Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 206 - Anu


__ADS_3

Melihat Lina yang sedang bersedih, membuat Kubucil juga ikut-ikutan sedih. Dia menundukkan kepalanya yang berbentuk kelopak bunga, lalu mengusap punggung tangan Leon, dan berkata sambil menangis sedih, "Ayah.."


Mendapat sentuhan dari kubucil, Leon pun balas menyentuh kelopak bunga Kubucil, sambil berkata, "Setelah ayah pergi, kamu harus menggantikanku untuk selalu menjaga ibumu dengan baik.."


Mendengar apa yang baru saja Leon katakan, Lina pun segera menatap kearah Leon dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, dan tangannya yang kecil memegang lengan jubah Leon dengan erat.


"Sebelum aku pergi, maukah kamu berjanji satu hal padaku?" Tanya Leon pada Lina, dengan suranya yang terdengar lemah dan terdengar seperti sedang memohon.


Lina pun menganggukkan kepalanya dengan yakin, kemudian berkata, "Katakan saja.. Aku berjanji padamu.."


"Bisakah jika aku menjadi pasanganmu? Aku tidak ingin mati dalam keadaanku yang masih sendiri.." Pinta Leon dengan lemah dan sungguh-sungguh.


Mendengar permintaan Leon yang sedang dalam keadaan sekarat, sedikitpun Lina tidak memikirkan hal yang macam-macam. Dia pun menjawab permintaan Leon, dengan masih berderai air mata, "Bisa.."


"Benarkah? Tidakkah menurutmu penampilanku ini terlalu jelek? Apa suatu saat nanti kamu akan menyesalinya?" Tanya Leon sambil menatap mata Lina dalam-dalam.


"Tidak!" Jawab Lina sambil menggenggam lengan jubah Leon lebih erat lagi, dan dengan kedua matanya yang penuh dengan air mata menatap Leon, lalu lanjut berkata lagi, "Aku tidak akan pernah menyesalinya!"


Mendengar apa yang baru saja Lina katakan, Leon pun tersenyum bahagia.


Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kalung yang berbandulkan sebuah bulu berwarna merah seukuran ibu jari Orc dewasa.


Warna merah pada bulu itu sangat cerah, bahkan kilauan merahnya bercampur dengan kilauan warna emas yang menyilaukan.


"Saat laki-laki dari klan Bulu telah mendapatkan perempuan yang dia sukai, dia akan memberikan bulu yang paling indah dari tubuhnya, kepada perempuan yang dia sukai.." Kata Leon. Kemudian dengan tangannya yang bergetar, dia meletakkan Kalung Bulu itu di tangan Lina, dan lanjut berkata lagi, "Kamu tidak akan pernah membuang kalung pemberianku ini, kan?"


Ini sudah yang ketiga kalinya, Lina menerima bulu yang dipersembahkan oleh Leon.


Yang pertama dan kedua di tolak mentah-mentah oleh Lina, dengan sikapnya yang seolah sangat jijik dengan bulu milik Leon.


Itu karena saat itu dia tidak tahu, tentang kebiasaan Orc jantan dari klan Bulu yang akan meletakkan bulu mereka di kediaman si betina yang mereka sukai, yang juga mengandung arti dan tanda bahwa si betina telah memiliki kekasih.


Saat Lina menatap Kalung Bulu berwarna merah cerah di tangannya, dia sudah tidak bisa menahan air matanya yang kini semakin lebih deras mengalir.


"Maaf.. Aku pikir waktu itu kamu benar-benar menyukai orang lain.. Dan semua kata-kata yang selalu kamu katakan, aku pikir semua itu hanyalah candaan.. Maafkan aku.." Kata Lina sambil sesenggukan menangis, dengan air matanya yang kini mengalir deras.


"Tidak apa-apa.." Kata Leon sambil tersenyum, dan wajahnya yang terlihat sangat pucat. Kemudian dia lanjut berkata lagi, "Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri seperti itu.. Bukan kamu yang salah.. Akulah yang selalu dengan sengaja membuatnya menjadi seperti candaan, agar kamu salah paham dengan apa yang aku katakan.."


Setelah selesai berkata seperti itu, dia pun mengerutkan alisnya, seperti sedang menahan rasa sakit di tubuhnya yang teramat sangat.


Melihat ekspresi wajah Leon yang seperti itu, Lina pun segera memegang bahu Leon sambil bertanya cemas, "Leon.. Apa kamu sedang merasakan sakit? Tahanlah sebentar, akan aku buatkan sup obat untukmu.."


Melihat Lina yang akan beranjak pergi membuatkan obat untuknya, Leon pun segera meraih tangan Lina dan berkata, "Jangan kemana-mana.. Tetaplah di sini.. Aku ingin selalu bersamamu."


"Tapi kam ..."


