
Di kamar ini tidak ada toilet. Hanya ada ember kayu dengan penutupnya, yang Lina gunakan sebagai toilet sederhana dan diletakkan di sudut ruangan.
Uriel segera mengambil ember itu dan mengangkat tutupnya dengan satu tangan.
"Kamu kencing di sini saja. Biar aku bantu memegangi embernya."
Lina pun tersipu malu, dia mendorong dada Uriel.
"Bagaimana aku bisa buang air kecil kalo embernya di pegangi? Lagipula aku bukan anak kecil, kalau dia melakukan hal seperti itu, tentu saja akan sangat memalukan bagiku!" Pikir Lina.
"Kamu membuatku malu, aku bisa melakukannya sendiri."
Tetapi Uriel kemudian berkata, "Sekarang kan sudah gelap. Kamu juga tidak bisa melihat dengan jelas. Supaya lebih aman, aku akan membantu memegangimu dan memelukmu di saat kamu kencing."
"Aku tidak mau." Jawab Lina.
Akhirnya Uriel pun tidak punya pilihan selain menurunkannya.
Kemudian Lina berkata, "Kamu menjauh lah, berbalik dan jangan lihat aku."
Uriel segera mundur dua langkah dan kemudian berbalik badan.
Saat ini Lina sudah duduk di atas ember, kemudian berkata kepada Uriel, "Tutup telingamu, jangan sampai kamu mendengarkan suaranya."
Uriel merasa tak berdaya, dia pun hanya bisa menutupi telinganya.
"Aku tidak bisa mendengarnya."
Kini Lina baru berani untuk buang air kecil.
Ketika suara air yang terputus-putus mulai terdengar, Lina segera menatap Uriel. Tapi saat melihat Uriel yang seperti tidak bereaksi, Lina pun merasa sedikit lega.
Setelah Lina selesai buang air kecil, dia pun segera berdiri. Bertepatan dengan itu, saat itu juga Uriel berbalik dan berjalan untuk membantunya mengenakan pakaiannya.
"Cuci tangan?"
Lina mengangguk pelan.
Kemudian Uriel membawa gadis kecilnya ke tempat tidur dan membawa baskom untuk mencuci tangannya.
Ketika Lina dan Uriel sudah berbaring, tiba-tiba saja Lina terpikir akan sesuatu dan merasa curiga.
"Kalau tadi benar Uriel tidak bisa mendengar dan melihatku, bagaimana dia bisa segera berbalik setelah aku selesai buang air kecil? Bukankah waktunya sangat pas sekali?!"
Lina pun segera tersipu malu, kemudian dia bertanya kepada Uriel, "Kamu harus jawab dengan jujur, apa tadi kamu mendengarkan semuanya?"
Tapi Uriel malahan balik bertanya, "Apa yang bisa aku dengar?"
Mendengar Uriel yang malahan balik bertanya, Lina pun segera meremas otot di pinggang Uriel.
"Mau berpura-pura bodoh?!"
"Tidak ada daging di pinggangku. Disitu tidak akan ada yang bisa kamu cubit," kemudian Uriel memegang tangan Lina dan meletakkannya pada benda besar yang ada di bawah Uriel.
"Jika kamu ingin sesuatu untuk kamu cubit, cubit saja yang ada di sini."
Lina, “.....”
"Huh! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan si kucing besar sialan ini!" Batin Lina kesal dan malu.
Tanpa berkata-kata, Lina pun segera menutup matanya dan memutuskan untuk pergi tidur.
Melihat tingkah gadis kecilnya yang memutuskan untuk tidur, membuat Uriel tersenyum. Dia menundukkan kepalanya untuk mencium kening gadis kecilnya dan memeluknya sambil memejamkan matanya dan ikut tertidur.
__ADS_1
...........
Setelah Urat Bijihnya ditemukan, ternyata itu hanyalah Urat kecil yang penuh dengan Kristal hijau.
Meskipun hanya kristal tingkat rendah, tapi itu juga merupakan kekayaan yang cukup besar.
Para Orc pun tetap menambang semua Urat Bijih tersebut dan bersiap untuk membangun rumah.
