Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 179 - Ikuti Aku


__ADS_3

Saat Tuan Trenggiling mengetahui kalau Lina dan keluarganya mencari sumber air panas, dia berkata, "Ada kolam air panas di dalam gua ini, dan juga tempat itu berbau aneh. Mungkin itulah sumber air panas yang kamu maksud."


"Bisakah anda membawa kami kesana?" Tanya Lina kepada Tuan Trenggiling.


"Tentu saja," Tuan Trenggiling menjawabnya dengan nada suara dan sikapnya yang lembut dan toleran, seperti orang tua yang penyayang. "Aku akan membawa kalian kesana sekarang.. Ikuti aku."


Mereka pun segera berjalan lebih dalam lagi ke dalam gua, yang kedua sisinya diapit oleh tiang-tiang Batu Kristal hitam.


Saat berjalan itulah, Lina tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh setiap tiang-tiang itu.


"Begitu banyak Kristal hitamnya, jika dibawa untuk dijual, pasti bisa menghasilkan banyak uang! Tidak heran kenapa Heli Belang mau datang jauh-jauh dengan membawa banyak pengawal, untuk menambang di sini."


Setelah berpikir seperti itu, dia pun bertanya, "Tuan Wisnu, setelah kami pergi, apakah Kota Bulan Gelap masih mengirim orang-orang mereka datang ke sini?"


Tuan Trenggiling pun berkata, "Tidak lama setelah kalian pergi, mereka datang lagi kemari sebanyak dua kali. Sepertinya mereka telah meyakini, kalau di sini memang ada Bijih Kristal. Mereka tidak mau menyerah sebelum mereka menemukan Batu-batu Kristal ini. Aku yang sangat kesal dengan mereka, terpaksa membunuh banyak orang-orang mereka. Hal itu membuat mereka ketakutan dan tidak berani untuk menambang Bijih Kristal lagi di sini."


Saat ini Lina sedang merasa bingung, "Alasan kenapa Heli Belang datang ke sini untuk menambang, adalah karena Ida Ruln yang mengatakan kalau ada Bijih Kristal di sini. Pertanyaannya adalah, bagaimana Ida bisa yakin kalau ada Bijih Kristal di Gunung ini?"


Uriel juga tidak mengerti, dia juga ikut berkata, "Dalam mencari Urat Bijih, memerlukan proses yang sangat rumit. Kalau menurutku, sepertinya Ida Ruln bukanlah wanita yang bisa memahami hal semacam ini."


Sepertinya, ada banyak rahasia di diri Orc wanita bernama Ida Ruln itu.


...........


Saat ini mereka telah tiba di lokasi dan melihat kolam air panas yang besar, yang ada di ujung gua.


Selain hawa panas dari kolam itu, bau belerang menyengat yang memenuhi seluruh gua juga bisa tercium.


Wiro pun segera mengendus-enduskan hidungnya sambil berkata, "Bau ini benar-benar aneh."


Uriel segera mendekati kolam tersebut dan menyentuh airnya.


"Suhu airnya lebih tinggi dari mata air panas di Gunung Suci." Batin Uriel.


Pada saat ini, Tuan Trenggiling telah merubah wujudnya ke bentuk Orcnya.


Lina yang baru pertama kali ini melihat Tuan Wisnu dalam wujud Orcnya pun terkejut, "Ah? Bukankah seharusnya dia sudah terlihat tua? Tapi kenapa dia terlihat seperti baru berumur tiga puluhan.."


Rambut pendeknya terlihat bersih dan berwarna hijau tua, tubuhnya tinggi dan ramping, dan ada pola bintang berwarna hijau tua di leher Wisnu, yang di atasnya terdapat sembilan bintang.


"Apakah anda sudah berada pada tingkatan bintang sembilan? Betapa hebatnya.." Ucap Lina yang takjub setelah melihat apa yang baru saja dia lihat.


Setelah Wisnu selesai mengenakan rok bulunya, dia pun berkata, "Itu karena aku telah hidup lama, dan dengan perlahan-lahan, aku naik hingga menjadi bintang sembilan. Pasanganmu memiliki kualifikasi yang jauh lebih baik, di masa depan, pencapaian mereka pasti akan lebih tinggi dariku."


Saat Lina sedang asik mengobrol, keempat anak Serigala yang baru pertama kali melihat sumber air panas, sudah tidak sabar lagi untuk segera melompat ke kolam.


"Wuhu huhuuu.."


"BYUR!"


"BYUR! BYUR! BYUR!"


Airnya panas, tapi itu bukanlah apa-apa bagi mereka.


