
Seperti hari-hari biasanya, Uriel lah yang telah memasak makan malam.
Untuk menyenangkan hati Wiro, Lina khusus memberikan sepotong besar barbekyu, dan dia letakkan di depan pria itu.
"Kamu sudah bekerja keras akhir-akhir ini. Makanlah lebih banyak daging."
Wiro mendengus, "Aku tidak ingin sepotong besar daging panggang."
Seolah mengetahui apa keinginan Wiro, kemudian Lina segera mengiris daging panggang dengan pisau tulang.
"Aku juga mau pakai sausnya." Pinta Wiro.
Lina mengoleskan saus secara merata pada irisan daging, "Apa segini cukup?"
Tanpa bersuara, Wiro hanya mengangkat dagunya dan membuka mulutnya.
Lina tersenyum kecil, kemudian menyuapkan daging ke dalam mulut Wiro dan bertanya, "Bagaimana rasanya? Apakah Lezat?"
Jika sekarang Wiro dalam wujud binatangnya, bisa dilihat dengan mudah dari ekor serigalanya.
Tapi sekarang, dia dalam wujud Orcnya, jadi, dia masih tampak seperti biasanya dia bersikap.
"Biasa saja."
Lina sudah terbiasa dengan kepalsuan pria ini, jadi dia terus bertanya, "Apa kamu ingin makan?"
Mendengar Lina bertanya seperti itu, Wiro yang temperamental pun segera dengan cepat menjawab, "Apa kamu begitu b*d*h. Bukankah tadi aku sudah membuka mulutku. Hanya satu suapan, tidak cukup buatku."
Lina menyeringai sambil menggelengkan kepalanya, dan menyuapkan sampai beberapa daging lagi ke dalam mulut Wiro.
Melihat cara Wiro mengunyah daging, Lina tidak bisa menahan dirinya untuk menjangkau dan menyentuh kepala Wiro. Rambut pendek keperakannya terasa lembut dan halus, terasa menyenangkan saat menyentuhnya.
Wiro pun hanya meliriknya. Perlakuan Lina membuat Ujung telinga Wiro memerah.
Dengan berpura-pura bodoh, dia rela merendahkan dirinya dan membiarkan Lina menyentuhnya.
Uriel juga memotong daging yang paling lembut menjadi irisan tipis, dan memasukkannya ke dalam mangkuk milik Lina. Dia berkata dengan suara yang hangat, "Ini daging yang paling lembut. Kamu juga harus makan."
"Baiklah." Kemudian Lina mengambil sepotong daging itu dengan sendoknya, dan menyuapkannya ke mulut Uriel. Setelah itu, barulah Lina memakan daging yang ada di mangkuk, untuk dirinya sendiri.
Diam-diam, Wiro melihat interaksi antara Lina dan Uriel, hatinya pun merasa cemburu.
Lina memberikan malam pertamanya bersama Uriel, sedangkan dia sama sekali belum pernah k*w*n dengan gadis itu.
Dia merasa seperti tidak diperhatikan oleh Lina.
Larut malam telah lewat. Saat Lina akan memejamkan matanya untuk tidur, Lina melihat Wiro yang tiba-tiba masuk ke kamar utama sambil berkata, "Lina, malam ini kamu tidur denganku!"
Kemudian, dia langsung menggendong Lina begitu saja, dan berjalan keluar menuju ke kamar Wiro.
Uriel yang saat ini sedang ada di sebelah Lina, hanya menatapnya dan tidak menghentikannya. Sebagai gantinya, dia segera menyusul mereka, memberikan buah sumber ke tangan Lina, dan berkata padanya dengan lembut, "Jika dia menyakitimu, panggil saja aku. Aku pasti akan segera membawamu kembali."
Wiro membalas dengan nada suaranya yang arogan, "Aku tidak akan menyakiti Lina!"
