Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 122 - Bermain Bersama Wiro


__ADS_3

Sejak Lina mulai mengajar di kelas, anak-anaknya sering memanggil dirinya dengan sebutan guru. Tidak hanya di dalam kelas, tapi juga ketika Lina sedang bersama dengan Wiro.


Ketika Wiro sering mendengar panggilan seperti itu, serigala tertua dari keluarga itu mendatangi Lina dan memanggilnya, "Guru."


Kemudian dengan sengaja Wiro hendak menempelkan telinganya ke tubuh Lina, dan dengan suaranya yang rendah dan dalam, yang mengandung makna samar yang ambigu, "Guruku Lina."


Lina yang merasa merinding dan kulit kepalanya yang terasa mati rasa, dengan cepat segera menghindarinya.


"Tidak bisakah kamu bersikap serius?"


Tapi kemudian Wiro memeluk pinggang Lina, membenamkan wajahnya ke dada Lina yang montok dan menggosok-nggosoknya.


"Guru, bisakah malam ini aku tidur denganmu?"


Tapi dengan dingin Lina segera menolak permintaan Wiro.


"Tidak, malam ini aku akan tidur sendiri."


Saga, Wiro dan Uriel, ketiga Orc pria itu setiap malamnya bergantian menemani Lina tidur, tapi ketiga orang ini tidak pernah membiarkan Lina untuk bisa tidur dengan tenang. Setiap kali Lina menarik selimut bulu dan akan memejamkan matanya, saat itu juga selimut bulunya akan ditarik kembali dan tubuhnya akan langsung ditelanjangi.


Tubuh Lina telah dihentak berkali-kali setiap malamnya, sehingga secara bertahap dia mulai terbiasa dengan pengalaman hidup dan mati yang menyenangkan seperti itu.


Bahkan kadang-kadang, kini mereka bisa memasukan benda besar mereka ke bagian lubang yang ada di p*ngk*l p*h* Lina, tanpa perlu menggunakan buah sumber.


Tentu saja hal itu mulai membuatnya khawatir.


"Apa karena aku terlalu sering melakukannya, sehingga lubang yang ada di p*ngk*l p*h*ku kini menjadi longgar?"


Memikirkan dirinya yang telah menjadi produk yang longgar dalam usia mudanya, membuatnya hampir jatuh pingsan!


"Aaah! Kenapa jadi begini! Umurku juga belum genap dua puluh satu tahun!"


Oleh karena itulah malam ini Lina memutuskan untuk beristirahat dan tidak ingin membiarkan ketiga Orc pria itu, melakukan apa yang mereka inginkan!


Tapi Wiro masih terus memeluknya dan tidak ingin menyerah.


"Guru, kenapa kamu tidak mau tidur denganku? Apakah kamu sudah tidak menyukaiku?"


Lina tidak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan tubuh Wiro, dia hanya bisa mengerutkan wajah kecilnya sambil menatap Wiro.


"Malam ini aku hanya ingin tidur, aku tidak ingin melakukan hal yang lainnya!"


"Aku berjanji tidak akan melakukan hal lain. Kita hanya akan berbaring di tempat tidur dan tidur bersama." Ucap Wiro sambil memang ekspresi seolah-olah sedang berkata dengan serius.


Lina memutar bola matanya, dan menatap ke langit-langit kamar.


"Setiap malam, kalian selalu mengatakan kalau kalian hanya akan tidur bersama, tapi setiap kali itu pula kalian sudah mengingkari kata-kata kalian. Kalian itu memang sekelompok b*j*ng*n yang tidak pernah menepati janji kalian!"


Kemudian Lina mendengus kesal, "Huh! Hanya hantu yang akan percaya padamu!"


Wiro sudah menahan dirinya untuk menggosok-nggosok tubuh Lina, tapi dia berkata seperti sedang mencari kesenangan untuk dirinya sendiri, "Guru, sebelumnya kamu sudah berjanji padaku! Jika malam ini kamu tidak tidur denganku, sepanjang malam aku pasti tidak akan bisa tidur!"


