
"Kamu diam.. Jangan bergerak-gerak terus." Perintah Lina kepada Wiro yang sedang dibersihkan lukanya.
Kali ini, Wiro lah yang tinggal dirumah. Selain untuk menjalani pengobatan pada lukanya, dia juga memiliki kewajiban untuk menjaga Lina.
Selama beberapa hari kedepan, Uriel yang bertugas turun gunung untuk menyirami kebun dan berburu.
Sedangkan, Lina.
Sudah beberapa kali dia ingin turun gunung untuk menemui Saga, tetapi luka di kaki Wiro pada kondisi yang tidak baik. Dia juga merasa khawatir, bila meninggalkan Wiro yang sedang terluka, berada sendirian di rumah. Jadi, dia hanya bisa menahan kecemasan di hatinya dan menemani Wiro di rumah untuk pemulihan.
Hari ini, setelah melihat luka Wiro yang sudah semakin membaik, pikiran Lina untuk turun gunung pun mulai muncul lagi.
Lina mendekati Wiro, bertanya dengan nada suaranya yang halus dan menatapnya dengan ramah.
"Wiro.. Bolehkah aku keluar rumah?"
Wiro tidak memiliki banyak pemikiran seperti Uriel. Ketika dia mendengar kata-kata Lina, dia pun langsung berjalan membukakan pintu untuk Lina, kemudian bertanya, "Apa kamu ingin turun gunung untuk bertemu dengan ular besar itu?"
Lina merasa malu saat mendapatkan pertanyaan yang langsung seperti itu.
Dia pun menjelaskan sambil tergagap, "A aku ingin me me menemuinya, aku sudah berjanji untuk kembali ke gua, tetapi aku melanggar janjiku, aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini kepadanya."
Wiro pun kembali bertanya, "Setelah kesalahpahaman terselesaikan, apa kamu akan membawanya pulang dan menikahinya?"
Lina buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak memiliki niatan seperti itu!"
"Karena kamu tidak ada niatan seperti itu, dia sudah tidak ada hubungannya dengan kamu lagi. Apa kamu akan tetap peduli padanya, jika dia salah paham tentangmu?"
Lina,"....."
Lina tahu apa yang dikatan Wiro itu benar, tetapi dia masih merasa sangat bersalah. Bagaimanapun juga, dialah yang telah ingkar janji, dan dia harus menebus kesalahannya.
Ekspresi terluka Saga selalu ada di pikirannya.
Saat Wiro melihat Lina yang tidak berbicara, dia langsung mengangkat kaki kanannya dan memperlihatkan bekas lukanya yang mulai sembuh.
Dia berkata dengan serius, "Jangan katakan apa-apa lagi. Aku tidak akan membiarkan dia masuk ke rumah kita setelah dia menggigitku!"
"Aku tidak mengatakan aku akan membawa dia masuk ke rumah kita, aku yang akan keluar dan menemuinya ..."
Wiro mengangkat alisnya, wajahnya kini terlihat tidak senang.
"Dia terlalu berbahaya, tidak hanya menggigitku, tapi dia juga hampir membunuhmu dengan racunnya. Jika bukan karena dia menyelamatkanmu, Uriel dan aku sudah menghabisinya! Maksudku, kami akan memotong-motong tubuhnya!"
Mendengar perkataan Wiro yang agresif, Lina hanya bisa terdiam. Tak berdaya, Lina hanya bisa menundukkan kepalanya.
Untuk sementara, dia membatalkan rencananya untuk menemui Saga. Dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan Wiro.
...........
Waktu berlalu dengan cepat, sayuran di ladang telah siap panen, dan akhirnya, pohon anggur bulu burung juga telah berbuah.
Uriel memetik semua buah bulu burung yang telah matang dan membawanya pulang.
Buah anggur bulu burung ini terlihat seperti pepaya, tetapi jauh lebih keras dan juga sangat berat.
Lina mencoba memukulnya dua kali dengan menggunakan batu, tetapi tidak terjadi apa-apa pada buahnya, bahkan bergeser pun tidak.
"PLETAK!"
"PLETAK!"
__ADS_1
"Huh! Buahnya lebih keras dari pada batu!"
