
Khun Thet telah membawa istri dan anak-anaknya masuk ke dalam benteng.
Pertama kali mereka melihat benteng yang begitu megah, semua keluarga tikus tanah ini menunjukkan ekspresi takjubnya.
"Woahh.."
"Tinggi sekali.."
Mereka terus melihat ke sekeliling, mata mereka terbelalak lebar saat melihat hal yang baru bagi mereka.
Mereka tinggal di lantai yang sama dengan para Orc Mustang dan Orc kelinci.
Khun Thet merasa sangat puas dengan ini. Dia tidak ingin hidup dengan Serigala yang suka makan daging.
"Siapa yang tahu jika suatu hari mereka akan merasa sangat lapar dan memakan kami semua dalam satu gigitan?! Akan jauh lebih aman, bila aku dan keluargaku hidup bersama dengan para Orc herbivora."
Setelah Khun Thet berbincang dengan istri dan anak-anaknya, dia mengetuk beberapa pintu rumah tetangga sebelah dan memberikan beberapa buah-buahan liar yang dia bawa, untuk menunjukkan keramahannya kepada penghuni lama di tempat ini.
"Haloo.. Aku penghuni baru di tempat ini.." Sapa Khun Thet kepada para tetangganya.
Sebagai balasannya, para Orc Kelinci dan Kuda Liar juga memberikan dirinya buah-buahan.
Buah-buahan yang diberikan kepada Khun Thet adalah buah-buahan yang dibeli dari keluarga Lina, rasanya manis dan menyegarkan. Saat Khun Thet mencicipi buah-buahan tersebut, dia sangat terkejut.
"Hah? Rasa lezatnya benar-benar tak tertandingi!"
Dia pun mengambil sisanya untuk diberikan kepada istri dan anak-anaknya, dan ternyata istri dan anak-anaknya juga sangat menyukai rasanya.
Khun Thet menginginkan lebih banyak lagi buah-buahan dan sayuran yang lezat ini, tapi dia tidak punya pekerjaan, dan dia tidak bisa melakukan pekerjaan di kebun sayur. Setelah memikirkannya, dia memutuskan untuk pergi ke suku Sungai Hitam lagi.
"Jika aku bisa mendapatkan beberapa informasi lain yang sangat berguna, mungkin bisa mengubah posisiku di sini."
Dia pun meminta tolong kepada tetangga sebelah untuk menjaga istri dan anak-anaknya. Kemudian dia merubah wujudnya menjadi Tikus Tanah dan dengan cepat segera turun gunung.
Yang tinggal di sebelah rumah Khun Thet adalah Bonny bersaudara.
Bonny dan adiknya menganggap bayi-bayi tikus tanah sangat lucu, jadi mereka berdua membawa bayi-bayi itu ke kelas belajar. Nyonya Khun yang merasa khawatir dengan anak-anaknya, memutuskan untuk ikut pergi bersama dengan Bonny bersaudara.
Meskipun ini pertama kalinya mereka masuk ke dalam kelas, tapi mereka tidak terlalu heran. Tapi saat mereka melihat kalau semua Orc di sekitar mereka diam dan selalu fokus, mereka merasa malu dan tidak berani membuat suara.
Baru setelah kelas usai, para bayi Tikus Tanah berkumpul di sekitar Bonny dan adiknya, untuk melihat lempengan batu yang ada di tangan mereka.
Tidak ada kertas dan pena. Para murid hanya bisa menggunakan lempengan batu sebagai kertas dan batu kapur sebagai pena.
Kemudian Bonny memberikan batu kapur yang ada di tangannya, kepada para bayi Tikus Tanah untuk mereka mainkan.
Saat Lina sedang berjalan, dia baru melihat anak-anak sekecil itu untuk pertama kalinya, mau tak mau dia pun bertanya, "Apakah kamu Orc baru di sini?"
Dengan cepat nyonya Khun segera bangkit, merapikan rok bulunya, dan berkata dengan sedikit malu, "Halo, kami baru saja datang hari ini. Dan mereka ini anak-anakku."
Leher betina ini pendek, tinggi tubuhnya hanya satu meter, hidung dan matanya kecil, rambut panjangnya yang keriting berwarna cokelat dikepang menjadi dua kepang besar, di kepalanya terdapat karangan bunga kecil, dan ketika dia tertawa dua giginya yang putih cerah terlihat sangat jelas.
__ADS_1
"Baru kali ini aku melihat ada Orc yang lebih pendek dariku di dunia ini."
Setelah berpikir seperti itu, mau tak mau Lina pun bertanya, "Aku harus memanggilmu apa?"
"Namaku, Julia." Jawab nyonya Khun.
"Namamu seindah orangnya," kata Lina yang memuji.
Julia menundukkan kepalanya malu-malu. Kemudian dia melepas karangan bunga kecil di kepalanya dan menyerahkannya kepada Lina, dengan wajahnya yang memerah.
Lina bertanya pada Julia, "Ini untukku?"
Julia hanya mengangguk-angguk kan kepalanya.
Kemudian Lina mengambil karangan bunga kecil tersebut, dan mengenakannya di kepalanya sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.
"Apa terlihat bagus?"
Mata Julia yang bundar seketika menjadi cerah.
"Cantik!"
Bayi-bayi Tikus Tanah juga ikut mengangguk dan setuju. Mereka semua mencicit, "Cantik.. Cantik.."
Lina tersenyum dan menundukkan kepalanya, dia mengeluarkan sekantong biji bunga matahari yang sudah digoreng dan memberikannya kepada bayi-bayi Tikus Tanah.
