
"Hm? Bau ini.."
Aroma darah yang terasa manis dan kuat, membuat Leon merasa tertarik.
Dia pun menundukan kepalanya dan mengendus-endus untuk mencari dari mana sumber bau berasal.
Saat menemukan sumber bau dan melihat darah yang merah cerah, yang mengalir dari sela-sela kaki Lina, saat itu juga ekpresi wajah Leon berubah.
"Apa kamu juga terluka di bagian sini?" Tanya Leon sambil menunjuk kearah darah yang masih segar, dan tangannya mulai bergerak untuk memeriksa area tersebut.
Lina pun berusaha untuk menghindari tangan Leon yang mulai bergerak, untuk menyentuh area terlarang milik Lina. Tapi, tubuhnya sama sekali tidak bisa dia gerakkan. Akhirnya, dia pun buru-buru berseru, "Jangan sentuh! Aku tidak terluka!"
"Kalau memang tidak terluka, mana mungkin ada banyak darah yang keluar dari situ?!" Kata Leon yang saat ini mulai merasa gugup, sambil tetap bersikeras untuk membuka kaki Lina, meskipun Lina telah melarangnya.
Lina yang saat ini tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan hanya bisa merasakan tangan Leon yang saat ini sedang menggenggam dan merentangkan kakinya.
Pada saat ini, kepala Leon yang sudah berada dekat dengan sumber bau yang menurutnya harum, membuat dirinya mulai semakin merasa tertarik.
Akibat dari aroma yang menurutnya harum dan manis itu, pikirannya pun mulai berubah-ubah, dan hampir membuatnya lepas kendali. Tapi, untungnya Leon memiliki kontrol diri yang kuat. Dengan cepat, dia pun segera menekan kegelisahan hatinya dan lanjut mengulurkan tangannya lagi, mencoba untuk menarik pakaian dalam yang Lina kenakan.
Karena mulai merasa ketakutan, dengan sekuat tenaganya Lina pun berusaha untuk menggerakkan pinggangnya, untuk menghindari tangan Leon yang saat ini sudah menyentuh pakaian dalamnya, meskipun dengan resiko bisa membuat luka di punggungnya akan berdarah lagi.
Saat berhasil menggerakkan pinggangnya dan telah sedikit menghindar dari tangan Leon, dia pun cepat-cepat berkata untuk menjelaskan tentang darah itu kepada Leon, "Itu bukanlah luka! Selama beberapa hari dalam setiap bulan, aku memang akan seperti ini. Darah akan keluar selama beberapa hari, dan akan menghilang setelahnya."
Meskipun bisa mendengar penjelasan Lina dengan sangat jelas, tapi Leon masih tetap merasa ragu. Dia pun bertanya, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti tidak terlalu percaya, "Benarkah begitu?"
"Jika kamu tidak percaya, sekarang juga kamu boleh kembali seorang diri, untuk menanyakan tentang hal ini kepada Uriel, Wiro dan Saga. Mereka semua tahu tentang keadaanku yang seperti ini." Jawab Lina dengan sungguh-sungguh.
Setelah mendengar apa yang baru saja Lina katakan, Leon pun akhirnya mulai percaya. Dan dengan sedikit merasa enggan, akhirnya dia mau melepaskan tangannya, yang saat ini sedang memegang pakaian dalam Lina yang sudah hampir robek, sambil bertanya, "Kenapa sebelumnya kamu tidak memberitahukan hal ini padaku?"
"Aku bukan orang bodoh! Mana mungkin aku memberitahukan hal seperti ini pada orang lain? Ini kan privasiku!" Jawab Lina dengan lantang.
"Aku bukan orang lain. Suatu saat nanti aku juga akan menjadi pasanganmu. Kamu bisa mempercayaiku juga." Setelah berkata seperti itu, salah satu tangan Leon pun segera menyusup kebawah pinggang Lina untuk sedikit mengangkatnya, dan satu tangannya lagi menaikkan pakaian dalam Lina yang sudah sedikit melorot. Meskipun tangannya terkena noda darah, tapi Leon seperti tidak mempedulikan hal ini.
Sebaliknya, hal itu membuat Lina merasa tidak nyaman. Dia pun segera menggerakkan pinggangnya lagi untuk menghindari tangan Leon yang terkena noda darah, kemudian berkata, "Kenapa kamu selalu mempermainkan orang lain? Apa kamu tidak takut kekasihmu akan menganggapmu sebagai laki-laki yang suka menggoda?"
"Aku tidak sedang menggoda." Jawab Leon.
"Benarkah?" Tanya Lina yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Leon katakan, sambil mengangkat salah satu sudut mulutnya.
"Apa aku harus menindih dan menidurimu dulu supaya kamu percaya?" Kata Leon sambil terus menatap Lina.