Sebelum Lina menyelesaikan kalimatnya, Leon lebih dulu menyelanya, "Aku hanya ingin berduaan bersamamu, sebelum aku mati.. Aku mohon.. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri, oke?"


Sosok Leon yang Lina tahu dan kenal, adalah sosok yang keras, sangat kuat dan sangat pemberani, dan tak pernah sekalipun memohon belas kasihan kepada siapa pun.

__ADS_1


Tapi saat ini, dia sedang memohon kepada Lina. Hal inilah yang membuat Lina menjadi sangat tertekan, dan menganggukkan kepalanya, untuk menyetujui permintaan Leon yang sedang sekarat, "Oke, aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan tetap di sini bersamamu."


"Selama kamu ada di sisiku, aku akan mati tanpa ada penyesalan.." Kata Leon sambil tersenyum bahagia.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi.." Kata Lina dengan sedih.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan itu lagi.." Kata Leon. Lalu dia lanjut berkata lagi dengan mengubah topik pembicaraan, "Menurut kebiasaan di klan Bulu, setelah betina mau menerima bulu pemberian dari burung jantan, itu tandanya betina itu telah setuju menjadikan si burung jantan sebagai pasangannya, dan balas memberikan hadiah juga kepada si burung jantan.. Lalu.. Apa hadiah yang akan kamu berikan untukku?" Tanya Leon dengan lemah, dengan sorot matanya yang penuh harap, seperti anak kecil yang sedang menantikan hadiah dari orang tuanya.


Lina, "....."


"Di mana aku bisa mencari hadiah untuknya?" Pikir Lina.


Karena kebiasaan Lina yang terkadang menyentuh cincin di jari manisnya saat dia sedang berpikir, tiba-tiba saja dia teringat kalau dia masih mempunyai satu cincin ikatan yang belum ada pemiliknya.


"Bukankah kamu selalu menginginkan cincin ini? Aku berikan cincin ini kepadamu, sebagai hadiah dariku.." Kata Lina, sambil menyodorkan Cincin Ikatan tanpa pemilik kepada Leon.


Melihat cincin yang Lina sodorkan kepadanya, dengan susah payah Leon mengangkat tangan kanannya, kemudian berkata, "Bisakah kamu membantuku memakaikan cincin itu?"


Kemudian, tangan kiri Lina pun segera memegang jari manis Leon, dan tangan kanannya dengan hati-hati memakaikan Cincin Ikatan untuk Leon.


Setelah Cincin Ikatan terpasang di jari manis Leon, dengan sendirinya cincin itu menyesuaikan ukuran dengan lingkar jarinya, dan melingkar dengan kuat di jari manisnya. Dan kini, jari Leon yang kurus, terlihat semakin ramping dan indah.


Melihat cincin yang kini sudah melingkar di jarinya, Leon pun tersenyum bahagia sambil berkata,"Cincin yang sangat indah.. Aku sangat menyukainya.." Setelah berkata seperti itu, dia menatap Lina dan bertanya dengan ragu-ragu, "Setelah terpasang dijariku, cincin ini sudah tidak bisa lagi aku lepaskan.. Apa kelak kamu tidak akan pernah menyesali hal ini?"


Mendengar apa yang Leon tanyakan, membuat Lina merasa tidak mengerti.


"Kenapa Leon selalu menanyakan pertanyaan seperti ini berulang-ulang kali? Seolah-olah dia merasa khawatir, jika suatu saat nanti aku akan menyesal."


"Lalu.. Apa kamu mencintaiku?" Tanya Leon dengan suaranya yang terdengar lemah.


Mendengar pertanyaan Leon yang seperti ini, spontan saja membuat Lina menatap Leon.


"Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan seperti ini.. Sekarang, apa yang harus aku jawab?" Pikir Lina.


"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Leon, dan kedua sorot matanya yang kini terlihat seperti sedang kecewa. Lalu dia bertanya lagi, "Apa kamu menolak untuk menjawab pertanyaanku, karena kamu tidak menyukaiku?"


"Bukannya aku tidak suka.." Jawab Lina.


Mendengar apa yang baru saja Lina katakan, saat itu juga membuat mata Leon berbinar, kemudian dia buru-buru bertanya lagi, "Apa itu artinya kamu menyukai aku?"


"Aku tidak tahu.." Jawab Lina dengan kikuk, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia lanjut berkata lagi, "Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu.. Aku juga tidak pernah memikirkan hal seperti ini.."


Sebenarnya, Lina tidak ingin menikah dengan Leon. Dan juga, sekalipun tidak pernah terpikirkan olehnya, kalau dia akan berpasangan dengan Leon.


Meskipun terkadang sesekali dia merasakan jantungnya berdebar-debar saat bersama dengan Leon, tapi debaran itu hanyalah sesaat, dan akan kembali normal setelah semuanya berlalu.


Oleh karena itulah, Lina tidak bisa menjawab pertanyaan Leon.