Lina yang merasa kesal dengan rayuan Wiro, tiba-tiba saja terbesit dalam pikirannya dan memutuskan untuk memberi Wiro sedikit pelajaran.


"Jika kamu mau, kamu bisa tidur denganku, tapi kamu harus berjanji padaku satu hal," kata Lina yang sebetulnya berpura-pura.


"Apa itu?" Tanya Wiro.


Lina pun tersenyum licik sambil berkata, "Kita akan memainkan sebuah permainan."


"Permainan yang seperti apa?" Tanya Wiro yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Sekarang kamu tidur dulu." Ucap Lina memerintah Wiro.


Dengan kecepatan seperti angin, Wiro segera menanggalkan pakaiannya, berbaring di tempat tidur sambil memposisikan dirinya dengan pose yang bisa menunjukkan seluruh otot tubuhnya.


"Apa menurutmu dengan posisi seperti ini juga bisa melakukannya?"


Melihat apa yang Wiro lakukan, Lina segera menepuk jidatnya sendiri.


"Bukankah aku hanya bilang supaya kamu berbaring di tempat tidur, bukannya menyuruhmu untuk melepaskan semua pakaianmu!


"Hah! Lupakan saja! Aku tidak akan bisa bila harus banyak berdebat dengan Serigala gila z*ks ini!"


Kemudian Lina mencari sebuah tali dan berkata sambil tersenyum, "Sebelum kita mulai permainan kita, aku akan mengikat tangan dan kakimu terlebih dulu. Kamu tidak boleh melawan!"


Wiro segera mengangguk sambil tersenyum.


"Ok. Aku akan menuruti kemauan kamu."


Lina segera mengikat Wiro dengan simpul yang kokoh. Setelah itu Lina mencari sepotong kulit binatang, yang dia gunakan untuk menutupi mata Wiro.


Kini Wiro sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi, tapi ketajaman bawaan para Orc memungkinkan dirinya untuk tetap bisa merasakan keadaan di sekitarnya. Wiro bisa merasakan kalau saat ini Lina sedang berdiri di sampingnya.


Wiro yang kini merasa sudah tidak sabar pun segera bertanya, "Apakah permainannya sudah bisa dimulai?"


Dengan ujung jari kecilnya, Lina menusuk otot dada Wiro dengan kuat.


"Jangan khawatir, permainannya akan segera dimulai."


Awalnya Lina berniat untuk meninggalkan Wiro di situ sendirian.


"Tapi aku lihat kalau dia bisa merasakan reaksiku. Kalau begitu, biarkan aku mengerjainya untuk sementara ini. Jika aku bisa membuatnya sampai menangis, itu pasti akan sangat menarik."


Semua pikiran buruk yang mengintai di benak Lina pun keluar.


Kemudian Lina mengangkat tangannya dan membelai wajah Wiro yang tampan.


Tapi karena pada saat ini mata Wiro ditutup, jadi Wiro malah semakin menikmati sentuhan-sentuhan tangan Lina. Dengan imajinasinya yang liar.


Kemudian Lina menundukkan kepalanya dan dengan lembut mencium bibir Wiro.


Wiro menjadi semakin lebih menyukainya lagi.


Sebelumnya Lina telah memperkirakan apa yang akan terjadi. Setelah di rasa sudah cukup, dengan tiba-tiba Lina segera melepaskan ciumannya.


"Uuh! Aku sangat lelah dan sangat mengantuk. Sekarang aku ingin tidur."


Mendengar apa yang Lina katakan, membuat Wiro hampir menjadi gila. Saat ini bendanya sudah sangat keras, seperti rudal yang siap meluncur untuk diledakan. Jika ditahan sampai besok, sudah pasti Wiro pasti akan menjadi gila!


"Lina, jangan lakukan ini. Permainan kita belum selesai."


Setelah Lina mencuci tangannya, dia segera berbaring di samping Wiro, menutupi tubuhnya dengan selimut bulu, dan menguap.


"Hoamm.. Permainannya sudah tidak menyenangkan lagi. Aku tidur duluan. Selamat malam."


Wiro, "....."