Wiro yang juga kebetulan ada disebelah Lina, ikut menyaksikan kejadiannya. Spontan saja dia langsung tertawa. Sama sekali tidak bisa menahan tawanya. Dia berdiri sedikit tertunduk sambil memegang perutnya karena tertawa.
"HAHAHA! Apa kamu yakin, ingin makan makanan seperti ini? Dengan gigi putih kecilmu, bukan buahnya yang hancur, tapi gigi kecilmu."
Lina segera menatapnya dengan perasaan geram, dengan kedua mata bulatnya yang melotot kearahnya.
"Berani mengejekku lagi, kepalamu aku pukul dengan buah bulu burung ini! Kita lihat saja, kepalamu yang keras, atau buah ini yang keras?!"
Wiro tertawa lebih lepas lagi. Kali ini dia bahkan tertawa dengan posisinya yang sudah terduduk di tanah. Dia sudah bisa membayangkan, akan seperti apa wajah Lina saat mencoba mengangkat buah itu.
"HAHA! Aku tidak tahu mana yang lebih keras, kepalaku atau buah bulu burung yang lebih keras. Tapi yang aku tahu pasti, dengan kekuatanmu, kamu bahkan tidak akan bisa mengangkat buah itu. HAHAHA!"
"Kamu jangan meremehkan aku! Kita buktikan sekarang! Mana yang lebih keras!"
Segera setelah mengatakan itu, Lina memposisikan dirinya tepat di atas buah anggur bulu burung yang ada di tanah. Dan menunduk untuk mengangkatnya, dengan posisi tubuhnya yang setengah berjongkok.
"UUUH!
"UUUUUUH!"
Lina sudah mencoba sekuat tenaga untuk mengambil buah bulu burung yang ada di tanah, sampai wajahnya memerah.
Tapi Lina tetap tidak bisa mengangkatnya satu inci pun.
Wiro yang kini sudah meringkuk ditanah sambil memegangi perutnya karena tertawa, tiba-tiba berhenti tertawa dan berkata dengan nada suaranya yang dibuat berat, "Ada yang bisa saya bantu?" Setelah itu, dia pun langsung tertawa lagi.
"HAHAHA!"
Lina yang kini wajahnya sudah memerah ditambah dengan rasa geramnya, sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Hati tidak sebaik tindakan.
Lina menggertakkan giginya, tiba-tiba dia melompat dan menerkam Wiro yang masih tertawa meringkuk di tanah, memeluk lengannya dan segera menggigitnya dengan keras.
Wiro masih tetap tertawa sambil meledek Lina, "Rasanya.. Seperti kamu sedang membuat tanda cinta di tubuhku.. Rasanya geli.."
Lina, "....."
Lina, kemudian melepas gigitannya. Kali ini wajah merahnya bukan karena jengkel, tapi karena malu.
Wiro menyentuh bagian belakang kepala Lina, dengan sebelah tangannya yang terbebas dari gigitan, dan berkata dengan senyumnya yang ramah, "Apa kamu masih ingin membuat tanda lagi?"
Lina, "....."
Akhirnya, Uriel yang sedari tadi melihat kelakuan mereka pun tidak tahan melihat Lina yang sudah mulai merasa malu. Dia berinisiatif membantu Lina. Dia pun memungut buah bulu burung yang ada di tanah.
Kemudian Uriel bertanya, "Apa kamu ingin memotongnya?"
"Bisakah kamu memotongnya?" Tanya Lina yang terkejut dengan pertanyaan Uriel.
Uriel hanya tertawa kecil dan tidak mengatakan apa-apa.
Tangan kanannya berubah menjadi cakar harimau, dan dengan cakarnya yang tajam, dia menggores dengan lembut buah bulu burung yang keras, seperti membelah pepaya.
Kedua tangan Lina pun segera menutupi kedua pipinya, dengan kedua mata bulatnya yang melebar dan berbinar menatap ke arah Uriel, sambil berkata, "Betapa kuatnya!"
Uriel merubah kembali cakarnya menjadi tangan manusia. Dia juga merasa sangat bahagia mendapat pujian dari gadis kecilnya.
Wiro yang melihat mereka pun mendengus.
