Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 174 - Rapuh dan Mudah Pecah


__ADS_3

"Baru kemarin Carli datang ke sini. Sedangkan Leon baru saja kembali dari klan Bulu. Seharusnya dia belum melihat dan bertemu dengan Carli." Pikir Lina.


Karena merasa sangat aneh, Lina pun segera bertanya, "Darimana kamu tahu tentang Beruang bambu itu?"


Leon pun berkata sambil tersenyum, "Hari ini kamu tidak pergi mengajar di kelas. Pasangan barumu yang meminta cuti untukmu. Sekarang seluruh suku juga tahu, kalau kamu telah memiliki Beruang bambu di bawah umur, sebagai pasanganmu."


Setiap kali Leon mengatakan kata "pasangan," dia selalu memberikan penekanan ekstra pada kata tersebut, sambil merapatkan giginya.


Mendengar apa yang Leon ceritakan, membuat Lina merasakan sakit kepala, "Kenapa anak itu membuat keputusan sendiri? Tidak boleh, aku harus menemuinya dan segera menjelaskan kepadanya."


Tapi baru saja Lina selesai berkata seperti itu, Carli telah kembali.


Dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan kaki pendeknya, bersama dengan para anak-anak Serigala yang mengikuti dibelakangnya, seperti bola bulu yang berderet panjang.


Begitu Lina melihatnya, Lina pun langsung memanggilnya dan berkata dengan serius, "Kenapa kamu memberi tahu orang luar kalau kamu adalah pasangan baruku?"


Carli berkata dengan sedikit malu, "Saat orang-orang bertanya kepadaku tentang hubunganku denganmu, aku memang memberi tahu mereka seperti itu. Pokoknya, semua itu benar. Aku juga tidak takut dikenal oleh orang lain."


Saat mendengar apa yang carli katakan, Leon menyipitkan matanya dan terus menatap Lina, dengan tatapannya yang penuh menyelidik.


"Setelah Lina pertama kali bertemu dengan Uriel, Wiro dan Saga, tentu akan sangat normal karena Lina menerima mereka seiring berjalannya waktu. Tapi apa yang sudah terjadi dengan si Beruang bambu? Kenapa tiba-tiba saja dia bisa menjadi pasangan Lina?"


Setelah berpikir seperti itu, Leon pun mencibir pada dirinya sendiri.


"Beruang bambu itu jelas datang lebih telat dariku, dan penampilan serta kekuatannya tidak sebaik aku. Tapi kenapa Beruang bambu itu bisa diterima oleh Lina?! Apa aku hanya akan bisa menjadi penonton saja?!"


Saat ini Leon sudah tidak tahan lagi. Dia pun mendorong tubuh Lina masuk ke dapur, dan segera menutup pintu dapur.


Saat Lina tersadar, dia sudah bersandar di pintu dapur, dan Leon sudah menahan pintu dapur dengan tangannya.


Tangan Leon dia julurkan dikedua sisi tubuh Lina untuk menahan pintu dapur, dan juga untuk mencegah supaya Lina tidak lari, sambil matanya menatap Lina. Rambut emas panjangnya, tegerai dan menyapu wajah Lina.


Dengan tenaga seadanya, Lina pun memaksa untuk mendorong Leon supaya menjauh dari dirinya.


"Apa yang kamu lakukan? Tolong hentikan."


Bukannya menjauh, tapi Leon malahan tertawa sejenak, setelah itu berkata, "Aku tidak peduli dengan apa yang aku lakukan. Aku merasa kalau aku sudah dibodohi."


Lina bisa merasakan, kalau saat ini dia sedang dalam keadaan berbahaya. Secara naluriah, dia menghindari tatapan Leon untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan berpura-pura tenang sambil berkata, "Keberanian macam apa yang tiba-tiba saja kamu miliki? Menyingkirlah. Jangan terlalu dekat denganku."


"Ada yang ingin kukatakan padamu." Ucap Leon kepada Lina.


"Katakan saja, aku akan mendengarkan." Sahut Lina dengan setenang mungkin.


