
Suatu kebetulan, Heli Belang bisa ditangkap hidup-hidup.
Saat melihat wajah Heli Belang yang jelek, Leon merasakan panas di matanya dan ingin segera menghabisi Heli Belang.
Tapi Uriel segera menghentikan apa yang akan Leon lakukan.
"Kita bawa dia kembali ke Gunung Batu dulu, setelah itu kamu bisa mencari informasi tentang Kuil Bulan Gelap dari mulutnya."
Agar Heli Belang tidak melarikan diri lagi, Uriel langsung mematahkan tangan dan kaki Heli Belang.
"KRAK! KRAK!"
"AARGGHH!"
Heli Belang pun menyeringai kesakitan, dan wajahnya yang jelek, kini menjadi semakin jelek dan menjijikkan.
Setelah itu Uriel mengeluarkan tali rami dari dalam ruang penyimpanan dan mengikat Heli Belang dengan erat.
Saat Uriel sedang berurusan dengan Heli Belang, Lina berjalan mendekat ke sisi tambang.
Dia melihat ke arah makhluk besar yang ada di depannya, dan merasa kalau bentuk fisiknya tampak seperti Trenggiling, tapi ukuran tubuhnya puluhan kali lebih besar dari Trenggiling normal.
Saat melihat Lina yang mendekatinya, Trenggiling itu pun tiba-tiba saja membuka mulutnya dan bertanya, "Gadis kecil, aku bisa mencium kalau kamu memiliki nafas Pohon Ilahi. Apa hubungan antara kamu dan keluarga Pohon Suci?"
Mendengar apa yang Trenggiling itu tanyakan, membuat Lina tertegun dan balik bertanya, "Keluarga Pohon Suci? Keluarga apa itu?"
"Mereka adalah suku yang telah menjaga Pohon Suci selama beberapa generasi, mereka juga mengaku sebagai sang suci," setelah berkata seperti itu, Trenggiling itu pun melirik Lina dan lanjut berkata lagi, "Tapi jika dilihat dari penampilanmu yang konyol, sepertinya kamu bukan dari klan mereka. Tapi kenapa kamu bisa memiliki bau dari Pohon Ilahi?"
Tidak tahu kapan Leon datang, tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum, "Itu karena di dalam tubuh gadis ini ada Benih Suci."
Mendengar itu, trenggiling itu pun sedikit terkejut dan berkata, "Bukankah Pohon Ilahi telah dihancurkan? Bagaimana mungkin masih ada Benih Suci yang tersisa?"
"Kamu tanyakan saja padanya langsung." Jawab Leon.
Setelah berkata seperti itu, Leon dan Trenggiling itu pun segera menatap Lina secara bersamaan. Lina yang gugup karena di tatap oleh dua orang pun berkata, "Aku.. Aku tidak bisa mengatakan soal itu, itu rahasiaku."
Lina berkata dengan sangat jelas, Trenggiling dan Leon tentu sangat bisa memahaminya.
Trenggiling itu pun memelankan suaranya dan berkata, "Tidak peduli apa alasannya, karena kamu bisa mendapatkan Benih Suci, itu berarti memang sudah takdirmu. Aku harap, kamu bisa mempergunakannya dengan baik."
Lina pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Aku pasti akan melakukannya."
Pada saat ini, Leon dan Uriel bekerja sama untuk menggali lubang tambang.
"Ternyata tubuhnya jauh lebih besar dari yang aku bayangkan. Tubuhnya panjang, mungkin lebih dari sepuluh meter. Selama dia bergerak sedikit saja, tanahnya pasti akan bergetar. Kulitnya yang berwarna hijau tua, ditutupi dengan sisiknya yang tebal, yang membuatnya terlihat seperti perisai yang sangat kuat. Baru pertama kali ini aku melihat Trenggiling sebesar itu."
Sambil berpikir seperti itu, Lina tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Trenggiling raksasa itu.
Sejak Lina datang ke dunia ini, kini pengetahuannya benar-benar telah bertambah banyak!
Setelah memperkenalkan dirinya, kini Lina tahu nama dari Trenggiling itu adalah, Wisnu.
__ADS_1
"Apakah anda tidak bisa merubah wujud anda kembali ke bentuk Orc?" Tanya Lina kepada Wisnu.
Selama dia dalam wujud Orcnya, Wisnu pasti tidak akan terjebak di tambang seperti sekarang ini.
Mendengar apa yang Lina tanyakan, Wisnu pun menjadi sedikit terkejut.
"Ah!"
Saat Lina melihat ekspresi Wisnu, dia pun bertanya lagi dengan ragu, "Apa.. anda tidak terpikirkan tentang hal ini?"
Dalam kebingungannya, Wisnu pun mencoba untuk menjawabnya, "Itu.. Aku.."
Melihat Wisnu yang bertingkah kebingungan, Leon tidak bisa lagi menahan tawanya, "Hahaha.. Apa karena kamu sudah tidur selama bertahun-tahun, yang telah membuatmu kehilangan akal sehat dan bahkan melupakan hal-hal kecil seperti itu?"
Wisnu menatap Leon dengan dingin dan berkata, "Kenapa kamu masih saja selalu berisik?"
"Aku bisa tertawa selama setahun.. Hahaha!"
Wisnu, "....."
Melihat interaksi antara Leon dan Wisnu, Lina pun bertanya, "Apakah anda dan Leon saling mengenal?"
Mendengar Lina yang bertanya, Wisnu pun menatap Leon sambil berkata dengan nada suaranya yang terdengar dingin, "Huh! Aku bertemu dengannya beberapa kali, bertahun-tahun yang lalu."
"Bertahun-tahun yang lalu? Kedengarannya seperti sudah lama sekali.." Ucap Lina.