"Kalau kamu ingin belepotan darah, dengan keadaanku yang masih pendarahan, lakukan saja!" Tantang Lina, yang sebenarnya dia juga sangat berharap supaya Leon tidak mau.
Leon, "....."
Melihat reaksi Leon yang diam saja seperti tidak berani, Lina pun mulai merasa sangat lega dan senang.
"Terima kasih tamuku tersayang! Ternyata ada untungnya juga kamu datang di saat seperti ini!" Batin Lina.
Pada saat ini, sebenarnya Leon sedang merasa bingung, tentang bagaimana bisa Lina bangkit lagi dari kematiannya. Meskipun bingung, tapi dia tidak pernah berniat untuk menanyakan tentang hal itu kepada Lina.
"Aku tahu gadis mungil itu menyimpan banyak rahasia. Jika dia tidak ingin mengatakannya padaku, aku juga tidak akan pernah menanyakannya." Pikir Leon.
__ADS_1
Tapi, berbeda dengan Lina saat ini. Sepertinya dia sedang merasa tidak enak hati. Dan pada akhirnya, dia pun membuka mulutnya untuk berkata, dengan nada suaranya yang terdengar seperti menyesal, "Aku bisa bangkit lagi dari kematian.. Di saat yang sama, seharusnya kekuatan Benih Suci juga telah bangkit."
Leon yang telah banyak memakan asam garam dan diterjang getirnya ombak kehidupan pun tetap sangat terkejut, setelah mendengar apa yang Lina katakan.
"Apa kini Benih dari Pohon Ilahi yang tertidur di dalam dirimu sudah terbangun?" Tanya Leon.
"Ya." Jawab Lina sambil menganggukkan kepalanya.
Leon juga tahu, kalau Pohon Ilahi adalah simbol untuk sumber kehidupan, dan memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali yang telah mati.
"Apa yang dia katakan masuk akal. Nyatanya, dia sendiri juga telah kembali dan bangkit dari kematiannya."
Setelah Leon berpikir seperti itu, kemudian dia pun berkata untuk memberi saran kepada Lina, "Aku sarankan, sekalipun jangan pernah kamu memberitahukan tentang Benih Ilahi yang ada di dalam dirimu, kepada orang lain."
"Ya. Aku tidak pernah memberitahukan hal ini kepada orang lain. Kecuali kamu, Uriel, Saga dan Wiro." Sahut Lina dengan mantap.
Setelah mendengar apa yang Lina katakan, Leon pun mulai merasa puas. Kemudian, dia mencubit pipi Lina sambil berkata, "Bagus.."
Pada saat ini Lina sedang merasa lega, karena Leon mempercayai apa yang telah dia katakan.
"Hhh.. Untungnya dia percaya padaku.. Aku juga sengaja hanya memberitahukan padanya tentang Benih Suci yang kini telah bangkit, tapi tidak memberitahunya tentang keberadaan Bubu."
Meskipun Lina kini telah bangkit dari kematiannya, tapi tubuhnya masih sangat lemah. Hanya supaya dirinya bisa membuat sedikit gerakan, mengharuskan Lina untuk melakukan banyak usaha dan juga harus memiliki tekad yang besar.
...........
Pada saat ini, Lina telah mengeluarkan beberapa obat-obatan herbal dari dalam ruang penyimpanan, dan di bantu oleh Leon untuk merebus herbal-herbal itu menjadi sup, untuk diminum Lina yang sedang terluka.
Saat merasa dirinya kini telah sedikit lebih baik setelah meminum obat, Lina pun melanjutkan lagi usahanya supaya bisa bangun, dan berencana untuk segera mengganti pembalut yang kini sudah tidak bisa berfungsi, untuk menyerap darahnya yang masih keluar.
Saat Leon melihat Lina yang sedang berusaha untuk bangun, Leon pun segera menekan tubuh Lina supaya tidur lagi dan berkata, "Mau kemana kamu?"
"Perutku terasa kembung karena terlalu banyak minum air. Aku juga ingin buang air kecil." Jawab Lina dengan suara pelan dan malu-malu.
Mendengar itu, Leon pun segera membopongnya, kemudian berkata, "Aku antar."
"Tidak! Turunkan aku! Aku bisa sendiri!" Kata Lina sambil meronta-ronta. Namun sayangnya, dia sama sekali belum bisa menggerakkan sebagian anggota tubuhnya dengan normal.
Mendapat penolakan dari Lina yang bergerak-gerak lemah, Leon pun berkata, "Jika kamu terus bergerak, jangan salahkan aku jika aku menciummu."
"Kamu.. Dasar Orc Burung tak tahu malu!" Kata Lina, dengan wajahnya yang kini terlihat memerah.
Mendapat pujian seperti itu dari Lina, Leon pun segera memeluk Lina dengan erat, kemudian berkata, "Aku suka caramu memarahiku. Bagiku terlihat sangat lucu. Aku sudah tidak tahan lagi."
