
Saat ini Wiro sudah terbangun.
Dipagi ini, dia tidak pergi berburu seperti biasanya. Sebaliknya, dia tetap di rumah dan mondar-mandir di dekat pintu dari waktu ke waktu dan menjulurkan lehernya untuk melihat keluar.
"Kenapa mereka belum juga kembali? Saga tidak mengambil kesempatan ini untuk menculik Lina, kan?"
Memikirkan kemungkinan ini, membuat Wiro menjadi semakin gelisah.
Anak-anak Serigala kecil itu tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh sang ayah. Mereka semua berjongkok di samping Wiro dan meregangkan leher mereka untuk ikut melihat keluar.
Wiro sudah mencari dan melihat keluar untuk waktu yang lama, tapi tidak melihat sosok Lina. Dia pun segera membopong putrinya yang berbulu dan montok, dan menghela nafasnya dengan sangat sedih.
"Sayang.. Apakah ibumu masih menginginkan kita? Mulai sekarang kita akan saling bergantung satu sama lain."
Kemudian Wirna si besar menjulurkan lidahnya dan menjilat wajah Wiro.
Wiro segera merasa sedikit senang, dia pun menolehkan wajahnya.
"Lagi! Jilati wajah ayah disisi yang ini," karena terlalu sayang, si besar langsung menerkamnya dan menjilati seluruh wajah Wiro.
Wiro tersenyum sangat bahagia, dengan wajah yang dipenuhi oleh air liur.
"Anak gadis ayah memang benar-benar baik dan pengertian!"
Tiga anak Serigala lainnya berputar-putar di sekitar kaki Wiro, sambil mengibas-ngibaskan ekor mereka, mata hijau mereka berair penuh kerinduan akan pelukan.
Sayang sekali Wiro sebagai ayah lebih menghargai si gadis dari pada para laki-laki, dia bahkan tidak melihat mereka.
Bayi-bayi itu seolah berkata, "Ayah! Kami ada di sini! Kami juga ingin dipeluk!"
Ketika Uriel masuk kedalam rumah, ketiga anak Serigala itu segera berlari ke arahnya dan menggosok-gosok kaki Uriel dengan keras, memintanya untuk memeluk mereka.
Sebagai kucing, Uriel juga memiliki masalah umum, yaitu sangat menyukai anak-anak.
Meskipun tiga anak di depan mereka mewarisi gen Serigala ayah mereka, mereka juga masih belum tahu apa-apa. Demi mereka yang masih kecil, lembut dan imut, Uriel pun meraih mereka.
Ketiga anak Serigala kecil itu sangat bersemangat, sehingga mereka menjulurkan lidah mereka yang hangat dan basah, untuk menjilati Uriel.
Uriel, "....."
Uriel hanya bisa terdiam saat seluruh wajahnya dijilati dan dipenuhi air liur.
"Tidak apa-apa, karena usia mereka yang masih muda, aku masih bisa mentolerirnya!"
Saga akhirnya kembali bersama dengan Lina.
Saat Wiro mengetahuinya, dia pun segera menurunkan Wirna dan bergegas mendekati Lina, dan menatapnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan sangat teliti.
"Hmmm."
__ADS_1
"Hmm."
Wiro terlihat seperti ingin melucuti seluruh pakaian Lina, saat ini dan di tempat ini juga.
Wiro melihat banyak krim yang menempel di kulit, di bagian belakang kaki Lina.
"Hmm?!"
Wiro pun segera melotot tajam pada Saga.
"Binatang!"
Saga balas menatapnya dengan tanpa ekspresi. Dia sama sekali tidak ingin mengalah.
Juga ada luka gores di lutut Lina, Wiro yang merasa begitu tertekan pun segera berlutut dan meniup-niup ke lutut Lina yang terluka.
"Apa ini sakit? Pasti sakit ketika kulitnya terluka. Aku sangat lamban, hingga kamu terluka begitu parah!"
"Apa kamu masih belum juga sadar dari mabukmu tadi malam?"
Wiro mengangkat kepalanya, dan tatapan matanya yang terlihat kosong.
"Apakah semalam aku mabuk? Aku bahkan tidak ingat sama sekali!"
Lina pun membelai kepala Serigalanya, kemudian dengan tulus dia berkata, "Mangkannya, lain kali kamu jangan banyak minum."
Segera setelah Lina mendengar apa yang Uriel katakan, Lina menyadari kalau Uriel juga sudah tahu tentang perk*w*nannya dengan Saga.
Dia menjadi sedikit kesal.
"Meskipun tadi malam Uriel lah yang mendorongku untuk keluar bersama dengan Saga, tapi aku masih merasa bersalah pada Uriel. Dulu saat aku dengan Wiro, sekarang saat aku dengan Saga. Setiap kali Uriel begitu, aku merasa kalau aku sangat berhutang pada Uriel."
Setelah selesai sarapan, Wiro dan Saga turun Gunung untuk berburu.
Sedangkan Uriel tinggal di rumah bersama dengan Lina, untuk menjaga anak-anak Serigala.
Setelah menenangkan anak-anak Serigala, Lina pun berbaring di tempat tidur. Kemudian Uriel membantunya mengoleskan obat pada luka yang ada di lutut Lina, dengan pasta dari buah harum segar. Lina bisa merasakan rasa yang sejuk di kulit lututnya.
