Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 26 - Lina Maya vs Wiro Sanger


__ADS_3

Keesokan paginya.


"PRAK! BRUGH!"


"PRAK!"


"PRAK! PRUK!"


"BLETAK!"


Saat itu juga Lina terbangun kaget dari tidurnya, karena mendengar seperti suara-suara bebatuan yang berjatuhan.


Dia pikir ada seseorang yang datang untuk membuat masalah lagi. Dia pun segera bangkit dari tempat tidur, mengambil pisau tulang dan bergegas keluar.


"HAAH?!"


Lina berseru Kaget.


"Darimana asal lubang ini? Kenapa bisa ada lubang besar di dinding batu rumahku? Siapa yang melakukannya?"


Adapun orang yang sedang menghancurkan dinding batu dengan seenak jidatnya itu, tak lain dan tak bukan tentu saja adalah Wiro Sanger. Siapa lagi kalau bukan dia.


Lina melihat dia sedang menghancurkan dinding batu sambil mengomel marah-marah, memarahi dinding batu yang ada di rumah Lina.


"Hei!" Lina berseru supaya pria itu menghentikan apa yang sedang dia lakukan, kemudian dia berjalan menghampiri pria itu.


"Apa kamu sudah semakin tidak waras? Apa dinding rumahku sudah melakukan kesalahan padamu, sampai-sampai kamu menghancurkannya?? Dasar Orc serigala gila!"


Wiro melihat Lina datang menghampirinya, ujung telinganya menjadi terlihat sedikit memerah, tetapi ekspresi wajahnya masih tetap terlihat menyebalkan, "Ini bukan hanya dinding rumahmu, tapi juga dinding rumahku. Aku bisa menghancurkannya kapanpun semauku, kamu tidak bisa melarangku!"


"Ini rumahku! Sejak kapan rumahku ini jadi rumahmu?" Seru Lina.


"Kamu sudah menjadi pasanganku! Kamu juga sudah menjadi milikku! Rumahmu juga rumahku!" Wiro tak kalah membalas berseru.


Wiro sangat arogan ketika dia mengatakan ini, tetapi kemudian matanya melirik ke arah Lina yang sedang berada tidak jauh darinya. Dia memperlambat gerakan cakar tajam serigalanya yang sedang menghancurkan dinding batu.


Dia kemudian berpikir dan mulai timbul perasaan khawatir dan pertanyaan di dalam hatinya, "Bagaimana kalau ternyata gadis itu menolak mengakui status hubungan ini? Lagipula aku tak seperti harimau itu. Aku tak bisa menyenangkan gadis kecil itu. Aku juga tak mempunyai kekuatan roh Binatang bintang tiga seperti si harimau itu."


Lina yang mendengar perkataannya, tentang dirinya yang sudah menjadi pasangan serigala itu pun tersipu malu.


Tapi kemudian, dia memelototi Wiro dengan marah.


"Meskipun begitu, kamu tetap tak boleh menghancurkan dinding rumah seenak jidatmu sendiri!"


Melihat kalau Lina tidak menyangkal apa yang sudah dia katakan, dia kini tahu gadis itu juga mengakui status diantara mereka. Dengan perasaanya yang bahagia, dia kembali menghancurkan dinding batu dan menambahkan kecepatannya.


"Aku akan membuat jalan penghubung menuju kerumahmu. Supaya lebih nyaman."


"Apanya yang nyaman?" Lina sedikit mencibir.


Tentu saja akan lebih mudah baginya, untuk mengajak gadis kecil itu tidur bersama dengan dirinya.

__ADS_1


Lagipula, tak mungkin dia akan mau tidur bertiga bersama harimau besar itu kan? Dia lebih memilih tidur sendirian di rumahnya sendiri. Dia juga harus berjuang untuk kesejahteraannya sendiri.


Kemudian Uriel muncul dari arah dapur.


Dia juga mendengar seluruh percakapan antara Wiro dan Lina. Dia juga sudah memikirkannya dengan hati-hati, tapi dia juga tak ingin membicarakannya.


