Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 139 - Selamat Datang Kembali


__ADS_3

Lebih dari selusin preman yang dibawa oleh Yudi, telah membangkitkan roh Binatang Buas mereka, tapi kesemuanya barulah pada tingkatan bintang satu.


Mereka sangat agresif dan segera maju untuk menyerang Uriel dan Leon.


"HIAAH!"


Namun hanya dengan sekali gerakan, Uriel dan Leon melempar semua preman itu hingga jatuh ke tanah dan tak bisa bangun lagi. Leon bergerak terlebih dahulu.


"BUGH! BUGH! BUGH!"


"BRAK!"


"HEH! Dasar kalian para cecunguk lemah!"


Uriel juga ikut bergerak sambil membopong Lina di satu tangannya, dan tidak pernah melepaskannya dari awal hingga akhir.


"DESH! DESH! DESH!"


"BRUK!"


Meskipun Uriel bertarung dengan satu tangannya, dia tetap berada di atas angin. Sampai semua musuh telah terjatuh, tapi tetap tidak ada sedikitpun bekas luka di tubuhnya.


Untuk pertama kalinya Lina melihat pertarungan dari jarak yang begitu dekat, matanya yang bulat pun hingga terbelalak lebar.


"Aku merasa seperti sedang menonton filem aksi versi 3D dengan definisi tinggi.. Uuhh.. Sangat luar biasa!"


Lina bertepuk tangan dengan gembira, sambil menatap wajah Uriel.


"Betapa tampannya Uriel!"


Mendengar gadis kecilnya bertepuk tangan sambil bergumam, Uriel pun memberikan senyuman terlembutnya.


"Apa kamu senang?"


"Senang!" Jawab Lina cepat sambil tersenyum.


Leon yang diabaikan merasa sangat tidak puas, dia pun segera bertanya, "Kenapa kamu hanya memuji dia? Apakah aku tidak tampan?"


Lina menjawabnya dengan sindiran yang lirih, "Kamu tidak pantas menyebut dirimu sendiri tampan. Dasar Orc bolot yang terlalu percaya diri."


Mendengar apa yang Lina gumamkan, Leon segera menyalakan api di ujung jarinya.


"Apa yang baru saja kamu katakan? Katakan lagi."


Tapi Lina hanya menatap ke langit, sambil bersenandung dan berpura-pura tidak mendengar apa yang Leon katakan.


"Lalala lala.."


Jika dilihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat sangat terkejut, bisa ditebak kalau ini adalah pertama kalinya bagi Yudi, bertemu dengan Orc yang begitu ganas.


"Apah? Hanya dua pria, tapi sudah menjatuhkan lebih dari selusin musuh dengan tangan kosong? Kemampuan mereka jauh di luar perkiraanku! Sialan!"


Hal itu tentu saja membuat Yudi menjadi merasa takut.


Tapi dia tetap tidak ingin membiarkan atau pun melepaskan Uriel dan Leon begitu saja. Dia juga merasa sangat tidak rela.


"Aku adalah putra Penguasa Kota Kristal Merah. Nantinya aku lah yang kemungkinan akan mewarisi posisi sebagai penguasa Kota ini. Aku adalah master masa depan di sini! Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Jika aku tidak melawan balik, bagaimana aku bisa tinggal di Kota Kristal Merah lagi?!"


Saat Yudi sedang merasa ragu-ragu, dia melihat konvoi yang kebetulan sedang berjalan mendekat menuju ke arahnya. Matanya pun segera berbinar dan dia bergegas berseru memanggil konvoi para penjaga itu, "Jenderal Xion! Kemarilah dan bantu saya!"


Dalam barisan konvoi tersebut, ada terdapat lebih dari tiga puluh orang penjaga.


"DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!"


Kekuatan dan disiplin mereka jauh lebih baik, daripada para Orc yang menjaga gerbang kota. Bisa terlihat juga, kalau mereka bukanlah penjaga biasa.


Orc jantan yang berjalan paling depan adalah Beruang. Dia terlihat sangat tinggi. Tingginya sekitar dua meter. Dia memiliki punggung yang tebal dan kekar seperti Harimau dan pinggang Beruang. Alisnya terlihat tebal dan sorot matanya tajam seperti pedang. Auranya juga terasa sangat kuat.


Lina yang sedang menatapnya, merasa seperti melihat gunung yang bergerak.


"Orc pria itu penuh dengan tekanan aura kekuatan. Dadaku terasa sesak dan merinding jika melihatnya."

__ADS_1


Begitu Yudi melihat Orc Beruang itu mendekatinya, dia merasa seperti mendapatkan seorang penyelamat untuk dirinya.


Sambil menunjuk ke arah Uriel dan Leon, dia berseru dengan marah, "Jenderal Beruang, untung saja kalian semua ada di sini. Segera tangkap kedua pembuat onar di Kota Kristal Merah ini. Saya curiga, kalau mereka adalah mata-mata yang dikirim oleh Kota-kota Binatang Buas yang lain, mereka juga harus disiksa dengan kejam!"