Lina yang mendengar percakapan para lelaki ini, jelas mengerti arti dari kata-kata mereka. Wajahnya pun dengan segera memerah. Buah sumber yang ada di tangannya, kini seperti bom waktu, yang membuatnya menjadi sangat gugup.
Wiro yang masih menggendong Lina, kini dengan cepat kembali menuju ke kamarnya.
Dia kemudian meletakkan gadis kecil itu di tempat tidur batu.
Tempat tidur batu telah dilapisi dengan dua lapis seprei bulu. Tidak terasa keras saat Lina duduk di atasnya.
Hari-hari sebelumnya, dia sudah sering dan telah terbiasa tidur bersama Uriel. Tetapi hari ini, adalah pertama kalinya dia tidur seranjang batu dengan Wiro.
Jelas saja dia sangat gugup. Dia mencoba mencari topik yang bisa dibicarakan untuk mengalihkan suasana.
Tetapi, tanpa bisa Lina duga, dia melihat Wiro yang sedang berdiri di depannya, dengan cepat melepas rok kulit binatang yang dia kenakan.
Tentu saja hal itu membuat Lina sangat terkejut, dia pun buru-buru memalingkan mukanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?"
Dengan cepat Wiro menjawab, "Tentu saja aku ingin k*w*n denganmu."
Selesai mengatakan itu, Wiro segera mendorong tubuh Lina untuk berbaring, dan langsung menimpanya, lalu dia menarik rok bulu yang Lina kenakan sampai melorot ke bawah.
Tapi Lina segera mengulurkan tangannya, untuk meraih rok kulit binatangnya yang telah melorot, sambil matanya memelototi Wiro, dengan wajahnya yang sudah memerah.
"Apa kamu tidak bisa bersabar?!"
Wiro hanya mendengus, "Malam begitu singkat, aku hanya ingin menghargai waktu yang ada!"
Lina yang marah padanya pun berkata, "Bagaimana kalau aku tidak mau k*w*n denganmu?"
Wiro merasa tidak senang saat mendengar perkataan Lina.
"Kamu sudah k*w*n dengan Uriel berkali-kali. Kenapa kamu tidak mau k*w*n denganku? Apa karena tingkatan Roh Binatangku lebih rendah dari harimau itu? Nih, aku beritahu ya, kini aku telah naik menjadi bintang dua, dan kedepannya, aku akan naik menjadi bintang tiga, atau bahkan bintang empat. Aku pasti akan melampaui harimau itu!"
"Kamu sudah naik bintang?" Tanya Lina yang terkejut.
Begitu Lina menanyakan hal itu, saat itu juga ekspresi wajah Wiro berubah terlihat sangat bangga.
"Sewaktu aku menghadapi pemimpin klan Serigala Air Hitam, kekuatan di tubuhku tiba-tiba menembus batasnya, dan roh Binatangku saat itu juga naik ke bintang dua."
Karena peningkatan kekuatannya itulah, yang akhirnya membuat Wiro bisa mengalahkan pemimpin klan Serigala Air Hitam.
Kemudian Wiro memiringkan tubuhnya ke samping dan memperlihatkan tato bintang di lengannya.
Ada bintang di samping pola serigala. Dua bintang, satu di kiri dan satu di kanan, tersebar di kedua sisi pola serigala, yang membuatnya terlihat cukup indah.
Melihat hal itu, Lina pun tidak bisa menahan diri untuk menjangkau dan menyentuh tato bintang itu.
"Bentuknya jadi terlihat garang!"
Wiro mengangkat dagunya dan berkata, "Tentu saja! Kelak, aku akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi! Ayo kita lakukan sekarang! Berhenti mencoba mengulur-ulur waktuku lagi!"
Selesai berkata, Wiro segera membuka kedua kaki gadis itu, dan memberi isyarat sebelum dia masuk.
