
Berjalan keluar dari gudang tempat penyimpanan anggur, Wiro pun membawa setoples anggur buah berukuran besar, sambil berseru untuk merayakan bergabungnya Leon kedalam anggota keluarga besar mereka.
"Karena sekarang Leon telah menjadi anggota keluarga kita, malam ini kita harus merayakannya."
Dan akhirnya, Leon pun ikut menemani Wiro minum setoples besar berisi anggur yang Wiro bawa.
Hingga pada saat Wiro telah mabuk, dia pun memeluk toples anggur yang ada di meja, sambil terus bergumam.
"Aku sangat merindukanmu, Lina! Bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama? Aku pasti akan membuatmu merasa sangat nyaman.."
Mendengar ocehan Wiro yang sedang mabuk, Lina pun tersipu dan buru-buru menutup mulut Wiro, kemudian berkata, "Jangan katakan hal-hal seperti itu di depan orang banyak!"
Tapi, dasar Wiro, dia pun segera mengambil kesempatan ini untuk memeluk pinggang Lina, lalu menjulurkan lidahnya dan menjilati tangan Lina, kemudian tersenyum dengan memperlihatkan senyum bodohnya dan berkata, "Ahh.. Kamu tertangkap.. Sekarang kamu sudah tidak lagi bisa melarikan diri dariku.."
Semua orang di sini, telah terbiasa dengan kelakuan Wiro saat dia sedang mabuk, yang selalu mengoceh cabul tentang dirinya dan Lina.
Melihat hal ini, Leon pun hanya tersenyum dan sudah tidak merasa heran dengan kelakuan Wiro. Lalu dia membuka mulutnya dan berkata, "Tadinya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua. Tapi lihatlah dia yang mabuk begini, tidak mungkin dia akan bisa mendengarkan apa yang akan aku katakan. Kita bicarakan besok saja."
Segera setelah ini, Uriel pun membopong Wiro yang mabuk, kemudian bertanya kepada Lina, "Lina, malam ini kamu ingin tidur dengan siapa?"
Untuk sesaat, empat pasang mata pun segera menatap Lina secara bersamaan.
Lina yang seketika itu juga merasakan kulit kepalanya terasa mati rasa, saat mendapat tatapan mata dari para pria pun tanpa sadar mundur selangkah, dan menabrak Wirna yang sedang berada di belakangnya.
Spontan saja, saat itu juga dia segera mendapatkan sebuah ide, lalu buru-buru berkata, "Malam ini aku akan tidur dengan anak-anak!"
Begitu keempat anak-anak Serigala mendengar apa yang baru saja Lina katakan, mereka pun segera mengibas-ngibaskan ekor mereka dengan penuh semangat, karena merasa sangat senang.
Tapi, Uriel segera berkata, "Tidak. Tidak."
Mendengar ini, Lina dan keempat anaknya pun segera bertanya serempak, "Kenapa?"
"Mereka ini selalu menendang kesana kemari saat mereka tidur. Jika kamu tidur dengan mereka, mereka pasti akan menendangmu. Malam ini pasti kamu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak." Kata Uriel.
Keempat anak-anak Serigala pun segera menyahut, "Kami tidak akan menendang ibu!"
"Darimana kamu tahu kalau anak-anak akan selalu menendang disaat mereka sedang tidur?" Tanya Lina kepada Uriel.
Meskipun Uriel menyukai keempat anak Serigala dan selalu merawat mereka dengan sangat baik, tapi mereka bukanlah anak-anaknya. Dan dia juga belum pernah tidur bersama dengan keempat anak-anak Serigala itu.
"Carli yang memberitahuku," kata Uriel cepat, dalam kebingungannya.
Mendengar ini, Lina pun segera menatap Carli.
Mendapat tatapan dari Lina dan yang lainnya, Carli pun segera berguling-guling di tanah, kemudian berkata,"Ya. Saat mereka tidur, mereka memang selalu menendang. Setiap malam, aku selalu ditendang oleh mereka, hingga aku terlempar sampai ke sudut. Lihatlah ini, lingkaran hitam di sekitar mataku, adalah karena di tendang oleh mereka."
Lina, "....."
“Lingkaran hitam di wajahmu jelas sudah ada sejak kamu lahir! Lalu, apa hubungannya dengan kami?” Kata Wirna dengan marah.