Saat Lina sudah tertidur, tiba-tiba saja dia mendengar suara-suara yang aneh. Dia pun segera terbangun, membuka matanya dan mencari di mana sumber suara tersebut. Dia terkejut saat melihat Wiro yang sedang duduk di kasur.


"Hah! Tali yang aku ikat di tangan dan kakinya sudah terputus?"


"Kamu bisa dengan mudah memutuskan tali yang sangat tebal?! Apakah otot-ototmu terbuat dari besi?!"

__ADS_1


Tanpa perlu menjawab pertanyaan Lina, Wiro segera berbalik dan menyergapnya.


Kini posisi Lina sudah tertindih di bawah tubuh Wiro.


Mendapati dirinya yang telah ditindih oleh tubuh Wiro, Lina segera berjuang untuk melepaskan dirinya.


"Tunggu! Wiro!"


Wiro yang kini sudah hampir gila, sama sekali tidak menggubris perkataan Lina. Dia sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi.


Seperti sedang kerasukan, Wiro segera menarik lepas rok bulu yang Lina kenakan, merentangkan kedua kaki Lina, dan segera menusukkan benda besarnya yang sejak tadi sudah mengeras dan mengacung.


"Ehhmm.." Wiro melenguh setelah memasukkan bendanya di antara kedua p*ngk*l p*h* Lina.


Benda besar itu Wiro masukkan dengan cepat dan sangat dalam.


Pada saat benda besar itu dengan cepat masuk dan sangat dalam, Lina merasa perutnya seperti didorong oleh sesuatu yang besar dan keras.


"Ahhh! Apa kamu mau membunuhku?"


Mata Wiro kini sudah terlihat memerah, dia sudah sangat bern*fs*, saat ini dia seperti sudah kehilangan akal sehatnya.


Masih tanpa berkata-kata, kemudian Wiro mulai mengerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat berkali-kali.


Tidak peduli seperti apa Lina menangis dan memohon, Wiro tetap melanjutkan dalam melakukan aksinya.


"Auh! Wiro! Hentikan!"


"Huuu.."


"Wiro!"


"Auhh!"


...........


Keesokan paginya.


Ketika Lina sudah bangun dari tidurnya. Dia bisa meraskan kalau tubuhnya seperti habis ditabrak kereta api. Setiap sendi-sendinya terasa sakit dan area yang ada di p*ngk*l p*h*nya terasa ngilu.


Hatinya kini dipenuhi dengan penyesalan.


"Jika saja aku tahu kalau Wiro akan menggila dan memanas, seharusnya aku tidak dengan sengaja memprovokasinya!"


Seperti senjata makan tuan, kali ini Lina benar-benar telah menyadari dan menyesalinya.


Kemudian terlihat Wiro yang datang dengan membawa sebaskom kayu, yang berisi air hangat. Saat itu juga Lina menjadi sangat marah.


"Kamu memang benar-bernar b*ngs*t!"


"Ya, ya. Aku memang brengsek," kemudian Wiro membantu Lina untuk duduk dan menyeka tubuh Lina dengan hati-hati dan lembut.


"Hari ini kamu istirahatlah yang baik. Kamu juga tidak usah pergi ke kelas dulu."


Lina juga tahu kalau dia tidak akan bisa pergi ke kelas dengan kondisinya yang seperti ini. Dia juga tidak ingin memaksakan dirinya yang bisa membuat murid-murid kecilnya ketakutan, bila mereka sampai melihat Lina yang jatuh pingsan saat mengajar di kelas.


Kemudian Lina menatap Wiro dan berkata, "Apa yang tadi malam terjadi, kamu tidak boleh memberi tahukan kepada orang lain!"


Wiro segera menepuk dadanya sendiri dan berjanji.


"Aku berjanji tidak akan mengatakannya kepada siapa pun!"

__ADS_1


Meskipun tadi malam Wiro sudah menggila, tapi kesenangan seperti itu belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hal itu sudah membuatnya seperti ketagihan dan ingin mengulanginya lagi.


"Besok-besok, aku masih ingin melakukan hal yang seperti itu lagi."


__ADS_2