
Keesokan harinya, Lina mengumpulkan para murid.
"Hari ini aku akan pergi jauh, mungkin sekitar satu bulan baru kembali. Selama aku pergi, kalian harus tetap rajin untuk belajar."
Kemudian Lina memberikan beberapa pekerjaan rumah kepada para murid dan menyuruh mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka dengan teliti.
"Saat aku sudah kembali, aku akan memeriksa hasil pekerjaan rumah kalian."
Para siswa enggan berpisah dengan gurunya dan memandang Lina dengan tatapan mata yang merasa kehilangan.
"Guru.. Cepatlah kembali!"
Setelah itu Lina mengucapkan selamat tinggal kepada para murid, dan mengikuti Uriel untuk segera menuruni gunung.
Uriel merubah wujudnya menjadi harimau putih besar dengan Lina yang duduk di punggungnya, dan telah siap untuk berangkat.
Wiro, Saga dan anak-anak Serigala ikut untuk mengantar kepergian Lina dan Uriel.
"Kami akan mengantarmu turun gunung."
Sesampainya di kaki gunung, Wiro yang tidak ingin berpisah berkata kalau dia ingin mengantar sampai kedepan lagi.
Setelah beberapa kali Wiro berkata seperti itu, tanpa disadari kini mereka telah mengantar Lina sampai ke hutan.
Melihat mereka yang ternyata terus mengikuti hingga ke hutan, Uriel pun menoleh kepada mereka dan berkata, "Kalian kembali saja, antar kami cukup sampai di sini saja."
Lalu Lina turun dari punggung Harimau, dia berlari mendekati Wiro dan Saga, dan memberi mereka ciuman.
"Aku pasti akan merindukan kalian."
Wiro memeluknya dan menolak untuk membiarkan Lina pergi, "Apakah kamu serius akan pergi ke Kota Binatang Buas? Apakah tidak mungkin lagi untuk berubah pikiran?"
Lina menyentuh rambut pendek Wiro yang keperakan, kemudian berkata sambil tersenyum, "Aku pergi hanya sebulan, tidak akan lama kok."
Tapi Wiro masih merasa enggan melepaskan Lina pergi. Gadis kecil mungil itu akan meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, untuk pertama kalinya. Hal itu lah yang membuat Wiro merasa khawatir.
"Apakah Lina akan bisa cukup makan dan memakai pakaian hangat saat di luar sana? Apakah dia akan diganggu oleh orang lain?"
Sedangkan Saga memeluk Lina dari belakang. Dia tidak berkata apa-apa. Bibirnya yang dingin dia tempelkan ke leher Lina, dan menciumnya dengan hangat.
Anak-anak Serigala juga tidak ingin jika ibu mereka pergi. Mereka memeluk tangan dan pinggang Lina sambil terisak-isak.
"Ibu.." Rengek Wirna.
Melihat apa yang anak-anak Serigala lakukan, Lina segera melepaskan dirinya dari pelukan Wiro dan Saga.
Kemudian dia menyentuh kepala berbulu anak-anak Serigala.
"Kalian harus patuh pada ayah kalian, jangan membuat masalah, ingat?"
Anak-anak Serigala menggosok telapak tangan Lina dengan keras.
"Ibu.. Ibu.."
Bagaimanapun juga, mereka adalah darah daging yang telah Lina lahirkan, dan dia juga sebenarnya enggan untuk meninggalkan mereka. Kemudian Lina memeluk anak-anak dengan paksa.
"Kalian harus makan yang banyak. Meskipun makanan yang dibuat oleh ayah tidak terlalu enak, kalian tetap tidak boleh pilih-pilih."
"Wuu.. Huu.. Huu.." Para anak-anak serigala tertawa mendengar apa yang telah Lina katakan.
Wiro meniup rambutnya sendiri saat memdengar Lina berkata seperti itu, kemudian dia bertanya, "Apakah masakanku sangat buruk?"
Lina tersenyum mendengar pertanyaan Wiro.
"Tidak buruk, cuma sedikit buruk. Hihihi.."