“Ya, lingkaran hitam di sekitar mataku ini memang sudah ada sejak lahir, tapi sebelumnya, ukurannya hanya satu kepalan tangan." Sahut Carli tak mau kalah dengan Wirna.
__ADS_1
Selesai berkata seperti itu, dia pun menunjukkan wajahnya kepada yang lainnya, supaya mereka semua bisa melihat, seberapa besar lingkaran hitam yang ada di sekitar matanya.
Dengan hati-hati, Lina pun mencoba untuk melihatnya, "Sepertinya lingkaran hitam di sekitar matamu benar-benar lebih besar.."
"Ya, benar! Itu karena mereka telah menendangku!" Kata Carli yang sedang mengeluh dan mengadu kepada Lina.
"Beraninya kamu mengadu? Aku pukul kamu!" Kata Wirna yang sangat marah terhadap Carli dan berniat akan menendangnya.
Melihat Wirna yang berjalan mendekati dirinya, saat itu juga dengan cepat Carli bersembunyi di belakang tubuh Lina yang bertubuh kecil mungil, lebih kecil dari tubuhnya.
Tentu saja hal ini tidak bisa menghentikan aksi Wirna.
Dengan kedua kaki depannya, Wirna pun segera menendang pantat Carli yang bulat dan besar, hingga membuatnya terguling di tanah.
"BUK!"
Mendapat perlakuan seperti ini, Carli pun segera bangkit, dan merengek kepada Lina, "Kamu melihatnya kan? Barusan dia memukulku lagi, kamu harus menolongku!"
Saat Wirna hendak memukul Carli lagi, Lina pun segera mengulurkan tangannya untuk menghentikan Wirna.
"Sudah, jangan kamu pukul dia lagi. Lihat dia, kamu sudah memukulnya sampai membuat dia menangis." Kata Lina mencoba untuk menasehati Wirna.
“Kakakku bilang, betina itu cantik dan selalu bersikap lembut. Tapi, kenyataannya ternyata tidak seperti itu.. Kakakku sudah membohongiku.. Huhuhu.." Kata Carli sambil terisak menangis.
Lina, "....."
Melihat hal ini, Wirna sudah tidak tahan dan ingin memukuli Carli lagi, tapi dia segera dihentikan oleh Lina. Wirna pun hanya bisa berseru marah.
"Kamu itu laki-laki. Tidak pantas jika kamu terus-terusan merengek dan menangis seperti itu! Jika kamu mempunyai keberanian, lebih baik kita bertarung saja! Jika kamu bisa mengalahkanku, aku pasti akan mengakuimu sebagai kakakku!" Seru Wirna yang menantang Carli untuk berduel.
Sebelumnya, Carli telah melihat sendiri, seperti apa kuatnya Wirna saat dia berkelahi.
Saat itu Carli melihat Wirna yang sedang melawan sekelompok anak laki-laki yang sedikit lebih tua darinya, dan memenangkan perkelahian itu, meskipun Wirna melawan mereka seorang diri.
Dan sekarang, anak-anak di seluruh klan Serigala Batu memanggilnya sebagai kakak, dan merasa sangat takut padanya.
Menghadapi tantangan dari Wirna, Carli pun merasa ketakutan. Dia mengerutkan tubuhnya, hingga terlihat seperti bola bulu yang bulat dan besar, dan berpura-pura tidak mendengar apa yang barusan Wirna katakan.
Setelah melihat semua ini, Uriel pun segera menepuk pelan kepala Wirna lalu berkata, "Jangan membuat masalah. Lebih baik sekarang kalian pergi ke kamar dan tidur."
Keempat anak-anak Serigala selalu sangat mematuhi apa yang Uriel katakan.
Setelah mendengar apa yang Uriel katakan, Wirna pun menatap Carli dengan tatapan kejam, lalu berkata, "Tunggu dan lihat saja nanti." Selesai berkata seperti itu, Wirna pun mengajak ketiga adik laki-lakinya, dan dengan angkuhnya berjalan menuju ketangga, untuk naik menuju ke kamar mereka.
Setelah keempat anak-anak Serigala telah pergi, barulah Carli menjulurkan kepalanya, dan menghela napas lega.
"Hhhhh.."
"Aku tidak pernah tahu kalau anak-anak selalu menendang saat mereka tidur, dan memukuli Carli hingga seperti ini. Aku juga tidak bisa membiarkan Carli terus menerus tidak bisa tidur setiap malamnya. Aku harus mencarikan kamar untuknya.." Pikir Lina.
