
Semua bola-bola bintang yang berjatuhan, kini mengarah ke arah Leon dengan kecepatan yang lebih cepat lagi!
"SYUUUTT! SYUUTTT SYUT!"
"HUH! BRAK! CRAK! CRAK! PRAK!"
Pada saat yang bersamaan, ada semakin banyak cakar air yang besar, dan satu demi satu, bergantian untuk terus menyerang Leon!
"BURR! SRAT!"
"BLAK! BLAK! SYUTT!"
"Huh! Sepertinya mereka berusaha untuk menyeretku ke dalam lautan, dan menghancurkanku hingga berkeping-keping!" Pikir Leon.
Kini, sorot mata Leon mulai menunjukkan warna ketidaksabaran. Nyala api juga segera muncul di tangan kanannya, kemudian membakar batu-batu bintang yang sangat mengganggu itu hingga menjadi abu.
"HUH! BURRRRR! TESSHH!"
Tapi, cakar-cakar air yang besar itu sama sekali tidak bisa dibakar oleh api milik Leon. Dia pun hanya bisa menghindar, untuk menjauhkan Lina dari bahaya, supaya tidak terkena serangan cakar-cakar itu!
"BLAK! BLAK! SYUTT! BLAK! BLAK!"
Saat Leon telah mendekati retakan di mana dia memasuki tempat ini, tiba-tiba saja retakan itu dengan cepat segera menutup!
"SLAP!"
Disaat yang bersamaan, gelombang air laut segera melonjak dan membentuk sebuah cakar yang lebih besar lagi.
"BURRR!"
Tapi setelah itu, cakar air yang besar itu tiba-tiba saja terpelintir, dan berubah menjadi tali air yang panjang, dan dengan cepat segera menuju ke arah Leon, untuk menjerat pergelangan kakinya dan menyeretnya ke bawah!
"SLURRR! TAP!"
"B*ngs*t! Serangannya tidak ada habisnya!" Maki Leon dalam hatinya.
Sambil terus memegangi Lina dengan sangat erat, tiba-tiba saja Leon berbalik seratus delapan puluh derajat di udara, dan mulai menukik turun! Tangan kanannya segera berubah menjadi cakar yang sangat tajam dan segera memotong tali yang terbentuk dari air laut!
"HUH! CRASH!"
Tepat pada saat Leon memotong tali air laut, tiba-tiba saja Star muncul di belakangnya seperti hantu!
"SYUTT!"
Sepasang sayap setipis sayap Jangkrik yang tembus pandang, terbentang di belakang punggung bocah kurus itu, dan tangan kanannya segera berubah menjadi cakar yang sangat tajam!
"SRINGGG!"
Tanpa ekspresi, dia pun segera mengayunkan cakarnya, untuk menebas leher Leon!
"Ah?"
Leon yang menyadari bahaya yang datang dari arah belakangnya pun segera berbalik, dan secara naluriah ingin segera menghindar. Tapi, tali air terkutuk itu menjerat kakinya lagi!
"*Si*lan*!"
Pada saat Leon memotong tali air itu lagi, cakar Star mulai semakin mendekati leher Leon!
"Br*ngs*k! Aku sudah tidak bisa menghindar!"
Tepat pada saat ini, dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang masih tersisa, tiba-tiba saja Lina berbalik dan bergerak naik untuk memeluk leher Leon!
Saat itu juga, mata kedua orang itu pun saling bertatapan.
"CRASSHHH!"
Tapi, tak berselang lama, kedua bola mata Lina tiba-tiba saja menjadi hitam, dan dia pun segera tak sadarkan diri, akibat terkena sabetan cakar Star yang mengenai punggungnya!
"Hah??" Leon yang melihat hal ini tepat di depan matanya pun sangat terkejut, hingga membuat dia membeku untuk beberapa saat.
Sebelum Lina tak sadarkan diri, dia juga sempat mendengar seruan Leon yang sangat dekat dengan telinganya, yang seperti hampir mengoyak jantung dan paru-parunya.
"Li.. li.. linaa.."
"LINAAAA!"
Pada saat itu, sebenarnya Lina ingin memberitahu Leon, "Tidak usah khawatir.. Aku sendiri tidak terlalu takut.. Aku akan segera hidup lagi.. Kematian ini, hanyalah adegan yang lewat untuk sesaat."
