
Pada dasarnya, para penjaga Kota Bulan Gelap terdiri dari para Orc ular, dan telah membangkitan roh Binatang Buas mereka.
Hanya Heli Belang si pemimpin tim, yang merupakan pengecualian dalam wujud binatangnya. Bentuk binatangnya adalah seekor Babon.
Kali ini dia lah yang ditunjuk oleh Penguasa Kota Bulan Gelap. Alasannya bisa ditelusuri kembali, ke sebulan yang lalu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Saat ini Heli belang telah berhasil melarikan diri dan kembali ke Kota Bulan Gelap bersama dengan Ida Ruln. Kemudian mereka pun bertemu dengan Raja dari Kota Bulan Gelap.
Sedangkan Ida Ruln mengambil kesempatan ini, untuk berhubungan dengan sang Raja Kota Bulan Gelap.
Sekarang sang Raja sedang menyukai Ida Ruln dan mereka pun mulai menjalin hubungan.
Sedangkan dengan Heli Belang, dia telah kehilangan kepercayaan dari Kuil di Kota Utama, karena dua kegagalan misinya secara berturut-turut.
Dia tidak hanya dihukum, tapi juga kehilangan kualifikasi untuk bisa menjadi imam besar dari Kuil Bulan Gelap.
Dan sekarang, posisi imam besar telah ditempati oleh iblis kecil. Sedangkan Heli Belang, hanya bisa terus melayani imam besar dari Kuil Bulan Gelap, dan posisinya di Kuil Bulan Gelap menjadi sangat memalukan.
Tidak tahu darimana Ida Ruln mendapatkan berita mengenai lokasi tambang ini, belum lama ini dia mengatakan, "Ada Urat Bijih yang besar, yang tersembunyi di bawah pegunungan timur. Aku rasa itu Batu Kristal."
Saat mendengar apa yang Ida Ruln katakan, sang Raja pun sangat tertarik dan berencana untuk mengirim seseorang, untuk menggali dan menambang di tempat tersebut.
Kuil Bulan Gelap jelas memerlukan seseorang untuk mengawasi pekerjaan itu, dan Heli Belang lah yang dikirim untuk mengawasi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Jadilah seperti saat ini, Heli Belang yang sedang berada di pegunungan ini, untuk mengawasi para penjaga.
Saat ini Heli Belang sedang merasa sangat marah.
"Alasan kenapa aku membawa Ida Ruln kembali ke Kota Bulan Gelap, adalah karena aku suka saat dia menggunakan wewangian rubah, yang bisa menyihir para Orc jantan! Dalam banyak kasus, dia bisa saja memainkan peran yang tak terduga! Tapi tanpa ku sangka, ambisi wanita itu sangat besar! Baru saja kami tiba di Kota Bulan Gelap, dia pun segera berhubungan dengan Raja!"
Sekarang Ida memiliki Raja Kota Bulan Gelap sebagai dukungannya, dan statusnya kini juga telah meningkat.
Sebaliknya dengan Heli Belang, dia tidak hanya tidak mendapatkan jabatan imam besar di Kuil, tapi juga dikirim ke tempat yang malang ini untuk mengawasi penggalian Urat Bijih.
Dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi!
Dalam hatinya, Heli Belang merasa sangat marah dan melampiaskannya dengan berteriak ke pada para ular, "Kenapa kerja kalian begitu lambat? Gali lebih cepat lagi! Jika kalian tidak mencapai Urat Bijih sebelum gelap, kalian semua akan mendapatkan hukuman!"
Para Ular sebenarnya merasa sangat terganggu, dengan apa yang sudah Heli Belang lakukan.
"Kami ini adalah penjaga, bukan budak! Kenapa malahan kami yang disuruh kemari untuk menggali?!" Pikir beberapa orang penjaga.
Meskipun Heli Belang dikirim untuk mengawasi pekerjaan ini atas nama Kota Bulan Gelap, pada kenyataannya, para penjaga semuanya juga sudah mengetahui, kalau Heli Belang dikirim ke sini oleh Kuil Bulan Gelap.
"Meskipun kini dia telah direduksi ke tingkat yang lebih rendah, tapi dia tetap begitu sombong!" Pikir salah satu Orc penjaga!
