
Meskipun Urat Kristal sangat langka, tapi konsekuensi dari letusan Gunung berapi terlalu serius, Uriel dan Lina juga tidak ingin melihat hutan-hutan terbakar menjadi abu.
Selain itu, ada Wisnu si Trenggiling raksasa yang selalu berjaga di sini, dia tentu tidak akan pernah mengijinkan, jika ada orang yang akan menambang Kristal di Gunung ini.
Akan diberi sesuatu yang menggiurkan, akhirnya Uriel pun menyerah dengan rencananya menambang kristal.
Lalu pada saat ini, Wisnu berkata, "Terima kasih atas kebaikanmu. Dewi alam pasti akan menyukaimu."
Uriel tersenyum sambil berkata, "Anda telah memberi kami Esensi Kristal hitam. Harga dari esensi ini, sudah mencapai seluruh Kristal yang ada di Gunung ini, tentu saja kami tidak akan pernah bisa menolaknya."
Tidak lama kemudian, Lina mengambil batu hitam tersebut dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan, untuk nantinya diberikan kepada Saga.
"Atribut dari Roh Binatang Buas Saga adalah atribut gelap, esensi kristal hitam ini sangat cocok untuk dia gunakan."
...........
Sebelum rombongan Uriel pergi, tiba-tiba saja Wisnu yang masih dalam wujud Trenggilingnya memanggil Lina dan berkata, "Kamu adalah gadis kecil yang baik hati. Jika suatu saat, kamu telah mengumpulkan hati alam, aku harap kamu selalu bisa menjaga hatimu dengan kebajikan dan kebaikan."
“Saya tidak akan pernah bisa memadatkan hati alam, karena Benih Pohon Ilahi saya sudah mati,” Ucap Lina sambil tersenyum.
"Pohon Ilahi adalah simbol kekuatan kehidupan. Selama kamu masih memiliki harapan, Benih itu tidak akan pernah mati." Ucap Wisnu.
Mendengar apa yang Wisnu katakan, sedikit-sedikit kini Lina mulai mengerti.
"Oh. Baiklah, akan selalu saya ingat. Selamat tinggal Tuan Trenggiling.."
Kini rombongan mulai bergerak lagi, untuk melanjutkan perjalanan mereka.
...........
Dua hari kemudian.
"Akhirnya aku bisa melihat lagi hutan yang aku kenali ini." Batin Lina.
Empat Serigala putih kecil terlihat berlari keluar dari dalam hutan. Tampaknya kini mereka semua telah tumbuh dewasa, dengan rambut berwarna perak mereka yang terlihat berkilauan di bawah sinar matahari.
Mereka berempat pun segera menubruk Lina hingga jatuh ke tanah, lalu menjulurkan lidah mereka yang basah dan menjilati wajahnya.
Lina yang dijilati wajahnya, merasakan sangat geli, sambil tertawa dia pun berkata, “Ahaha.. Jangan jilaat lagiii, biarkan ibu bangunn..”
Wiro yang berada di belakang anak-anak untuk ikut mengejarnya, segera mengangkat ke empat anak-anaknya dan menyingkirkannya dari atas tubuh Lina.
"Akhirnya aku bisa bangkit dari tanah." Batin Lina.
Tapi siapa yang tahu kalau ternyata kini Wiro malahan menahannya, sorot mata hijau gelapnya terlihat penuh dengan kehangatan, dan matanya terus memandangi Lina.
"Aku sangat merindukanmu.." Setelah berkata seperti itu, Wiro pun diam sejenak lalu berkata lagi, "Sepertinya berat badanmu bertambah.."
Lina, "....."
"Dasar b*j*ng*n! Aku tidak bisa menjalani hidup seperti ini!"
__ADS_1
Lina menatap Wiro dengan marah, tapi Wiro segera mendekatkan bibirnya dan mencium wajah Lina, kemudian berkata, "Jangan menatapku seperti itu, bukankah kamu bisa merasakan kalau benda milikku sudah mengeras."
Lina, “.....”
"Dasar Lintah besar br*ngs*k tak tahu malu!