Lalu Leon mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Lina, lalu jarinya memegang dagu Lina supaya mendongak, kemudian menatap matanya dan berkata, "Aku tidak ingin Beruang bambu itu ada di sini, oke?"


Saat mendengar itu, Lina pun terkejut, "Hah?"


"Beruang bambu itu belum dewasa. Dia itu masih anak-anak. Selain itu, dia tidak akan bisa menjagamu. Aku jauh lebih kuat dari yang lain. Jika kamu berpasangan denganku, aku yakin aku bisa melindungimu dengan sangat baik." Kata Leon menjelaskan tentang ketidak sukaannya terhadap si Beruang bambu.


Kini Lina semakin terkejut saat mendengar apa yang baru saja Leon katakan, sorot matanya menatap Leon dengan serius, kemudian berkata dengan gugup, "Ka..kamu menginginkanku?" Setelah jeda beberapa saat, dia lanjut berkata lagi sambil tersenyum yang dia paksakan, "Apakah kamu sedang bercanda?"

__ADS_1


"Soal itu ..."


Lina segera memotong apa yang akan Leon katakan, "Bukankah kamu pernah memberi tahuku kalau kamu sudah memiliki seseorang yang kamu sukai, jadi apa yang kamu katakan barusan pasti hanya sebuah lelucon, kan? Hehe, lelucon seperti ini sama sekali tidak lucu."


"Aku tidak ..."


Tapi Lina segera memotong lagi apa yang akan Leon katakan, "Itu dia," setelah berhenti sejenak, kemudian Lina berkata lagi, "Aku akan menganggapnya seolah-olah aku tidak pernah mendengar apa yang baru saja kamu katakan. Sekarang keluar dari sini. Masih ada hal lain yang harus aku lakukan."


Leon pun tak berkata apa-apa lagi dan hanya menatap Lina.


Lina segera menghindari tatapan mata Leon yang seolah-olah seperti terbakar, kemudian berkata, "Aku sudah mempunyai tiga pasangan. Tiga sudah cukup bagiku. Aku tidak perlu yang keempat."


Sungguh, kalimat itu adalah penolakan tanpa ampun!


Tapi tiba-tiba saja Leon tertawa setelah Lina selesai berkata.


"Hahaha!"


Setelah itu dia berkata, "Kenapa kamu menjawabnya dengan begitu serius? Aku hanya bercanda denganmu. Kamu benar-benar mempercayainya? Kamu ini memang bodoh."


Lina terkejut untuk sementara waktu setelah mendengar apa yang Leon katakan, lalu dia segera bereaksi dengan marah hingga menggertakkan giginya.


"Kamu b*j*ng*n! Kamu sudah mempermainkanku lagi!"


Meskipun marah, tapi pada saat yang sama Lina juga merasa sedikit lega.


Pada saat ini Leon tertawa bahagia sambil berkata, "Hahaha.. Siapa juga yang menyuruhmu begitu mudah ditipu? Sangat menyenangkan bagiku bisa menipumu setiap kali."


​​Tapi Leon segera mendekat lagi dan bertanya, "Apakah kamu membenciku?"


"Ya, aku membencimu! Pergi! Saat ini aku tidak ingin melihatmu!" Setelah berkata seperti itu, tangan Lina melambai pada Leon, seolah sedang mengusir nyamuk.


"Hhh.. Belum pernah aku melihat ada wanita yang sangat membenciku sepertimu. Oh wanita kecil, kamu sudah berhasil menarik perhatianku." Kata Leon.


Mendengar itu, Lina pun menyentuh lengannya karena merinding saat mendengar apa yang Leon katakan, kemudian berkata, "Bisakah kamu berhenti berbicara denganku, dengan nada suara yang terdengar begitu memerintah? Seperti Big Boss saja!"


"Big Boss?" Tanya Leon dengan ekspresi bingung.


“Big Boss adalah tipe pria dengan banyak uang dan banyak wanita berkaki tinggi yang selalu berjalan di sampingnya, dan boss adalah orang yang selalu berusaha membuat orang lain bangkrut.” Kata Lina mencoba untuk menjelaskan kepada Leon.