Sayangnya, kini dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk berkata apa-apa lagi, dan tubuhnya telah dalam keadaan mati.
Napas, denyut nadi, detak jantung, semuanya telah hilang!
Saat itu juga, Star segera menarik kembali cakarnya. Lalu dia memandangi tangannya, yang saat ini berlumuran darah!
Darah yang lengket, masih terasa hangat di tangannya!
Kemudian, dia menatap Lina yang saat ini sudah tak bergerak.
"Dia.. Mati seperti ini.. Aku.. Aku hanya ingin menjaganya, tidak benar-benar ingin membunuhnya.. Bagaimanapun juga, selama ribuan tahun ini, hanya dialah satu-satunya yang bersedia tersenyum dan memperlakukan diriku dengan sangat baik.."
Saat Star tercengang, Leon pun segera menyerangnya dengan membabi buta, seperti orang gila!
"B*ngs*t! DUAK! PRAK!"
"Aku bersumpah, akan menghabisimu saat ini juga! B*j*ng*n!"
"BRAK! PRAK! DUAK! DUAK! PRAK!"
Setelah Leon menendang dan memukuli Star berkali-kali dengan kesetanan dan sepenuh tenaganya, api yang sangat panas pun segera mengelilingi tubuh Star dan mulai membakar pakaiannya!
"BURRRR!"
Tak perlu waktu lama, tubuh Star yang sejak tadi hanya diam tak bergerak dan sedikitpun tidak menghindari serangan Leon, segera meleleh seperti lava, dan hanya menyisakan kerangkanya yang putih.
__ADS_1
"Crakkk!"
"SYUUUTTT!"
"PYUR! PYUR! PYUR!"
Kerangka putih itu pun berjatuhan kelaut, yang kini dikelilingi oleh kegelapan lagi.
Leon tahu, kalau Star belum mati. Leon juga tahu, tidak ada apa pun di dunia ini, yang bisa membunuh Star.
Kalau tidak, pada saat itu para Dewa pasti lebih memilih untuk membinasakan Star, daripada mengasingkannya. Tidak ada cara lain lagi bagi para Dewa, selain hanya bisa mengurungnya di lautan kesombongan.
Meskipun hatinya merasa tak rela, tapi Star juga hanya bisa pasrah menerima hukumannya.
Dia di kurung di lautan kesombongan, yang membuat hidupnya tidak berbeda dengan kematian.
Pada saat ini, Leon masih terus memegangi tubuh Lina dengan sangat erat, dengan tangan kirinya.
Dan tangannya yang satunya lagi, segera berubah menjadi cakar yang sangat tajam, dan mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya, untuk segera merobek langit yang gelap!
"HIAAAHHH!"
"SRAAATT!"
Saat celah telah terbentuk, dia pun segera terbang masuk ke celah itu, bersama dengan Lina yang masih terus dia peluk dengan sangat erat!
"BLAK! BLAK! BLAK! WUSHHH!"
Begitu mereka telah keluar, celah itu pun segera tertutup lagi!
"SLAP!"
Jika saja pada saat ini Lina melihat hal ini, dia pasti akan sangat terkejut!
Karena ternyata, mereka berdua keluar dari dalam tubuh si Ubur-ubur raksasa!
"BLAK! BLAK! SYUTT! WUSHHH!"
Begitu Ubur-ubur raksasa melihat Leon keluar, dia pun segera mengayunkan semua tentakelnya dengan sangat liar, mencoba untuk meraih dan mencabik-cabik tubuh Leon!
"BLEBET! BLEBET! WUSHH!"
Jika saja Ubur-ubur raksasa itu bisa berbicara, mungkin dia akan berkata, "Dasar b*j*ng*n! Berani-beraninya kamu merobek tubuhku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Pada saat yang sama, para Orc Iblis juga telah siaga, dan beberapa penjaga pun segera menyerukan tanda bahaya darurat!
"HUWAUW! HUWAUW! HUWAUW!"
Pada detik itu juga, sosok dingin bersama dengan banyak pasukan Iblis langsung berkumpul di bawah!
"SERAAAANG!"
Di bawah komando Handi Kobra, para Orc Iblis pun segera melompat ke atas tubuh Ubur-ubur, untuk mendekati dan mulai menyerang Leon!
"WUSHH! WUSHH! HUWAUWWW!"
"HEH!"