Setelah berada di air, mereka pun segera mengayunkan keempat cakar mereka masing-masing dan mulai berenang kesana kemari, seperti gaya kucing yang sedang berenang di dalam kolam.


Satu per satu, para pria dewasa juga mulai merendam tubuh mereka kedalam kolam air panas.


Dan Lina, saat ini dia sedang berada di sudut kolam yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun, lalu mengeluarkan baju renang dari ruang penyimpanan.


Baju renang yang bahannya terbuat dari kulit Ular itu dia buat sendiri, lama sebelum dia ada pikiran untuk datang kemari.

__ADS_1


Kulit Ular yang lentur dan tipis, dan tidak terlalu transparan itu adalah bahan yang terbaik untuk membuat pakaian renang.


Lina juga membuat dua set CD lagi untuk berjaga-jaga.


Awalnya dia juga berencana membuatkan CD untuk Saga, Uriel dan Wiro. Karena selama ini mereka hanya selalu mengenakan rok bulu saja dan tanpa CD.


Tapi, ternyata ketiga pria itu menolak untuk dibuatkan CD.


Terutama Wiro yang b*j*ng*n itu, katanya, "Telurku sangat kuat, dan tidak akan pernah bisa pecah! Hahaha."


Faktanya, sebenarnya dia tidak mau memakai pakaian dari bahan kulit lama milik Saga, apalagi dia harus memakainya di tempat yang begitu pribadi dan penting, yang bisa membuat martabatnya sebagai Orc jantan akan hancur!


Uriel tidak langsung menolak seperti Wiro, tapi dengan bijaksana dia berkata kalau dia memang benar-benar tidak membutuhkan CD.


Sedangkan Saga, dia tahu kalau itu adalah kulit lamanya sendiri. Dia pun tidak pernah memakainya selama beberapa hari ini. Dia hanya menaruh CD itu di dalam kotak di kamarnya, dan tidak pernah berniat untuk memakainya.


Mereka yang primitif, tidak terbiasa dengan pakaian seperti itu. Mereka hanya bisa membuat pakaian mereka sendiri, yang bagi mereka pakaian yang saat ini mereka kenakan terasa jauh lebih nyaman.


Atau mungkin, apa yang Wiro katakan benar, kalau telur-telur mereka mungkin memang sangat kuat!


...........


Lina mengikat rambutnya, dengan pita yang terbuat dari tendon hewan yang sudah dikeringkan. Kemudian dia mengganti pakaiannya dengan pakaian renang.


Kulit Ular berwarna krem yang tipis dan elastis itu, membungkus erat di sekitar dadanya yang mon~thok dan f*nt*tnya yang kecil namun padat berisi. Hingga membentuk garis cekung dan cembung, yang menakjubkan bagi setiap mata yang melihatnya.


Saat dia keluar dari tempat dia berganti pakaian, para laki-laki yang sedang asik berendam sambil mengobrol di kolam air panas, seketika itu juga semuanya segera terdiam dan pandangan kedua bola mata mereka segera tertuju pada Lina. 


"Maaf, aku sedikit lama berganti pakaiannya."


Selesai berkata seperti itu, Lina pun segera berlari dengan malu-malu, menuju ke kolam air panas. 


"Ehhhmm.."


Setelah itu, Lina mengeluarkan sepuluh butir telur dari dalam ruang penyimpanan, dan memasukkan semua telur itu kedalam keranjang bambu berukuran kecil, kemudian merebusnya di dalam air kolam yang hangat-hangat panas ini.


Tidak lama kemudian, kesepuluh telur itu pun matang sempurna.


Tidak tahu sejak kapan, Wiro kini sudah berada di dekat Lina. Saat ini dia sedang tersenyum konyol sambil berkata, "Lina, ak ..." 


Lina yang telah selesai mengupas sebutir telur, langsung memasukkan telur itu ke mulut Wiro yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kemudian Lina berkata dengan lembut namun dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat serius, "Sayang.. Jangan membuat masalah di sini!" 


Mau tak mau, Wiro pun memakan telur rebus itu dan memandang Lina dengan sedih. 


Lina bersikap acuh dan berpura-pura tidak melihat keinginan di mata Wiro, yang saat ini sedang merasa tidak puas.


...........


Setelah semuanya telah selesai dan merasa puas berendam di kolam air panas, Uriel segera membuat api unggun, mengeluarkan daging segar dan panci besar dari dalam ruang penyimpanan, dan memasak sepanci besar berisi sup daging yang aromanya tercium sangat harum. Membuat perut mereka seketika itu juga merasa lapar.