Baru saja Lina akan berkata untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya, tapi Uriel segera mencegahnya dengan menggelengkan kepalanya, dan memberi isyarat padanya untuk tidak berbicara sedikitpun.


Saat ini Orc Beruang sedang melihat ke mana arah jari Yudi menunjuk, dia melihat ke arah seseorang yang sedang ditunjuk oleh Yudi, sedang berdiri dengan diam.


Seketika itu juga, matanya langsung terbelalak lebar karena sangat terkejut.


Kemudian dengan cepat Jenderal Xion segera melangkah maju, dengan langkahnya yang berat. Dan diikuti oleh seluruh anak buahnya!


"DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!"


Melihat jenderal Xion yang berjalan mendekati Uriel dan Leon, Yudi pun merasa sangat senang.


"Haha! Sepertinya kalian memang sedang bernasib buruk!"


Namun saat Jenderal Xion telah berjarak satu meter dari Uriel dan Leon, dia segera menghentikan langkahnya.


"BRUK!"


Tiba-tiba saja satu lututnya menekuk, dan satu lututnya lagi menyentuh tanah!


"Ah? Jenderal Xion! Apa yang sedang anda lakukan? Kenapa tiba-tiba saja anda berlutut di depan para pengacau ini?"


Tidak menggubris sedikitpun apa yang Yudi katakan, Jenderal Beruang segera mengepalkan satu tinjunya dan menekannya di dadanya, dan berseru dengan penuh semangat, "Selamat datang, Yang Mulia! Akhirnya anda telah kembali!"


Melihat Jenderal mereka berlutut dan berseru, lebih dari tiga puluh Orc yang mengikutinya segera ikut berlutut dengan serempak!


"BRUK! BRUK! BRUK!"


"SELAMAT DATANG KEMBALI, YANG MULIA!"


Suara debuman lutut yang serempak menghantam tanah, dan suara seruan semua pasukan itu terdengar menggema dan sangat menakjubkan!


Yudi, "....." Dia terdiam sesaat karena sangat terkejut dengan semua yang telah dia lihat dan dengar. Setelah tersadar kembali, kemudian dia berseru, "Tunggu dulu! Ada apa ini?!"


"Apakah mereka semua sedang memanggil Uriel dengan sebutan Yang Mulia?!"


Melihat gadis kecilnya yang tampak kebingungan sambil menatap dirinya, Uriel pun tersenyum dan berbisik di telinga gadis kecilnya, "Nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu."


Kemudian terdengar suara Jenderal Xion yang berkata, "Yang Mulia, sejak anda meninggalkan Kota Matahari, Yang Mulia Raja telah mencari-cari anda di seluruh Kota Binatang. Saya harap anda mau kembali ke Kota Matahari, bersama-sama dengan kami sesegera mungkin. Yang Mulia Raja sangat merindukan anda."


Uriel berkata dengan tegas, "Paman Beruang, kamu bangunlah dulu, di sini bukan tempat yang baik untuk berbicara."


Mendengar apa yang Uriel katakan, Jenderal Xion segera berdiri. Kemudian dia melambaikan tangannya ke para penjaga yang ada di belakangnya dan memerintahkan kepada mereka semua, "Tangkap semua pembunuh yang telah mencoba untuk menyakiti Yang Mulia, dan persiapkan mereka untuk dibuang!"


"Siap laksanakan Jenderal!"


Para penjaga segera mulai menangkapi selusin preman yang dibawa oleh Yudi dan mengikat mereka semua dengan kuat.


Bahkan Yudi pun tidak bisa melarikan diri. Dia ditangkap sendiri oleh Jenderal Beruang.


Yudi berjuang untuk melawan dan berteriak, "Anda tidak boleh menangkap saya! Saya adalah putra penguasa kota ini!"


Sayangnya kekuatan Yudi tidak sebanding dengan Jenderal Beruang. Dia pun segera memegang dan mengangkat Yudi untuk berdiri.


"Kamu telah berani mencoba untuk membunuh Yang Mulia Pangeran? Kamu akan dihukum sesuai dengan hukum yang ada!"


Mendengar itu, wajah Yudi segera memucat karena ketakutan.


"Pangeran apa? Di mana Pangeran yang anda katakan itu?"


Jenderal Beruang segera melemparkan Yudi ke tanah, kemudian menendang lututnya, dan memaksanya berlutut di depan Uriel.


"Buka mata Anjingmu lebar-lebar dan lihatlah dengan jelas! Yang ada di depanmu saat ini adalah Kaisar Putih! Beliau adalah Uriel Nouh, Pangeran kedua di Kota Matahari! Calon penerus Raja kami di Kota Matahari!"


Mendengar semua itu, Yudi merasa sangat terkejut dan tidak bisa mempercayainya.


"Ah! Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi padaku?"

