sambil masih dalam posisinya berbaring dan menatap langit-langit kamar, saat ini dia sedang merasakan kekosongan, seolah-olah telah melupakan sesuatu hal yang penting dalam hidupnya.


Dia terus mencoba untuk mencari-cari dan mengingat-ingat lagi dalam ingatannya, tapi dia tetap tidak bisa mengingat hal apa yang telah dia lupakan.


Yayan yang berjaga di dalam kamar saat Saga tak sadarkan diri, saat melihat Saga telah terbangun, dia pun segera keluar dan berlari untuk memberitahukan hal ini kepada Ketuanya.


Pada saat ini, Lina pun segera mengambil kesempatan untuk keluar dari balik jubah Saga.


Lalu dengan perasaan berdebar, dia mencoba mengangkat kepalanya yang saat ini dalam bentuk bunga, untuk melihat wajah Saga yang saat ini penuh dengan kebingungan.


"Benarkah efek dari ramuan air melupakan cinta benar-benar bisa bekerja?"


Setelah berpikir seperti itu, meskipun merasa gugup, tapi dia tetap memberanikan diri untuk bertanya, "Saga, apa kamu ingat denganku?"


Terkejut saat iba-tiba saja mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, Saga pun segera menatap ke arah sumber suara, dan melihat ada bunga putih kecil yang saat ini sedang bersandar di dadanya.


"Ada bunga yang bisa berbicara?" Pikir Saga sambil menatap si bunga putih kecil dengan heran.


"Siapa kamu?" Tanya Saga mencari tahu.


Mendengar Saga yang bertanya seperti itu kepadanya, membuat hati Lina seketika merasa terluka.


"Apa Saga benar-benar telah melupakanku?" Pikir Lina.


"Aku, Lina. Aku pasanganmu." Jawab Lina. Setelah jeda sejenak, kemudian Lina mencoba untuk bertanya dengan sedikit ragu-ragu, "Apa.. kamu tidak ingat denganku?"


Saga yang masih dengan tatapan dinginnya menatap bunga putih kecil di depannya itu pun balik bertanya, "Kenapa aku memilih bunga sebagai pasangan? Bisakah bunga k*w*n dengan Orc?"


Lina, "....."


"Kenapa dia bertanya seperti itu?" Pikir Lina.


"CEKREEEK!" Terdengar suara pintu yang terbuka dari luar.


Mendengar suara pintu terbuka, Lina pun segera buru-buru masuk dan bersembunyi lagi di balik jubah Saga.


"TAP! TAP! TAP! TAP!"


Suara langkah kaki Handi yang saat ini telah masuk ke dalam kamar pun terdengar, bersama dengan Yayan yang sedang berdiri di dekat pintu dan menutup pintu tersebut dengan lembut.


"CEKREK!"


Kemudian, terdengar suara Handi yang saat ini telah berdiri di samping tempat tidur Saga, "Bagaimana perasaanmu? Apa kamu ingat siapa aku?"


Saga pun bangkit dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur batu, kemudian menoleh ke arah Handi, menatapnya dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, kemudian berkata, "Paman. Kamu yang membawaku ke sini dan memaksaku untuk meminum ramuan air melupakan cinta.”


Saga masih bisa mengingat banyak hal, termasuk saat dia tumbuh hingga dewasa selama di Kuil, dan seluruh proses saat dia dibawa ke klan Iblis oleh pamannya.


Tapi, dia juga melupakan banyak hal. Seperti, siapa yang telah dia temui setelah dia meninggalkan Kuil dan apa yang terjadi setelahnya.


Ingatannya tentang itu, sepertinya ditutupi oleh sesuatu.


Tidak peduli seberapa keras Saga telah mencoba untuk mengingatnya, dia tetap tidak bisa menyingkirkan penghalang yang menutupi sebagian dari ingatannya.


Pada saat ini, terdengar suara Handi yang bertanya lagi, "Apa kamu ingat siapa Lina?"

__ADS_1


"Lina?" Tanya Saga balik kepada pamannya, sambil mengerutkan keningnya. Kemudian, dia mengeluarkan bunga putih kecil dari balik jubahnya, "Bunga ini juga mengatakan kalau dia adalah Lina. Apakah yang paman maksudkan adalah bunga ini?"