Bagaimanapun juga, Carli adalah tamu yang datang dari Kota Matahari. Selain itu, bagi Lina, Carli adalah panda yang merupakan harta nasional di negeri China dan tidak ingin memperlakukan Carli dengan buruk.
__ADS_1
Pada saat ini, terdengar Leon yang berkata, "Biarkan saja dia tidur di kamarku."
"Lalu, kamu akan tidur di mana?" Tanya Lina.
"Aku bisa tidur denganmu." Jawab Leon.
"Hah? Mimpi!" Sahut Lina dengan cepat.
Lalu, pada saat ini Uriel mengguncang tubuh Wiro yang ada di satu tangannya, yang saat ini sudah tak sadarkan diri karena mabuk.
"Biarkan Carli tidur di kamar Wiro, dan Wiro yang akan tidur bersama dengan anak-anak." Kata Uriel.
Mendengar ini, Leon pun segera menyetujui apa yang baru saja Uriel katakan, "Aku setuju. Karena mereka adalah anak-anak Wiro, biarkan saja dia yang tidur dengan mereka."
Setelah Uriel dan Leon selesai berkata seperti itu, mereka berdua pun segera menatap Saga.
"Soal itu terserah kalian." Kata Saga, dengan ekpresi wajahnya yang terlihat datar dan dingin.
Lina pun segera menatap Wiro yang sedang tak sadarkan diri karena mabuk.
"Dia tidak tahu, kalau saat ini dia sedang dikerjai oleh yang lainnya." Batin Lina yang sebenarnya saat ini sedang menahan tawanya, saat melihat penampilan konyol Wiro.
"Lalu bagaimana jika saat Wiro bangun dan dia merasa tidak bahagia dengan hal ini?" Tanya Lina tanpa daya kepada Uriel.
"Kalau begitu, kami akan bertarung. Siapun yang menang, dialah yang akan didengar." Kata Uriel dengan tenang.
Bicara dengan kepalan tinju dan kekuatan, adalah aturan umum, di antara para Orc jantan!
Mendengar itu, Lina pun menyentuh rambut Wiro yang pendek dan berwarna perak, dan merasa sangat bersimpati dengan keadaannya saat ini.
Uriel pun segera membawa Wiro ke atas, dan melemparkannya ke dalam kamar tidur anak-anak.
Dan untuk sementara ini, Carli akan tidur di kamar Wiro.
"Apa malam ini kamu benar-benar tidak ingin tidur denganku?" Tanya Leon yang tiba-tiba saja bertanya sambil menatap Lina, dengan senyumnya yang terlihat mengandung arti.
"Tidak!" Jawab Lina dengan sangat tegas, sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau dia menolak.
"Lalu malam ini kamu akan tidur dengan siapa?" Tanya Uriel dengan lembut.
Saat Lina menatap mata Uriel yang berwarna biru, saat itu juga dia merasa seperti hampir meleleh, saat melihat kedua mata Uriel yang sedang menatapnya, dengan sorot mata birunya yang penuh dengan kelembutan.
Namun pada akhirnya, Lina pun berhasil mengalahkan perasaannya yang hampir meleleh, dan berkata dengan suaranya yang terdengar sangat lembut.
"Malam ini.. Aku ingin tidur dengan Saga."
Meskipun Uriel merasa sedikit kecewa, tapi dia tetap berusaha untuk mengerti dan mengalah, lalu berkata sambil tersenyum, "Baiklah. Tidak apa-apa."
Sedangkan Leon, dia terus memandangi Saga yang terdiam, lalu terkekeh kecil kemudian berkata, "Wiro benar, ternyata Lina lebih berpihak kepada Saga."
Meskipun Saga bisa mendengar apa yang mereka semua sedang katakan, tapi dia tetap saja diam tak bergerak.
__ADS_1
Lalu terdengar Leon yang lanjut berkata lagi, "Aku sungguh tidak mengerti, apa yang kamu sukai dari Ular yang dingin ini. Tapi, jika di malam hari nanti kamu terbangun, kamu aku persilahkan untuk datang ke kamarku, kapanpun kamu mau."
"Kamu diamlah dan pergilah ke kamarmu!" Dengus Lina kepada Leon.