Namun karena perintah Raja, mereka hanya bisa menahan amarah mereka dan terus bekerja.
Diam-diam, banyak dari mereka yang berpikir, "Jika ada kesempatan, aku harus memberi si tua Heli Belang ini sebuah pelajaran!"
Semua Orc Ular itu mengebor lubang bersama-sama, dan tidak butuh waktu lama.
"PRAK! PRAK! BRAAKKK!"
Tepat pada saat terdengar suara tersebut, itu artinya mereka telah membuka lorong tambang.
"Kamu turun lah dan lihat dulu!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, kemudian Heli Belang berjalan mengikuti Ular tersebut. Setelah beberapa langkah berjalan, terdengar suara jeritan yang melengking, yang berasal dari dalam lorong tambang!
"KIIIIIIK!"
Mendengar itu, semua Orc pun terkejut.
Kemudian cakar besar berwarna hijau tua keluar dari lorong tambang.
Tidak tahu jenis cakar hewan apa itu, panjang cakarnya sekitar dua meter. Cakar tajam tersebut juga terlihat masih berlumuran darah.
Saat melihat itu, wajah Heli Belang langsung berubah.
"Monster macam apa ini?"
Cakar besar itu terlihat seperti menutupi lubang tambang, dan tak lama kemudian, makhluk itu pun mengeluarkan kepalanya yang runcing dan panjang dari dalam tanah. Dahi makhluk tersebut ditutupi dengan sisik yang berwana hijau tua dan halus, dan pupil matanya yang gelap, menyusut membentuk garis vertikal.
Kini makhluk tersebut sedang menatap Heli Belang dan Ular-ular yang sedang berada di hadapannya.
"Hanya kepalanya saja, kepala makhluk ini panjangnya mencapai tiga meter. Aku tidak bisa membayangkan, akan seberapa besar jadinya jika seluruh tubuhnya keluar. Yang lebih mengerikan, aku bisa merasakan nafasnya yang mengandung aura bintang tingkat tinggi."
Karena kekuatan lawan dirasa terlalu kuat, dan kemungkinan berada pada tingkatan bintang yang tinggi, Heli Belang yang merasa takut pun dengan cepat segera mundur dan memberikan perintah, "Cepat, hentikan dia! Jangan sampai dia keluar!"
Para Ular juga sebetulnya sangat ketakutan, tapi perintah militer tidak boleh mereka langgar. Mereka harus memberanikan diri dan bergegas maju, mencoba memaksa monster besar itu untuk kembali masuk ke dalam lubang.
"DESISISISSSS!"
Tapi makhluk itu sangat besar, dia bisa dengan mudah mengalahkan para Ular hanya dengan satu kibasan cakarnya.
"WUUUS!"
"SRAK! AAGH!"
Tapi sepertinya tubuh makhluk tersebut terjebak di dalam lorong. Sebagian tubuhnya tidak bisa keluar, selama para Ular berada agak jauh darinya, makhluk tersebut tidak bisa menjangkau untuk menyerang mereka.
"Kalin segeralah cari batu, dan lemparkan kearah makhluk itu!"
Kulit dan sisik makhluk itu sangat tebal, sebuah batu tentu tidak akan bisa melukainya. Meskipun begitu, tetap terasa menyakitkan.
Makhluk itu sangat ingin mencabik-cabik para Ular yang sangat mengganggu ini, tapi mereka terlalu jauh dari jangkauannya.
"Br*ngs*k!"
Kini makhlut itu mulai merasa marah, dia memukulkan cakarnya ke tanah dengan gemetaran, dan mulutnya tiba-tiba saja mengeluarkan raungan yang kuat, "Jika kalian tidak ingin mati, pergi dari sini sekarang juga!"
Leon yang sedang melihat dari kejauhan juga mendengar raungan makhluk itu, ekspresinya wajahnya pun sedikit berubah.
"Suara ini, apakah itu dia.."
Mendengar apa yang Leon katakan, Uriel pun memandangnya dan bertanya, "Siapa itu?"
"Suara barusan sepertinya akrab bagiku. Mungkin itu kenalan lama. Aku akan terbang untuk melihat apa yang terjadi." Ucap Leon.