Lina yang saat ini telah dipegang oleh Saga pun tidak berani bergerak sedikitpun, dengan tubuh pohonnya yang terlihat kaku.


"Dasar Ular br*ngs*k!" Maki Lina dalam hatinya.


Pandangan mata Handi pun segera tertuju pada bunga putih kecil yang sedang Saga pegang, kemudian bertanya dengan tatapan penuh selidik, "Bisakah bunga itu berbicara?"


"Ya." Jawab Saga singkat.


"Kalau begitu, buat dia supaya berbicara di hadapanku." Kata Handi.


Saga pun segera mengguncang-ngguncang bunga yang sedang dia pegang, sambil berkata, "Bunga kecil. Bicaralah."


Meskipun tubuhnya diguncang-guncang oleh Saga, Lina berpura-pura untuk tetap diam dan tak bergerak sedikitpun.


Setelah menunggu lama, tapi Saga tetap tidak mendengar bunga putih kecil itu berbicara lagi.


Bunga dalam genggamannya itu, terlihat sama seperti bunga liar yang biasanya ada di pinggir jalan.


Kemudian Saga pun berkata dengan merasa tak berdaya, "Tidak mau bicara."


Melihat hal ini, Handi memandangi Saga dengan tatapan penuh kasih, seperti orang dewasa yang merawat anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental.


Lalu dia menghibur Saga, dengan suaranya yang terdengar hangat, "Tidak apa-apa. Kamu pasti bisa berbicara lebih banyak lagi dengannya. Mungkin nanti bunga itu akan berbicara denganmu lagi."


"Yah." Jawab Saga.


Kemudian Handi bertanya, "Apa yang sedang kamu rasakan saat ini? Apa kamu merasa tidak nyaman?"


Mendengar apa yang Handi tanyakan, Saga pun berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Aku merasa, seolah-olah aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting."


"Oh."


"Sekarang, istirahatlah yang baik. Kita akan berjumpa lagi saat aku ada waktu." Setelah berkata seperti itu, Handi pun menepuk pundak Saga dan berjalan keluar dari kamar, bersama dengan Yayan yang menutupukan pintu kamar Saga.


Setelah berada di luar kamar, Handi pun segera berjalan dengan cepat untuk menjauh dari kamar Saga, kemudian segera melambaikan tangannya untuk memanggil Yayan, dengan suaranya yang sedikit dia kecilkan, "Kemari."


Melihat dirinya di panggil oleh sang ketua, Yayan pun segera menghampiri dan bertanya dengan hormat, dengan volume suaranya yang ikut dia kecilkan, "Apa perintah anda?"


"Apa kemarin Rudi si Penyihir mengatakan sesuatu padamu, saat kamu mengambil ramuan air melupakan cinta?" Tanya Handi.


"Misalnya?" Tanya Yayan balik kepada Handi.


"Misalnya, apakah ramuan itu memiliki efek samping, seperti otak akan menjadi bodoh setelah meminumnya?"


"Apa masalahnya?" Tanya Yayan lagi dengan hati-hati.


Handi pun mengerutkan keningnya dan berkata, "Tadi Saga berkata, kalau bunga kecil itu adalah Lina, dia juga bilang kalau bunga itu bisa berbicara. Apakah kini dia sudah menjadi bodoh setelah meminum ramuan air melupakan cinta?"


Sebelum menjawab, Yayan berpikir sejenak, kemudian berkata dengan sedikit ragu-ragu, "Mungkin.. itu hanya kebingungan dalam ingatannya untuk sementara.. Setelah jangka waktu tertentu, efek ramuan itu akan membuatnya stabil dan normal kembali."


"Aku juga berharap begitu." Ucap Handi.


Setelah suara langkah kaki di luar kamar secara bertahap terdengar semakin menjauh, kini Lina bisa merasa lega.


"Barusan, aku ketakutan setengah mati!" Batin Lina.

__ADS_1


Sambil mengamati bunga putih kecil yang sedang dia pegang, Saga pun bertanya dengan bingung, "Kenapa tadi kamu tidak berbicara?"