Saat ujung kepala benda milik Wiro menyentuh kulit, pada daging yang ada di p*ngk*l p*h* Lina, tiba-tiba Lina tersadar, dan dengan kedua kakinya, segera dia gunakan untuk mendorong dirinya mundur.
"Tunggu! Kalau kamu langsung memasukkannya, aku pasti akan terluka."
Apa yang dikatakan Lina, membuat Wiro menghentikkan gerakannya seketika itu juga.
"Terus, apa yang harus kita lakukan?"
Lina kemudian mengulurkan tangannya, dan menunjukkan buah sumber yang sedang dia pegang, terlihat juga di wajahnya yang merah karena malu.
"Gunakan buah ini dulu.."
Wiro pun segera mengambil buah itu dan memegangnya.
Selama beberapa saat, dia memandangi buah itu dengan sangat serius, sepertinya dia sedang memikirkan tentang sesuatu.
Kemudian, dia mulai mengulurkan tangannya yang sedang memegang buah sumber, kebagian bawah tubuh gadis itu.
Lina yang masih dalam posisi berbaring terlentang, sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Wiro, terkejut dan segera berteriak lagi, saat dia melihat tangan Wiro yang memegang buah mengulur ke bagian bawah tubuhnya.
"Jangan!"
Wiro yang tampaknya mulai kesal pun kembali bertanya, dengan nada suaranya yang terdengar marah, "Ada apa lagi?!"
Ternyata tadi dia berpikir, akan memasukkan buah itu terlebih dulu, barulah benda miliknya yang akan masuk menyusul buah itu.
"Bukan begitu caranya.." Ucap Lina masih menahan malu.
"Terus bagaimana?!" Tanya Wiro yang sudah sangat tidak sabar.
Dengan tak berdaya dan wajahnya yang semakin memerah karena semakin malu, Lina kemudian merubah posisinya untuk duduk. Dia mengambil buah yang ada di tangan Wiro, menggigit setengah dari buah sumber itu dan mengunyahnya. Kemudian dia menyeka kan sendiri air jus buah itu, ke belahan yang ada di p*ngk*l p*h*nya.
__ADS_1
...........
Uriel bisa melakukannya sepanjang malam, tetapi hanya sekali mengeluarkan pelepasannya.
Malam ini, saat Wiro meminta Lina untuk tidur dengannya, sudah lewat dari tengah malam. Waktu yang digunakan oleh Wiro jelas lebih sedikit, dibandingkan dengan saat Uriel bersama Lina.
Selain itu, mereka berdua juga mempunyai kemampuan yang berbeda.
Tidak lama setelah Wiro mengeluarkan pelepasannya yang pertama, dia segera mengeluarkannya lagi, lagi, dan lagi. Sudah berapa kali, dia sendiri pun tidak menghitungnya.
Sepertinya, benda milik Wiro semangatnya kurang bagus. Atau, dia memang sedang mengejar target, supaya Lina bisa terisi penuh, dan kesempatan untuk segera hamil anak-anak serigala yang lucu-lucu untuknya lebih besar?
Lina akhirnya benar-benar merasa sangat lelah, juga sangat mengantuk. Sebelum Wiro selesai dengan permainannya, Lina sudah sangat tidak tahan untuk menutup matanya dan tertidur, dalam kedutannya yang terus menerus.
...........
Ketika Lina mulai setengah sadar dari kantuknya, dia bisa merasakan ada benda yang menyumpal diam tak bergerak dan tertanam di dalam tubuh bagian bawahnya.
Lina pun mulai menyadari benda apa itu.
"Orang ini! Apa dia masih belum berhenti sepanjang malam?!" Lina berbicara dalam hatinya.
Kemudian Lina membuka matanya, dan baru menyadari, kini dia telah berbaring dengan kepalanya yang beralaskan lengan kanan Wiro sebagai bantal.
Lina melotot kearah Wiro yang sedang berbaring di sisi kirinya, dengan posisinya yang menyamping menghadap ke arah dirinya.
