
Kini hidangan daging yang sudah berbumbu, jadi terlihat lebih lezat.
Kemudian Lina memasukkan beberapa hidangan, ke dalam sebuah mangkuk yang berukuran besar.
"Tadi siang, sewaktu aku sedang menyamak kulit binatang di tepi sungai, Wiro sudah membantuku sedikit. Tolong bantu aku, berikan ini sebagai hadiah terima kasih untuknya ya."
Uriel kemudian pergi ke sebelah, ke tempat di mana Wiro tinggal, sambil membawa daging dan sayuran panas untuknya.
Saat ini Wiro sedang dalam suasana hati yang kurang baik, tapi ketika dia melihat hidangan daging yang terlihat lezat, hatinya segera berubah jadi lebih tenang.
Dengan cepat dia menyambar mangkuk yang berisi daging dan sayuran itu, kemudian dengan hati-hati dia melindunginya, seolah-olah takut akan ada yang merampok makanan itu.
Melihat kelakuan Wiro yang seperti itu, membuat Uriel sedikit tersenyum.
"Kata Lina tadi siang kamu sudah membantunya, aku mewakili dia membawakan ini, dan ku ucapkan terima kasih."
Mendengar itu Wiro pun mendengus.
"Aku sudah membantunya, kalau dia ingin berterima kasih, biarkan dia yang datang langsung kesini. Tapi kenapa malah kau yang datang menggantikannya untuk berterima kasih?"
Dia kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat itu pula terdengar suara Uriel dari arah belakangnya, "Setelah musim dingin berakhir, kami akan segera pergi. Jadi, kau jangan coba-coba untuk menghalangi kami."
Seketika langkah Wiro sedikit melambat.
"Aku melakukan apa saja yang aku inginkan, kau tak berhak untuk mengaturku!" Nada suaranya terdengar menantang.
............
Lina menerima tugas yang berikutnya.
"Ting Tong!"
"Pemicu tugas ke 2 telah aktif."
"Kumpulkan makanan yang cukup sebelum musim dingin tiba."
Lina tidak tahu yang dimaksud dengan "Cukup", dia tidak tahu harus mengumpulkan seberapa banyak. Dia hanya bisa meminta Uriel untuk berburu sebanyak mungkin.
Selama sisa waktu yang masih ada, setiap harinya Uriel akan pergi untuk berburu.
Dia sudah terbiasa menghabiskan musim dingin sendirian. Kemampuannya untuk bertahan hidup sangatlah kuat, dan kemampuan berburunya bahkan lebih kuat.
Setiap hari, dia selalu kembali dengan membawa banyak hasil buruan, hal itu membuat Meli iri dan sedikit cemburu kepada Lina.
"Kamu memliki pasangan yang luar biasa! Dia memburu lebih banyak mangsa daripada keluargaku, apalagi dia itu melakukannya seorang diri."
Meli memiliki lima pasangan pria. Para pria itu beruntung bisa mendapatkan cinta dari wanita muda ini. Tentu saja itu karena mereka memiliki keterampilan yang sangat baik, yang membuat Meli menjadikan mereka sebagai pasangannya. Namun jika dibandingkan dengan Uriel, mereka bukanlah apa-apa.
Dengan malu, Lina pun menjelaskan, "Dia.. Kami bukan pasangan.."
Meli sangat terkejut.
"Kalau kalian bukan pasangan, kenapa kamu mengizinkannya tinggal di kamar yang sama denganmu, dan tidur dalam satu ranjang yang sama?"
Lina bingung harus menjawab apa.
Dia pun tidak tahu, hubungan seperti apa yang sedang dia jalani bersama Uriel.
__ADS_1
Mereka makan dan tidur bersama, terkadang Uriel juga akan melakukan sesuatu yang luar biasa padanya, akan tetapi, dia tidak pernah mengambil langkah yang lebih jauh lagi.
Setelah berpikir untuk waktu yang lama, akhirnya Lina hanya bisa memberikan jawaban seadanya.
"Dia itu keluargaku."
Meli kemudian berkata, "Teman juga bisa jadi keluarga loh."
Sebenarnya Lina ingin mengatakan ada hal yang berbeda, tetapi dia tidak bisa mengatakan apanya yang berbeda.
Meli pun tertawa saat melihat Lina yang menjadi bimbang.
"Kalau kamu tak ingin Uriel yang menjadi pasanganmu, katakan secara langsung padanya. Lagipula dia sangat pandai berburu, aku akan menjadikannya sebagai pasangan keenamku!"
Mendengar itu, membuat Lina segera merasa cemas.
"Tidak, tidak! Jangan! Dia tidak boleh menjadi pasanganmu!"
"Kenapa tidak boleh? Lagipula kamu kan tidak menyukainya. Tidak akan jadi masalah kalau kamu memberikannya padaku kan?"
"Siapa bilang aku tidak menyukainya?" Seru Lina.
"Jadi kamu menyukainya?" Meli melihat ke arah Lina sambil tersenyum.
Tampaknya Lina baru menyadari sesuatu, dia segera berbalik dan melihat Uriel sudah berdiri di pintu, sambil diam-diam menatap kedua wanita itu.
"Kapan kamu kembali?!" Tanya Lina.
Lina kemudian teringat akan apa yang baru saja dia katakan, dia merasa sangat malu dan bingung untuk mencari alasan, dia pun segera masuk kedalam.