Mendengar apa yang Saga tanyakan, Lina pun menatap Saga dengan sangat marah. Karena tadi, hampir saja Saga mengekspos tentang dirinya!


"BET!"


Setelah itu, Lina pun menggunakan tangan kecilnya yang berbentuk daun, untuk menampar hidung Saga dengan ganas, kemudian memarahi Saga, "Apa kamu bodoh?! Menjual rekan satu timmu, heh?!"


Begitu Saga mendengar Lina kini berbicara lagi, matanya pun segera terlihat sedikit berbinar.


"Kamu berbicara lagi." Setelah berkata seperti itu, dia pun diam sejenak, setelah itu bertanya, "Apa maksudnya dengan menjual rekan satu tim?"


"Itu berarti mengkhianati rekan satu timmu!" Jawab Lina.


"Kapan kamu dan aku menjadi rekan satu tim?" Tanya Saga kepada Lina.


"Ya, kita memang bukan rekan satu tim, tapi kita adalah pasangan!" Jawab si bunga putih kecil.


Tapi, selesai berkata seperti itu, bunga putih kecil itu pun melengkung kebawah, seperti terkulai lemas, dan terdengar suaranya yang terdengar sedih, "Aku hampir lupa.. Saat ini.. kamu sudah tidak ingat apa-apa lagi tentang diriku.."


Saga pun berkata, "Ada hal yang benar-benar tidak bisa aku ingat. Apakah sebelumnya kita benar-benar saling mengenal?"


Berharap agar Saga bisa ingat kembali, bunga putih kecil itu pun mencoba untuk menceritakan dengan sangat jelas, dari awal pertemuan mereka hingga mereka jatuh cinta dan kemudian menjadi pasangan.


"Kisah yang luar biasa." Kata Saga setelah mendengar seluruh cerita yang Lina ceritakan.


"Kamu adalah pahlawan dari cerita ini," kata Lina yang mencoba untuk mengembalikan ingatan Saga.


"Oh." Ucap Saga singkat.


Mendengar respon Saga yang dingin seperti itu, Lina pun merasa seperti akan menjadi gila.


“Tanggapanmu hanya seperti itu? Apa kamu sama sekali tidak merasa tersentuh?”


Saga, "....."


Saga tak berkata apa-apa, dan masih menatap si bunga putih kecil dengan ekspresinya yang begitu tenang, hingga seperti terlihat kalau dia seperti tidak memiliki perasaan sama sekali. Karena menurut Saga, cerita yang baru saja dia dengar, memanglah cerita yang indah.


Ketidak pedulian Saga, membuat hati Lina menjadi semakin sedih. Kemudian dia pun bertanya, "Bisakah kamu menunjukkan pola bintang yang ada di punggungmu?"


Mendengar itu, Saga pun membuka jubahnya, lalu berbalik.


Kini bisa terlihat oleh Lina, pola Ular berwarna hitam yang menyebar di bagian belakang tubuh Saga.


"Mahkota duri di kepala Ular itu juga kini telah menghilang??" Pikir Lina.


Lina masih terus mengamati untuk waktu yang lama, tapi tetap tidak bisa juga menemukan pola tanaman berduri.


Dan akhirnya, dia pun harus mengakui fakta, kalau kontrak pasangan antara dirinya dan Saga memang telah berakhir.


Setelah merasa lama menunggu, tapi tidak ada sedikitpun pergerakan dari si bunga putih kecil, Saga pun mengenakan kembali jubahnya. Kemudian dia berbalik untuk melihat si bunga putih kecil yang saat ini sedang berdiri di tempat, dengan kelopak bunganya yang sebelumnya terlihat segar tapi kini terlihat layu, seperti telah kehilangan vitalitas dan kehilangan warna aslinya yang indah.


Pada saat ini, terdengar suara Saga yang bertanya, "Ada apa denganmu?"


Lina yang saat ini sedang menatap Saga, tiba-tiba saja merasa ingin meneteskan air matanya.


Tapi, sekarang Lina dalam wujud bunga, tentu dia tidak akan bisa meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Saga telah lupa tentang diriku. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"


__ADS_2