Jika Lina mengatakan "dia menyukainya", Lina berpikiran kalau mungkin hal itu akan membuat keadaan menjadi sedikit buruk. Tapi jika Lina mengatakan "tidak menyukainya", itu juga belum cukup, bagaimanapun juga, setelah semua yang Lina lalui bersama dengan Leon, Lina benar-benar telah tergerak hatinya, dan dia juga tidak ingin menipu dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah menatap Lina yang terlihat bingung dan seperti enggan, Leon pun menundukkan kepalanya dengan rasa kecewa.


Sedangkan Lina yang melihat wajah Leon yang kini semakin pucat, dan merasa kalau kapan saja Leon bisa jatuh pingsan, hal inilah yang membuat Lina menjadi semakin gugup di dalam hatinya.


"Tidak peduli perasaan seperti apa yang aku miliki untuk Leon, aku tetap tidak bisa menerima kematian Leon.." Batin Lina.


Lina yang saat ini tidak bisa kemana-mana, memutuskan untuk bertanya pada Bubu, dengan mempertaruhkan bahaya bagi dirinya sendiri, dengan adanya Leon yang mungkin akan mengetahui tentang Bubu.


Lina pun memanggil Bubu dengan bersuara rendah, "Bubu, apakah ada cara lain untuk menetralisir racun Ular?"


"Darah anda dapat menetralisir segala jenis racun, termasuk racun Ular berbisa." Kata Bubu.


"Tadi aku baru saja memberikan darahku kepada Leon. Tapi tetap saja tidak mempan, dia masih terlihat sangat lemah." Kata Lina.


"Ohh.. Dia sedang berbohong pada anda." Kata Bubu dengan tenang.


"Apa? Itu tidak mungkin." Kata Lina yang saat ini sedang sangat terkejut dan tidak percaya.


"Siapa yang tega menggunakan hal-hal seperti ini untuk menipu orang lain?!" Pikir Lina.


"Dasar gadis bodoh. Jika anda tidak percaya pada saya, anda bisa mengujinya." Kata Bubu.


Lalu, dengan sorot mata curiga, Lina pun menatap seluruh tubuh Leon sambil berpikir, "Bagaimana caranya aku menguji dia?"


Leon yang menyadari perubahan suasana hati Lina pun segera bertanya dengan lemah, "Dengan siapa kamu berbicara? Siapa itu Bubu?"


Saat Lina sedang kebingungan bagaimana menjelaskan hal itu kepada Leon, tiba-tiba saja dia memiliki sebuah ide.


Kedua tangannya langsung memegangi kepalanya, kemudian berkata sambil berakting seperti sedang kesakitan, "Arrgh! Baru saja.. ada suara yang masuk ke otakku.. Suara itu berkata kalau dia bisa menetralisir racun di tubuhmu. Tapi aku tidak mempercayainya sama sekali.. Aku.. Arrkhh! Aku ingin suara itu hilang dari pikiranku, tapi.. hal itu malahan membuat kepalaku terasa sangat sakit! Arrrkhh! Kepalaku seperti akan meledak! Sakit sekali.. Apa aku akan mati??"


Melihat Lina yang seperti sedang sangat kesakitan, dengan cepat Leon segera menahan bahu Lina sambil berkata, "Jangan takut, tenangkan dirimu. Ada aku di sini. Tidak akan pernah aku biarkan seseorang menyakitimu!"


"Kepalaku sakit sekali! Aku sudah tidak kuat lagi!" Kata Lina sambil terus memegangi kepalanya. "AARRRKHH!" Setelah berteriak seperti ini, Lina pun segera mendorong tangan Leon yang sedang memegang bahunya supaya menjauh, hingga membuatnya terpeleset dan jatuh dari pohon yang besar dan tinggi itu.


"SLIP! KRASAK! KRASAK!"


"Aaaa.."


"Hah? Lina!"


Melihat hal ini, dengan cepat Leon segera melompat turun sambil merentangkan sayapnya yang lebar, lalu memeluk tubuh Lina, dan mendarat dengan mulus di tanah.


"TAP!"


Saat telah mendarat di tanah, Leon pun segera berkata dengan nada suaranya yang terdengar sangat cemas, "Lina, bertahanlah! Aku akan membawamu ke Dukun yang ada di suku terdekat!"


Setelah Leon selesai berkata seperti itu, Lina pun dengan paksa melepaskan dirinya dari pelukan Leon, Lalu mundur beberapa langkah untuk membuat jarak dengannya.


Kemudian, dua bola matanya yang besar dan bulat melotot kearah Leon, dan sambil menatap Leon dengan dingin dia berkata, "Bukankah kamu sedang sekarat karena terkena racun Ular? Tapi kenapa sekarang kamu bisa melompat dan terbang, hah? Jelaskan padaku!"

__ADS_1


"Ii itu.. Aa anuu.."


__ADS_2