Kemudian dia berkata kepada Lina, "Kamu baru bangun? Tadi aku sedang memasak sup di dapur, mungkin sekarang sudah matang. Kamu bisa memakannya."


"Oh.. Baiklah." Kemudian Lina berjalan menuju ke arah dapur.


Uriel memperhatikan Wiro yang sedang sangat bersemangat membuat lubang di dinding, kemudian dia berkata, "Kamu sudah menyelamatkan hidupku. Aku juga sudah membantumu sekali. Kita impas. Untuk kedepannya, kita akan bersaing secara adil."


Tentu Wiro paham apa yang harimau itu maksudkan dengan bersaing secara adil, segera dia membalikkan badannya tanpa menunjukkan kelemahan.


"Persaingan yang adil?! Aku pegang kata-katamu. Aku tak yakin kau akan bisa melakukan itu."


Uriel tertawa dan berkata, "Kita lihat saja."


Ketika dia akan berbalik untuk mencari Lina, dia mendengar Wiro berbicara lagi.


"Meskipun aku tidak tahu, apa tujuan Orc yang memiliki roh Binatang Bintang Tiga sepertimu muncul di tempat ini, aku tetap harus memperingatkanmu. Tak peduli apapun tujuanmu, jika kau memiliki niat untuk menghancurkan suku Serigala Batu, kami akan berjuang habis-habisan dengan nyawa kami untuk menghentikanmu!"


Uriel menatapnya dengan santai, sambil sedikit memperlihatkan taringnya dari samping dan sedikit menggeram.


"Grrrr.. Aku hanya ingin hidup tenang bersama gadis kecilku. Aku juga sudah tidak ingin mengurusi hal-hal yang lain lagi."


"Hem??" Wiro bingung, dia tak mengerti dengan maksud dari kalimat terakhir Uriel.


Dia berjalan meraih buah sumber itu, dia juga bisa mencium aroma manis dari buah itu.


Lina kemudian mengambil semangkuk sup dan mulai menyesap supnya.


Dia merasakan ternyata rasa supnya beberapa kali lebih enak, daripada sup buatannya sendiri.


Sepertinya Uriel sangat berbakat memasak. Dia baru belajar memasak beberapa kali, tapi hasilnya sungguh sangat diluar dugaan Lina. Lina merasa harus membantu Uriel untuk mengembangkan bakatnya memasak dan menjadikannya koki yang pertama di zaman kuno ini.


Lina pun membayangkan memiliki sebuah rumah makan di zaman yang kuno seperti ini, dengan banyak meja dan kursi yang kesemuanya ramai terisi, dipenuhi oleh para pengunjung. Tentu saja hal itu membuatnya senang.


Setelah menyesap sup beberapa kali, dia lalu mengambil buah sumber, kemudian mengunyahnya.


Dia sedang memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Kata-kata Wiro itu menyadarkannya, kalau dia kini juga sudah menjadi pasangan Serigala Perak itu.


Selama tiga bulan ke depan, mereka bertiga harus hidup bersama.


"Aku harap, kedua pria itu tidak akan pernah saling berseteru."


Uriel dan Wiro baru kembali dari luar. Mereka tidak hanya membawa buah sumber lagi, tapi juga membawa satu kantung besar buah-buahan manis.


Buah jenis ini akan tumbuh sepanjang tahun, tetapi rasa buah manis saat di musim dingin tidak semanis ketika di musim lainnya. Buah manis bila berbuah di musim dingin, rasanya manis dan juga asam. Banyak wanita di sini yang tidak menyukainya, tetapi Lina berpikir kalau buah itu sangat bagus.

__ADS_1


Jumlah buah manis yang Uriel dan Wiro bawa sangat banyak, mereka berdua juga tak suka makan buah, Lina pun tak mungkin bisa menghabiskannya sendiri.


Jadi dia membagi buah manis itu menjadi dua bagian. Sebagian akan dihancurkan untuk dibuat selai, sebagian lagi akan dimasukkan ke dalam toples batu dan disimpan di ruang bawah tanah, supaya kelak bisa diseduh menjadi anggur buah.