Namun, tampaknya Uriel tidak menyadari kalau saat ini Lina sedang merasa malu, dia tetap berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Terima kasih atas bantuanmu selama ini, terima kasih banyak ya. Ini ada beberapa buah-buahan harum segar yang kupetik saat berburu tadi. Ku harap kamu mau menerimanya."
Meli pun menerima tas kulit itu dengan senang hati.
"Sama-sama. Aku juga menyukai Lina kok. Kamu sangat beruntung. Dia wanita yang sangat cantik."
Wajah Lina seketika memerah mendengar percakapan mereka.
Kemudian Meli pun pergi sambil tersenyum.
Begitu Meli pergi meninggalkan Lina dan Uriel yang masih berada di kamar mereka. Seketika itu pula suasana menjadi canggung.
Lina mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan. Dengan gelisah dia bertanya, "Kenapa hari ini kamu pulang cepat?"
"Di saat aku merindukanmu, aku akan segera kembali pulang untuk menemuimu." Kemudian Uriel menggendong gadis kecilnya itu dan menatapnya sambil tersenyum.
"Untungnya kali ini aku kembali tepat waktu. Kalau tidak, aku tidak akan mendengar apa yang sudah kamu katakan tadi."
"Apa? Yang mana?" Tanya Lina yang sedang berpura-pura bodoh.
Kemudian Uriel mendekatkan wajahnya, ke wajah gadis kecilnya itu.
"Yang kamu bilang, kalau kamu menyukaiku."
Wajah mereka begitu dekat, sehingga mereka bisa melihat bulu mata mereka satu sama lain, dengan sangat jelas.
Wajah Lina semakin memerah seperti sedang kepanasan, dia menyangkal Uriel, "Aku tidak bilang seperti itu kok."
__ADS_1
"Kamu bohong. Telingaku mendengar perkataanmu dengan sangat jelas loh."
"Kamu pasti sudah salah dengar." Lina menyangkalnya lagi.
"Aku tidak salah dengar kok. Kamu bilang kamu suka padaku."
"Aku tidak suka.." Lina mencoba untuk menyangkal lagi.
"Apa kamu tidak menyukaiku?"
Mendengar itu, Lina kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Uriel. Dia melihat kalau saat ini Uriel sedang sangat serius menatap dirinya.
Ternyata Uriel benar-benar serius menanyakan hal itu. Tapi Lina malah menyangkalnya beberapa kali.
Setelah waktu yang lama, kemudian Lina mengucapkan kata-kata dengan nada suaranya yang halus, dan terdengar sangat lembut.
"Aku tidak membencimu."
Uriel tertawa mendengar itu, perasaan yang dalam di mata birunya sepertinya sudah membuatnya terlena.
"Jadi kamu benar-benar menyukaiku?"
"Sekarang aku sedang sibuk, aku harus melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai ku kerjakan." Setelah mengatakan itu, kemudian Lina pun segera lari menjauhi Uriel dengan wajahnya yang memerah karena malu.
...........
Lina sedang membersihkan hasil buruan yang dibawa pulang Uriel, kemudian mengolesinya dengan jus buah dan menggantungnya di puncak gunung untuk dikeringkan.
Dia harus menunggu di situ agar makanannya tidak dicuri.
Dalam periode beberapa waktu ini, dia tidak hanya berdiam diri saja dirumah.
Selain daging, dia juga tidak lupa meminta Uriel untuk membawakan beberapa sayuran yang bisa dimakan.
Uriel adalah hewan karnivora. Tentu saja dia tidak makan sayuran, tapi Lina lah yang harus memakan sayuran.
Jika hanya makan daging dan tidak makan sayuran, akan menyebabkan tubuhnya mengalami ketidak seimbangan nutrisi. Dia membagi sayuran menjadi dua bagian, satu untuk dikeringkan dan sisanya akan disimpan di ruang bawah tanah. Untuk tempat penyimpanan sayuran, dia meminta Uriel untuk menggali satu lagi ruang bawah tanah, tepat di bawah dapur.
Melihat semakin banyaknya makanan yang sudah tersedia di rumah, Lina pun merasa sangat puas.
"Ting Tong!"
"Selamat! Anda telah berhasil menyelesaikan tugas berantai yang kedua."
"Hadiah akan segera dikirimkan ke anda. Jangan lupa untuk diperiksa."
Kemudian, sebuah paket besar berupa pembalut wanita tiba-tiba muncul di depan Lina.
Melihat itu membuat dia tertegun sejenak, sebelum dia mulai merasa sangat gembira.
Lina kemudian mengambil pembalut-pembalut wanita itu, sambil tersenyum riang.
"Akhirnya ada pembalut wanita! Besok saat tamu bulananku datang, aku tidak perlu khawatir lagi! Benar-benar luar biasa, semua hadiah yang sudah aku terima selama ini adalah barang-barang yang sangat aku butuhkan!"
Cuaca sudah mulai semakin dingin. Karena semua persedian untuk musim dingin sudah menumpuk, Uriel sudah tidak perlu lagi untuk pergi berburu. Sekarang dia sering berada di rumah, menemani Lina untuk mengasapi daging dan membuat acar.
Tepat sebelum musim dingin tiba, suku Serigala Batu kedatangan sekelompok Orc yang berasal dari luar.
Kehidupan yang tadinya tenang, seketika mulai berubah menjadi kewaspadaan.
__ADS_1