__ADS_1
Anak-anak Serigala melolong tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibu mereka.
"Iya iya iya!"
"Auu.."
"Huh!" Wiro merasa sangat marah.
Dia pun akhirnya memutuskan memanfaatkan bulan ini, untuk berlatih memasak.
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang ini memandang rendah masakanku lagi!"
Lina sebenarnya enggan untuk berpisah dengan Saga, Wiro dan anak-anak, dia tetap memutuskan untuk naik ke punggung Harimau putih, menoleh ke keluarganya dan melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal! Jaga diri kalian baik-baik selama aku pergi! Jangan membuat masalah!"
"Kembalilah lebih lebih cepat, jangan bepergian sendirian di jalan!" Teriak Wiro yang mencoba untuk mengingatkan Lina.
Saga juga menatap Lina sambil berseru, "Jika dalam sebulan kamu belum kembali, aku akan pergi untuk menemuimu."
Kemudian Harimau putih berlari dengan cepat, membawa Lina masuk kedalam hutan.
"BUK BUK! BUK BUK!"
"Ahuhu! Auu!" Anak-anak serigala tiba-tiba saja berlari untuk mengejar mereka.
Sayangnya kecepatan mereka tidak sebanding dengan Harimau putih, mereka pun segera tertinggal sangat jauh.
Kini mereka hanya bisa menyaksikan sosok ibu mereka menghilang di dalam lebatnya hutan.
"Auuu.."
Lina duduk di punggung Harimau putih sambil membersihkan sudut matanya yang lembab.
"Jika kamu tidak tega meninggalkan mereka, kamu bisa tinggal selama beberapa hari lagi dulu sebelum kamu pergi."
"Tidak," kemudian Lina mencoba untuk menenangkan suasana hatinya. "Pada akhirnya anak-anak pasti akan tumbuh dewasa. Aku juga tidak mungkin akan tinggal bersama mereka selamanya. Meskipun aku merasa tidak tega, aku juga harus belajar untuk melepaskan mereka."
Uriel berkata dengan lembut, "Saga, Wiro dan aku akan selalu menemanimu saat malam tiba."
Lina menyentuh bulu putih di punggung Uriel sambil tersenyum.
"Baiklah, kita semua akan hidup bersama selamanya."
Pada saat ini, tiba-tiba saja kuncup bunga kecil jatuh dari kepala Lina dan mengusap pipinya.
"Ibu.."
Lina sangat terkejut mendapati si kuncup bunga kecil yang tiba-tiba saja muncul.
"Kubucil, kenapa kamu bisa mengikutiku?"
Tapi Uriel berkata, "Dia itu selalu ada di rambutmu. Apakah kamu tidak menyadarinya?"
"Aku sama sekali tidak menyadarinya!" Kemudian Lina menyentuh si kuncup bunga kecil.
"Seharusnya kamu tetap tinggal bersama dengan Leon saja, jangan mengikutiku pergi!"
"Eh! Ngomong-ngomong soal Leon, sepertinya aku belum melihatnya sejak kemarin. Apa dia pergi untuk menjelma menjadi iblis lagi dan mengganggu orang-orang?!"
Faktanya menunjukkan kalau Lina benar-benar tidak tahan dengan kelakuan Orc itu.
Misalnya saja sekarang, baru saja Lina selesai menyebutkan nama Leon, saat itu juga dia melihat sosok berwarna merah menyala turun dari langit dan berhenti dengan mantap di sampingnya.
Sayapnya yang lebar berwarna merah terlihat sangat menyilaukan, seperti nyala api yang menyala dan bisa terlihat dari kejauhan. Rambut panjangnya yang berwarna emas bergoyang lembut di punggungnya, dengan rantai rambutnya yang melilit rambut berwarna emasnya. Kristal merah yang tertanam pada rantai rambutnya juga ikut bersinar.
__ADS_1
Saat ini Leon sedang tersenyum dan menatap Lina.
"Kupikir, baru saja aku mendengarmu memanggil namaku."