Meskipun masih ada beberapa kata yang tidak bisa Leon mengerti, dia masih bisa menebak maksudnya. Kemudian dia bertanya sambil berpikir, dengan satu tangannya menyentuh dagunya, "Hmm.. Apakah kalian para wanita menyukai pria dengan gaya boss seperti itu?"


"Gadis kecil akan lebih menyukainya. Tapi Wanita sepertiku yang sudah menikah dan mempunyai anak, lebih menyukai pria yang bisa menjalani kehidupan, seperti Uriel." Kata Lina.


Setelah mendengar apa yang Lina katakan, Leon menyipitkan matanya, kemudian bertanya dengan sedikit heran, "Kenapa kamu hanya menyebutkan Uriel? Bukankah kamu juga memiliki Wiro dan Saga?"


"Tentu saja mereka juga. Ah.. Wiro itu sangat lucu, Saga sangat kalem, aku juga menyukai mereka semua!" Kata Lina sambil tersenyum.


Saat Leon melihat Lina yang tersenyum, dia merasa senyum itu sangat mempesona.


"Aku pergi."

__ADS_1


Setelah Leon berkata seperti itu karena merasa sudah semakin tidak tahan lagi, dia pun segera membuka pintu dan berjalan keluar dari dapur, dan hanya dalam sekejap mata sosoknya menghilang.


Lina tidak memasukkan kejadian barusan di hatinya. Dia tetap melanjutkan tujuannya menuju ke dapur, untuk mencari seeuatu untuk dia makan. Dan saat dia sudah merasa kenyang, dia pun memanggil Carli dan menjelaskan kalau dia tidak bisa menjadi pasangan dengannya.


Setelah mendengar seluruh penjelasan dari Lina, Carli pun merasa sedih. Tapi dia tidak lagi berguling-guling seperti sebelumnya.


Kemudian Lina menyentuh kepala Carli sambil berkata, "Kamu itu sangat imut. Kelak saat kamu sudah dewasa, pasti akan ada banyak wanita yang menyukaimu."


"Oh," jawab Carli singkat sambil cemberut.


...........


Pada saat ini, Leon telah kembali ke kediaman klan Bulu, dengan tubuhnya yang dipenuhi dengan api.


Ketika para Orc dari klan Bulu melihat penampilannya yang berkobar seperti itu, mereka semua merasa sangat takut dan segera mencari tempat untuk bersembunyi, dan tidak berani muncul di depan Leon, agar tidak terkena bencana bagi diri mereka.


Leon langsung kembali menuju ke rumahnya.


Dia selalu berada di rumah sendirian.


Saat dia memikirkan kejadian tadi, hal itu membuatnya semakin marah.


"Lina lebih suka dengan Beruang bambu di bawah umur, daripada menerima diriku?!"


Setelah berpikir seperti itu, dia pun mengeluarkan sebuah cermin berukuran kecil.


"Sejak Lina memberikan cermin ini kepadaku, aku selalu membawa cermin ini kemana-mana. Cermin ini adalah harta yang sangat berharga bagiku." Gumam Leon lirih.


Tapi saat dia melihat cermin itu dan teringat lagi dengan kejadian tadi, membuat emosinya kini semakin meledak-meledak.


"Sungguh wanita yang tidak tahu berterima kasih!"


Lalu tanpa sadar, spontan saja dia mengangkat tangannya dan melemparkan cermin itu ke dinding!


"PRIANGGG!"


Seketika itu juga, cermin itu pecah berkeping-keping menjadi beberapa bagian kecil.


"Hah??"


Melihat hal itu, membuat Leon tertegun sejenak.


"Aku pikir kalau cermin itu akan sekokoh Batu Kristal. Aku benar-benar tidak pernah menyangka, kalau ternyata cermin itu sangat rapuh dan sangat mudah pecah."


Kini Leon mulai merasa sedikit bingung.


"Sial!"


Lalu dengan cepat dia segera berjalan menuju ke pecahan cermin, mengambil potongan-potongan cermin yang berserakan di tanah, dan mencoba untuk menyatukannya kembali.


Namun, cermin yang kini telah pecah berkeping-keping, sangat sulit untuk dia satukan kembali.

__ADS_1


"AAAAHH!"


__ADS_2