Saat ini Lina sedang tidak mengenakan pakaian, dia juga sedang sangat fokus pada Uriel, yang akhirnya membuat wajahnya memerah.
Setelah minum obat, Uriel membantu gadis kecilnya untuk berpakaian sambil berkata, "Semoga bisa pulih dengan lebih cepat."
Lina sudah tidak berani menatap wajah Uriel lagi. Dia sedang merasa malu, sambil berkata, "Terima kasih."
Saat ini Uriel sedang menatap gadis kecilnya dengan hati-hati, dan melihat adanya rasa bersalah dan kegelisahan di hatinya. Kemudian Uriel pun segera mengusap-usap kepala gadis kecilnya.
"Saga adalah pasangan yang baik. Dia, Wiro dan aku pasti akan selalu melindungimu. Sekarang kita semua adalah keluarga, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah kepadaku."
Uriel mengatakannya dengan sangat tulus dan tanpa keengganan, membuat kegelisahan di hati Lina mulai sedikit berkurang.
__ADS_1
Uriel menundukkan kepalanya dan mencium kening Lina, dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Karena kamu telah memberiku Cincin ini, aku pasti akan selalu menjaga rasa percayamu padaku."
Lina, "....."
Lina diam sesaat dan merasa sangat tersentuh.
Kemudian Lina mengepalkan tangannya dan berkata, "Aku percaya padamu, aku akan selalu percaya padamu."
Uriel pun segera memeluknya dan tersenyum lembut. Dia sangat mencintai gadis kecilnya, hingga dia rela melepaskan rasa cemburunya dan menyisihkan rasa ingin memiliki untuk dirinya seorang.
Uriel ingin menjadi pohon besar, yang selalu berdiri di dekat Lina, selalu mendukungnya, melindunginya dari angin dan hujan, dan menjadi rumah yang hangat untuknya.
Cinta memang bisa membuat orang menjadi egois dan pencemburu. Tapi cinta juga bisa membuat orang menjadi berpikiran terbuka dan menguatkan hati mereka.
...........
Di sore hari.
Ada banyak kebisingan di luar.
Saat ini di pintu rumah Pay, Meli sedang menunjuk-nunjuk ke hidung Pay dan berkata, "Kamu ini benar-benar sudah jadi b*d*h, yah? Wanita itu sama sekali tidak baik. Tadi malam dia sudah dimarahi oleh Tetua Leon, bahkan ketua klan Rubah pun sudah mengusirnya. Tapi kamu malah ingin membawanya pulang?"
Pay tetap bersikeras dengan wajah keras kepalanya sambil berkata, "Kakak, aku benar-benar menyukai Ida Ruln, aku juga bersedia untuk merawatnya seumur hidupku. Kamu jangan khawatir tentang hal itu!"
"Mana mungkin aku akan begitu saja berhenti mengkhawatirkanmu? Kamu adalah saudara laki-lakiku. Sebelum meninggal, ibu berpesan padaku agar aku selalu menjagamu dengan baik. Dan tidak boleh membiarkan kamu untuk membuat masalah." Kata Meli.
"Aku sudah dewasa. Ini juga hak aku untuk memilih pasangan, siapa yang akan aku nikahi dan aku jadikan keluarga. Meskipun kamu adalah saudara perempuanku, kamu tetap tidak bisa menghentikanku!" Ucap Pay.
Kini napas Meli sudah terengah-engah karena emosi. Jika tidak ada banyak orang di sekitar sini, dia sangat ingin bergegas untuk mengalahkan saudara laki-lakinya yang seperti b*j*ng*n ini!
Pada saat ini, Rei yang sejak tadi mengikuti Meli akhirnya membuka mulutnya.
"Pay No, kami tidak pernah ada masalah dengan siapa yang akan kamu jadikan sebagai pasanganmu, tapi kemarin ketua Wiro sudah mengatakan kepada kita semua, kalau kita tidak diizinkan untuk membawa Orc Rubah Masuk kedalam Gunung Batu. Kamu juga tidak boleh melanggar larangan dari ketua Wiro."
Pay segera tersedak mendengar perkataan Rei.
Setelah pesta api unggun tadi malam, Pay selalu mengikuti kemana pun Ida Ruln pergi sepanjang waktu. Saat melihat pemimpin klan Rubah yang ingin membunuh Ida, dengan cepat Pay menyelamatkan Ida Ruln.
Untuk menghindari supaya tidak ditemukan oleh para Orc dari klan Rubah, Pay No menyembunyikan Ida Ruln di rumah batu kecil.
Rumah batu biasanya digunakan sebagai gudang sementara untuk pasar. Rumah itu tidak dibangun secara baik, dan ada banyak titik yang berlubang-lubang. Membuat angin malam yang dingin berhembus masuk.
Ida yang kedinginan pun menggumam, "Dingiiin!"
Ida menyadari kalau Pay sangat tertarik pada dirinya, Ida pun mulai mengambil inisiatif untuk menjerat Pay.
Mendapat sentuhan-sentuhan dari Ida, Pay yang juga sedang merasa kedinginan pun sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Kini Pay k*w*n dengan Ida. Keduanya sangat terburu-buru untuk segera b*rs*ngg*m* dan menyatukan diri mereka berdua, untuk menjadi pasangan.
__ADS_1