Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 40 - Mengumpulkan Banyak Benih


__ADS_3

"Wiro Sanger! Kenapa kamu tidak bisa lari lebih cepat lagi?!"


"Wiro Sanger! Kenapa kamu tidak bisa menyelamatkannya?!"


"Kenapa kamu sangat tidak berguna?!"


"Wiro!!"


Saat ini, batinnya selalu gelisah dan selalu menyalahkan dan membenci dirinya sendiri.


Setiap kali Wiro menutup matanya, bayangan kejadian ketika Lina jatuh dari tebing selalu muncul.


Adapun dengan Avi, dia kini sudah dijebloskan ke dalam penjara, sebagai pelaku yang menyebabkan Lina jatuh dari tebing.


"Kalian tidak bisa melakukan ini padaku," teriaknya dari dalam sel, dengan perutnya yang buncit. "Aku ini seorang wanita dan aku juga sedang mengandung. Jika sesuatu terjadi padaku, sukuku tidak akan tinggal diam!"


Hampir seluruh Orc di gunung batu, sedang sibuk mencari keberadaan Lina dan tidak ada yang memperhatikan dirinya.


Bahkan lebih buruknya lagi, tak ada satupun yang mengantarkan makanan dan minuman untuknya.


Selama tiga hari ini, Avi sudah sangat kelaparan.


Saat dia hampir pingsan karena kelaparan, dia melihat Wiro berjalan datang mendekatinya.


Dia tampak bahagia, dia berjuang untuk bangun dan berkata dengan suaranya yang kini sudah terdengar lemah karena kelaparan, "Kamu ke sini untuk mengeluarkanku kan? Keluarkan aku dari sini.. Aku sangat lapar.. Perutku terasa tidak enak.. Aku ingin makan daging.."


Wiro menatapnya dengan dingin.


"Kau sudah membunuh pasanganku. Aku datang kesini untuk membuatmu membayarnya. Nyawa dibayar nyawa."


Begitu dia mendengar ini, Avi berteriak ngeri, "Kematian Lina tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak menyakitinya. Dia jatuh dari tebing karena ulahnya sendiri! Salahkan si sialan itu."


Mendengar kata-kata Avi, Wiro segera mencekik lehernya.


"Kau memang benar-benar pantas mati!"


Aura membunuh yang sangat ganas, terpancar dari seluruh tubuhnya. Matanya seperti pedang tajam yang sangat beracun, yang membuat tubuh Avi bergetar ketakutan. Cairan berwarna kekuningan dan berbau pesing, mengalir turun dari kakinya.


Baunya menyebar ke seluruh ruangan dalam penjara.


Dia tidak peduli dengan rasa malunya dan terus memohon ampunan, "Maafkan aku. Jangan bunuh aku. Aku perempuan. Kamu tidak bisa mem ..." 


"KRETEK!"


Sebelum dia selesai berbicara, dia bisa mendengar suara tulang yang patah.


Avi membuka matanya lebar-lebar tidak bisa mempercayainya. Sampai Ruhnya tercabut dari raganya, matanya tetap terbelalak lebar karena tidak percaya.


Wiro telah mematahkan lehernya.


Kali ini, Wiro benar-benar membunuh Avi Zoge.


Karena kelangkaan perempuan, tidak peduli seberapa serius kejahatan yang sudah mereka lakukan, mereka tidak bisa dieksekusi. Mereka hanya dipenjara tapi dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa sampai seumur hidup.

__ADS_1


Tapi kini Wiro sudah membunuh seorang perempuan tanpa ampun.


Tubuhnya yang dilemparkan ke tanah begitu saja oleh Wiro, kembali ke bentuk aslinya Ayam Pegar, dengan matanya yang masih tetap terbuka lebar.


Kematiannya tidak dalam keadaan yang tenang.


Tanpa ragu, Wiro segera berbalik untuk pergi. Setelah dia melewati Rei, dengan santai dia memerintahkan kepadanya, "Bakar tubuhnya menjadi barbekyu, kemudian kirimkan kepada Josh dan Heli Belang. Biar mereka mencicipi seperti apa rasanya."


Rei menjawab singkat, "Ya." 


Semenjak terakhir kali Josh mencari masalah di rumah Lina, Wiro telah menghentikan jatah makanan untuknya dan Heli Belang. Jika mereka ingin makan, mereka harus mencari makanan sendiri.


Tapi sekarang sedang musim dingin dan bersalju, mereka tidak bisa berburu sama sekali. Mereka hanya bisa bersembunyi di dalam gua dan memakan beberapa makanan kering yang suku ayam pegar bawa.


Ketika Rei muncul di depannya, dengan membawa beberapa potong besar daging panggang, air liur Josh segera menetes.


Sepertinya, Josh dan Heli Belang belum pernah makan barbekyu.


Josh segera mengambil barbekyu itu, memasukkan beberapa daging sekaligus kedalam mulutnya hingga penuh terisi, baru kemudian dia mengunyahnya. Mulutnya juga melontarkan pujian, "Ewnyak!" Dia melanjutkan mengunyah lima kali dan berbicara lagi, "Dagingnya juga sangat empuk."


Heli Belang juga mencoba sepotong barbekyu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Tapi, setelah mengunyahnya dua kali, dia segera berhenti.


Dia menundukkan kepalanya dan melihat ke bawah, ke arah di mana barbekyu itu mereka letakkan. Sepertinya, dia sedang merenungi tentang barbekyu di depannya itu.


