
Untuk sementara ini, Lina menunda membuat ramuan air melupakan cinta.
Lina berharap hubungan antara perempuan dan laki-laki bisa seadil mungkin, dengan cara yang alami. Tapi dia juga tidak ingin menimbulkan bencana besar bagi para perempuan.
Yang lebih mengejutkan dirinya, di bawah pengaruhnya, kini para pasangan di suku diam-diam telah berubah.
Sebelumnya, para betina selalu mengandalkan posisi dominan mereka dan sama sekali tidak memperhatikan para laki-laki. Beberapa betina bahkan berkelakuan berlebihan, seperti halnya ibu Wiro, melecehkan pasangan jantannya dan dijadikan sebagai budak.
Tetapi sekarang sudah ada cara untuk memutuskan kontrak pasangan.
Kini para betina sedang mengalami perasaan krisis. Mereka tidak ingin meninggalkan pasangan jantan mereka, jadi mereka pun menahan emosi mereka dan berkelakuan lebih lembut terhadap pasangan jantannya.
Hal ini benar-benar menyanjung untuk para Orc laki-laki, kini mereka lebih mencintai pasangan mereka.
Jadi, alih-alih memutus perasaan mereka, kini mereka menjadi lebih akrab dan harmonis.
Tapi Lina tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Saat ini dia sedang terus mempelajari obat untuk mengatasi ketidaksuburan di klan Bulu, selain itu dia juga akan segera mendirikan taman Kanak-kanak. Jadi Lina sangat sibuk setiap harinya.
Taman Kanak-kanak telah didirikan di area belajar, meja dan kursi yang terbuat dari kayu juga sudah tersedia.
Lina juga pergi untuk memeriksanya secara langsung. Pada dasarnya semuanya telah siap, tapi untuk saat ini masih ada papan tulis yang belum ada.
"Lagipula di dunia Orc ini tidak ada cat."
Jadi dia hanya bisa meminta kepada yang lain, untuk mencarikan lempengan batu besar dengan warna yang relatif gelap dan memasangnya di ruang kelas. Kemudian dia menemukan beberapa keping batu kapur seukuran telapak tangan dan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil, yang kemudian dia gunakan sebagai kapur tulis.
"Nah, kini semuanya telah lengkap. Hanya tinggal para muridnya!"
Pada eksperimen pengajaran pertamanya, Lina tidak berani menyakiti anak-anak Serigala dari keluarga lain, dia pun membawa empat anak Serigala kecilnya ke dalam kelas.
Anak-anak Serigala berjongkok di atas selimut bulu, dengan wajah berbulu mereka yang sedang menatap Lina dengan polos.
Lina menuliskan satu kata di papan tulis, kemudian berkata kepada mereka, "Kita mulai dengan kata ini, coba kalian bacakan untukku, Ayah.."
Anak-anak Serigalanya membuka mulut mereka dan,
"Hahaha!"
Mereka tertawa.
Lina, "....."
"Kenapa mereka malahan tertawa? Eksperimen pengajaran pertamaku gagal!"
Tepat ketika dia mencoba mencari cara untuk mengajari anak-anak Serigala itu membaca, Uriel, Saga, dan Wiro menyelinap masuk ke dalam kelas.
Lina pun bertanya, "Kenapa kalian ada di sini?"
Uriel berdeham dan berkata, "Ehem. Kami di sini untuk mengikuti kelas."
__ADS_1
Lina terkejut, "Ah?"
Kemudian giliran Wiro yang berkata, "Kami juga ingin ikut belajar membaca!"
Saga juga berkata, "Ajari kami juga."
Lina, "....." Lina hanya menatap mereka.
"Apa kamu tidak bisa?" Uriel bertanya dengan ragu-ragu.
Pengetahuan adalah harta yang sangat berharga. Mereka yang memiliki pengetahuan tidak mau mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain, bahkan jika mereka adalah kerabat dekat mereka sendiri.
Uriel berkata, "Jika kamu tidak mau mengajari kami, kamu anggap saja kalau tadi kami tidak mengatakan apa-apa. Sekarang k ..."
"Aku akan mengajari kalian!" Ucap Lina dengan cepat, memotong perkataan Uriel.
Mendengar apa yang Lina katakan, ketiga Orc pria itu pun tersenyum pada saat yang bersamaan.
Lina yang sedikit merasa malu berkata, "Tapi sebelum kita memulai kelas kita, kita harus bicara satu sama lain, kita tidak menganggap ini sebagai hubungan antara guru dan murid."
"Baiklah!" Jawab ketiga pria itu serempak.
Kemudian setelah itu, Uriel, Wiro, dan Saga pun segera duduk.
"KREKEET!"
Kursinya yang berukuran kecil, karena sejak awal memang dibuat untuk anak-anak, jelas terlalu sempit untuk ketiga laki-laki dewasa itu.
Karena mereka merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka menyingkirkan meja dan kursi, dan langsung duduk di tanah.