"Selamat datang di klan Serigala Batu. Ini ada hadiah untuk kalian."
Saat ini Lina telah kembali ke rumah, saat dia membuka pintu rumah, dia melihat Leon yang sedang duduk di karpet sambil memegang biji bunga matahari. Sedangkan kuncup bunga kecil dan anak-anak Serigala sedang bermain dengan riang gembira.
Saat melihat ibu mereka telah kembali, anak-anak Serigala dan si kuncup bunga kecil segera berhenti bermain dan berlari ke arahnya.
Dengan segera anak-anak Serigala itu menggosok pinggang Lina, sambil merengek tanpa henti.
"Ibu cudah pulang.. Ibu cudah pulang.."
Lina bisa merasakan kepala mereka yang berbulu.
"Makhluk-makhluk kecil ini sekarang sudah terlihat tinggi dan warna pada bulu mereka mulai terlihat lebih putih dan lebih tajam."
Kuncup bunga kecil juga ingin mendekati Lina, tapi saat melihat karangan bunga yang ada di kepalanya, dia langsung melompat ke rambut Lina! Dia segera melepas karangan bunga yang ada di kepala Lina dan melemparnya ke tanah.
Saat itu juga Lina sangat terkejut dengan reaksi sengitnya dan bertanya dengan heran, "Ada apa denganmu?"
Leon yang menjawab pertanyaan Lina sambil memakan biji bunga matahari, "Si pria kecil sedang marah."
"Yah, aku juga tahu kalau dia sedang marah. Tapi kenapa dia sampai marah?"
"Karena dia cemburu." Jawab Leon lagi.
Wajah Lina kini terlihat bingung.
__ADS_1
"Cemburu? Cemburu yang bagaimana maksud kamu?"
Kemudian Leon berkata, "Jika kamu memakai bunga lain di kepalamu, si pria kecil pasti akan cemburu."
Kini Lina baru menyadari kalau si kuncup bunga kecil marah, karena Lina memakai karangan bunga di kepalanya. Lina tidak bisa menahan tangis dan tawanya sambil berkata kepada si kuncup bunga kecil, "Hahaha.. Kamu ini.. Ini kan hanya karangan bunga. Kenapa kamu terlalu serius dengan hal seperti ini?"
Kuncup bunga kecil yang masih marah, segera melompat turun dan mengambil lagi karangan bunga yang tergeletak di tanah, dan melemparkannya lebih jauh lagi.
Kemudian dia berlari dengan kecepatan tinggi dan melompat kembali ke kepala Lina. Dia segera membuatkan karangan bunga di kepala Lina dan sebuah bunga teratai juga diselipkan di telinganya.
Untuk mencegah Lina melepas karangan bunga yang kuncup bunga kecil buat, dia memutuskan untuk tetap berada di kepala Lina. Tidak lupa juga si kuncup bunga kecil menggosok telinga Lina, dan dengan lembut memanggilnya, "Ibu.."
Leon yang tidak tahu kapan tiba-tiba datang mendekati Lina, jari-jarinya dengan lembut membelai kuncup bunga kecil sambil tersenyum penuh arti.
"Sangat cantik."
Leon yang terlalu dekat, membuat Lina yang gelisah segera menutupi wajahnya.
Kemudian jari-jari Leon meluncur dari kuncup bunga kecil dan turun menyentuh telinga Lina.
Saat itu juga Leon mencubit daun telinga Lina dan bertanya dengan santai, "Bagaimana dengan obat yang kamu janjikan, yang katanya sedang kamu kembangkan?"
"Ayo," kata Lina sambil melambaikan tangannya. "Bisa tidak, kamu berhenti menggangguku sepanjang waktu?"
Tapi Leon malah tertawa dengan polosnya, "Haha.. Tapi aku tidak bisa menahannya. Salah siapa kamu terlihat sangat imut?"
Lina sudah terbiasa dengan kebiasaan provokatif dari pria ini. Dia pun sengaja seolah-olah tidak menyadari arti ambigu dalam kata-katanya. Kemudian Lina hanya berkata dengan datar, "Jika kamu sudah tidak ada keperluan lagi, cepatlah kamu kembali. Aku tidak ingin kamu berlama-lama ada di sini."
Tapi kemudian Leon berkata, "Tadi aku lihat loteng dirumah ini masih kosong, lebih baik tempat itu untuk aku saja."
"Tidak mungkin!" Lina segera menolaknya tanpa ragu-ragu, "Kamu tidak bisa tinggal di rumahku!"
Mendengar apa yang Lina katakan, Leon segera menyipitkan matanya yang berwarna merah darah.
"Memangnya kenapa?"
“Apa masih perlu menanyakan soal itu? Kamu itu bukan dari keluargaku. Kita tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Jika kamu tiba-tiba saja tinggal di rumahku, apa yang akan dipikirkan oleh orang lain?” Seru Lina.
“Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan." Ucap Leon.
Kemudian Lina berkata, "Tapi aku peduli! Dan aku tidak suka, jika ada orang luar yang tinggal di rumahku, hal itu membuatku merasa tidak nyaman."
Sejenak Leon menatap wajah Lina dan tiba-tiba saja tertawa.
"Hahaha.. Aku akan kembali dulu. Sampai jumpa lagi dilain hari."
Setelah mngucapkan kalimat itu, Leon segera terbang kembali ke atas benteng.
Lina berpikir kalau masalah ini telah berakhir.
Tapi Lina tidak tahu, kegigihan usaha Leon untuk mendekati dirinya. Leon akan terus mencoba, hingga dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1