Masih dengan membabi buta, dia pun segera menghajar para Orc Iblis yang terus menerus berdatangan dan menyerangnya!
"Aku bunuh kalian semua! Iblis-iblis lemah!"
"HUH! DUAGH! DESHH! BRAK! PRAK! PRAK!"
"AKKH!"
"AARRGH!"
Melihat para pasukannya dengan sangat mudah dihabisi oleh Leon, Handi pun mulai merasa sangat kesal!
"B*ngs*t!"
Dia segera melingkarkan tubuh Ularnya hingga membentuk seperti pegas, lalu memelantingkan dirinya, untuk bisa segera menuju ke atas tubuh si Ubur-ubur raksasa!
"TWEENGGG! WUSSHHH!"
"TAP!"
"Burung br*ngs*k!" Maki Handi saat telah menginjakkan kakinya di punggung si Ubur-ubur raksasa!
Setelah itu, dia pun segera melompat untuk menyerang Leon!
"HUP! HIAATT!"
Melihat hal ini, Leon pun berseru kepada Handi, "Majulah! Kali ini aku tidak akan main-main lagi denganmu!"
Pertarungan mereka berdua akhirnya pun terjadi lagi.
"HIAAAHH!"
Kali ini, Leon melawan Handi dengan mengeluarkan seluruh kemampuan dan kekuatannya.
"DUAGHH! BRAK! PRAK! SRET! CRAK!"
Pertarungan kedua pemilik tingkatan yang tinggi ini pun terjadi begitu dahsyat, hingga menggetarkan bumi dan memporak-porandakan area di sekitar mereka.
"CRAK! SRET! DUAGHH! UGGGHH!"
"BRAK! PRAK! HUAGHHH!"
"BLARR! DRRRTT!"
...........
__ADS_1
Saat keduanya merasa mulai kehabisan napas, mereka pun saling menjaga jarak dan sedikit saling menjauh, tapi masih tetap dalam keadaan waspada.
"Hah.. Hah.. Hah.. Ternyata kau kuat juga!" Kata Handi Kobra.
"Baru tahu? Dasar Ular buta! Hah.. Hah.. Hah.." Sahut Leon yang juga sudah terengah-engah.
Meskipun mereka berdua sama-sama kuat, tubuh mereka kini juga sama-sama dipenuhi dengan luka dan berlumuran darah, akibat dari pertarungan dahsiat mereka.
Jubah bulu berwarna merah yang Leon kenakan, kini seolah seperti menyala cerah, setelah dipenuhi dengan banyak lumuran darahnya sendiri.
Tidak peduli seberapa berbahayanya keadaan saat ini, sedikitpun Leon sama sekali tidak pernah melonggarkan tangan kirinya yang terus memeluk tubuh Lina.
"Meskipun aku harus mati di sini, aku akan tetap melindungi Lina!" Batin Leon yang saat ini sekujur tubuhnya telah dipenuhi dengan luka lebam dan robek, dan darahnya yang terus mengalir keluar.
Merasa sudah tidak ada pilihan lain lagi, mau tak mau, akhirnya Leon pun memutuskan untuk melarikan diri, berusaha segera meninggalkan wilayah klan Iblis ini, untuk segera menyelamatkan Lina.
"Br*ngs*k! Jika saja aku seorang diri, aku pasti sudah membinasakan seluruh klan kalian!" Batin Leon yang merasa sangat kesal, setelah dia mengambil keputusan untuk melarikan diri.
"BLAK! BLAK! BLAK! WUSSSHH!"
Saat melihat Leon yang terbang untuk kabur melalui celah gua yang retak akibat pertarungan mereka, saat itu juga Handi ingin segera mengejar dan menghalangi Leon.
Tapi, tiba-tiba saja dia segera membatalkan niatnya.
"Tidak usah dikejar!" Perintah Handi Kobra kepada para pasukan Iblisnya.
Sebelumnya, Leon telah banyak membunuh tentara Iblis Handi, saat berada di dalam gua bawah tanah.
Dan baru saja, lagi-lagi Leon telah banyak menghabisi tentara Iblisnya.
Handi sudah tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi tentara Iblis yang dia miliki.
Selain itu, saat ini dia juga sedang terluka, sama seperti Leon.
"Suatu saat nanti, hutang darah ini harus dibayar lunas!" Gumam Handi, sambil menatap kearah Leon yang pergi sambil terus memeluk Lina.
