Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 109 - Tarian Ida Ruln


__ADS_3

Terutama bagi Ida Ruln, dia terus menatap wajah Leon, dan tatapan matanya yang panas seolah ingin melucuti semua pakaian yang Leon kenakan.


Sebelumnya dia memang pernah mendengar nama Leon.


"Dia adalah laki-laki paling kuat dari klan Bulu, tidak ada satupun dari para Orc yang ada di sini, yang mampu menandingi kehebatannya!" Pikir Ida Ruln.


Karena keberadaan Leon lah, dalam banyak perjuangan sebelumnya, para Orc dari klan Bulu selalu dapat mempertahankan anggota dari klan mereka.


Bahkan di Kota Binatang Buas, kekuatan Leon masih cukup kuat untuk menyapu dan melawan mereka!


"Jika aku bisa membuatnya masuk ke balik rok ku dan menjadikannya sebagai pasanganku, maka akan sangat membantu untuk mencapai ambisiku!" Batin Ida Ruln.


Tapi belum sempat Ida bergerak, Jane telah terlebih dulu mendahuluinya.


Dia adalah betina pertama yang datang mendekati Leon. Bibir merahnya terlihat halus dan matanya seperti sutra.


"Apakah kamu Orc dari klan bulu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Siapakah namamu?"


Melihat ada yang mendekatinya dan bertanya padanya, Leon pun segera menatap kearah sumber suara dan mengulurkan jarinya untuk mengangkat dagu orang tersebut.


Jane yang sejak tadi merasa jatuh hati, merasakan jantungnya yang sedang berdetak kencang dan wajahnya memerah tegang saat mendapat perlakuan seperti itu dari Leon.


Jane pun sedikit menurunkan bulu matanya, menunjukkan penampilannya yang paling menarik, sambil menunggu keintiman dari Orc laki-laki tampan yang saat ini sedang berada di hadapannya.


Kemudian Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Jane sambil tersenyum lembut.


"Kamu tidak memenuhi syarat untuk mengetahui namaku, wanita b*d*h."


Jane, "....."


Jane segera membeku dan matanya melotot kepada Leon karena tidak percaya.


"Hah?! Tidak pernah ada laki-laki yang berani berbicara seperti itu denganku!"


Leon pasti Orc yang pertama!


Kemudian Leon melepaskan jarinya dari dagu jane dan menyekanya dengan jijik.


"Aku tidak tahu sudah berapa banyak Orc jantan yang tidur denganmu. Benar-benar betina kotor."


Leon berpikir kalau Jane itu adalah wanita kotor?


Mendengar apa yang Leon katakan, membuat Jane merasa sangat malu dan marah.


"Beraninya binatang jantan terkutuk ini mempermalukan diriku seperti ini? Aku sangat ingin membunuhnya!"


Jane yang masih tidak bisa berkata-kata kini merasa sangat marah, dia segera merubah jari-jari tangannya menjadi cakar yang sangat tajam, dan dengan tiba-tiba dia meraih dada Leon!


"SRET!"


"SWOSHH!"


Sangat disayangkan sekali, sebelum cakarnya sempat menyentuh jubah Leon, kebakaran pun terjadi!


"ARRGHH!"


"Kau!"


Kuku-kuku Jane terbakar, sehingga dia tidak bisa menahan tangannya yang gemetaran, sambil mencoba untuk memadamkan apinya.


Orc jantan yang ada di dekatnya juga segera membantu untuk memadamkan api di cakarnya, dengan menggunakan air.

__ADS_1


Jane pun segera menutupi tangannya yang terbakar dan menatap Leon dengan kebencian. Tapi ketika Leon balik menatapnya, seketika itu juga jane merasa sangat takut.


Pada akhirnya, dia tidak berani memprovokasi laki-laki yang ganas ini, dan segera berjalan pergi dengan wajahnya yang muram.