Kemudian Rei bertanya, "Apakah dukun Heli tidak suka dengan barbekyu ini?"


Heli Belang memandang Rei dan kemudian tertawa.


"Tidak, aku sangat menyukainya."


"Karena kalian menyukainya, silahkan dihabiskan." Ucap Rei kepada Josh dan Heli Belang.


Setelah Rei pergi, Josh masih terus mengambil dan memakan daging itu. Dia sangat lapar, sehingga tidak berpikir daging apa yang sedang dia makan.


Adapun dengan Heli Belang, dia adalah pria yang pernah memakan daging Orc, jadi dia tahu daging apa itu pada gigitan pertamanya.


Tapi itu bukan masalah besar baginya.


Lagi pula, ini bukan yang pertama kali baginya memakan daging Orc. Dia mengambil sepotong daging panggang lagi dan lanjut memakannya.


"Daging Orc yang segar seperti ini, jarang bisa didapatkan. Mendapatkan makanan lezat seperti ini, sudah pasti aku akan memakannya selagi ada."


...........


Tidak lama setelah Uriel pergi.


Wiro bersama dengan beberapa pria, mereka semua menunggangi kuda menuju ke hutan, untuk melanjutkan mencari Lina.


Pada saat ini, Lina sedang duduk di punggung ular piton. Dia terbungkus kulit binatang yang tebal dan matanya terbuka lebar untuk mencari semua jenis benih yang ada di sekitarnya.


"Ada banyak tanaman di hutan dan benih juga ada di mana-mana. Namun sayangnya, karena salju yang tebal, sebagian besar benih telah membeku dan kehilangan tanda-tanda kehidupan dan sudah tidak ada gunanya jika ku ambil."


Butuh tujuh hari baginya untuk menemukan dua ratus tujuh puluh delapan benih.

__ADS_1


"Masih kurang dua puluh dua benih lagi!" Gumam Lina.


Saga menundukkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya yang merah ke arah Lina. 


Lina melihat Saga yang menjulurkan lidah kehadapannya, dia melihat ada dua buah bulat dilidah Ular itu.


"Di mana kamu menemukan buah-buahan ini?" Tanyanya heran.


Saga meletakkan buah itu ke telapak tangan Lina, kemudian berkata, "Tadi aku memetiknya di pinggir jalan, hanya ada dua. Kalau kamu masih mau, aku akan mencarikannya."


Lina mengambil kedua buah harum segar itu. Buah jenis ini tidak hanya renyah dan enak, tetapi juga memiliki efek hemostasis dan anti-inflamasi. Itu adalah bahan obat yang sangat langka.


"Kalau nanti kamu melihat buah seperti ini lagi, beritahu aku. Aku akan mencari biji buah ini di sekitarnya." Katanya.


Jika dia bisa menemukan biji buahnya, dia akan bisa menanam banyak buah ini ke depannya.


"Ok." Jawab Saga.


Ular itu kemudian mendekatkan kepalanya ke depan Lina, menunggu untuk dibelai.


Melihat apa yang dilakukan Ular itu, Lina tertawa dan menyentuh kepalanya.


"Kenapa kulitmu terasa begitu lengket?"


Kelakuannya tidak seperti ular pada umumnya, dia seperti kucing peliharaan, yang suka menempel pada orang.


Piton itu menggerak-nggerakan kepalanya ke telapak tangan Lina. Pupil vertikal hitamnya sedikit menyempit, sepertinya dia sangat menyukainya.


Melihat langit mulai gelap, ular piton itu kembali ke gua bersama dengan Lina.


Saga kembali ke bentuk manusia, kemudian dia bergegas untuk mencuci bersih hasil buruannya. Setelah selesai, dia memanggang daging-daging itu di atas api.


Dari dalam tasnya, Lina mengeluarkan benih yang dia temukan hari ini, menyatukannya dengan yang sudah dia dapatkan sebelumnya dan menghitungnya lagi dengan teliti.


"Sekarang sudah ada dua ratus sembilan puluh benih. Masih kurang sepuluh lagi dan akan selesai."


Hatinya merasa senang.


Lina kemudian membungkus biji-bijian itu dengan kulit binatang. Tiba-tiba, dia merasa gatal di hidungnya dan tidak bisa menahan bersin.


"HATCIM!!"


Dia menggosok hidungnya sambil bergumam, "Siapa sih yang membicarakanku?!"


Setelah merasa cukup makan dan minum, Saga segera berubah menjadi ular piton raksasa. Dia melingkarkan tubuhnya di tengah-tengah pintu masuk gua, untuk menghalangi angin dan salju masuk ke dalam gua. Lina juga sudah masuk dan meringkuk dalam gulungan kulit binatang.


Dalam kebingungannya, dia merasakan sesuatu yang sedang menjilati wajahnya.


Dia kemudian membuka matanya, melihat kepala ular besar sedang ada di dekatnya, Lina kemudian berkata dengan lemah, "Jangan ganggu. Kepalaku sakit. Aku perlu istirahat."


Saat lidahnya menyapu wajah gadis kecil itu, Saga bisa merasakan kalau suhu tubuh gadis itu tidak normal.


Wajah gadis itu terlihat sedang mengkerut, seperti sedang menahan sesuatu, juga terlihat pucat, sepucat salju di luar.

__ADS_1


"Lina pasti sedang sakit!"


__ADS_2