Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 29 - Menagih Janji


__ADS_3

Wiro memanggang potongan daging itu sampai hitam dan keras, yang tentunya sudah tidak lagi bisa dimakan.


Awalnya dia bermaksud untuk menghancurkan daging yang gagal saat dipanggang, supaya tak ada yang tahu tentang itu. Tapi tanpa dia duga, Lina malah muncul secara tiba-tiba. Sehingga semua hal b"d*h yang sudah dia lakukan itu pun ketahuan.


Karena itulah Wiro merasa kesal sekaligus tertekan.


Lina berjalan ke arahnya dan ikut duduk. Dia mengambil potongan daging yang Wiro sembunyikan di belakang punggungnya dan dengan sabar menjelaskan.


"Dagingnya harus ditipiskan dulu sebelum dipanggang. Kalau kamu meletakkan daging besar seperti ini di atas api, bagian luarnya akan hangus dan bagian dalamnya masih mentah."


Wiro bertanya dengan kaku, "Terus, bagaimana cara melakukannya?"


"Apa kamu punya pisau?" Tanya Lina.


Wiro tidak memiliki pisau, dia langsung menunjukkan cakar serigalanya.


"Apa ini tidak apa-apa?"


Cakar serigalanya sangat tajam, jauh lebih tajam dari pisau tulang.


Lina berkata, "Tentu saja bisa."


Dengan menggunakan cakarnya, dia mulai memotong daging menjadi potongan-potongan kecil, sesuai dengan arahan Lina. Kemudian dia mengikat potongan-potongan daging itu ke tongkat, menaburkan bumbu di atasnya dan mulai memanggangnya di atas api.


Akhirnya dia berhasil membuat Barbekyu pertamanya.


Meskipun rasanya tidak selezat buatan Uriel, namun jauh lebih baik, dibandingkan dengan daging yang sebelumnya dia panggang sampai hangus.


Wiro melihat barbekyu yang ada di tangannya dan kembali merasa sangat tertekan.


Dia sudah berusaha keras untuk belajar memanggang, tapi buatannya tetap tidak selezat buatan Uriel.


Wiro pun bertanya dalam hatinya, "Semua yang aku panggang, tidak sebaik yang harimau itu lakukan. Apa yang bisa aku gunakan untuk bersaing dengan harimau itu, supaya Lina tertarik padaku?!"


Awalnya Lina berencana untuk kembali tidur, tetapi dia sadar kalau ada yang salah dengan suasana hati Wiro. Dia memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kamu tidak senang?"


Wiro mengerutkan bibirnya. Tak menjawab pertanyaan, tapi malah balik bertanya, "Apa kamu masih peduli kalau aku bahagia?"


Lina tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.


Wiro menatap mata Lina dan kembali berbicara, "Di matamu hanya ada harimau itu. Apapun yang aku lakukan untukmu, bagimu itu tak kau anggap penting sama sekali."


Lina membalas tanpa ragu-ragu, "Kamu juga penting bagiku!"


"Benarkah?" Wiro mencibir, jelas tak percaya dengan apa yang sudah Lina katakan.


Lina sudah terbiasa dengan masalah harga diri serigala itu. Tapi saat ini, saat dirinya telah diejek dan dicibir, dia merasa sangat tidak nyaman, seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Dia kemudian memegang tangan Wiro.


"Aku bicara serius, kamu sangat penting bagiku!"


Wiro menundukkan kepalanya dan menatap kearah tangan gadis itu.


Tangan yang kecil, putih.


Orang yang melihatnya, pasti ingin menggenggamnya di tangan mereka dan tak ingin melepaskannya untuk selamanya.

__ADS_1


Melihatnya masih tak berbicara, Lina berpikiran kalau dia masih tidak bahagia, jadi dia berkata lagi, "Meskipun kamu selalu mengatakan kata-kata yang menjengkelkan, tapi kamu itu sebenarnya sangat baik. Kamu juga sudah banyak membantuku, aku sangat berterima kasih padamu."


Wiro meliriknya.


"Apa kamu baru saja berterima kasih padaku?"


Setelah berpikir sejenak, kemudian Lina berkata, "Tentu saja, bukan hanya terima kasih."


Wiro kemudian mendekatinya.


"Apa lagi?"


Jarak antara keduanya kini sangat dekat, cahaya api terpantul di wajahnya yang tampan, alisnya yang kaku dan tajam kini terlihat melunak, mata hijau tuanya menunjukkan sedikit kasih sayang dan harapan.


Mungkin suasananya terlalu ambigu, mungkin matanya terlalu lembut, atau mungkin Lina yang masih belum menyadari.


Jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya menjadi panas.


Reaksi yang seperti ini pada seorang gadis, membuatnya menyadari akan satu hal.


Dia mulai tertarik kepada Wiro.


Serigala laki-laki arogan ini, secara tidak sadar sudah membuat Lina terpesona padanya.


Hal ini juga membuat Lina jadi merasa bersalah.


Bagaimanapun, dia sudah memutuskan untuk tua bersama Uriel, tapi sekarang tiba-tiba dia tertarik dengan pria lain. Jika Uriel sampai tahu hal ini, dia pasti akan sangat sedih.