"Kamu! Apa kamu mau mulai lagi?" Tanya Lina dengan geram, sambil masih dengan mata bulatnya yang melotot ke arah Wiro.
Melihat dan mendengar suara Lina yang sudah terbangun dari tidurnya, membuat benda milik Wiro yang masih bersarang di tubuh bawah gadis itu, sedikit demi sedikit mulai mengeras lagi, kemudian dengan bersemangat Wiro berkata, "Kamu istirahatlah dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi!"
"PLAK!"
Lina yang semakin geram pun segera melayangkan tamparan ke wajah Wiro begitu dia selesai berbicara.
"Jangan besar kepala! Aku mau bangun! Aku lapar! Aku ingin mandi!" Teriak Lina karena sangat geram.
Meskipun Wiro masih sangat enggan untuk melepaskan gadis itu, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan betina kecil itu kelaparan. Dia sedikit berlama-lama untuk mengulur waktu, kemudian pelan-pelan menarik keluar benda miliknya yang masih lemas tertancap di bagian bawah tubuh Lina, dan melompat dari tempat tidur sambil masih dalam keadaannya yang telanjang.
"Aku akan segera membuatkanmu daging panggang!"
Setelah mengatakan itu, Wiro pun segera berlari ke dapur.
Lina kemudian bangun dan duduk, dengan merasakan tubuhnya yang lemas dan ngilu. Saat dia melihat kebawah, dia melihat ada beberapa tanda berwarna merah pada tubuhnya, dan banyak cairan putih kental mengalir keluar dari bagian bawah tubuhnya.
"Apa Wiro menggunakan obat kuat? Dia tidak berhenti meskipun sudah berkali-kali mengeluarkan pelepasannya. Dia juga sampai membuat banyak tanda di tubuhku. Ini mengerikan!" Lina berbicara dalam batinnya.
Pada saat ini, Uriel tiba-tiba masuk ke kamar Wiro.
Saat dia melihat terdapat banyak Love Bites pada tubuh Lina, seketika itu juga hatinya terasa hancur.
Terasa sangat sakit, sehingga membuat dia hampir tidak bisa bernapas.
Suasana hati seperti ini, mungkin sama dengan yang dirasakan oleh Wiro, saat mengetahui Lina telah k*w*n dengan Orc lain.
Lina juga sangat malu dan menundukkan kepalanya, tidak berani melihat wajah Uriel, saat melihat Uriel yang sedang menatapnya.
Uriel menekan segala jenis emosi, yang saat ini sedang dia rasakan di dalam hatinya, kemudian dengan hati-hati dia menggendong gadis kecilnya kembali ke kamar besarnya.
Dia sudah memasak air sebelumnya, dan dengan lembut menggosok seluruh tubuh gadis kecilnya hingga bersih.
Terutama di area yang ada di p*ngk*l p*h*nya, dia menyekanya dengan sangat bersih.
Lina yang masih merasa sangat malu, saat merasakan Uriel yang sedang membersihkan dirinya dengan sangat lembut pun tak bisa menahan rasa kantuknya, hingga dia tertidur.
Uriel kemudian menutupi tubuh gadis kecilnya, dengan selimut kulit binatang.
Dia membawa sepanci air panas keluar dari kamar, dan berpapasan dengan Wiro yang akan masuk ke dalam kamar. Dengan suara yang tak terlalu keras dia berkata, "Dia sangat lelah. Dia perlu istirahat. Kamu jangan masuk dan mengganggunya."
Wiro memegang dua barbekyu di tangannya, yang keduanya merupakan hasil buatannya. Terlihat permukaannya yang agak gelap, sepertinya terlalu matang dan hampir tidak bisa dimakan.
__ADS_1
Dia pun mendengus, "Meskipun kamu telah mengambil malam pertamanya, tapi anak pertamanya pasti anak ku!"
"Kita lihat saja nanti."