Tanpa disangka, ketiga pria itu sangat pandai dalam menangkap apa yang telah Lina ajarkan. Awalnya Lina hanya berencana untuk mengajari hingga sepuluh angka saja untuk hari ini. Tapi ternyata, Lina tidak menyangka kalau mereka belajar dengan sangat cepat. Jadi Lina menulis nama mereka di papan tulis dan mengajari mereka cara menulisnya.
Wiro tiba-tiba bertanya, "Lina, bagaimana caramu menuliskan namamu?"
Kemudian Lina menulis di papan tulis.
"Lina Maya."
"Lina adalah nama depanku dan Maya adalah nama terakhirku.
"Setelah kupikir-pikir lagi, nama belakangmu terdengar bagus juga." Ucap Wiro.
Lina pun berkata dengan tak berdaya.
"Terima kasih."
Kini ketiga laki-laki sibuk menuliskan nama Lina berulang-ulang, seolah-olah nantinya mereka akan mengukir nama tersebut pada tulang mereka sendiri.
Selama beberapa hari berikutnya, begitu mereka tidak ada pekerjaan lagi, mereka akan datang untuk mengikuti kelas pelajaran Lina.
Mereka juga sangat menyukai cara mengajar Lina dan selalu mendengarkan Lina dengan sangat serius. Wajah kecil mereka terlihat sangat lucu. Bentuknya bulat, dengan lemak putih dan rambut bertekstur lembutnya, membuat orang yang melihatnya ingin mencubitnya karena gemas.
__ADS_1
Saat Lina melihat mereka semua mendengarkan apa yang dia ajarkan dengan begitu serius, di dalam hatinya merasa sangat senang, membuat dia semakin bersemangat untuk mengajar.
Tapi sepertinya ada sesuatu hari ini.
Lina melihat ada dua sosok yang mengintip di pintu kelas. Saat dia baru saja akan pergi untuk melihat siapa mereka, saat itulah Saga sudah bergegas keluar dan menarik kedua orang itu masuk ke dalam kelas.
Mereka adalah Khodi Kodi dan Rei!
Lina sangat terkejut.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Pada saat ini, tanpa sadar mata Khodi sedang melihat ke papan tulis, dan ada kata-kata yang ditulis oleh Lina di papan tulis. Awalnya dia hanya curiga saja, tapi sekarang dia telah sepenuhnya mengkonfirmasi dugaannya.
Khodi Kodi jelas terkejut.
"Di antara para Orc Serigala Batu, yang bisa membaca dan menulis adalah Lina Maya! Bagaimana mungkin seorang wanita muda dan lemah bisa mengetahui begitu banyak kata? Ini sungguh luar biasa!"
"Siapa yang telah mengajarimu membaca dan menulis?" Tanya Khodi.
Seharusnya tidak ada seorang pun di dunia ini, yang mau memberikan pengetahuan berharga seperti ini kepada seorang wanita!
Lina berkata, "Guruku yang telah mengajariku."
"Guru?" Tanya Khodi bingung.
Kemudian Lina menjelaskan, “Guru adalah orang yang bisa menjawab keragu-raguan orang lain, membantu orang lain untuk mempelajari ilmu para leluhur. Mereka juga sangat tahu banyak hal, dan sangat layak untuk dihormati."
Di dunia ini Khodi Kodi belum pernah mendengar tentang orang yang hebat dan tidak mementingkan diri sendiri.
"Guru? Aku berharap bisa melihat orang-orang yang seperti ini dalam hidupku!"
Kemudian saat ini terdengar Wiro yang berkata, "Tetua Khodi, kamu belum menjawab pertanyaan yang baru saja Lina tanyakan."
Sejak berdirinya dewan di Gunung Batu, Khodi yang sebagai dukun dari klan Mustang menjadi salah satu anggotanya.
Khodi Kodi memandang gadis kecil yang ada di depannya, dan seolah-olah dia telah membuat keputusan yang sangat besar. Dia mengepalkan satu tinjunya di dadanya dan membungkuk kepada Lina.
"Guru, terimalah saya sebagai murid anda! Saya juga ingin belajar ilmu dari anda!"
Seketika itu juga wajah Lina terlihat seperti berantakan karena sangat terkejut.
"Hah?"
“Tolong! Guru, selama anda mau mengajari saya, saya akan melakukan apa saja untuk anda!" Khodi memohon lagi kepada Lina.
Lina dengan cepat membantu Khodi supaya berdiri.
"Umurmu sudah cukup untuk menjadi kakekku. Tolong jangan kamu memberi hormat kepadaku."
Khodi menatap Lina dengan penuh semangat, "Maukah kamu mengajariku?"
__ADS_1
Untuk sementara waktu ini Lina tidak bisa membuat keputusan, tanpa sadar dia menatap Uriel, seolah ingin bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?"
Uriel, Wiro, dan Saga telah berdiskusi secara pribadi, tentang masalah penerimaan murid baru. Mereka juga telah memiliki tindakan pencegahan yang sesuai.