Saat Ida melihat dengan matanya sendiri saat Jane telah ditolak mentah-mentah, Ida tidak hanya merasa takut, tapi juga merasa lebih bersemangat untuk mencoba.


"Laki-laki yang begitu kuat, jika aku bisa menaklukkannya, itu bisa membuktikan kalau pesonaku tak terkalahkan!"


Dengan tatapan dari banyak Orc, Leon tetap berjalan dengan santai dan kemudian duduk.


Dia mengulurkan tangan kanannya kepada Lina, sambil tersenyum dengan lembut.


"Ibunya si pria kecil, berikan aku beberapa biji bunga matahari."


Lina meraih biji bunga matahari dan memberikannya kepada Leon.


Leon segera memasukkan biji bunga matahari utuh ke dalam mulutnya, mengunyahnya beberapa kali, lalu menelannya.


Lina, "....."


Lina bingung melihat cara makan Leon.


"Dia bahkan tidak memuntahkan kulitnya? Jadi dia memakan seluruhnya sekaligus? Dasar rakus!"


Saat ini Leon menoleh dan memperhatikan Lina yang sedang melihat dirinya, kemudian dia pun bertanya, "Apa ada yang salah dengan diriku?"


"Bukankah kamu seharusnya membuang kulit biji bunga mataharinya?" Tanya Lina.


"Kulitnya sangat harum dan gurih. Betapa sayang jika harus membuangnya." Jawab Leon.


Lina terdiam sejenak kemudian berkata, "Selamat menikmati."


Tiba-tiba saja kuncup bunga kecil keluar karena di tarik oleh Leon, kuncup bunga kecil itu pun segera melilit pergelangan tangan Lina dan memanggilnya dengan suara melengkingnya yang kecil, "Ibu!"


Leon bertanya sambil tetap memakan biji bunga matahari, "Barusan kamu menyebutnya apa? Kubucil?"


"Bukankah bunga air ini kuncup bunga kecil? Jadi aku menyingkatnya menjadi Kubucil saja." Ucap Lina.


Tunas kecil itu pun segera menggosok punggung tangan Lina, dan sepertinya dia juga cukup puas dengan julukan itu.


Leon tidak peduli dengan nama itu dan berkata dengan santai, "Hanya buang-buang energi saja bila aku harus membakarnya. Jika kamu ingin menyimpannya untuk bersenang-senang, kamu bisa menghabiskan waktumu dengannya."


Mendengar apa yang Leon katakan, Lina pun segera memelototi Leon.


"Belum pernah aku melihat ayah berdarah dingin seperti dirimu!"


"Tidak masalah bagiku." Ucap Leon santai.


Saat ini Lina sudah tidak ingin berbicara dengan Leon lagi, dia menundukkan kepalanya ke kuncup bunga kecil dan berkata, "Mulai sekarang, kamu harus menjauhi ayahmu, dia bukanlah Orc yang baik, yang tidak seharusnya kamu tiru!"


Sebenarnya Kubucil adalah tipikal makhluk yang hanya ingat untuk makan atau untuk tidak bertarung. Meskipun terakhir kali ia telah dibakar hingga parah oleh Leon, tapi selama Leon mendekatinya, ia akan tetap mencoba untuk menyenangkan dan menggoda Leon, dan tidak akan marah walaupun sebelumnya pernah disakiti.


Dia pun menggosok telapak tangan Lina, dan memanggil dengan penuh kasih sayang, "Ibu.."


"Hhhh. Sepertinya dia tidak mendengarkan nasihatku!"


Lina pun menjadi marah. Dia kini sudah kehilangan kesabaran. Dia menunjuk ke ujung kuncup bunga kecil.


"Lihatlah kelakuanmu yang seperti ini!"


Kuncup bunga kecil itu segera membuka kelopak bunganya dan memegangi jari Lina dengan benang sarinya, sambil menggosok-gosok ujung jari Lina.