Lalu Lina mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, sambil mendorong kepala wiro untuk menjauh dan bertanya, "Di mana Saga?"
Saat mendengar apa yang Lina tanyakan, membuat Wiro merasa tidak senang.
"Kenapa kamu malah tanya di mana Saga saat kamu baru saja pulang? Kenapa kamu tidak menanyakan tentang diriku?"
"Bukankah tadi kamu yang bilang sendiri kalau kamu sudah mengeras. Memangnya apa yang harus aku tanyakan padamu? Ah?" Setelah mengatakan ini, Lina segera menutupi wajahnya. Kini dia merasa malu. "Sial! Kenapa aku bisa mengucapkan kata-kata kotor seperti itu?"
Mendengar apa yang Lina katakan, membuat Wiro tersenyum sangat bahagia.
"Apakah kamu ingin menyentuh dan melihatnya? Sudah lama belahan di p*ngk*l p*h*mu tidak menjepit benda ku ini. Benda ku ini sangat merindukanmu." Ucap Wiro mencoba untuk merayu dengan nakal.
Tapi Lina segera berseru kepada Wiro, "Aku tidak ingin menyentuhnya! Jangan main-main denganku!"
Akhirnya Uriel lah yang menyingkirkan Wiro, untuk menghentikan Wiro yang sedang mencoba untuk bermain nakal kepada Lina.
Lina pun segera bangkit dan bersembunyi di belakang tubuh Uriel, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Wiro, kemudian berkata, "Wek! Dasar Serigala cabul!"
Melihat kelakuan Lina yang terlihat imut, malahan membuat Wiro tertawa.
"Hahahaha.."
Pada saat yang sama, seekor Ular Piton besar berwarna hitam keluar dari dalam hutan.
Mendengar itu, Saga pun segera mempercepat pergerakannya untuk menghampiri Lina. Setelah sampai, dia segera menggulung tubuh Lina dengan ekornya dan mengangkatnya ke depan kepalanya, lalu lidahnya dia julurkan untuk menjilati wajah Lina.
"Akhirnya kamu kembali."
Lina pun memegang kepala Ular Piton itu dan mengusap-usapnya.
Saat ini, Wiro melihat kalau Uriel ternyata juga diikuti oleh beberapa Orc asing. Dia pun segera bertanya kepada Uriel, dengan memelankan suaranya, "Siapa orang-orang yang bersamamu ini?"
Uriel pun menceritakan kepada Wiro tentang Kamar Dagang.
"Akan jadi sangat bagus jika kita bisa berbisnis dengan Kamar Dagang, tapi terlebih dahulu kita harus meminta mereka untuk menandatangani kontrak perjanjian dengan kita. Supaya mereka tidak berani mengungkapkan situasi sebenarnya dari Klan Serigala Batu, kepada orang-orang luar." Kata Wiro.
Uriel pun mengangguk dan berkata singkat, "Ya." Setelah diam sejenak, dia pun lanjut berkata lagi, "Selain itu, kami juga membawa seorang lagi."
"Siapa?" Tanya Wiro.
Uriel pun segera menyeret Heli Belang keluar.
"Kami bertemu dengannya di jalan, jadi kami menangkapnya dan sekalian membawanya kembali."
Melihat apa yang Uriel bawa, Wiro pun menyeringai, "Kebetulan sekali! Sebelumnya, kami juga sudah menghabiskan begitu banyak upaya, tapi masih belum bisa menangkapnya. Tapi sekarang? Lihatlah apa yang terjadi!"
__ADS_1
Uriel berkata, "Setelah kamu bawa dia, cobalah untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang Kuil Bulan Gelap dari mulutnya."
"Tidak masalah, biar aku yang urus soal itu!" Jawab Wiro.
Kemudian, mereka semua pun mulai berjalan menuju ke Gunung Batu.
Bonny dan adiknya juga sedang menunggu di kaki gunung. Begitu mereka melihat Lina dan yang lainnya telah kembali, Bonny dan adiknya pun segera menyapa dan berseru dengan gembira, "Selamat datang di rumah, Guru.."
