Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 152 - Jadilah Raja Kami


__ADS_3

Sebelum Lina sempat menjawab pertanyaan Azka, tiba-tiba saja mereka mendengar kabar tentang mangkatnya sang Raja yang sangat mendadak!


Dan dengan segera, semua Orc yang ada di istana bergegas menuju ke kamar sang Raja, dan berlutut di luar kamar.


...........


Saat ini jenazah Martin Nouh telah dibawa keluar dari kamar dan akan dibawa ke Gunung Suci.


Terlihat juga para penjaga yang mengikuti, dengan langkah mereka yang terlihat rapi.


Berita tentang kematian Raja pun segera tersebar ke seluruh kota.


Lina yang tidak tahu harue berbuat apa, hanya bisa berdiri di tempat. Tapi kemudian Uriel meraih tangannya dan berbisik, "Ikuti aku."


"Tangan Uriel yang besar, terasa kering dan hangat." Dalam hati, Lina juga bisa ikut merasakan kesedihan yang sedang Uriel rasakan.


Lalu Lina mengikuti Uriel yang berjalan paling depan, bersama dengan Azka yang ada di samping Uriel.


Setelah tiba di Kuil, Alan Rebes si imam besar membawa para pelayannya, untuk berdoa bagi Martin Nouh yang sudah meninggal, setelah itu dia membasuh tubuh jenazah sang Raja dengan air suci. Kemudian Uriel dan Azka membawa jenazah itu naik ke Gunung Suci.


Orang lain tidak bisa ikut naik ke Gunung Suci. Mereka hanya bisa berdiri di kaki gunung dan menunggu.


Mereka semua menatap Gunung Suci dengan hikmat.


Di mata semua Orc, Gunung Suci adalah Tanah Suci. Mereka sangat menyakralkan gunung tersebut, dan menganggap kalau Gunung Suci adalah gunung yang disukai oleh para Dewa. Seolah-olah bagi mereka gunung itu adalah media untuk bisa berhubungan dengan para Dewa, selama mereka memasuki Gunung Suci ini.


Hanya Lina yang beranggapan lain, "Gunung yang mereka keramatkan ini tidak berbeda dengan gunung biasa. Tapi ada sedikit yang berbeda, yakni pemandian air panas di gunung ini yang terasa lumayan. Andai saja ada sumber air panas di dekat Gunung Batu, pasti seluruh keluargaku bisa pergi ke sumber air panas."


Saat pikiran Lina sedang memikirkan tentang prmandian air panas, Uriel dan Azka berjalan menuruni gunung. Hal ini menandakan kalau pemakaman Raja telah selesai.


Kini kehidupan Martin yang luar biasa telah terkubur begitu saja di Gunung Suci.


Mulai saat ini, sudah tidak ada lagi Orc Harimau yang bernama Martin Nouh, di dunia Orc ini.


Saat ini Lina menatap ke arah Gunung Suci sambil berpikir lagi, "Aku tidak tahu, bagaimana mereka berdua menangani jenazah sang Raja. Para Orc kan tidak pernah mengubur jenazah. Aku juga tadi tidak melihat asap, itu artinya jenazahnya tidak dikremasi. Atau, apakah mereka meneggelamkan jenazah ke dalam air?"


Tapi sumber air panas adalah satu-satunya tempat di mana ada air di Gunung Suci. Tidak mungkin juga jika mereka menenggelamkan jenazah ke sumber air panas.


Selain itu, Kota Matahari tidak bisa berdiri sehari, tanpa adanya seorang Raja. Calon raja baru harus segera ditentukan.


Umumnya, Raja baru akan dipilih secara pribadi oleh Raja yang sebelumnya, dan setelah itu harus lulus ujian dari Kuil terlebih dahulu, supaya bisa menduduki singgasana raja.


Tapi kini Martin Nouh tiba-tiba saja meninggal, dan tidak sempat menentukan siapa yang akan menggantikan dirinya.

__ADS_1


Orang terakhir yang ditemuinya sebelum kematiannya adalah Uriel. Alan Rebes pun segera memandang Uriel dan bertanya, "Apakah sebelum Raja meninggal, beliau pernah memberi tahu anda, tentang siapa yang akan menjadi raja selanjutnya?"


Saat dia menanyakan hal ini, matanya sambil menatap Azka yang tidak jauh darinya.


Keduanya adalah putra Martin, yang sama-sama memenuhi syarat untuk mewarisi takhta. Jika Uriel yang naik takhta, Azka pasti tidak akan mendapatkan apa-apa.


Mendengar itu, Uriel pun berkata dengan tenang, "Jika saya mengatakan kalau ayah ingin menjadikan saya raja yang selanjutnya, apakah anda akan percaya?"


Xion Grisli adalah Orc pertama yang berdiri dan berseru, "Tentu saja kami percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran kedua!"


Kemudian semua penjaga ikut berseru secara serempak, "Kami percaya pada Pangeran kedua!"


Suara mereka menggema dan terdengar luar biasa. Membuat Orc lain yang mendengarnya, terlalu takut untuk membuka mulut mereka.


Tapi hal itu membuat Alan Rebes tidak suka, dia membenci para Orc yang berpikiran primitif seperti itu, tapi dia masih mempertahankan ekspresi penuh kasih di wajahnya.


Uriel masih terdiam, sambil memandang para pasukan.


Jenderal Xion lanjut berkata lagi dengan suara lantang, "Yang Mulia Pangeran kedua, anda tidak hanya sangat berjasa dalam pertempuran, tapi juga sangat cerdas. Anda adalah penerus terbaik. Raja pertama pasti menyukai anda, jadi sudah tentu Raja pertama pasti akan memilih anda sebagai raja yang baru. Jadi, tolong jangan mengecewakan harapan ayah anda."