........ ...
Satu hari dan satu malam kemudian, Leon yang akhirnya telah berhasil keluar dari wilayah klan iblis, saat ini sedang berhenti di pinggiran sebuah danau yang berada di tempat terpencil.
Saat ini dia sedang duduk di rerumputan, sambil melihat ke bawah, pada sosok yang sedang berbaring, dan melihat luka yang ada di punggungnya.
"Sekarang darahnya sudah berhenti mengalir." Gumam Leon.
Kemudian, dengan menggunakan kulit binatang yang tipis, dia mulai menyeka luka yang ada di punggung Lina, dengan menggunakan air yang telah dia panaskan.
Tak lupa, dia juga sekalian menyeka hingga bersih tubuh Lina yang kotor penuh debu dan pasir.
Setelah selesai, kini tubuh Lina terlihat sangat bersih dan putih, sama seperti Lina sebelumnya.
"Dia tampak seperti sedang tidur.. Ya, dia baru saja tertidur.." Gumam Leon, sambil terus menatap Lina yang terbaring tak bergerak sedikitpun.
Kemudian, dia pun menundukkan kepalanya, dan mencium bibir Lina yang kecil dan tipis, kemudian berkata dengan nadanya suaranya yang terdengar begitu lembut, "Bangunlah.. Aku akan mengantarkanmu pulang.."
Namun, sedikitpun tidak ada respon balasan dari Lina.
Bibir kecilnya yang tipis dan lembut, terasa sangat dingin saat Leon menciumnya.
Merasakan ini, Leon pun segera memeluk Lina erat-erat, membenamkan wajahnya di leher Lina, sambil memanggilnya, lagi dan lagi..
"Bangun.. Lina.. Bangunlah ..."
...........
"PERINGATAN! PERINGATAN!"
"Sistem tidak mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan pada Host. Saat ini sistem akan segera memulai rencana darurat, untuk membangkitkan Host. Proses kebangkitan ini akan membutuhkan sepuluh ribu poin tugas."
"Mulai memeriksa.."
"Sistem berhasil menemukan! Host memiliki sepuluh ribu seratus sepuluh poin tugas."
"Memulai untuk registrasi.."
"Berhasil!"
"Poin tugas telah berhasil dikurangi! Kami akan segera melakukan proses kebangkitan."
"Memulai.."
Saat itu juga, arus hangat segera mengalir di sepanjang dada, hingga ke dalam tubuh, dan terus mengalir ke seluruh tubuh Lina.
Pada saat ini, sedikit demi sedikit, Lina mulai mendapatkan kesadarannya kembali.
Tak lama kemudian, terdengar suara Bubu yang berkata, "Proses kebangkitan anda telah berhasil. Selamat datang kembali. Tapi, meskipun anda telah berhasil dibangkitkan, luka di tubuh anda tidak sepenuhnya sembuh. Anda harus segera merawat diri anda sendiri dengan baik."
"Akhirnya, terima kasih atas perlindunganmu, Bubu.."
Saat ini, Lina mulai membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Kemudian, dia pun memutar bola matanya.
"Huh! Aku tidak ingin mati lagi dan lagi! Meskipun itu untuk membangkitkan kekuatan Benih Suci! Selain itu, proses kebangkitan membutuhkan sepuluh ribu poin tugas?! Sungguh sangat terlalu!" Batin Lina yang saat ini sedang sedikit mengeluh.
Sebelumnya, dia telah menyelesaikan begitu banyak tugas, dan total poin yang telah dia kumpulkan, sebanyak sepuluh ribu poin lebih sedikit. Tapi sekarang, dia telah menghabiskan hampir semua poin yang dia miliki, hanya dalam waktu sekejap saja.
Pada saat yang sama, dia juga menerima pemberitahuan tugas dari sistem.
"Tugas ini adalah tugas lini cabang yang penting. Tidak memiliki batas waktu dan tidak dapat ditinggalkan."
...........
Pada saat ini, Lina sedang berusaha mencoba untuk duduk.
Tapi sebelum dia bisa melakukan itu, dia harus berusaha dengan sangat keras, untuk bisa menggerakan anggota tubuhnya.
__ADS_1
Yang lebih parahnya lagi, setelah dia tersadar, rasa sakit dari luka yang dia derita, segera diterima oleh saraf otaknya.
"Auhhh.. Sakit sekali!"