Melihat hal itu, Lina pun tersenyum kepada mereka.
Saat Lina menatap tanaman berwarna hijau yang merambat, sorot matanya penuh dengan nostalgia.
"Akhirnya aku telah kembali!"
Tanaman rambat mutan bisa mencium bau yang familiar di tubuh Lina, dan segera mengambil inisiatif untuk merentangkan seikat tanaman merambat, dan dengan lembut menyentuh punggung tangan Lina.
Lina pun memegang tanaman rambat mutan yang menyentuhnya, sambil berkata, "Berusahalah lebih keras lagi, kalian bantu kami untuk menjaga rumah ini."
Daun pada tanaman rambat mutan tersebut bergoyang lembut, seolah mengatakan kepada Lina, "Kami pasti akan melakukannya."
Kini Lina dan Saga naik lebih dulu, meninggalkan uriel untuk mengatur para pria dari Kamar Dagang di kaki gunung. Sedangkan Wiro membawa Heli Belang menuju ke lantai dua bawah tanah.
Tidak lama setelah Lina pergi bersama dengan Uriel menuju ke Kota Matahari, Wiro menjadikan tempat di lantai dua bawah tanah sebagai penjara bawah tanah, dan juga ruang penyiksaan, untuk menghukum mereka yang telah melakukan kejahatan.
Wiro pun langsung melemparkan Heli belang ke dalam ruang penyiksaan dan mulai menyiksanya, untuk mencari informasi tentang Kuil Bulan Gelap.
Pada saat ini, Uriel juga telah meminta Nano untuk menandatangani kontrak perjanjian, untuk tidak memberitahukan tentang keadaan suku Serigala Batu kepada orang luar.
Kini dia telah membawa Nano masuk ke dalam benteng.
Begitu mereka semua memasuki benteng, Nano dan orang-orang yang ada di belakangnya semuanya tampak terkejut.
"HAH?"
"WAHHH.."
"Aku tidak pernah menyangka, akan ada benteng rahasia yang tersembunyi di Gunung jelek ini!" Pikir Nano.
Saat mereka tengah asik dan terpana saat melihat keadaan dalam benteng, tiba-tiba saja terdengar suara Uriel yang berkata, “Lantai pertama adalah kawasan untuk bisnis. Semua toko untuk berjualan ada di sini. Kalau mau berdagang, di sini lah tempatnya. Sedangkan untuk tempat yang lainnya, aku belum bisa menunjukkannya. Kalau kita lebih banyak transaksi dan bisa sepenuhnya saling mempercayai, aku akan mengajakmu berkeliling."
"Jangan khawatir, Yang Mulia. Kami tidak akan kemana-mana." Kata Nano kepada Uriel.
"Aku sudah meminta orang untuk menyiapkan beberapa rumah di lantai dasar, sebagai tempat tinggal sementara untuk kalian. Silahkan kalian tinggal, sambil mencari nafkah untuk sementara waktu ini. Tempatnya mungkin agak kumuh. Kami masih berusaha untuk terus memperbaiki tempat ini."
"Yang Mulia, merupakan kehormatan besar bagi kami untuk tinggal di benteng sebesar ini."
Mendengar apa yang Nano katakan, Uriel pun berkata, "Aku sudah bukan lagi seorang Pangeran. Kamu tidak perlu memanggilku Yang Mulia. Panggil saja dengan namaku."
“Tidak bisa, tidak bisa! Identitas anda sangat mulia. Sebagai warga sipil, bagaimana kami bisa memanggil anda hanya dengan nama anda?” Kata Nano yang merasa ragu-ragu.
Tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Uriel, Nano tetap menolak untuk menyebut Uriel dengan namanya saja.
__ADS_1
Pada akhirnya, Uriel pun harus memilih cara ini, "Baiklah kalau begitu, kamu juga bisa memanggilku dengan sebutan, Tuan."
Saat mendengar langsung dari mulut Lina sendiri, bahwa sebutan Tuan juga merupakan semacam gelar kehormatan, Nano pun mengangguk dan berkata, "Baik, Tuan."