Selain membawa semua itu, Uriel dan Wiro juga membawa pulang beberapa obat herbal.


Lina membersihkan beberapa obat herbal yang berharga dan langka, yang telah mereka bawa.


Dia kemudian memanggil Wiro, dan memberikan obat herbal yang sudah dia bungkus dengan kulit binatang.


"Kamu bawa ini ke dukun Sito. Dia sudah menghabiskan banyak upaya untuk menyelamatkanmu dan Uriel. Herbal ini sebagai tanda terima kasihku kepada pak tua itu."


Wiro pun menjawabnya dengan santai dan acuh, "Aku mau kok pergi kesana, tapi kamu harus memberikanku imbalan."


"Apa yang kamu mau?" Tanya Lina.


"Aku ingin malam ini kamu tidur denganku!"


Mendengar itu, wajah Lina berubah menjadi merah.


"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan di siang hari begini?"


Kemudian Wiro berbicara sambil mengangkat dagunya, dan berusaha menunjukkan penampilan maconya, "Kita adalah pasangan, bukankah itu hal yang wajar bila kita tidur bersama?"


"Iya, tapi aku sudah terbiasa tidur sendiri. Aku sedang tak ingin tidur dengan orang lain untuk saat ini."


Wiro pun marah. "Bohong! Dulu setiap malam, kamu tidur dengan harimau itu, dia kadang-kadang juga menyentuhmu, membuatmu dan membiarkanmu mengeluarkan suara-suara erangan yang sangat manis dan menarik, aku pun mendengar semuanya!"


Mendengar itu, Lina pun mengeluh sambil bergumam, "Kenapa daya redam suara dinding batu ini sangat buruk sih?!"


Lina yang merasa sudah dipergoki oleh Wiro, jadi semakin merasa malu. Dia menghindari pandangan Wiro, dan matanya beralih melihat ke arah yang lain.


"Itu jelas berbeda."


"Apanya yang beda?" Tanya Wiro dengan cepat.


Lina memikirkannya sejenak, kemudian dia memutuskan untuk memberitahu hal yang sebenarnya, "Uriel dan aku adalah sepasang kekasih, kau juga selalu tidak menyukaiku, akupun hanya menganggapmu sebagai teman. Aku pikir, akan jauh lebih baik jika kita tidak tidur bersama."


Seketika itu juga Wiro membeku. Mata hijau gelapnya menyipit. Terlihat raut sedang terluka di wajahnya.


Dia mengepalkan tinjunya, menatap kearah Lina, menggertakkan giginya kemudian berkata, "Apa maksudmu? Kamu ingin mengatakan kalau kamu tidak menyukaiku sama sekali? Gitu kan? Terus kenapa kamu mau jadi pasanganku?"


Lina menjelaskan, "Saat itu keadaannya sangat darurat. Kalau saat itu aku memilih untuk tidak menjadi pasanganmu, kamu tidak akan bisa berevolusi dengan lancar, jelas sangat mungkin kamu akan terbunuh. Aku melakukan itu, karena aku tidak ingin melihat ada yang mati di hadapanku."


"Sekarang setelah aku berhasil berevolusi, apa yang akan kamu lakukan? Abaikan saja diriku." Wiro berusaha mengangkat dagunya tinggi-tinggi, sehingga seolah-olah dia terlihat tegar, tak ingin menunjukkan kepanikannya, kepada gadis kecil mungil yang ada di depannya itu.


"Kita bukan pasangan. Lagipula kita menjadi pasangan bukan karena k*w*n. Setelah tiga bulan, kita akan putus dan kamu juga akan bebas."


Semua perkataan yang baru saja Lina ucapkan itu, jujur dan tulus darinya. Dia mengucapkan kata-kata ini, setelah mempertimbangkan dan memikirkannya dengan hati-hati.


Wiro sangat tidak menyukai wanita. Memaksa dirinya untuk k*w*n dengan wanita, pasti akan membuatnya sangat marah.

__ADS_1


Dia tak ingin melihat gadis itu bahagia.


__ADS_2