Lina, "....."
"Dasar Orc b*j*ng*n!" Maki Lina dalam hatinya.
...........
"SRAK! SRAK! SRAK!"
Setelah berjalan-jalan mencari tempat, akhirnya Leon menemukan semak-semak yang menurutnya tersembunyi.
__ADS_1
"Di sini saja." Kata Leon.
"Tinggalkan aku! Aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Lina.
"Apa kamu yakin? Lihatlah dirimu saat ini. Berdiri saja kamu tak bisa. Begitu aku melepaskanmu, kamu pasti akan langsung terjatuh." Kata Leon.
Mendengar apa yang baru saja Leon katakan, Lina pun segera berkata dengan marah, "Jangan sukanya selalu memandang rendah orang lain!"
Tak menghiraukan apa yang Lina katakan, Leon pun segera mengulurkan tangannya, mencoba untuk melepaskan rok yang Lina kenakan, sambil berkata, "Sudah-sudah. Cepatlah buang air. Jangan membuang-buang waktu."
Mendapat perlakuan seperti itu, Lina pun berusaha sekuat tenaga memegangi rok bulunya supaya tidak terlepas, sambil berseru, "Singkirkan tanganmu! Singkirkan! Aku bisa melakukannya sendiri!"
Melihat Lina yang dengan sangat gigih menolak kebaikan Leon, mau tak mau akhirnya Leon pun melepaskan tangannya yang sedang memegang rok bulu yang Lina kenakan. Kemudian, dengan lembut Leon menurunkan Lina ketanah, lalu memegangi bahunya supaya Lina tidak terjatuh.
"Oke. Cepatlah buang airnya." Kata Leon.
"Palingkan wajahmu! Jangan melihat kesini!" Kata Lina dengan berseru.
"Saat kamu mati ..." Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba saja Leon berhenti sejenak untuk berpikir, kalau kata "mati" ternyata terdengar terlalu kasar. Kemudian, dia pun lanjut berkata lagi, "Aku sudah melihat seluruh area yang ada di tubuhmu. Saat kamu sedang tak sadarkan diri, akulah yang telah membersihkan seluruh tubuhmu. Bukankah itu sama saja jika sekarang aku melihatnya lagi."
"Tentu saja tidak bagiku! Cepat, palingkan wajahmu sekarang juga!" Seru Lina lagi yang saat ini sudah mulai semakin merasa kesal.
"Hahaha.. Ok ok. Aku tidak akan mengintip apa yang akan kamu lakukan." Kata Leon.
Setelah melihat Leon yang telah memalingkan wajahnya, Lina pun segera menurunkan CDnya, lalu buru-buru mengambil pembalut yang baru dari dalam ruang penyimpanan.
Karena terlalu terburu-buru, secara tak sengaja, pembalut yang masih bersih yang akan lina rekatkan terjatuh.
"Pluk!"
Tepat saat Lina akan mengulurkan tangannya untuk mengambil pembalut yang terjatuh, ada sebuah tangan yang besar, yang lebih dulu meraih dan mengambil pembalut yang tergeletak di tanah.
Melihat hal ini, Lina pun menengadahkan kepalanya untuk melihat ke atas, dan melihat sosok Leon yang bertubuh tinggi, yang saat ini sedang menunduk untuk menatap dirinya.
Leon pun mengulurkan tangannya, untuk memberikan pembalut yang sedang dia pegang kepada Lina, lalu berkata sambil tersenyum, dengan senyumnya yang dibuat semenawan mungkin, "Lanjutkan saja! Anggap saja aku tidak ada."
Lina, "....."
Dengan merasa sangat malu dan sangat marah, Lina pun mengulurkan tangannya untuk mengambil pembalut yang Leon sodorkan padanya.
Setelah itu, dia pun segera melepas pembalut lama yang masih merekat, lalu membuangnya ke tanah, kemudian merekatkan pembalut yang masih baru ke bagian dalam CDnya.
Saat Leon melihat Lina yang sedang sangat serius melakukan bongkar pasang di bawah sana, dia pun segera bertanya, "Benda apa itu? Apa kamu menempelkan itu di sana untuk menghentikan pendarahan?"
"Kurang lebih seperti itu." Jawab Lina dengan pelan.
Setelah itu, Leon pun menatap ke arah pembalut kotor berlumuran darah yang Lina buang di tanah.
"Jangan sembarangan membuang barang kotor seperti ini."
Setelah berkata seperti itu, Leon pun segera menunjukan jari telunjuknya ke arah pembalut kotor yang tergelatak di tanah, dan saat itu juga, sinar merah dengan cepat melesat keluar dari ujung jarinya.
"SYUTT! BURRR!"
__ADS_1
Pembalut kotor berlumuran darah yang tergelatak di tanah pun langsung hangus terbakar menjadi abu, hanya dalam sekejap mata.
"PESSHHH!"