Selesai berkata seperti itu, Leon segera merentangkan sayapnya dan terbang menuju ke kaki gunung.
"HUP! BLAK! BLAK! BLAK!"
Saat Leon sudah berada di udara dan melihat makhluk yang sedang dikepung, dia segera merasa lega.
"Heh! Ternyata itu memang dia."
Pada saat ini, Heli Belang sedang menunjuk ke arah makhluk itu dan berseru, "Segera lemparkan batu besar tepat ke arah matanya!"
__ADS_1
Para Ular pun segera menggulung batu besar dengan ekor mereka dan melemparkannya ke arah mata makhluk itu!
"WUSH! WUSH! WUSH!"
Pada saat yang sama, sesosok berwarna merah berapi-api turun dari langit dan dengan cepat menyapu semua batu itu kembali dengan tangan dan kakinya!
"DAK! DAK! DAK! DAK!"
Para Ular tidak bisa mengelak dan terkena batu yang yang tadi mereka lemparkan.
"BRAK! BRAK! BRAK!"
"AARGGH!"
Lalu Leon turun untuk mendarat tepat di atas kepala makhluk itu, dan berkata sambil tersenyum, "Halo pria tua!"
Mendengar suara itu, makhluk itu pun segera mengangkat kelopak matanya, memutar bola matanya keatas, dan berkata dengan dingin, "Heh! Ternyata kamu. Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Ngomong-ngomong ..."
Melihat mereka akan berbicara lagi, Heli Belang segera berseru menyuruh para penjaga, untuk terus menyerang, "Bunuh mereka!"
Leon melirik Heli Belang dan berkata, "Hah! Kamu memang benar-benar sangat mengganggu!"
Setelah berkata seperti itu, dari ujung jarinya muncul sebuah api, dan gelombang panas yang tiba-tiba datang, membuat rumput hijau disekitar mereka segera terbakar!
Para Ular itu takut panas. Saat mereka akan terbakar seperti hampir dimasak menjadi beberapa panci sup Ular, mereka pun mundur dengan tergesa-gesa untuk menghindari api yang mendekati mereka!
"DESISISISSS!"
Heli Belang tidak berani mendekati lautan api. Dia hanya bisa menatap Leon dari kejauhan, dan dari sorot matanya terlihat penuh dengan kebencian.
"Kamu?! Ternyata kamu si orang jahat itu lagi!"
Mendengar apa yang Heli Belang katakan, Leon pun tertawa karena merasa aneh.
"Aku dengar kalau otak babon terasa sangat lezat, terutama saat diapanggang di atas api. Pasti rasanya akan jadi lebih enak. Tiba-tiba saja hari ini aku tertarik untuk mencobanya."
Selesai berkata, Leon segera terbang menuju ke Heli Belang!
"WUSHHH!"
Tapi Heli Belang segera berbalik dan melarikan diri!
'HUP! HUP!"
Dari kejauhan, Uriel sangat terkejut saat melihat Leon dan Heli Belang yang mulai bertarung. Kemudian dia bergumam, “Bukankah kamu bilang kalau kamu akan mengamati keadaanya terlebih dulu? Tapi kenapa kamu malah bertarung dengan mereka?”
Uriel tidak tahu persis apa yang terjadi antara Leon dan Heli Belang, tapi setelah sekarang mereka berdua telah bertarung, dia pun sudah tidak bisa berdiam diri lagi.
Dia segera menoleh ke arah pria yang ada di belakangnya dan berkata, "Kamu jaga Lina. Aku akan kesana membantu Leon."
"Ya," kata Nano.
Uriel segera berubah wujud menjadi Harimau putih, dan bergegas menuju ke arah Heli Belang!
"WUUSH! DRAP DRAP! DRAP DRAP!"
Heli Belang yang kini telah dicegat dari dua arah, sudah tidak memiliki celah lagi untuk melarikan diri. Dia pun hanya bisa meminta bantuan dari para Ular!
"Kalian, cepat kemari dan bantu aku!"
__ADS_1
Tapi sepertinya para Ular itu tidak mendengarnya. Mereka berlari dengan sangat cepat, hingga tidak terlihat.
Heli Belang yang sudah tak berdaya, kini seperti kura-kura yang berada di dalam toples.