Kemudian pada saat itu juga Lina mendengar suara di dalam benaknya.
"Ting! Tong!"
"Selamat! Anda telah menyelesaikan tugas khusus penambangan."
"Poin tugas anda telah memenuhi persyaratan, dan produk baru di mall kristal telah terbuka untuk anda!"
Mendengar itu, Lina pun segera melihat mall kristal dan melihat ada enam produk baru yang terpajang di mall. Ada benih kentang mutan, benih rebung mutan, benih tanaman merambat mutan, resep utama, gulungan kontrak, dan gambar arsitektur.
Bibit kentang dan rebung memiliki harga yang termurah. Masing-masing bernih harganya hanya dua puluh kristal tak berwarna untuk satu benihnya.
Benih tanaman merambat sedikit lebih mahal. Dibutuhkan dua puluh lima kristal tak berwarna untuk satu benihnya.
Untuk resep utama dan gulungan kontrak, masing-masing membutuhkan seratus kristal tak berwarna.
Sedangkan untuk gambar arsitektur, membutuhkan delapan puluh kristal tak berwarna.
"Kenapa harga barang-barang ini mahal-mahal?!"
Lina pun menjulurkan lidahnya.
"Week!"
"Untungnya ada cukup banyak Batu Kristal hijau yang digali, jika tidak, aku pasti tidak akan mampu untuk membelinya."
Pada mall kristal terdapat fungsi untuk menukarkan berbagai jenis kristal. Satu batu hijau dapat ditukar menjadi lima puluh batu kristal tak berwarna.
Saat ini sebetulnya Lina sangat ingin keluar dan turun gunung.
"Tapi aku masih belum pulih, aku belum bisa pergi-pergi kemana-mana. Untuk sementara waktu ini, aku hanya bisa tinggal dirumah, sambil mengurusi anak-anak."
Merasa tak ada pilihan lain lagi, Lina hanya bisa memberikan benih itu kepada Saga.
"Maukah kamu membantuku menanamkan ketiga benih ini, di tempat yang jauh dari kebun sayuran dan buah-buahan?"
"Dengan senang hati." Jawab Saga dingin dengan sedikit tersenyum.
Lina merasa khawatir, takut akan terjadi sesuatu bila menanamnya berdekatan dengan kebun sayuran dan buah-buahan.
"Siapa yang tahu akan seperti apa jadinya ketiga benih mutan itu, ketika mereka telah tumbuh dewasa.. Untuk menghindari kerusakan pada sayuran dan buah-buahan, ketiga benih mutan tersebut harus aku jauhkan dari tanaman pokok."
Setelah selesai makan malam, kemudian Lina mengeluarkan gambar arsitektur yang dia beli dari mall kristal.
"Ini adalah cetak biru dari bangunan benteng, yang telah dirancang dengan sangat terampil."
Benteng tersebut tetap bisa dibangun, meskipun di dunia Orc purba seperti ini. Di mana semua jenis bahan-bahan bangunan sangatlah langka dan teknologi sangatlah tertinggal jauh dari zaman moderen.
Lina merasa, "Kehilangan delapan puluh batu kristal tak berwarna, untuk mendapatkan gambar arsitektur ternyata tidak sia-sia."
Uriel, Wiro dan Saga belum pernah melihat gambar seperti itu, ini pertama kalinya mereka melihat garis-garis yang ada di dalam gambar, mereka sama sekali tidak mengerti apa artinya.
Sebenarnya Lina juga tidak mengerti, tapi dia mendapatkan penjelasan dengan sangat rinci dari Bubu.
Setelah Lina sudah bisa memahaminya, kini giliran Lina untuk menjelaskan gambar tersebut dari awal hingga akhir, di depan ketiga Orc pria ini.
__ADS_1
Mata ketiga pria itu mulai semakin bersinar.
Mereka tidak pernah menyangka, kalau ternyata sebuah rumah bisa dibangun seperti itu!
...........
Keesokan paginya.
Mereka bertiga mengambil gambar tersebut dan pergi ke tambang bawah tanah, siap untuk membangun benteng besar sesuai dengan desain yang ada di gambar!