"Ya, memang sudah lama sekali." Kata Wisnu.
Hal itu hampir menjadi misteri di benak Lina.
"Pria Trenggiling di depanku ini sepertinya sudah lama mengenal Leon. Mungkin dia tahu usia Leon."
Setelah berpikir seperti itu, Lina pun bertanya kepada Wisnu.
"Aku tidak ingat berapa umurnya," jawab Wisnu singkat.
Lina pun bertanya lagi dengan gugup, "Apa.. apakah anda bisa mengingat-ingatnya lagi?"
Wisnu, "....."
Wisnu pun mencoba untuk mengingat-ingatnya kembali.
"Hhh.. Umurku sudah terlalu tua untuk bisa mengingat tentang hal seperti itu."
Tapi Lina masih terus bertanya, "Apakah anda juga mengetahui tentang perempuan yang disukai oleh Leon?"
Tapi Wisnu malah balik bertanya, "Apakah dia punya wanita yang dia sukai? Aku belum pernah mendengar tentang hal itu.."
"Dia pernah memberitahuku, kalau ada perempuan yang dia sukai." Ucap Lina.
Mendengar itu, Wisnu pun berkata dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti tidak perduli, tentang Leon dan perempuan yang Leon sukai, "Oh.. Kalau begitu, wanita yang dia sukai pasti sangat cantik."
__ADS_1
"Bisa jadi. Tapi.. Bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Lina karena sedikit heran.
"Leon selalu berpikir, kalau dia adalah Orc paling tampan dan cantik di dunia ini. Dia pernah berkata padaku, kalau wanita yang dia sukai, harus lah lebih cantik dari Leon, jika memang tidak ada, Leon mungkin akan mulai untuk menyukai dirinya sendiri!" Ucap Wisnu.
Saat mendengar itu, Lina pun berkeringat dingin sambil berpikir, "Percaya diri berlebihan yang mengerikan.."
Pada saat ini, Uriel datang dan berkata kepada Lina, "Aku baru saja memeriksa tambang ini. Lubangnya sangat dalam. Aku berencana untuk turun dan melihat-lihat dulu."
Tanpa menunggu Lina untuk berbicara dengan Uriel, Wisnu lah yang pertama membuka mulutnya untuk bertanya, "Apa kamu ingin mengambil Kristal milikku?"
"Ya," jawab Uriel langsung mengakuinya.
"Tidak, kamu tidak boleh menggali Kristal yang ada di sini." Ucap Wisnu dengan sangat serius.
Uriel dan Lina pun tercengang, saat mendengar nada bicara Wisnu yang terdengar sangat serius.
Bahkan Leon pun kini memandang Wisnu.
"Jika tidak ada alasan khusus, dia pasti tidak akan mengatakan kata-kata seperti itu."
Setelah berpikir seperti itu, Leon yang sangat mengenali Wisnu pun bertanya, "Kenapa tidak boleh digali?"
Wisnu pun berkata dengan serius dan mantap, "Gunung ini adalah gunung berapi aktif, bagian bawah gunung ini penuh dengan magma, semua tekanan magma itu ditahan oleh Urat Bijih Kristal. Selama bertahun-tahun, gunung berapi ini belum pernah meletus. Jika tiba-tiba saja kalian menggali Urat Bijih Kristal yang ada di sini dan gunung berapinya meletus, area sepanjang beberapa ribu mil dari sini, pasti akan dibakar menjadi abu."
Mendengar itu, Lina pun segera melihat keatas puncak gunung.
"Aku tidak menyangka, kalau ternyata gunung yang menjulang tinggi ini adalah gunung berapi yang aktif."
Pada saat ini, Leon bertanya sambil tersenyum, "Apa karena alasan inilah kamu telah berjaga di sini sepanjang waktu, dan tidak membolehkan orang lain menambang Kristal di sini?"
Tapi Wisnu tidak menjawab Ya atau pun Tidak, dia malah berkata, "Di sini terasa hangat. Aku bisa tidur dengan sangat nyaman di sini. Lagipula, aku sudah tidak ingin pindah tempat. Aku harap kalian melepaskan Kristal yang ada di sini," lalu setelah jeda sejenak, Wisnu menambahkan, "Untuk menebus hal itu, aku akan memberimu hadiah kecil."
Lalu Wisnu mengulurkan tangan Trenggilingnya dan mengambil batu hitam dari lubang yang ada di dalam tambang, dan meletakkannya di depan Uriel.
Saat melihat batu itu, seketika itu juga mata Uriel dan Leon segera berubah.
Hanya Lina yang tidak mengerti apa yang istimewa dari batu itu. Dia pun segera bertanya karena rasa ingin tahunya, "Batu apa ini?"
Uriel menjelaskan, "Ini adalah esensi Kristal hitam. Esensi dari Kristal hitam, mengandung energi yang tinggi. Esensi ini hanya bisa terbentuk selama puluhan ribu tahun, dan area tambang Kristal besar seperti ini, adalah tempat yang sangat memungkinkan untuk terbentuknya esensi seperti batu ini."
"Kedengarannya sangat bagus!"
Setelah berpikir seperti itu, Lina pun mengedipkan matanya dan berkata, "Tuan Wisnu, apakah anda ingin memberikan esensi Kristal ini kepada kami?"
Wisnu pun menjawabnya, "Ya," tapi kemudian dia segera balik bertanya, "Apa tadi kamu memanggilku dengan sebutan tuan?"
Lina pun menjawabnya, "Tuan adalah semacam gelar kehormatan."
Mendengar apa yang Lina katakan, Wisnu pun menganggukan kepalanya.
"Yah, aku suka nama itu."
__ADS_1