Begitu Lina melihat Leon muncul, Lina langsung merasa seperti melihat beberapa monster. Wajahnya kini penuh dengan kengerian dan kewaspadaan.
"Kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Karena kamu memanggil namaku, jadi aku muncul di sini." Jawab Leon santai.
Lina, “....."
Lina terdiam sesaat, kemudian berkata, "Kamu sudah salah dengar. Aku sama sekali tidak memanggil namamu."
Leon mendekati Lina kemudian berkata, "Kenapa kamu tidak mengakuinya? Jelas-jelas kamu sudah merindukanku, jika tidak, kamu tidak akan menyebut namaku."
Melihat Leon datang, kuncup bunga kecil segera mengulurkan tangannya, mengusap pipi Leon, dan memanggilnya dengan penuh kasih sayang, "Ayah.."
Leon pun menyentuh si kuncup bunga kecil.
"Kamu memang anak yang baik."
Lina memutar bola matanya, kemudian berkata, "Percaya diri yang terlalu berlebih! Siapa juga yang merindukanmu?"
"Jika kamu tidak merindukanku, untuk apa kamu menyebut namaku?"
Kini Lina sudah tidak tahan melihat penampilan Leon yang terlalu percaya diri.
Meskipun terkadang Wiro juga bersikap terlalu percaya diri, tapi Lina merasa apa yang Wiro lakukan itu membuat Wiro terlihat sangat imut.
Berbeda dengan Leon, membuat Lina memiliki semacam dorongan untuk menghajar Leon hingga terkapar babak belur dan terluka parah.
Tidak peduli seberapa tampan wajah Leon, tetap tidak bisa menghilangkan penolakan Lina pada Leon.
Kemudian Lina pun mendengus, "Huh! Sudah-sudah. Tidak usah membicarakan tentang ini lagi. Sekarang katakan dengan jujur, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Aku ingin pergi ke Kota Matahari. Kudengar kamu juga akan pergi ke sana, jadi kamu bisa mendapatkan tambahan teman." Jawab Leon dengan santai sambil tersenyum.
Leon memang terlihat berkata dengan jujur, tapi Lina tetap tidak percaya sepatah kata pun dengan perkataan Leon.
"Dia tidak pergi lebih awal ataupun nanti, tapi dia lebih memilih untuk pergi ke Kota Matahari saat ini. Dia pasti memiliki motif yang tersembunyi!"
Kemudian Lina menatap Leon dengan waspada.
"Aku tidak peduli ke mana kamu ingin pergi, tapi jika kamu sampai berani melakukan sesuatu yang buruk di belakangku, aku tidak akan membiarkanmu untuk ikut pergi bersama-sama denganku!"
Leon tersenyum, dan wajahnya yang terlihat tampan, hampir bisa menjungkir balikan semua makhluk hidup yang menatapnya.
"Sebaiknya kamu tidak membiarkanku pergi jauh darimu, agar kamu selalu bisa memikirkanku."
Lina sudah terbiasa dengan provokasi dari Leon, dia juga sudah kebal dengan kata-kata manisnya. Lina pun tidak merespon sama sekali kata-kata Leon.
Tapi Leon juga tidak peduli tentang itu.
Uriel mendengarkan percakapan mereka berdua dengan sangat jelas, tapi dia tetap diam sepanjang waktu.
Uriel tidak mengundang Leon untuk bergabung dengan dirinya dan Lina, dan dia juga tidak bermaksud untuk mengusir Leon.
Saat ini tiga orang tetap mempertahankan mode hubungan yang tidak jelas semacam ini dan terus bergerak menuju ke arah Kota Matahari berada.
Mungkin karena Uriel dan Leon memiliki rasa waspada yang tinggi. Mereka pun hampir tidak pernah menghadapi bahaya di sepanjang perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka bertemu dengan beberapa Orc, dan mereka pun hanya lewat saja.
...........
Tujuh hari kemudian, mereka akhirnya tiba di Kota Binatang yang terdekat. Yaitu, Kota Kristal Merah!
__ADS_1