Mulai hari ini, para Orc jantan keluar lebih awal di pagi hari dan pulang terlambat setiap harinya. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar rumah. Sehingga mereka tidak bisa tinggal di rumah, untuk merawat dan menjaga anak-anak.
...........
Tubuh keempat anak Serigala kecil, kini telah ditumbuhi rambut putih keperakan. Terlihat seperti empat bola rambut yang bulat menggumpal.
Di antara mereka berempat, yang tertua adalah betina, yang Lina beri nama Wirna. Berikutnya adalah tiga anak Serigala jantan, yang diberi nama Wirya, Wirdan, dan Wira.
Karena kini mereka telah bisa berjalan, hal favorit yang sering mereka lakukan setiap harinya adalah, mengikuti kemana pun pantat Lina berjalan saat di dalam rumah.
Bila dilihat dari kejauhan, Lina terlihat seperti memiliki ekor berwarna putih.
Tubuh Lina terlalu kecil, dia khawatir dia tidak akan bisa memiliki cukup Asi untuk memberi makan keempat anak Serigalanya. Oleh karena itu, setiap hari Lina selalu mengkonsumsi sup ikan dan memakan daging.
Untungnya produksi susunya mencukupi. Para anak-anak Serigala bisa makan cukup setiap hari dan tumbuh lebih kuat.
Saat ini dia juga sedang selalu memakai korset, untuk membantu mengecilkan perutnya. Lina sedang duduk bersila di tempat tidur, sambil memegangi perutnya.
"Ah. Untuk saat ini aku tidak bisa memakai pakaian yang terbuka lagi!"
Wirda kecil yang penasaran saat melihat Lina pun mendekatinya, dia mengulurkan cakar kecilnya, mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh sang ibu dan menyodok-nyodok perut Lina.
Ketiga anak Serigala kecil yang lain, yang sedang ada di sekitar Lina pun segera mendekati dan ikut menyodok-nyodok perut Lina.
Mendapat serangan dari para Serigala kecil, Lina pun mulai melawan balik.
"Kalian berani-beraninya menyerang ibu yah. Terimalah ini."
"Hiyaa."
Kemudian Lina menggelitik perut keempat Serigala kecil itu di tempat tidur. Mereka semua pun berguling-guling di tempat tidur.
"Kalian semuanya akan menyesal."
"Ihihi.."
"Kamu juga."
"Ihihihi.. Eli buu.. Elii.."
Para Serigala kecil pun segera bangkit lagi dan kembali menyerang Lina.
"Fiuuh! Bermain dengan mereka membuatku sampai berkeringat."
Pada saat ini, tiba-tiba saja Leon datang, dia datang untuk menjenguk Lina dan anak-anak Serigala, serta menanyakan perkembangan penilitiannya tentang kesulitan bereproduksi di klan Bulu.
Tiada yang melihat Leon yang masuk, tepat pada saat keempat anak serigala kecil di tempat tidur sedang menggosok-nggosok perut Lina yang sedang berbaring.
"Wajah manis dan imutnya terlihat memerah. Matanya terlihat tertawa dengan air mata yang menggantung, bulu mata panjangnya bergetar dengan lembut. Rambut hitam panjangnya terurai tidak teratur di tempat tidur batu. Ahh.. Melihat kulit putih dan tubuh mon~thoknya, membuat aliran darahku berdesir dengan kencang."
Dengan cepat Leon berjalan mendekati Lina, dan segera menyingkirkan keempat anak Serigala kecil ke sisi lain tempat tidur, kemudian menindih tubuh mungil Lina dari atas.
"Sepertinya kamu sedang bersenang-senang?"
__ADS_1
Lina sangat terkejut dengan tindakan Leon yang tiba-tiba, dia pun segera mendorong tubuh Leon supaya menjauh. "Apa yang kamu lakukan? Menyingkir dariku!"
Sayangnya kekuatan Lina bagaikan gelitikan bagi Leon. Lina sama sekali tidak bisa mendorong tubuh Leon agar menjauh.