__ADS_1


Melihat hal ini, anak-anak Serigala kecil segera berkumpul karena rasa ingin tahu mereka. Mereka belum pernah melihat bunga yang bisa berbicara!


Anak-anak Serigala itu mengendus-endus si bunga kecil dan mendapati kalau aromanya sangat familier, dan segera menjadi merasa dekat.


Wirna si besar yang pemberani lah yang terlebih dulu mendekati dan mengulurkan kaki kecilnya, untuk menyentuh daun si bunga kecil.


Saat disentuh, kuncup bunga kecil pun bergetar lembut. Dia segera melepaskan pegangannya pada Lina, dan dengan kelopak bunganya ia menggosok ujung hidung si Serigala kecil yang berwarna merah muda, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang besar. Kemudian ia menepuk kepala Serigala kecil yang berbulu.


"Adik kecil! Adik perempuan kecil!"


Kini Wirna si besar yang pemberani seperti telah menemukan sesuatu yang menarik, dua matanya yang berwarna hijau tua pun segera berbinar.


Dia segera menjulurkan lidahnya dan menjilati kuncup bunga si bunga kecil.


Tiga anak Serigala kecil lainnya yang melihat hal ini, segera ikut menjilati si tunas kecil dengan cara yang sama.


Kuncup bunga kecil sangat sadar kalau kini ia telah menjadi kakak laki-laki. Dia pun membiarkan dirinya dijilati oleh adik-adiknya.


"Ummm.. Adik-adik kecil!"


Setelah beberapa saat, mereka berlima pun mulai saling mengenal dan bersenang-senang bersama.


Lina membiarkan para anak-anak bermain, dia kemudian bertanya dengan suara rendah, "Di mana Saga? Kenapa aku tidak melihatnya?"


Saat ini Wiro sedang mendekap anak Serigala kecilnya ke dalam pelukannya dan meremasnya. Ketika dia mendengar pertanyaan dari Lina, dia pun menjawab tanpa mengangkat kepalanya, "Dia sedang pergi untuk mencari sesuatu."


Lina pun terkejut dan bertanya, "Apa? Apa yang sedang dia cari?"


Tapi Wrio menjawabnya sambil tersenyum dengan misterius, "Nanti juga kamu akan tahu sendiri."


Lina, "....."


Lina terdiam karena tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Wiro.


Pada saat ini tangan besar Uriel tiba-tiba saja menekan perut Lina dan meremasnya dengan lembut.


"Apakah di sini masih terasa sakit?"


Tepat setelah melahirkan, dari waktu ke waktu Lina merasakan sakit pada perutnya, dan setiap malam Uriel lah yang akan membantu memijat perut gadis kecilnya.


Lina menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sudah tidak lagi. Sudah lama berlalu."


"Baguslah." Ucap Uriel.


"Aku pasti akan memberimu bayi, oke?" Kata Lina.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lina, uriel pun tersenyum dengan lembut.


"Baiklah."


Lina merasa sedikit malu, tapi sebenarnya hal ini telah lama ia nantikan.


"Uriel terlihat sangat tampan dan karakternya juga sangat lembut. Bayi harimau juga pasti sangat imut dan menggemaskan!"


Sementara mereka sedang berbicara, saat ini Ida Ruln berdiri.


Dia berjalan sedikit mendekati api, dalam tatapan mata para Orc jantan, Ida Ruln mengangkat tangannya dan menari hanya dengan di iringi oleh cahaya api.


Rantai kristal yang ada di pergelangan tangan dan kakinya terlihat berkilauan, membuat sosoknya terlihat lebih halus dan menawan.


Para Orc jantan yang sedang menatap Ida pun seketika itu tercengang.

__ADS_1


Tak pelak, Lina juga sangat terkejut. Lina pun terus memperhatikan Ida Ruln yang sedang menari.


"Aku tidak menyangka, di dunia para Orc ini ada yang tahu bagaimana caranya menari."


__ADS_2