Setelah berkata seperti itu, dia segera berlutut dengan satu lututnya dan berkata lagi, "Tolong Pangeran kedua, jadilah Raja kami!"


Hampir seribu penjaga yang ada di belakang Jenderal Xion pun segera ikut berlutut dengan serempak, suara mereka terdengar memekakkan telinga.


"BRUUK!"


Lina yang berada di samping Uriel, tercengang saat melihat hal ini.


Berbeda dengan Azka, di dalam hatinya, saat ini dia sedang menertawai dirinya sendiri.


"Haha! Benar saja, semua orang hanya melihat kecemerlangan kakak. Tidak peduli berapa banyak usaha yang sudah aku lakukan, pada akhirnya mereka hanya akan tetap melihat Pangeran kedua di mata mereka!"


Sebelum Alan Rebes bisa menerima Uriel sebagai raja selanjutnya, Uriel harus bisa memenuhi syarat terlebih dulu.


Dua syaratnya adalah, tingkat roh Binatang Buasnya harus di atas bintang lima, dan telah diakui oleh para Dewa.


Pada saat ini Alan memandang Uriel dan berkata, "Saya ingat kalau saat ini anda hanya baru mencapai bintang empat, jadi, jika anda ingin mewarisi takhta, anda harus mendapatkan persetujuan dari para Dewa."


Untuk menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya, Uriel sengaja menekan aura roh Binatang Buasnya, sehingga membuat dirinya terlihat seperti baru mencapai bintang empat.


Uriel pun bertanya, "Apa yang harus saya lakukan?"


Alan Rebes tersenyum sambil berkata, "Sangat mudah, selama anda meminum air suci yang diberikan oleh Dewa, dan anda masih baik-baik saja setelah satu hari, itu artinya anda memang layak untuk bisa duduk di atas takhta."

__ADS_1


"PLOK! PLOK! PLOK!"


Setelah itu, dia pun menepuk tangannya dan menyuruh pelayannya untuk segera membawakan air suci, lalu meletakkannya di depan Uriel.


Saat Lina melihat semangkuk air yang katanya air suci, dia pun dengan spontan bertanya, "Apakah setelah meminum air ini akan baik-baik saja?"


Mendengar itu, Alan pun berkata, "Jika para Dewa memberkati Pangeran kedua sebagai ahli waris, Pangeran kedua pasti akan baik-baik saja. Tapi jika para Dewa tidak menyetujuinya, semangkuk air ini akan membuatnya menderita, dan dalam kasus yang serius, bisa membuat Pangeran kedua mati."


Mendengar apa yang imam besar katakan, Lina merasa sangat takut.


"Hantu juga pasti tahu apa yang ada di mangkuk air ini. Jika imam besar diam-diam menambahkan racun, apakah Uriel akan tetap harus meminumnya?!"


Setelah memikirkan hal itu, Lina segera menggenggam dan menarik pelan jari Uriel, dengan maksud untuk menyarankan Uriel agar tidak meminum air itu.


Uriel pun tiba-tiba saja menatap Lina dan bertanya, "Apakah kamu ingin supaya aku mewarisi takhta?"


"Ah?" Pertanyaan dari Uriel, seketika membuat Lina tercengang.


"Ini adalah untuk kedua kalinya dihari yang sama, aku ditanyai pertanyaan seperti ini."


Yang pertama kali bertanya padanya seperti itu adalah Azka.


Saat Lina memikirkan hal ini, dia pun menatap ke arah Azka, dan ternyata Azka juga sedang menatap kearah di mana Lina dan Uriel berada, dengan ekspresinya yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Aku sama sekali tidak mengerti perebutan politik yang kacau balau seperti ini, aku hanya berharap supaya Uriel bisa selamat. Semangkuk air suci ini jelas merupakan jebakan. Jika Uriel tetap meminumnya, semuanya akan berakhir! Uriel tidak boleh sampai meminum air ini!"


Setelah berpikir sejenak, Lina pun segera berkata kepada Uriel, "Jangan meminumnya! Tidak usah mewarisi takhta. Aku hanya ingin pulang ke rumah."


Mendengar apa yang gadis kecilnya katakan, Uriel pun tertawa, mata birunya terlihat penuh dengan kelembutan.


"Hahaha.. Baiklah."


Setelah berkata seperti itu, Uriel menatap Alan Rebes lagi dan berkata, "Wanita saya hanya ingin pulang, jadi saya tidak menginginkan tahta ini. Anda urus saja hal ini sendiri."


Setelah itu, Uriel dan Lina segera berjalan pergi dari situ.


Meskipun keduanya baru saja pergi, tapi orang-orang masih tetap berdiri diam di tempat yang sama dan saling memandang.


Orang-orang yang mengira akan ada pertumpahan darah pun tercengang.


Alan, "....."


Karena Uriel telah mengambil inisiatif untuk mundur, hal ini merupakan kabar baik bagi Kuil dan juga Alan Rebes.

__ADS_1


"Kekuatan Uriel terlalu kuat dan pikirannya terlalu lurus. Yang paling penting adalah, Uriel selalu sangat waspada terhadap para anggota Kuil. Jika Uriel dibiarkan untuk mewarisi takhta, tentu akan sangat merugikan kami."


Tapi sekarang Uriel telah meletakkan hak warisnya, dan kini hanya tinggal Azka Nouh yang tersisa untuk mewarisi takhta.


__ADS_2