Wiro menatap wajah gadis kecil itu, ekspresi wajah gadis itu berubah seperti pemandangan yang indah, hatinya pun kini merasa berbunga-bunga, dia bertanya, "Apa kamu menyukaiku?"


Ternyata serigala itu bisa melihatnya! Sekarang, apa yang harus Lina lakukan?


Menyangkalnya? Tapi dia tak ingin berbohong pada Wiro.


Mengakui? Bagaimana dengan perasaan Uriel.


Dia juga tak ingin menjadi wanita jahat yang senang mempermainkan perasaan.


Wiro melihat gadis itu sedang merenung dan tak menjawab pertanyaannya sedikitpun. Terlihat juga di matanya, penuh dengan kebingungan dan kepanikan.


Gadis kecil ini memang lah sederhana. Setiap kali dia berpikir, raut wajahnya akan berubah mengekspresikan apa yang sedang dia pikirkan. Membuat orang lain dengan jelas, dapat menebak dan melihat apa yang sedang dia pikirkan.


Dia juga menyukai pria itu.


Saat itu juga kepahitan di hati Wiro segera menghilang, tergantikan dengan kejutan besar yang terasa sangat manis. Dia sangat ingin segera keluar dan berlari-lari sambil meneriakkannya kepada semua Orc, memberitahu pada mereka bahwa bukan hanya dia menyukai Lina, tetapi Lina juga menyukainya. Mereka saling suka!


Wiro mencoba menekan gelombang kegembiraan di hatinya dan berpura-pura tenang.


"Kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku?"


Lina menundukan wajahnya untuk menghindari pandangan mata pria itu, dengan hati yang merasa bersalah dia menjawab sambil tergagap, "A aku.. Aku tidak tahu."


Wiro mengangkat dagu gadis itu, tak membiarkannya untuk menghindar dari tatapannya.


"Apanya yang tidak tahu? Kalau suka ya suka, kalau tidak suka ya tidak suka."


Ini pertama kalinya Lina menghadapi situasi seperti ini. Dia sangat gugup. Melihat wajahnya yang tampan, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Dia sempat berpikir, "Kalau aku terus seperti ini, apa aku akan terkena serangan jantung?!"


Melihat gadis itu terdiam lagi, Wiro mulai bicara lagi dengan sedikit mengejeknya, "Lihat tingkahmu yang terlihat malang ini. Kamu menyukaiku tapi tidak berani untuk mengatakannya. Apa karena kamu takut aku akan menolakmu?"


Wiro berkata lagi, "Aku memang membenci wanita, tapi demi kamu yang sangat menyukaiku, aku bisa memberikanmu kesempatan."


Dia mulai tak tahan karena masih belum juga mendapatkan jawaban.


"Kenapa kamu masih diam saja? Apa karena kamu terlalu bahagia hingga jadi b*d*h?"


Lina tak mengatakan apa-apa.


Dia tak mengerti dengan pria ini. Bukan hanya kejam, tapi juga otaknya sudah tidak beres.


"Tak bisakah kamu berhenti terlalu percaya diri?" Lina akhirnya membalas.


Sekarang Wiro sedang dalam suasana hati yang baik. Meskipun dia diejek, dia tidak akan marah.


"Aku tahu kamu malu mengakuinya. Tak masalah bagiku. Aku tak membencimu kok."


"Malu dari mana? Kamu itu sok tahu." Lina menyangkal untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Kalau kamu tidak malu, terus kenapa wajahmu memerah?"


“.....” Lina terdiam.


Lina merasa seperti kucing yang ekornya terinjak, rambutnya tiba-tiba terasa seperti berdiri.


"Orang ini benar-benar sangat menyebalkan!"


Tapi dia memiliki kesan yang baik terhadap pria ini. Mungkin juga sekarang gadis ini sudah buta.


Lina sudah tak tahan berlama-lama lagi disitu. Dia pun segera bangun dari duduknya.


"Sudahi omong kosong ini. Aku akan kembali tidur."


"Tunggu sebentar." Wiro mencegahnya pergi.


Lina kemudian menatapnya.


"Apa lagi yang mau kamu katakan?" Tanya Lina


"Apa kamu ingat yang sudah kamu janjikan padaku, sebelum aku pergi untuk menyelamatkan Uriel?"


Mendengar Wiro yang mengingatkan soal janjinya, Lina baru teringat kalau dia sudah berjanji kepada Wiro. Selama dia kembali hidup-hidup, dia berjanji akan mengabulkan apa yang dia minta.


"Apa yang kamu ingin aku lakukan?" Lina bertanya.


"Aku ingin kamu k*w*n denganku." Jawab Wiro cepat.


Karena Lina merasa dia telah salah dengar, dia menggosok-nggosok telinganya dan bertanya lagi untuk memastikan, "Apa yang kamu katakan?"


Kemudian Wiro sedikit mengangkat dagunya.


"Aku ingin k*w*n denganmu." Setiap kata dia ucapkan dengan sangat jelas.


"Itu yang aku mau."

__ADS_1


__ADS_2