__ADS_1
Wajahnya terlihat menghina, tetapi diam-diam di dalam hatinya menyesal. Kini dia berhenti berbicara dan langsung memotong buah bulu burung supaya dia bisa dipuja dan dipuji oleh Lina.
Setelah buah bulu burung dipotong, ada daging buah berwarna putih dan ditengahnya ada beberapa biji berwarna putih susu.
Lina mencungkil semua biji pada buah bulu burung, kemudian dia cuci dan menyimpannya dalam kantong kulit.
Daging buah itu sangat renyah, tetapi rasanya menyegarkan. Lina menyisakan beberapa buah itu untuk dimakan mentah, dan sisanya diambil daging buahnya, kemudian dia jemur di puncak gunung hingga kering.
Dia meminta Uriel untuk menggali batu, dan membentuknya seperti penggilingan, dan kemudian meletakkan daging buah bulu burung kering ke dalam penggilingan tersebut.
Lina membiarkan Uriel untuk menggilingnya beberapa kali, hingga akhirnya menjadi bubuk putih halus.
Lina kemudian mencicipi bubuk putih itu.
"Ini benar-benar tepung."
Lina merasa sangat senang. Malam itu juga, dia mencampur semua tepung menjadi adonan, menggulungnya, memotong-motongnya dan memipihkannya dengan kayu untuk membuat kulit martabak. Kemudian dia mencincang daging, sayur, serta dia beri bumbu dan membungkusnya dengan adonan yang sudah dia pipihkan.
Awalnya, cuma dia sendiri yang membuat martabak, Uriel dan Wiro hanya menyaksikan. Setelah Lina membuat dua martabak, Uriel dan Wiro ikut belajar membuat martabak.
Martabak hasil buatan Uriel sangat cantik, bentuknya simetris dan sangat standar.
Lina yang melihatnya pun sangat mengagumi hasilnya, "Waah. Bentuknya sangat cantik, sama persis dengan martabak yang dulu sering aku makan."
Akan tetapi..
Berbeda dengan Wiro. Karena dia suka makan daging, jadi dia mencincang banyak isian daging dan dia masukkan ke dalam beberapa kulit martabak. Kemudian dia letakkan di atas meja.
Dan hasilnya..
Semua martabak hasil buatannya, berbentuk bulat dan menggembung. Lebih mirip dengan bakpao.
Selama beberapa saat Lina terdiam, menatapnya dengan matanya yang terbuka lebar, dan mulutnya yang menganga.
"Wiro.. Sepertinya martabakmu kelebihan berat badan!"
Bukannya Wiro malu, tetapi dia malah bangga. Dengan santai dia berkata, "Martabakku jantan. Tentu saja lebih besar."
"Hah?? Baru kali ini aku mendengar ada martabak laki-laki dan perempuan." Ucap Lina yang tidak paham dengan pikiran Orc serigala ini.
"Bukankah tadi aku yang bilang? Gadis kecil b*d*h."
"Kamu yang b*d*h!" Balas Lina sambil melotot kearah Wiro, siap melanjutkan perkelahian mereka yang terhenti.
"Lina! Di wajahmu ada kotoran!" Kata Wiro yang tiba-tiba, dengan nada suara seriusnya sambil menunjuk ke arah wajah Lina.
Dengan cepat Lina menyeka wajahnya, hasilnya, tangannya yang penuh tepung, semuanya tergosok ke wajahnya.
Wiro pun tertawa sangat keras. Dan meledek Lina dengan suaranya yang terdengar berat.
"Kan. Sudah tertipu. Bagaimana kabarmu? Sudahkah anda semakin b*d*h hari ini?"
Mendengar itu, Lina menjadi sangat frustrasi. Dia segera bergegas ke arah Wiro, dan mengusapkan semua tepung yang ada dikedua tangannya ke wajah Wiro.
Wiro hanya membalas dengan cara memeluk Lina, dan menggosokkan tepung yang ada di wajahnya ke dadanya.
Lina berseru, "Wiro! Tidak boleh nakal!"
Sementara Uriel, dia sedang membuat martabak dengan santai.
Dia melihat ke arah Lina dan Wiro yang sedang berkelahi, sambil menghela nafasnya dengan lembut dan tersenyum ikhlas.
__ADS_1