"Mmhhh.. Dari aromanya saja sudah bisa terasa kalau supnya pasti sangat lezat." Ucap Lina memuji masakan Uriel.


Uriel pun tersenyum lembut kepada gadis kecilnya.


Wisnu segera mengeluarkan semua anggur dan daging kering pemberian keluarga Lina, untuk dinikmati bersama-sama. Seketika, suasana pun menjadi sangat bahagia.


Suasana yang hidup seperti ini, sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah dirasakan lagi oleh Wisnu. Apalagi, saat ini Wisnu juga sedang dalam suasana hati yang baik.


Entah sejak kapan dan darimana, saat ini Wisnu telah memegang drum kulit dan memukulnya dengan berirama.


"DUNG DUNG!"

__ADS_1


"DUNG!"


"DUNG DUNG DUNG!"


"DUNG!"


"TAK!"


Ritmenya yang berulang dan terdengar ringan ditelinga, membuat semua orang merasa sangat senang.


Saat ini Leon sedang menatap Lina, sambil mengulurkan tangannya dan berkata, "Berikan padaku piccolonya."


Lina pun mengeluarkan piccolo yang terbuat dari tulang dan memberikan piccolo itu kepada Leon.


Leon memasukan ujung piccolo itu ke mulutnya dan meniupnya dengan lembut.


"CU WIT WIIT! CUIT CUIT!"


Suara seruling yang terdengar jernih dan ceria pun segera menggema, dengan diiringi irama tabuhan drum yang terdengar sangat kompak dan seirama.


Lina yang telah minum sedikit anggur, kini wajahnya terlihat memerah. 


Dia pun berdiri dari duduknya, dan menarik tangan Saga untuk ikut berdiri, "Ayo kita berdansa."


"Dansa? Apa itu?" Tanya Saga dengan ekspresi datarnya.


"Dansa itu hampir sama dengan menari." Jawab Lina.


Saga menatap mata Lina dan berkata, "Aku tidak bisa menari."


"Aku akan mengajarimu! Ikuti saja kemana arah kaki dan tanganku bergerak." Lalu Lina menarik tangan Saga, dan meletakkan satu tangan Saga di pinggangnya, dan satu tangan mereka masing-masing saling bergenggaman, kemudian Lina mulai bergerak ke kanan dan kiri, dengan ritmenya yang menyesuaikan iringan musik.


Pada awalnya, Saga selalu sangat berhati-hati, karena takut menginjak kaki Lina.


Tapi kemudian, secara bertahap dia mulai bisa memahami ritme gerakan Lina, dan gerakannya kini menjadi semakin halus.


Bahkan kini dia sudah bisa memutar tubuh Lina dalam satu putaran, dengan memegang satu tangannya di atas kepala Lina.


Pada saat ini, Uriel telah selesai memotong setengah dari ayam panggang dan memberikannya kepada Wiro.


Tapi, saat Uriel mengulurkan tangannya untuk memberikan potongan daging panggang itu kepada Wiro, ternyata si Serigala br*ngs*k itu sudah mabuk.


Saat ini, Wiro yang sudah mabuk sedang memegang toples berisi air anggur sambil berseru, "Linaa.. Meskipun kekuatanku lebih rendah dari mereka berduaa.. tapi benda milikku lebih tebal dari milik mereka. Kamu.. kamu jangan mau dengan mereka lagi!"


Uriel, "....."


Uriel yang mendengar apa yang baru saja Wiro katakan, segera meyakinkan dirinya sendiri, "Tidak perlu aku menghabiskan energiku, untuk berdebat dengan orang yang sedang mabuk!"


Setelah berkata dalam hati seperti itu, Uriel segera mengambil toples batu kecil dari dalam ruang penyimpanan, yang terisi penuh dengan bubuk berwarna merah yang terbuat dari daun merah.


Lalu, dengan diam-diam dia menuangkan lebih dari setengah toples bubuk merah itu, ke dalam toples anggur yang sedang Wiro peluk.


Saat Wiro mengangkat kepalanya dan menelan seteguk penuh air anggur, seketika itu juga dia segera berguling-guling di tanah, dengan lidahnya yang menjulur keluar sambil meludah-ludah, dan air matanya mengalir keluar dengan deras.


"HUAAAAHHH! HAH HAH HAH HAH!"


"PEDAAAAS! PANAAAASH!"


"HAH HAH HAH!"


Melihat hal itu, Uriel pun menepuk pundak Wiro yang sedang berguling-guling di tanah, kemudian berkata dengan tenang, "Walaupun milikmu sangat tebal, tapi milikku lebih panjang dari milikmu."

__ADS_1


__ADS_2