__ADS_1


Meskipun Kota Kristal Merah juga Kota Binatang, tapi kota ini bukanlah kota utama. Di hadapkan dengan Kota tengah seperti Kota Matahari ataupun Kota Bulan Gelap, kekuatan dan status Kota Kristal Merah jelas jauh lebih rendah.


Sebagai putra pemilik Kota Kristal Merah, bisa dibilang kalau status Yudi juga sebagai orang berkuasa di Kota ini. Namun dia hanyalah seperti badut konyol jika di hadapan penguasa Kota Matahari. Seorang Yudi bahkan tidak memenuhi syarat untuk bertemu dengan keluarga kerajaan. Oleh karena itulah, dia juga tidak tahu seperti apa sosok Pangeran yang legendaris dari Kota Matahari.


Saat ini Jenderal Beruang sedang membungkuk kepada Uriel.


"Apa yang ingin Pangeran lakukan dengan Yudi?"


Uriel tidak ingin memperlihatkan darah di depan gadis kecilnya. Dia pun berkata kepada Jenderal Xion dengan santai, "Berikan dia kepada Penguasa Kota Kristal Merah. Orang tua itu tahu bagaimana harus mengurus orang ini."


"Baik Yang Mulia Pangeran!"


Saat mendengar apa yang Uriel katakan, diam-diam Yudi merasa senang.


"Aku adalah anak satu-satunya ayahku. Ayah juga sangat mencintaiku dan ayah pasti tidak akan mau menghukumku. Paling-paling ayah hanya akan menasehati beberapa kata untukku seperti biasanya."


Dengan berpikir seperti itu, Yudi sama sekali tidak melawan, dia sangat patuh saat ditangkap oleh Jenderal Beruang dan dikirim pulang.


Sesampainya Yudi di rumah,


"KRAK!"


"ARGGGH!"


"Ayah.. Apa yang ayah lakukan.. Kenapa ayah mematahkan kakikuu.."


Kaki Yudi dipatahkan oleh ayahnya, dia juga tidak bisa keluar dari rumah lagi.


"Dasar anak b*d*h! Apa matamu sudah buta?! Apa kamu ingin mencelakai keluarga kita hah?!"


"BRAK!"


"AAARGH!"


"Ampun ayah.."


Masa depan Yudi kini telah hancur total.


...........


Uriel dan semuanya kini telah kembali ke hotel.


Jenderal Beruang langsung menyewa seluruh kamar hotel, dan semua orang yang berada di dalam hotel segera diusir. Lebih dari tiga puluh penjaga mengepung hotel dan tidak ada yang diizinkan untuk masuk ke hotel.


Pemilik penginapan sangat ketakutan dengan situasi seperti ini, hingga membuat dia takut untuk keluar rumah.


Saat ini Lina sedang duduk di tempat tidur sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sekarang kamu bisa memberitahuku, apa hubunganmu dengan Orc Beruang itu?"


Uriel mencoba untuk menjelaskan sambil tersenyum lembut, "Nama lengkapnya adalah Xion Grisli, dia adalah Jenderal yang bekerja langsung di bawah perintah ayahku. Biasanya dia bertanggung jawab untuk pengelolaan dalam urusan militer dan pertahanan kota."


"Lalu, bagaimana dia bisa memanggilmu dengan sebutan Yang Mulia? Memangnya apa identitasmu yang sebenarnya?"


"Ayahku adalah Raja di Kota Matahari." Jawab Uriel.


Meskipun Lina telah siap untuk mendengar hal seperti itu, tapi saat Lina mendengar Uriel mengakuinya, Lina masih tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia pun bertanya dengan ekspresi terkejut dan masih tidak percaya, "Ap apakah.. kamu.. benar-benar seorang Pangeran?"


"Hmm? Apa aku tidak terlihat seperti Pangeran?"


"Aku belum pernah melihat Pangeran," gumam Lina lirih.


Saat mendengar itu, Uriel segera memeluk gadis kecilnya, sambil bertanya dengan suaranya yang terdengar sangat lembut, "Sekarang kamu sudah bisa melihatnya, kan?"


"Kenapa sebelumnya kamu tidak memberitahuku? Apalagi sebagai seorang Pangeran, bukankah seharusnya kamu patuh untuk tetap tinggal ​​dan bersenang-senang di istana? Apakah berkeliaran sendirian di pedalaman hutan adalah kebiasaan seorang Pangeran?"


Saat mendengar kalimat terakhir gadis kecilnya, Uriel tersenyum saat kembali teringat awal pertemuannya dengan Lina.


Kemudian Uriel menggenggam tangan kecil Lina dan meminta maaf dengan serius.


"Hal itu adalah pelajaran yang sangat baik untuk diriku, untuk melatih kemandirian dan ketajamanku. Dan juga, sedari awal seharusnya aku tidak menyembunyikan tentang hal ini darimu. Sekarang kamu sudah tahu siapa aku. Aku berjanji, aku tidak akan lagi berkeliaran sendirian di hutan, dan tidak akan menyembunyikan apa pun darimu."

__ADS_1


__ADS_2